"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Hujan, Luka, dan Penyerahan Diri
[POV: Vaya]
Bunyi pintu yang tertutup di depanku terasa seperti dentuman palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Narev benar-benar pergi. Dia pergi dengan bahu yang merosot, membawa seluruh kesakitannya sendirian, tanpa sekali pun menoleh ke arahku.
Tiba-tiba, rasa sesak yang tak tertahankan menghantam dadaku. Kesunyian apartemen ini mendadak terasa mencekam. Aku menatap surat cerai di meja, lalu ke arah pintu. Tanpa berpikir panjang, aku menyambar kunci dan berlari keluar.
"Narev! Tunggu!"
Aku berlari menyusuri koridor, mengabaikan fakta bahwa aku tidak memakai alas kaki maupun mantel. Aku terus berlari hingga mencapai lobi dan keluar ke area parkir yang diguyur hujan deras. Petir menyambar, tapi ketakutanku kehilangan Narev jauh lebih besar daripada ketakutanku pada badai.
"NAREV! JANGAN PERGI!" teriakku sekuat tenaga, suaranya tertelan deru hujan.
Aku melihat mobil hitamnya mulai melaju perlahan. Aku mengejarnya, kakiku yang polos menghantam aspal yang kasar dan dingin. Air hujan memburamkan pandanganku.
Srak!
"Aaakh!" Aku tersandung batu dan jatuh tersungkur di atas aspal yang tajam. Perih menjalar di lutut dan telapak tanganku, namun aku tidak peduli. Aku mencoba bangkit sambil terus memanggil namanya dengan suara serak.
...****************...
[POV: Narev]
Mataku tak sengaja melirik kaca spion tengah. Jantungku seolah berhenti berdetak saat melihat siluet kecil berbaju putih tersungkur di tengah jalan di bawah guyuran hujan.
"Vaya?!"
Aku menginjak rem sekuat tenaga hingga mobil berdecit. Aku keluar dari mobil tanpa memedulikan payung yang tergeletak di kursi samping. Aku berlari secepat kilat, menerjang hujan menuju sosok yang sedang meringkuk di aspal itu.
"Vaya! Apa yang kau lakukan?! Kau gila?!" teriakku sambil berlutut di sampingnya, mencoba meraih pundaknya yang bergetar hebat.
Begitu tanganku menyentuh kulitnya yang dingin, Vaya langsung menghambur ke pelukanku. Dia melingkarkan lengannya di leherku begitu erat, seolah-olah jika dia melepaskannya sedikit saja, aku akan menguap.
"Jangan pergi... hiks... Narev, jangan tinggalkan aku lagi!" isaknya di dadaku yang basah. "Aku takut... aku sangat takut saat kamu berjalan keluar pintu tadi. Aku baru sadar... aku tidak bisa hidup tanpa raksasa menyebalkan sepertimu!"
Aku membeku. Air hujan yang mengalir di wajahku bercampur dengan air mata yang akhirnya tumpah. Aku membalas pelukannya, menenggelamkan wajahku di ceruk lehernya yang basah. "Aku menyakitimu, Vaya... aku monster yang mengekangmu..."
"Maka jadilah monsterku selamanya!" teriaknya di tengah isak tangis. "Jangan tinggalkan aku sendirian di rumah besar itu. Aku butuh kamu... Mici butuh kamu..."
Pertahananku runtuh total. Aku menggendongnya, membawa tubuh mungilnya yang menggigil kembali ke dalam mobil, dan memacu kendaraan itu kembali ke rumah kami.
Di Dalam Kamar
Sesampainya di apartemen, aku membawanya langsung ke kamar mandi. Tubuhnya sangat dingin, bibirnya membiru.
"Mandilah dengan air hangat, Vaya. Ganti pakaianmu dan segera istirahat. Aku akan ambilkan teh hangat," kataku dengan suara bergetar, mencoba bersikap tegar meski hatiku masih bergejolak.
Aku hendak berbalik pergi, namun tangan Vaya yang gemetar menarik ujung kemejaku yang basah kuyup. Dia menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, penuh dengan hasrat dan kepasrahan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Ikut aku, Narev," bisiknya pelan.
Dia menarikku masuk ke bawah pancuran shower. Air hangat mulai mengalir, membasahi tubuh kami yang masih berpakaian lengkap. Di bawah uap air yang mengepul, Vaya menjinjitkan kakinya dan mencium bibirku.
Awalnya ciuman itu terasa ragu, namun segera berubah menjadi ciuman yang menuntut, melepaskan semua hasrat terpendam, ketakutan, dan rasa rindu yang selama ini kami tekan. Pakaian kami yang basah terlepas satu per satu di lantai kamar mandi.
Malam itu, di bawah guyuran air hangat dan kemudian di atas tempat tidur kami, semua batas runtuh. Tidak ada lagi monster, tidak ada lagi tawanan. Yang ada hanyalah dua jiwa yang saling menyakiti namun tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Kami bercinta dengan intensitas yang luar biasa, seolah-olah hari esok tidak akan pernah datang.
...****************...
[POV: Vaya]
Aku berbaring di pelukan Narev, kulit kami bersentuhan di bawah selimut tebal. Napas kami perlahan mulai teratur. Narev menciumi puncak kepalaku berkali-kali, tangannya masih memelukku sangat erat.
"Vaya," bisiknya parau di kegelapan kamar. "Aku sangat mencintaimu. Maafkan aku karena mencintaimu dengan cara yang salah. Aku berjanji... aku akan belajar menjadi manusia yang lebih baik untukmu."
Aku mendongak, menatap bayangan wajahnya. "Aku juga mencintaimu, Narev. Mungkin aku juga gila karena mencintai pria yang pernah mengurungku. Tapi di pelukanmu... aku merasa paling aman. Jangan pernah pergi lagi, ya?"
Narev tersenyum tipis, lalu mencium keningku. "Aku tidak akan ke mana-mana, Cebol. Selamanya."
Di kamar sebelah, suara hati Mici yang tertidur pulas kembali meresap ke benakku.
“Hati Papa dan Mama sekarang warnanya emas... sangat terang. Mici senang... bau rumah ini sekarang sudah wangi cinta lagi.”
Aku memejamkan mata, akhirnya tertidur dengan perasaan damai yang sejati. Badai telah berlalu, dan kali ini, pelabuhanku benar-benar telah menetap.
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa