Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: TEPAT WAKTU
Hujan turun semakin deras, seolah langit sedang menumpahkan seluruh beban kesedihan yang dipendamnya ke bumi. Air menghantam atap sirap Perguruan Melati Putih dengan suara menderu, menghapus jejak langkah para murid yang mondar-mandir dalam kecemasan yang mencekik.
Di dalam bangunan utama, suasana mencapai titik paling sunyi. Sunyi yang menakutkan, seperti keheningan di dalam liang lahat sebelum gundukan tanah pertama dijatuhkan.
Dewi Melati terbaring tanpa gerak di atas dipan jati. Napasnya kini hanya berupa tarikan tipis yang nyaris tak terlihat, seolah jiwanya sudah berada di ambang pintu keberangkatan. Wajah sang pimpinan perguruan itu pucat pasi bagai mayat hidup, dengan gurat hitam racun yang kini telah mencapai pangkal lehernya.
Di sampingnya, Selasih juga terkulai. Gadis itu sudah tidak lagi mampu mengerang; dadanya naik turun dengan sangat lemah, seperti nyala lilin di tengah badai yang siap padam oleh satu embusan angin terkecil sekalipun.
Para murid mengelilingi mereka dalam lingkaran keputusasaan. Beberapa terisak tertahan, sementara yang lain hanya diam membatu dengan tatapan kosong. Mereka adalah pendekar, namun di hadapan racun Nini Suro, mereka tak lebih dari sekadar penonton kematian.
Tabib tua berdiri di dekat dipan, bahunya merosot layu. Ia menutup mata rapat-rapat, tak sanggup lagi menyaksikan detik-detik terakhir dari dua pilar perguruan itu.
“Sudah saatnya…” gumamnya lirih, suaranya pecah oleh duka. “Siapkan kain putih…”
Seorang murid wanita terisak histeris. “Tidak! Tidak mungkin! Guru tidak boleh pergi meninggalkan kami seperti ini!”
Rekan di sampingnya memegang bahunya untuk menguatkan, namun tangannya sendiri gemetar hebat hingga tak sanggup mengeluarkan kata penghibur.
Tiba-tiba, di tengah kepasrahan itu, Selasih membuka matanya sedikit. Pandangannya kabur, tertutup selaput putih tipis akibat racun yang mulai menyerang saraf penglihatan. Namun, bibirnya bergerak.
“Dia…” bisiknya. Sangat pelan, hampir tertelan oleh suara hujan di luar.
“Siapa, Selasih? Apa yang kau katakan?” tanya seorang murid senior, mendekatkan telinganya ke bibir gadis itu.
Selasih mencoba tersenyum, meski otot wajahnya terasa kaku dan perih. “Dia… pasti… datang…”
Seorang murid laki-laki menggeleng pedih, air mata jatuh ke lantai. “Sudah cukup, Adik Selasih… jangan menyiksa dirimu dengan harapan lagi. Rangga tidak akan—”
“DIAM!”
Tiba-tiba sebuah bentakan menggelegar memecah ruangan, mengalahkan deru badai di luar. Semua orang tersentak kaget. Suara itu bukan berasal dari dalam ruangan, melainkan dari arah gerbang utama.
BRAKKK!!!
Pintu kayu jati yang tebal itu terbuka dengan keras hingga menghantam dinding. Angin dingin dan uap hujan menerobos masuk ke dalam aula, memadamkan beberapa lampu minyak di sudut ruangan.
Dan di ambang pintu, di antara kilatan petir yang menyambar di langit, berdiri seorang pemuda.
Tubuhnya basah kuyup, jubah emasnya yang agung kini compang-camping dan berlumuran lumpur hitam. Darah kering menempel di pelipis dan lengan bajunya yang robek. Namun, sepasang matanya menyala dengan kilat yang lebih tajam dari pedang mana pun di dunia ini.
“RANGGA!!!”
