NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Sisa-sisa Badai

​Sore itu, langit Jakarta seolah sedang ikut menarik napas lega bersamaku.

​Warna jingga keemasan yang biasanya terhalang oleh pekatnya debu konstruksi dan jajaran beton, kini terpancar sempurna, menyirami area proyek yang mendadak sunyi senyap. Garis polisi berwarna kuning cerah kini terbentang mengelilingi gerbang utama Gedung Cipta Megah di seberang sana. Layar LED raksasa yang tadi pagi menampilkan wajah Arka kini mati total, menyisakan bidang hitam kosong yang tampak seperti monumen nisan bagi kekuasaan yang baru saja runtuh.

​Aku duduk memeluk kedua lututku di anak tangga teras depan kedaiku. Kakiku masih terasa kebas dan gemetar setelah berdiri berjam-jam sebagai barisan terdepan menghadapi moncong ekskavator tadi.

​Di sekelilingku, sisa-sisa perjuangan masih berserakan; poster-poster karton yang tergeletak di aspal, botol minum plastik yang tertinggal, dan ratusan jejak kaki di atas debu. Kedai Kala Senja masih berdiri tegak di belakangku. Sebuah keajaiban kecil yang dibayar teramat mahal dengan hancurnya sebuah imperium bisnis keluarga.

​"Lo beneran jadi bintang utama hari ini, Nja. Video lo meluk tiang kedai sambil nantangin ekskavator dan bagiin kopi itu udah ditonton lebih dari lima juta orang di TikTok," ucap Revan.

​Cowok itu tiba-tiba muncul dari samping meja bar, menyodorkan sebuah botol air mineral dingin yang mengembun ke arahku.

​Aku menerima botol itu dengan tangan lemas. Mataku tetap menatap kosong ke arah jalan raya yang mulai padat oleh kendaraan pulang kerja.

​"Gue nggak peduli soal viral, Van," jawabku lirih, tenggorokanku terasa kering. "Gue cuma... gue nggak nyangka Arka bakal melangkah sejauh itu. Dia ngebongkar aib bapaknya sendiri di depan seluruh dunia, Van. Lo tahu nggak apa artinya itu buat dia? Dia ngorbanin keluarganya buat gue."

​Revan menghela napas panjang. Ia ikut duduk lesehan di anak tangga di sampingku, lalu melepaskan helm proyeknya dan menyeka keringat di dahinya yang kotor.

​"Artinya dia bebas, Nja," jawab Revan dengan nada serius yang jarang ia tunjukkan. "Selama ini lo harus tahu, Arka itu ibarat burung elang yang sayapnya diikat kuat pakai rantai emas. Hari ini, rantainya putus. Dia emang kehilangan jabatan dan semua kekayaannya... tapi seumur-umur gue temenan sama dia, gue belum pernah lihat tatapan matanya seberani dan sehidup tadi di video."

​Aku menelan ludah. "Tapi dia di mana sekarang, Van? Polisi tadi pagi bilang dia dipanggil ke polda buat ngasih kesaksian, tapi ini udah mau magrib. Kenapa dia belum ngabarin?"

​Suaraku mulai bergetar. Kecemasan yang sejak tadi kutekan kuat-kuat kini mulai menggerogoti rasa legaku.

​"Tenang aja. Pengacaranya Arka bukan orang sembarangan. Dia pasti aman," hibur Revan, meski aku bisa menangkap nada suaranya sendiri terdengar sedikit ragu.

​Malam akhirnya turun menyelimuti Jakarta. Lampu-lampu jalanan mulai menyala satu per satu, mengusir bayang-bayang gelap di sekitar proyek. Aku memutuskan untuk masuk dan tetap menyalakan lampu kedaiku, meski aku sama sekali tidak berniat melayani pelanggan malam ini. Aku hanya ingin aroma kopi kembali memenuhi ruangan ini, mencoba mengusir bau ketakutan yang sempat mengendap di paru-paruku.

​Aku menyalakan mesin espresso, membiarkan suara dengungan mesin tua itu memecah keheningan malam yang canggung.

​Pukul delapan lewat sepuluh menit.

​Sebuah taksi berwarna biru pudar perlahan menepi dan berhenti tepat di depan kedaiku.

​Jantungku langsung berdegup sangat kencang hingga tulang rusukku terasa nyeri. Aku berdiri kaku di balik meja bar. Dari dalam taksi itu, seorang pria turun dengan gerakan perlahan. Langkah kakinya tampak berat dan gontai, namun posturnya tetap stabil. Ia masih mengenakan kaus oblong hitam lusuh yang sama persis dengan yang ia pakai di video siaran langsung tadi pagi.

​Wajahnya tampak luar biasa letih. Ada bekas lebam kecil kebiruan di sudut bibir kirinya—yang kuyakin seratus persen adalah bekas tamparan ayahnya semalam—namun, saat ia mendongak menatap kedaiku, matanya memancarkan ketenangan yang luar biasa.

​Itu Arka. Pria berpayung hitamku akhirnya pulang.

​Aku tidak sanggup menunggu pria itu melangkah masuk. Persetan dengan meja bar. Aku berlari keluar menembus sisa udara dingin malam, melompati anak tangga, dan langsung menabrakkan tubuhku, menghambur ke dalam pelukannya.

