Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 – Naya
Bab 14 – Naya
“Nay! Mobilnya bagus amat, Nay!” mama teriak heboh padaku. Senyumnya merekah seperti habis menang lotre.
“Muat nggak ya masuk ke sini?” Papa membuka pagar.
“Kayaknya nggak muat,” aku berdiri dengan wajah nelangsa, pasrah kalau habis ini Bima membatalkan ajakannya menikah dengan anak dari pinggiran Jakarta alias kampung, gini.
“Harusnya kita ketemu di restoran aja, Nay!” Mama menggenggam lenganku dengan gemas.
“Ya nggak dong, kalau di restoran ntar keliatan orang banyak!” kataku menghela napas.
“Iya juga ya.” Mama memperbaiki kerudungnya, “Harusnya mama pake baju yang buat kondangan deh!”
Mobil alpard putih itu berhenti di depan pagar rumah kami. Pintu terbuka. Bima yang memakai kemeja flannel kotak-kotak merah maroon coklat dengan celana jeans coklat turun dari mobil.
“Halo, Om. Tante,” katanya salaman dengan Papa dan Mama, “Saya Bima.”
“Tante tau lah!” mama mencubit pipi Bima gemas, “Ganteng banget ya aselinya!”
“Mama!” aku menarik tangan mama sambil melotot. “Mobilnya mau diparkir apa gimana, Kak?”
“Eh, kok manggilnya kakak! Mas dong, Nay!” mama menegurku kesal.
Memang kenapa kalau panggil, Kak? Tanyaku dalam hati.
“Nggak apa-apa, kak juga boleh,” kata Bima yang seperti tahu aku merasa tidak nyaman. “Ehm, Pak Mardi mau langsung ke kantor, jadi dia ngedrop aku aja,” kata Bima menatapku dengan mata coklatnya.
Aku tertegun. Masih terlalu kagum.
“Heh ayo, masuk!” Papa membuyarkan lamunanku.
Kami semua masuk ke dalam rumah, sementara mobil Alphard yang mencuri perhatian tetangga itu, perlahan pergi menjauh.
Aku memperhatikan Bima yang tampak kontras sekali berada di rumah kecil dan tua ini. Di antara kursi-kursi ruang tamu yang terbuat dari kayu dengan jok kursi yang warnanya sudah memudar, cenderung kotor. Tadi pagi, mama mengepel semua rumah, padahal aku sudah melakukannya habis subuh. Setiap sudut di lap dengan bersih dan disemprot pengharum ruangan. Mama nggak mau ada kecoa atau tikus lewat, “Malu kalau kita dikira tinggal di kampung!”
“Mau minum apa?” tanya mama pada Bima.
“Apa aja, tante,” jawab Bima sambil tersenyum ke arahku.
Kapan aku bisa berhenti merasa malu dan gemeteran setiap kali Bima melihatku, kataku mengalihkan pandanganku darinya.
“Kopi, teh?” tanya mama lagi.
“Kopi boleh,” jawabnya menganggukkan kepala.
“Nay, bikinin kopi!”
“I.. iya,” aku bangkit, gugup salah tingkah, jadi menabrak ujung meja. “Aduh!”
“Hati-hati!” kata Bima pelan.
“Ah, iya, ahahaha,” kataku lalu pergi ke dapur.
Begitu sampai dapur, aku melihat sekeliling. Cuma ada kopi saset. Apa dia suka kopi saset? Apa mau dibikinin kopi item, kayak aku biasa bikinin buat papa? Astaga! Aku usap-usap muka dengan kedua tanganku. Aku tarik napas, lalu membuatkan kopi saset ke gelas, dingin? Atau panas? Harusnya aku tadi tanya dulu!
Sudah lah, aku buat saja kopi panas.
Terdengar suara pesan masuk di ponsel di saku celanaku. Aku melihat ponselku, ada pesan dari Devi, Risa dan Shanaz. Semuanya bertanya soal Bima. Aku masukkan lagi ponsel ke saku celanaku, lalu aku bawakan kopi kembali ke ruang tamu.
Bima sedang tertawa bersama Papa dan Mama.
“Ngomongin apa?” tanyaku sambil memberikan gelas kopi ke papa dan Bima, lalu teh ke mama.
“Waktu kecil ada yang nggak tahan buang air kecil, akhirnya buang air kecil di depan pagar,” kata Bima nyengir.
“Oh itu,” kataku santai sambil aku duduk di sebelah Bima dan melotot ke Mama. Kenapa ya, orang tua tuh suka banget ngulang-ngulang cerita memalukan yang dilakukan anaknya waktu masih kecil?
