Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 – Bima
Bab 4 – Bima
Tidak ada yang lebih menyegarkan daripada berenang di sore hari. Pikiranku yang dipenuhi oleh ratusan masalah, hilang di dalam air. Kadang aku ingin ada di dasar air ini, tidak perlu lagi naik ke permukaan. Hening. Tidak ada keributan. Kecuali kalau Mbok Asih, istrinya Pak Mardi teriak membuat riak gelombang air yang mengelitik telingaku.
Aku naik ke permukaan. Ya benar saja, Mbok Asih ada di pinggir kolam. Usianya sama seperti Pak Mardi, 60 tahunan. Mungkin kalau orang tuaku masih hidup, seumuran dengan mereka. “Ada apa?” tanyaku pada perempuan yang selalu memakai daster dan ciput itu.
“Ada telepon dari Ibu,” katanya sambil menunjukkan ponselnya padaku.
“Kenapa nggak telepon aku aja?” kataku sambil naik ke permukaan. Aku sudah tidak malu lagi kalau cuma hanya memakai celana renang pendek di depan Mbok Asih.
“Katanya, udah telepon Bima, tapi nggak diangkat.”
“Ya iya. Kan aku lagi berenang,” kataku sambil mengambil handuk putih besar di kursi di pinggir kolam, lalu mengelap wajahku. “Ya udah, nanti aku telepon ibu balik.”
Mbok Asih menempelkan ponsel ke telinganya lalu berkata, “Katanya mau telepon ibu. Iya. Iya. Waalaikum salam.”
“Bikinin jus sayur, Mbok,” kataku sambil mengikat handuk di pinggangku dan berjalan ke dalam rumah.
“Iya,” Mbok Asih bergegas pergi ke dapur belakang.
Ponselku tergeletak di meja besar di ruang makan. Aku langsung mengambilnya dan menelepon ibuku dengan loud speaker agar aku bisa melakukan pendinginan.
“Kenapa lama banget nggak dibales pesan ibu?” tanya ibuku langsung ngegas.
“Aku lagi berenang, bu.”
“Jam segini kok berenang?”
“Kan emang jadwal berenang aku, minggu sore. Ada apa?”
“Mutia nanyain kapan bisa ketemu!”
“Kenapa dia nanya sama ibu? Kenapa nggak nanya sama aku?”
“Soalnya kamu nggak bales dia! Katanya kemaren mau ketemu hari kamis, kamunya nggak bisa. Ada meeting. Ditanya hari minggu, juga nggak bisa, ada meeting juga!”
“Lah emang ada meeting, Bu. Tanya Celsi. Dia ngatur jadwal sama sutradara hari kamis kemarin, tapi nggak jadi. Jadinya hari ini, ini aku mau jalan ke sana.”
“Kamu itu kenapa sih, nggak mau terbuka sama orang. Coba lah dulu jalanin.”
“Bu, aku juga masih kontakan sama dia. Tenang aja. Pelan-pelan lah.”
“Kamu masih kontakan sama dia?”
“Iya,” tentu saja masih, tapi dari lima pesan yang dia kirim, aku cuma memberikan respon jempol atau emoji. Tapi aku nggak bohong kan, aku masih kontakkan kok.
“Ya udah, gimana kamu aja deh. Tapi jangan lah menutup diri dan sibuk kerja aja. Kamu itu udah punya segalanya, sudah pantas punya anak…”
Mbok Asih datang memberikan aku segelas jus sayur. Aku menghabiskannya dan membiarkan ibuku masih terus berceloteh.
--
“Ditunggu apa ditinggal, Dan?” tanya Pak Mardi begitu sampai di lobi parkiran.
“Ditunggu, cuma sebentar aja. Pak Mardi cari makan aja di sekitar sini,” kataku sambil memberikan seratus ribu padanya.
“Siap, Dan.”
Aku turun dari mobil lalu jalan ke lorong sambil teleponan dengan Jaka Awan, “Halo, Bang! Aku udah sampe. Kita di kafe mana ya?” Mataku berhenti di sebuah meja. Seorang perempuan berkerudung yang memakai hoodie jumper hitam duduk sendirian. “Oh oke, Bang! Aku ke situ,” aku jalan sambil memperhatikan perempuan itu. Aku nggak yakin dia adalah si perempuan berkerudung wangi, tapi entah kenapa langkahku mendekatinya dan tanganku menepuk bahunya.
Dia berpaling ke arahku, lalu menyemburkan milk tea boba yang ada di mulutnya.
