Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Badai di Puncak Lawu
Pesawat siluman tanpa awak, Gatotkaca-02, membelah awan kelabu yang menyelimuti lereng Gunung Lawu dengan kesunyian yang mematikan. Di bawahnya, hamparan hutan pinus yang biasanya tenang kini memancarkan aura kegelapan yang pekat. Kirana Larasati duduk di kursi kopilot kendaraan taktis darat Surya Corp yang sedang mendaki jalur terjal, matanya terpaku pada layar holografik yang memancarkan data resonansi perak.
Adyatma, yang berada di kursi pengemudi, merasakan getaran di kemudi bukan karena jalanan yang rusak, melainkan karena reaksi bumi terhadap kehadiran mereka. "Tekanan energinya meningkat, Kirana. Kita hampir memasuki zona interferensi Dewan Tetua."
"Biarkan mereka merasakan kehadiranku," balas Kirana dingin. Ia menekan tombol pada panel kontrol, mengaktifkan frekuensi resonansi yang telah disinkronkan dengan Cendana-Drive.
Menembus Gerbang Ilusi
Tiba-tiba, pemandangan di depan mereka berubah. Jalan setapak yang mereka lalui seolah terputus dan berganti menjadi jurang yang tak berujung. Ini adalah teknik hipnosis visual tingkat tinggi yang digunakan Dewan Tetua untuk menyesatkan pendaki.
"Jangan percaya pada apa yang kau lihat, Adyatma. Percayalah pada arus dataku," perintah Kirana. Ia memejamkan mata, membiarkan energi peraknya mengalir ke sistem navigasi kendaraan. Seketika, layar holografik menampilkan jalur yang sebenarnya—sebuah jalan lurus yang tertutup oleh proyeksi cahaya ungu.
Adyatma menginjak gas. Mereka menerjang "jurang" tersebut tanpa ragu, dan dalam sekejap, ilusi itu hancur berkeping-keping seperti kaca yang pecah. Di hadapan mereka, berdiri sebuah kuil kuno yang megah, namun di puncaknya terpasang menara pemancar frekuensi tinggi yang memancarkan kilatan listrik ungu ke langit.
Pertempuran di Pelataran Kuil
Begitu kendaraan mereka berhenti, puluhan anggota klan Scorpio yang telah dimodifikasi secara sibernetik melompat dari balik pilar-pilar batu. Mata mereka bercahaya ungu, dikendalikan sepenuhnya oleh sinyal dari menara pemancar.
"Biar aku yang menangani mereka," ucap Adyatma. Ia melompat keluar, melepaskan aura naga yang kini stabil dalam warna perak kebiruan. Setiap pukulannya menciptakan gelombang kejut yang melumpuhkan implan saraf para penyerang tanpa harus membunuh mereka.
Kirana melangkah turun dengan tenang. Ia tidak membawa senjata api, namun aroma cendana yang memancar darinya menciptakan kubah pelindung yang tak tertembus peluru. Ia berjalan lurus menuju pintu besar kuil, mengabaikan kekacauan di sekelilingnya.
"Mbok Sum! Keluar dan hadapi aku!" teriak Kirana.
Pintu kuil terbuka perlahan. Mbok Sum melangkah keluar, namun penampilannya kini jauh lebih mengerikan. Kulitnya tampak pucat dan transparan, memperlihatkan sirkuit mikroskopis yang menjalar di bawah nadinya. Di belakangnya, berdiri pria tua berjubah hitam—Sang Arsitek, pemimpin tertinggi Dewan Tetua Langit.
"Kau datang terlalu cepat, Kirana," ucap Sang Arsitek, suaranya tenang namun mengandung getaran yang membuat jantung berdegup tidak teratur. "Kau membawa 'kunci' itu tepat ke tempat di mana ia akan digunakan untuk membuka gerbang Naga Hitam."
Rahasia di Balik Proyek Cendana
Kirana tertawa mengejek. "Kau pikir aku membawa energi ini untukmu? Aku membawanya untuk menghapus jejakmu dari sejarah Nusantara."
Kirana mengangkat tangannya, melepaskan aliran data resonansi dari perangkat di pergelangan tangannya. Menara pemancar di atas kuil mulai berderit keras. Melalui integrasi Google Workspace tingkat lanjut, Kirana melakukan overload pada sistem kendali Dewan Tetua.
"Mustahil! Bagaimana kau bisa menembus enkripsi kuno kami?!" Mbok Sum memekik panik saat sirkuit di bawah kulitnya mulai terbakar.
"Ini bukan hanya tentang enkripsi, Mbok," jawab Kirana, melangkah maju dengan penuh otoritas. "Ini tentang hak kepemilikan. Ibuku membangun fondasi sistem ini dengan kasih sayang, bukan dengan ketakutan. Dan kasih sayang memiliki frekuensi yang lebih tinggi dari kebencianmu."
Puncak Resonansi: Fajar di Puncak Lawu
Sang Arsitek mengangkat tongkatnya, mencoba melepaskan serangan balik berupa gelombang elektromagnetik hitam. Adyatma segera melompat ke depan Kirana, menyatukan energinya dengan energi istrinya.
Cahaya perak meledak dari titik pertemuan tangan mereka. Resonansi Jiwa mencapai puncaknya. Cahaya itu merambat naik menuju menara pemancar, mengubah energi ungu menjadi emas murni yang kemudian ditembakkan kembali ke bumi melalui jaringan kabel bawah tanah Dewan Tetua.
BOOM!
Seluruh menara pemancar meledak, namun bukan dengan api, melainkan dengan partikel cahaya yang menenangkan. Seluruh anggota klan Scorpio yang terhipnotis tiba-tiba jatuh pingsan saat kendali pikiran mereka terputus. Mbok Sum tersungkur, sirkuit di tubuhnya mati total, meninggalkan sosok wanita tua yang rapuh dan ketakutan.
Sang Arsitek menatap mereka dengan kebencian sebelum tubuhnya perlahan-lahan memudar, berubah menjadi data digital yang hancur. "Ini belum berakhir, Kirana... Kami adalah ideologi... ideologi tidak bisa mati..."
Keheningan Setelah Badai
Matahari mulai menyembul dari balik cakrawala, menyinari puncak Gunung Lawu dengan warna keemasan yang asli. Kirana dan Adyatma berdiri berdampingan di pelataran kuil yang kini sunyi.
Kirana menoleh ke arah Mbok Sum yang sedang meringkuk. "Bawa dia ke fasilitas rehabilitasi Surya Corp. Aku ingin dia melihat dunia yang kita bangun, sebuah dunia di mana dia tidak lagi memiliki kekuasaan atas siapapun."
Adyatma menarik Kirana ke dalam pelukannya. "Kita berhasil, Kirana. Kutukan itu... aku merasa ia tidak lagi bergejolak. Ia seolah telah menemukan rumahnya."
"Ini baru awal, Adyatma," bisik Kirana sambil menyandarkan kepalanya. "Masih banyak benalu yang harus dibersihkan di luar sana. Tapi untuk saat ini, fajar ini milik kita."
Dengan data dari Dewan Tetua yang berhasil mereka ambil, Kirana kini memiliki peta seluruh jaringan korupsi dan kejahatan tersembunyi di Asia. Pembalasan dendamnya kini telah bertransformasi menjadi sebuah misi restorasi besar bagi bangsa.
*** [Bersambung ke Bab 15...]