Teriakan itu pecah dari puluhan mulut secara bersamaan. Antara tak percaya, takjub, dan haru, harapan yang tadi telah dianggap mati tiba-tiba meledak kembali dengan daya hidup yang luar biasa.
Rangga berdiri diam sejenak, paru-parunya bekerja keras meraup udara. Matanya langsung menyapu ruangan dan terpaku pada dipan di tengah aula. Melihat sosok Dewi Melati dan Selasih yang hampir kehilangan raga, wajahnya menegang hebat.
“Masih hidup…” bisiknya dengan nada yang bergetar antara syukur dan kemarahan pada takdir.
Ia melangkah cepat, kaki yang lecet dan berdarah itu tak dirasakannya saat ia menerjang masuk. Para murid secara otomatis memberi jalan, aura keberanian yang terpancar dari tubuh Rangga membuat mereka merasa seolah sang Naga sendiri yang hadir di sana.
“Rangga…” suara tabib tua terdengar berat dan penuh sesal. “Kau terlambat, racunnya sudah sampai ke jantung—”
“Belum!” Rangga memotong dengan suara yang menggetarkan pilar bangunan. Matanya menatap sang tabib dengan ketajaman yang tak terbantahkan. “Selama napas masih ada di tenggorokan, tidak ada kata terlambat!”
Ia merogoh balik jubahnya dan mengeluarkan botol porselen hijau tua itu. Semua mata tertuju pada benda kecil yang memancarkan aura magis tersebut.
“Ini adalah Empedu Macan Putih.”
Ruangan langsung hening seketika. Beberapa murid menutup mulut dengan tangan, air mata syukur mulai mengalir tanpa bendungan. Mereka tahu, benda itu adalah mitos yang kini menjadi kenyataan di tangan Rangga.
Tabib tua melangkah maju dengan tangan gemetar. “Jadi… kau benar-benar berhasil menembus sarang Macan Hitam?”
Rangga tidak menjawab. Setiap detik sekarang adalah emas yang tak ternilai harganya. Ia langsung membuka tutup botol, dan seketika aroma hangat yang liar—campuran bau hutan purba dan tenaga murni—menyebar ke seluruh ruangan, menyingkirkan aroma obat yang apek.
“Tabib,” kata Rangga tegas, “berapa lama lagi sisa waktu mereka?”
Tabib tua memeriksa denyut nadi Dewi Melati sekali lagi dengan cepat. “Tidak lebih dari satu jam… mungkin kurang.”
“Cukup.”
Rangga berlutut di samping dipan Dewi Melati. Dengan sangat hati-hati, ia menopang kepala wanita itu. Meskipun Dewi Melati bukan gurunya secara resmi, namun penghormatan Rangga pada pemimpin golongan putih ini sangatlah besar.
“Minum ini, Guru…”
Ia meneteskan cairan kental berwarna perak dari botol itu ke bibir Dewi Melati yang menghitam. Namun, cairan itu hanya menggenang, tidak tertelan karena otot tenggorokan sang pimpinan sudah lumpuh.
“Buka mulutnya! Bantu aku!” perintah Rangga cepat. Seorang murid senior segera bergerak membantu membuka rahang Dewi Melati dengan teknik totok ringan.
Beberapa tetes cairan perak itu masuk. Sunyi. Semua orang menahan napas, menatap tanpa berkedip. Satu detik… lima detik… sepuluh detik berlalu. Tak ada perubahan.
Seorang murid mulai terisak kembali. “Tidak berhasil… racunnya sudah terlalu kuat!”
“Diam!” bentak Rangga, urat-urat di lehernya menonjol. “Racun itu sudah mengendap di dasar meridian. Kalau hanya mengandalkan daya serap tubuh yang sudah hancur, obat ini tak akan sampai ke sasaran!”
Ia mengangkat tangan kanannya yang masih gemetar, lalu menempelkan telapak tangannya tepat di atas ulu hati Dewi Melati.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?!” tanya seseorang dalam kepanikan.