“Terus dia juga pernah, masukin kapas ke idung. Sampe papanya bawa dia malem-malem ke rumah sakit!” mama cerita dengan semangat.
“Namanya juga anak-anak,” kataku pasrah. Udah lah, kalau habis ini Bima nggak jadi mau nikah sama aku, ya sudah lah, aku bakalan dapat pangkat gagal nikah dua kali tahun ini.
“Jadi, kamu sebenernya kenal sama Naya di mana?” tanya Papa.
“Di acara nikahan, Om,” jawab Bima dengan suara merdunya. “Dia lagi kerja, terus kami tabrakan di depan toilet.”
“Tabrakan?” tanya mama heran.
“Iya, kayanya dia buru-buru kebelet, sampe dia juga nabrak pintu,” kata Bima terkekeh.
Mama dan Papa tertawa terbahak-bahak.
Kayanya pertemuan ini temanya, bahas kebodohan aku. Oke. Pasrah. Kalau ada bendera putih, aku udah mengibarkannya dari tadi.
Setelah basa-basi yang menyebalkan sampai makan siang selesai, papa dan mama akhirnya masuk mode serius.
“Sebenernya, saya sih gimana Naya aja. Kalau dia mau nikah muda, saya senang, asal pria yang dipilihnya orang baik. Tapi kalau Naya maunya nggak sekarang, juga nggak apa-apa. Karena toh, dia masih muda kan?” papa menatapku.
Aku mengangguk setuju.
“Saya mengerti. Saya juga nggak maksa, tapi kalau bisa saya minta kejelasan,” kata Bima menatapku. Begitu juga papa dan mama, menatapku menungguku menjawab.
Semalaman aku berpikir ini akan jadi pertanyaan utama acara ini. Aku sudah solat istikharah, curhat sama Devi dan yang lainnya, tapi entah kenapa masih ada ragu.
“Ehm,” aku menatap papa, mama, dan Bima, lalu mengangguk pelan, “Iya.”
Bima hanya tersenyum menatapku, seperti bicara kita akan baik-baik saja.
“Ya iya lah, masa nggak!” mama tertawa sambil menepuk telapak tangan Bima.
“Jadi, gimana? Mau kita adakan pertemuan keluarga?” tanya papa padaku dan Bima.
“Oh, iya. Rencananya aku mau ngajak Naya ketemu sama ibuku dulu. Terus mungkin kita nanti jadwalkan lamaran sederhana. Baru kita bahas soal pernikahan,” kata Bima pasti.
Aku hanya bisa terdiam, tidak tahu harus merespon.
Tak lama kemudian, Bima mendapatkan telepon dari seseorang, yang ternyata adalah telepon dari ibunya, ada acara ulang tahun keponakkannya. Mobilnya sudah ada di depan rumah. Bima naik ke dalam mobil. Sebelum menutup pintu, dia berkata, “Kabarin aku, kapan kamu bisa ada jadwal kosong buat ketemu sama ibu.”
Aku mengangguk, tapi mama menjawab, “Iya, nanti dikabarin! Hati-hati nak Bima!”
--
“Gimana?” tanya Devi yang video call-an denganku malamnya.
“Aku bilang iya,” jawabku pelan.
“Aaaaa!” Devi teriak histeris. “Aku punya temen istrinya artis!” Devi melompat girang di kamar kosannya. “Terus gimana? Kapan nikahnya?”
“Nah ini masalahnya.”
“Apa?” tanya Devi berhenti melompat, lalu masuk mode serius.
“Dia ngajak aku ketemuan sama ibunya. Gantian kenalan sama keluarganya.”
“Terus masalahnya di mana?”
“Ya itu masalahnya!”
“Maksudnya? Cuma kenalan sama ibunya sama keluarganya aja, ya udah, kenalan aja, gampang kan?” Devi nyerocos dengan pertanyaan.
“Dep, dia itu artis. Keluarganya pasti orang kaya kan? Aku pake baju apa? Terus harus ngomong apa sama mereka? Kalau mereka kaget ternyata cewek pilihan Bima itu cuma seorang gen z cupu biasa, gimana?”
“Ehmm, bener juga!” Devi malah ngomporin, “Kalau ternyata elu sama Bima nggak cocok. Gen Z nggak bisa ngadepin Millenial, terus elu dianggap gen z alay sama keluarganya! Wah, udah, gagal dah. Batal semua, buyar!”
“Deeeeep!” aku teriak kesal, semakin overthinking dan bingung, sementara Devi tertawa terbahak-bahak.