NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Jejak di Balik Kabut

Satu bulan telah berlalu. Rumah mewah keluarga Wijaya memang sudah kembali ke tangan mereka, tapi suasananya tak lagi sama. Tak ada lagi tawa sombong atau pamer kemewahan. Pak Wijaya kini lebih banyak diam, sementara Guntur kehilangan kepercayaan dirinya, ia malu keluar rumah karena semua teman sosialitanya menjauh.

.

"Bu... opo kowe ngerti Juna neng pundi? (Bu... apa kamu tahu Juna di mana?)" tanya Pak Wijaya dengan suara yang serak. Penyesalan itu tampak jelas dari matanya yang sayu.

.

Bunda menggeleng pelan sambil mengusap air mata. "Juna mboten nate sanjang, Pak. Tapi wingi wonten cah ayu sing asmane Hinata, jarene editor naskahipun Juna. (Juna tidak pernah bilang, Pak. Tapi kemarin ada gadis cantik namanya Hinata, katanya editor naskahnya Juna.)"

.

"Hinata? Wong Jepang?" Guntur menyela dengan wajah penasaran.

.

"Cah ayu campuran, ramah banget. Jarene Juna niku penulis besar sing asile milyaran. (Gadis cantik campuran, ramah sekali. Katanya Juna itu penulis besar yang hasilnya miliaran.)" Bunda melanjutkan. "Dheweke sing ngeterke dokumen pelunasan wingi."

.

Pak Wijaya langsung berdiri. "Guntur! Goleki Hinata kuwi! Deweke pasti ngerti Juna neng pundi. Bapak kudu njaluk ngapuro, Bapak kudu jemput anakku mbarep! (Guntur! Cari Hinata itu! Dia pasti tahu Juna di mana. Bapak harus minta maaf, Bapak harus jemput anak sulungku!)"

.

Setelah mencari informasi ke sana kemari, akhirnya Pak Wijaya dan Guntur sampai di kantor Hinata. Di meja kerjanya, terdapat sebuah foto Arjuna yang sedang duduk bersila di depan gubuk—tampak sangat gagah dan berwibawa.

.

"Permisi, Mbak Hinata... kulo bapake Arjuna. (Mbak Hinata... saya ayahnya Arjuna.)"

.

Hinata mendongak. Ia melepaskan kacamatanya perlahan. "Oh, keluarga yang mencoret namanya dari Kartu Keluarga itu ya? (Oh, keluarga sing nyoret asmanipun saking KK niku nggih?)" tanya Hinata dalam bahasa Indonesia yang sangat halus namun menusuk jantung.

.

Pak Wijaya tertunduk malu. Guntur mencoba bicara, "Mbak, kita cuma mau jemput Mas Juna pulang. Dia kan sudah kaya sekarang, kita mau rayakan..."

.

"Mas Arjuna tidak butuh perayaan," potong Hinata tegas. "Beliau sedang melakukan uzlah (menyepi) di kaki Gunung Lawu. Tapi saya peringatkan, perjalanan ke sana tidak mudah bagi orang yang hatinya masih penuh debu dunia."

.

"Tolong, Mbak... dudu mergo dhuwite Juna, tapi Bapak pengen sujud neng sikile Juna... (Tolong, Mbak... bukan karena uangnya Juna, tapi Bapak ingin sujud di kaki Juna...)" ratap Pak Wijaya tulus.

.

Hinata terdiam sejenak. Ia melihat ada titik kejujuran di mata pria tua itu. "Baiklah. Saya akan antar kalian ke desa Mbah Surip. Tapi dengan satu syarat: Jangan membawa pengawal, jangan membawa kemewahan. Kalian harus jalan kaki mendaki seperti orang biasa."

.

Keesokan harinya, perjalanan pun dimulai. Pak Wijaya yang biasanya naik mobil mewah ber-AC, kini harus terengah-engah mendaki jalanan setapak yang licin. Guntur berkali-kali mengeluh karena sepatunya kotor terkena lumpur.

.

"Mbak Hinata, isih adoh po? (Mbak Hinata, masih jauh ya?)" tanya Guntur manja.

.

Hinata yang berjalan di depan dengan santai tanpa berkeringat menoleh. "Yen atimu abot, dalane pancen keroso adoh. (Kalau hatimu berat, jalannya memang terasa jauh.)"

.

Tiba-tiba, kabut tebal turun menutupi pandangan mereka. Suara geraman harimau kembali terdengar menggema di antara pepohonan jati. Pak Wijaya dan Guntur gemetar hebat, mereka berpelukan ketakutan.

.

"Suoro opo kuwi, Mbak?! (Suara apa itu, Mbak?!)" pekik Guntur.

.

"Itu Kyai Loreng," jawab Hinata tenang sambil memejamkan mata, seolah sedang berkomunikasi dengan mahluk gaib itu. "Dia sedang mencium bau kesombongan. Siapa di antara kalian yang belum benar-benar tobat?"

.

Seketika, sebuah bayangan hitam besar melintas di atas kepala mereka. Pak Wijaya jatuh tersungkur di tanah. Di tengah ketakutan itu, ia melihat sesosok pemuda bersarung hijau berdiri di atas batu besar, membelakangi matahari yang mulai terbenam.