Rangga tidak menjawab. Ia memejamkan mata, memusatkan sisa tenaga dalamnya yang tinggal separuh. Ia harus melakukan teknik Naga Mengalirkan Inti, sebuah teknik berbahaya yang bisa menguras habis nyawanya sendiri jika salah langkah.
“Bantu aku, Tabib! Aku akan mendorong obat ini masuk menggunakan tenaga murni. Kau bertugas membuka jalur meridian di punggungnya!”
Tabib tua itu tertegun, namun segera mengerti. Ia mengangguk mantap. “Baik! Laksanakan!”
Dua orang itu bekerja dalam sinkronisasi yang sempurna. Rangga mengalirkan energi emasnya yang hangat, membungkus cairan empedu perak itu dan mendorongnya menembus sumbatan-sumbatan racun hitam yang menjijikkan.
“Sekarang!” seru Rangga.
Tiba-tiba, tubuh Dewi Melati bergetar hebat. Punggungnya melengkung ke atas.
“UKHHH!”
Semburan darah hitam pekat—jauh lebih hitam dan busuk dari sebelumnya—keluar dari mulutnya. Namun, di akhir semburan itu, setetes darah merah segar mulai terlihat.
“Berhasil…! Lihat! Darahnya mulai memerah!” bisik seorang murid dengan mata berbinar.
Dewi Melati membuka matanya perlahan. Pandangannya yang semula kosong kini mulai fokus, meski masih sangat lemah. Ia menatap sosok basah kuyup di depannya.
“Ra…ngga…?” suaranya hanya berupa desisan udara, namun itu adalah melodi paling indah bagi semua orang di sana.
Rangga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan rasa lelah luar biasanya. “Ya, Guru… aku sudah kembali.”
Tanpa membuang waktu, Rangga segera berpindah ke sisi Selasih. Gadis itu sudah berada di ambang pingsan total. Dengan teknik yang sama, Rangga memasukkan sisa penawar dan mengalirkan tenaganya.
“Jangan mati dulu… kau belum melihatku menang,” gumam Rangga lirih.
Beberapa saat yang terasa seperti selamanya berlalu, hingga akhirnya Selasih tersedak keras.
“UKH!”
Ia memuntahkan sisa racun dan langsung meraup udara dengan rakus. Matanya terbuka lebar, menatap lurus ke arah Rangga. “Ra…ngga… kau… benar-benar datang…”
Rangga menghela napas panjang, bahunya merosot lemas. Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di Gunung Tiga Puluh, ia benar-benar merasa lega. Seolah beban seberat gunung telah diangkat dari jiwanya.
Aula Perguruan Melati Putih pecah dalam haru. Tangis syukur, tawa bahagia, dan doa-doa memenuhi udara. Tabib tua itu duduk lemas di lantai, menatap Rangga dengan pandangan penuh hormat.
“Anak muda…” katanya pelan, “kau bukan sekadar membawa obat dari gunung terkutuk itu. Kau baru saja membawa kembali kehidupan ke perguruan ini.”
Rangga tidak menjawab. Ia hanya duduk diam di samping dipan, menatap kedua wanita yang baru saja diselamatkannya. Namun di balik ketenangannya, sepasang mata Naga itu kembali menatap ke luar, ke arah hujan yang mulai reda.
Ia tahu, Macan Hitam tidak akan membiarkan penghinaan ini berlalu begitu saja. Dendam di Gunung Tiga Puluh masih membara, dan Ayu masih tertinggal di Lembah Mayat.
Ia mengepalkan tangan perlahan. Matanya kembali tajam, memancarkan kilat yang berbahaya.
“Ini baru awal…” bisiknya pada dirinya sendiri.
Hujan di luar memang mulai reda, namun Rangga tahu, badai yang sesungguhnya—badai yang akan meluluhlantakkan Istana Macan Hitam—baru saja akan dimulai.
Bersambung…