​Aku tidak peduli jika baju kausnya bau asam keringat atau penuh debu jalanan. Arka terkesiap pelan, namun sedetik kemudian ia membalas dekapanku dengan kekuatan yang sama putus asanya. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku, menghirup napasku. Untuk beberapa saat, kami hanya berdiri diam membeku di sana, saling berpelukan di antara reruntuhan proyek dan temaram lampu jalan.

​"Gue di sini, Nja. Semuanya udah berakhir," bisik Arka parau di telingaku. Hembusan napasnya terasa sangat hangat menembus kulitku.

​"Kenapa lo nekat banget, Ka?" tangisku akhirnya pecah, meredam suaraku di dada bidangnya. Tanganku meremas kaus hitamnya kuat-kuat. "Lo bisa aja lari, lo bisa aja nyerah... kenapa lo harus ngebongkar semuanya sampai lo hancur begini?"

​Arka merenggangkan pelukannya perlahan. Ia menunduk, menangkup wajahku yang basah oleh air mata dengan kedua tangannya. Telapak tangannya kini terasa jauh lebih kasar karena kapalan, namun sentuhannya tetap selembut sutra.

​"Karena gue mau bisa natap mata lo tanpa rasa malu, Senja," jawab Arka, menatap lurus ke dalam mataku. "Gue mau punya masa depan di mana gue nggak perlu bohong sama lo soal gimana cara gue dapetin uang buat makan. Gue... gue resmi kehilangan kursi direktur gue, Nja. Semua rekening gue diblokir. Gue nggak punya apa-apa lagi sekarang."

​Arka tertawa miris, mengusap air mataku dengan ibu jarinya. "Bahkan buat bayar taksi barusan... gue harus ngutang dan pinjam uang tunai dari sopirnya dulu."

​Mendengar pengakuan jujur yang menyedihkan itu, tawaku justru tanpa sadar menyembur keluar di sela-sela isak tangis. "Lo direktur paling miskin dan paling nekat yang pernah gue kenal."

​"Emang," Arka ikut tersenyum, sebuah senyuman tipis yang sangat melegakan. "Tapi anehnya, Nja... gue ngerasa jadi pria paling kaya di dunia malam ini."

​Aku menarik tangannya, membawanya masuk ke dalam kedai. Aku segera membuatkannya satu cangkir Hot Americano andalannya. Aroma kopi pekat yang baru diseduh seketika memenuhi udara, seolah menyatukan kembali kepingan-kepingan harapan kami yang sempat hancur berserakan.

​Saat Arka duduk di meja pojok favoritnya dan menyesap kopi itu sambil memejamkan mata, suasana terasa begitu damai. Sangat damai, seolah badai mengerikan tadi pagi hanyalah mimpi buruk yang sudah menguap jauh.

​Namun, kedamaian itu rupanya tidak ditakdirkan untuk bertahan lama malam ini.

​Kring!

​Pintu kedai yang biasanya bergemerincing ramah, mendadak didorong dan dibuka dengan sangat kasar.

​Aku terlonjak kaget. Clara Beatrice berdiri di ambang pintu, terengah-engah.

​Aku nyaris tidak mengenalinya. Penampilannya sangat berantakan dan kacau. Rambut panjangnya yang selalu di-blow rapi kini awut-awutan. Riasan matanya luntur berantakan karena air mata yang membanjiri pipinya, dan ia hanya mengenakan blouse sutra yang kancing teratasnya terlepas.

​Perempuan di depanku ini tidak lagi tampak seperti putri mahkota yang angkuh dan merendahkanku tempo hari. Ia terlihat hancur.

​"Arka..." suara Clara bergetar hebat, nyaris seperti rintihan kesakitan yang menyayat hati.

​Arka yang baru saja meletakkan cangkir kopinya, langsung berdiri kaku. Tatapannya menegang awas. "Clara? Ngapain lo ke sini malam-malam?!"

​Clara melangkah maju dengan kaki gontai, lalu merosot jatuh berlutut begitu saja ke lantai kayuku. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang bergetar.

​"Papa, Arka... Papa Handoko..." isak Clara pecah dan menggema di dalam kedai. "Beliau kena serangan jantung pas polisi dan penyidik geledah paksa ruang kerjanya tadi sore. Sekarang Om Handoko kritis di ICU."

​Udara hangat dari uap mesin kopi di dalam kedai seketika membeku.

​Aku menahan napas, menoleh perlahan ke arah Arka.

​"Dia terus-terusan panggil nama kamu di sela napasnya," lanjut Clara, mendongak menatap Arka dengan mata yang memerah dan memohon. "Dokter bilang... dokter bilang kondisinya sangat buruk. Malam ini mungkin malam terakhirnya."

​Clara terisak keras. "Arka... kamu beneran mau biarin ayah kamu mati dengan perasaan benci sama kamu?"

​Duniaku berhenti berputar. Aku menatap wajah suamiku. Aku bisa melihat konflik batin yang luar biasa masif dan menyiksa sedang berkecamuk di mata kelam Arka. Otot rahangnya mengerat kaku, tangannya mengepal di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih.

​Arka baru saja berhasil memerdekakan dirinya dari jeratan racun ayahnya. Namun, di hadapan maut, rantai darah rupanya tidak semudah itu untuk benar-benar diputus.

​Sisa-sisa badai korporasi hari ini ternyata belum sepenuhnya mereda. Ia baru saja bermutasi menjadi badai emosional yang siap menguji batas terakhir dari kewarasan Arka.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!