.

"Juna...?" bisik Pak Wijaya dengan suara parau.

.

Sosok itu menoleh perlahan. Wajah Arjuna tampak sangat bercahaya, jauh lebih berwibawa daripada saat ia masih tinggal di rumah mewah itu. Di sampingnya, seekor harimau putih besar tampak duduk dengan tenang.

.

"Bapak... wonten menopo madosi tiyang sing sampun mboten nggadhahi asmo? (Bapak... ada apa mencari orang yang sudah tidak punya nama?)" suara Arjuna menggelegar lembut, menembus relung jiwa Pak Wijaya.

Angin gunung bertiup kencang, memainkan ujung sarung hijau yang dikenakan Arjuna. Di atas batu besar itu, Arjuna berdiri seperti karang yang tak tergoyahkan. Di bawahnya, Pak Wijaya bersimpuh di atas tanah yang basah oleh embun dan lumpur.

.

"Juna... Le... (Juna... Nak...)" Pak Wijaya merangkak mendekat, mengabaikan rasa sakit di lututnya yang sudah tidak muda lagi. "Bapak teko mrene dudu arep njaluk dhuwitmu, dudu arep njaluk pangkatmu... (Bapak datang ke sini bukan mau minta uangmu, bukan mau minta pangkatmu...)"

.

Hinata berdiri di samping, melipat tangannya di dada dengan tatapan tajam namun menyimpan rasa iba. Ia melihat bagaimana seorang pengusaha besar yang dulunya sangat sombong, kini tak lebih dari seorang tua yang rapuh di depan anaknya sendiri.

.

"Bapak mrene arep njaluk ngapuro, Le. Bapak khilaf... Bapak wis ngguwang mutiara demi kerikil sing mboten nggadhahi drajat. (Bapak ke sini mau minta maaf, Nak. Bapak khilaf... Bapak sudah membuang mutiara demi kerikil yang tidak punya derajat.)" Pak Wijaya akhirnya sujud, mencium kaki Arjuna yang hanya beralaskan sandal jepit kusam.

.

Guntur yang berdiri di belakang Pak Wijaya hanya bisa menunduk dalam-dalam. Air matanya menetes, bercampur dengan keringat dan debu gunung. Ia teringat bagaimana ia dulu menertawakan Arjuna yang sedang berzikir, menyebutnya "anak aneh" dan "beban keluarga".

.

"Mas Juna... Guntur nggih njaluk ngapuro. Guntur kakehan duso kaliyan Mas. (Mas Juna... Guntur juga minta maaf. Guntur terlalu banyak dosa sama Mas.)" bisik Guntur dengan suara parau yang pecah.

.

Arjuna menarik napas panjang. Ia turun dari batu besar itu dengan gerakan yang sangat ringan, lalu memegang pundak ayahnya untuk membantunya berdiri. "Pak, sampun... mboten pareng sujud kaliyan menungso. (Pak, sudah... tidak boleh sujud kepada manusia.)"

.

Arjuna menatap mata ayahnya dengan sangat teduh. Tidak ada dendam, tidak ada kemarahan. Zikir sirri yang ia jalani selama ini telah menghapus semua racun di hatinya. "Juna sampun nyepuro sedoyo sakderenge Bapak nyuwun. (Juna sudah memaafkan semuanya sebelum Bapak meminta.)"

.

Hinata tersenyum kecil melihat pemandangan itu. Ia mendekat dan menyerahkan sapu tangan kepada Pak Wijaya. "Pak, Mas Arjuna ini bukan lagi Arjuna yang dulu Bapak kenal. Beliau sekarang adalah 'Sang Musafir' yang karyanya dibaca jutaan orang. Kekayaannya itu hanya debu bagi beliau."

.

"Nggih, Mbak Hinata. Bapak sampun ngerti saiki. (Iya, Mbak Hinata. Bapak sudah mengerti sekarang.)" Pak Wijaya mengusap air matanya. "Juna, ayo mulih, Le. Bunda kangen banget karo kowe. (Juna, ayo pulang, Nak. Bunda kangen banget sama kamu.)"

.

Arjuna menggeleng pelan, membuat suasana kembali hening. "Juna mboten saged wangsul dadi anak manja malih, Pak. Juna badhe tetep neng kene, ngrewangi wong-wong cilik kaliyan Mbah Surip. (Juna tidak bisa pulang jadi anak manja lagi, Pak. Juna akan tetap di sini, membantu orang-orang kecil bersama Mbah Surip.)"

.

"Tapi omahmu wis bali, Le! (Tapi rumahmu sudah kembali, Nak!)" seru Pak Wijaya dengan nada memohon.

.

"Omah niku kagem Bunda, Laras, lan Mentari. Bapak pimpin malih perusahaan niku, tapi kanthi dalan sing bener. (Rumah itu buat Bunda, Laras, dan Mentari. Bapak pimpin lagi perusahaan itu, tapi dengan jalan yang benar.)" Arjuna menatap Guntur. "Guntur, kowe kudu dadi asisten Bapak. Sinau piye carane kerjo sing jujur. (Guntur, kamu harus jadi asisten Bapak. Belajar bagaimana caranya kerja yang jujur.)"