Sial, aku membuatnya kaget. Buru-buru aku keluarkan saputangan dari saku celanaku, lalu kuberikan padanya, “Eh, sori!”
Dia terdiam, fokus menggunakan saputanganku untuk mengelap mulutnya.
“Kamu yang panitia di pernikahannya Nanda minggu kemarin kan?” tanyaku sambil duduk di sebelahnya. Seperti ada magnet yang membuatku duduk di kursi itu.
Dia mengangguk pelan. Mungkin malu, pikirku.
“Aku Bima,” kataku berusaha ramah.
Dia hanya menatap tanganku, lalu menatap mataku. Apakah ada yang salah denganku? Jangan jangan badanku masih bau kaporit? Ah, nggak mungkin, kayaknya aku tadi udah mandi bersih banget.
“Nama kamu siapa?” tanyaku berusaha tetap mengulurkan tangan.
“Aku…nanya?”
“Hah?”
“Naya!” akhirnya dia menjabat tanganku, walau dengan sangat singkat. Mungkin dia tidak mau lama-lama salaman, karena dia seorang muslimah solehah, batinku.
“Oh, Naya,” jawabku mengulang namanya sambil mengeluarkan ponsel, “Boleh minta nomor teleponnya?” Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
Tanpa bicara, dia memasukkan nomor di ponselku.
“Makasih,” kataku menahan senyum sederhana, agar tidak terlalu terlihat kegirangan.
Sementara Naya masih bengong, mungkin senyumnya seperti itu, pikirku.
“Aku ada urusan, nanti aku WA boleh ya?” kataku sambil berdiri. Cantiknya sederhana, tapi membuat mataku tidak bisa berhenti menatapnya.
Dengan sedikit senyum, dia mengangguk pelan.
“Bye!” kataku sambil melambaikan tangan lalu melangkah pergi dengan senyum yang lebih lebar, karena langit sore itu berubah jadi lembayung senja yang menghangatkan. Beberapa burung kecil terbang dari kabel listrik satu ke kabel listrik lainnya. Anak-anak berlarian dengan gembira. Aku melakukan pertemuan dengan Jaka Awan, dengan wajah sumringah.
Jaka Awan menjelaskan cerita yang sedang ditulisnya, tentang pasangan suami istri muda yang dihantui oleh buaya yang mati karena rawa tempatnya tinggal dijadikan perumahan oleh pengusaha real estate. Ceritanya super serem, tapi aku tersenyum dan sesekali malah tertawa.
“Eh, ini ceritanya serem!” kata Jaka Awan menegur aku yang beberapakali terkekeh.
“Iya, Bang. Maaf. Seru banget. Aku mau kok!”
“Oke, ya. Kamu jadi pemeran utama. Pemeran utama perempuannya kemungkinan Dian Sastro.”
“Oh, Mbak Dian mau main film horror?”
“Mau lah. Sama gue masa nggak mau!” Jaka Awan tertawa seperti santa Klaus.
--
Pulang dari meeting, aku terus memandangi nomor WA Naya. Apakah aku chat sekarang? Atau kah terlalu cepat? Ah chat sekarang saja.
Aku ketik pesan di kolom chat, “Halo, ini Bima…”
Ah nggak jadi. Terlalu cepat. Nanti dikiranya aku nggak ada kerjaan.
Aku hapus pesan itu.
--
Besoknya, aku ke kantor Celsi untuk membahas kemungkinan kerja samaku sebagai produser sebuah acara pentas teater yang bekerja sama dengan departemen kebudayaan.
“Kamu dari tadi liat hape terus, liat apa sih?” Celsi akhirnya kesal dan memarahiku.
“Nggak ada,” kataku menyimpan ponselku.
“Bohong!”
“Nggak!”
“Mana liat!” Celsi mengambil ponselku.
Memang tidak ada pesan apapun di wa.
“Kirain chating sama Mutia,” katanya mengembalikan ponselku.
“Nggak lah. Ngapain!”
“Fokus meeting dong!” Celsi menunjuk ke laptopnya.
“Iya, iya!” aku mendekatkan diri ke Celsi dan fokus menatap layar laptopnya yang menujukkan proposal teater musical.
Sebenarnya aku sudah mengirimkan pesan pada Naya tadi pagi. Tapi karena gugup dan takut, aku langsung archive pesanku. Meski sesekali aku buka archive itu dan mendapati Naya belum juga membalas pesanku.