.

Tiba-tiba, dari semak-semak, Kyai Loreng—harimau putih penjaga Arjuna—muncul kembali. Ia berjalan mengitari Pak Wijaya dan Guntur. Pak Wijaya gemetar, namun anehnya, kali ini harimau itu tidak menggeram jahat. Ia justru mengendus tangan Pak Wijaya seolah memberikan restu gaib.

.

"Kyai Loreng sampun nrimo Bapak. (Kyai Loreng sudah menerima Bapak.)" ucap Arjuna sambil tersenyum tipis. "Niki tandane duso Bapak sampun lunas neng langit." (Ini tandanya dosa Bapak sudah lunas di langit.)

.

Hinata melihat jam tangannya, lalu menatap Arjuna dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mas Juna, naskah bab terakhir harus dikirim malam ini. Kita harus kembali ke gubuk Mbah Surip sebelum kabut makin tebal dan jalanan tertutup."

.

Arjuna mengangguk. Ia menatap ayah dan adiknya untuk terakhir kalinya sebelum berbalik. "Pak, Guntur... mlakuo terus. Ojo noleh mburi. (Pak, Guntur... jalanlah terus. Jangan menoleh ke belakang.)"

Suasana di dalam gubuk Mbah Surip malam itu terasa sangat syahdu. Hinata duduk di samping Arjuna, memperhatikan jemari pemuda itu yang menari lincah di atas keyboard laptop. Cahaya lampu tempel yang temaram menciptakan bayangan mereka berdua yang menyatu di dinding bambu, seolah-olah waktu berhenti berputar.

.

"Mas Juna, kenapa akhir ceritanya harus begini?" tanya Hinata lirih. Matanya yang teduh menatap layar. "Kenapa Sang Musafir tidak kembali saja ke istananya setelah semua utang keluarganya lunas?"

.

Arjuna menghentikan ketikannya sejenak. Ia menatap ke arah kegelapan hutan di luar jendela. "Mbak Hinata, istana yang sebenarnya itu bukan gedung tinggi, tapi hati yang luas. (Mbak Hinata, istana sing bener kuwi dudu gedung dhuwur, nanging ati sing jembar.)"

.

Hinata terdiam, meresapi setiap kata-kata Arjuna yang selalu penuh makna. Ia merasa kecil di depan pemuda yang dulu diusir oleh keluarganya ini. "Tapi Mas, dunia luar sangat memuja Anda sekarang. Novel-novel Anda sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Anda bisa memiliki segalanya."

.

"Kulo sampun nggadhahi segalanya, Mbak. (Saya sudah memiliki segalanya, Mbak.)" Arjuna tersenyum tipis sambil menunjuk ke arah dadanya. "Niki... ketenangan sing mboten saged dituku ngangge arto milyaran. (Ini... ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang miliaran.)"

.

Tiba-tiba, angin malam bertiup lembut, membawa aroma bunga melati yang sangat harum ke dalam gubuk. Di pojok ruangan, Kyai Loreng—harimau putih penjaga Arjuna—mendekat dan merebahkan tubuhnya di dekat kaki mereka berdua. Harimau itu tampak sangat jinak, seolah merestui keberadaan Hinata di sana.

.

"Mas... bolehkah saya tinggal di sini sedikit lebih lama?" tanya Hinata tiba-tiba, suaranya hampir berbisik. "Bukan sebagai editor, tapi sebagai seseorang yang ingin belajar menemukan kedamaian seperti Anda?"

.

Arjuna menatap Hinata dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada kehangatan yang jarang ia tunjukkan. "Gunung niki mboten nate nolak sinten mawon sing niate tulus, Mbak. (Gunung ini tidak pernah menolak siapa pun yang niatnya tulus, Mbak.)"

.

Arjuna kemudian menekan tombol Enter terakhir di laptopnya. Naskah novel "Sang Pewaris Rahasia" resmi terkirim ke server penerbitan. Di bab terakhir itu, Arjuna menuliskan satu kalimat penutup yang membuat mata Hinata berkaca-kaca:

.

"Sejatinya, harta yang paling mewah adalah saat kita tidak lagi merasa butuh untuk memilikinya." (Sajatine, bondo sing paling mewah iku pas awake dhewe wis ora ngeroso butuh nduweni.)

.

Malam semakin larut. Di bawah naungan atap bambu Mbah Surip, dua insan itu duduk dalam keheningan yang indah. Arjuna kembali memutar tasbihnya, zikir batinnya (Zikir Sirri) terus mengalir, menjadi cahaya yang tidak terlihat namun menghangatkan seluruh isi gubuk.

.

Di kejauhan, lampu-lampu kota yang gemerlap tampak sangat kecil dan tak berarti dibandingkan dengan kedamaian yang mereka rasakan saat itu. Perjalanan Arjuna sebagai musafir mungkin belum berakhir, tapi malam ini, ia telah menemukan rumah yang sesungguhnya di dalam hatinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!