NovelToon NovelToon
Antara Batas Dan Nafas

Antara Batas Dan Nafas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

​“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”

​Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Pil Putih dan Noda di Kemeja

Dua pekan berlalu dengan gerak yang terasa amat lambat. Bagi Alika, setiap hari adalah palagan sunyi yang harus ia menangkan sebelum sanggup melangkah keluar pintu kamar. Ritual paginya kini bertambah panjang: memijat lutut yang kaku di bawah guyuran air hangat selama dua puluh menit, menelan obat pereda nyeri yang ia beli bebas, dan memulas wajah dengan color corrector guna menyamarkan ruam kemerahan yang kian sering muncul setiap kali ia terpapar terik Jakarta.

Di sisi lain, kehidupan Narendra bergulir tanpa hambatan, persis seperti biasanya. Pria itu terus mengukuhkan taji sebagai penguasa Artha Group di siang hari, dan menjadi penikmat kebebasan open marriage saat malam tiba. Bagi Narendra, melihat Alika berangkat kerja setiap pagi dengan riasan sempurna adalah bukti mutlak bahwa istrinya baik-baik saja. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di balik setelan blazer elegan itu, sang istri perlahan-lahan mulai merapuh.

Sore itu, awan mendung menggantung rendah di langit ibu kota. Alika duduk dengan napas tertahan di ruang praktik dr. Raditya. Di atas meja kerja dokter muda itu, terhampar beberapa lembar hasil uji laboratorium panel lengkap yang baru saja keluar.

Raditya menelaah deretan angka dan grafik itu dalam diam, dahinya berkerut dalam. Meski usianya masih muda, ia cukup berpengalaman untuk mengenali pola abnormalitas pada tes darah khusus ini—sebuah pola peradangan sistemik kronis yang menyerang jaringan sehat. Namun, sesuai protokol medis dan kehati-hatiannya terhadap kondisi psikologis pasien, Raditya memilih kata-katanya dengan sangat terukur.

"Ibu Alika," Raditya akhirnya mengangkat wajah, melepas kacamatanya, dan menatap mata wanita di hadapannya dengan empati yang kental. "Hasil tes ini mengonfirmasi kecurigaan saya. Rasa kaku di sendi dan ruam di wajah Anda sama sekali bukan karena kelelahan biasa."

Jantung Alika berdegup kencang. Tangannya yang bertumpu di pangkuan saling meremas gelisah. "Lalu... apa itu, Dok? Apakah ada tumor? Atau... kanker?"

"Bukan, ini bukan kanker," Raditya buru-buru menyanggah untuk meredam kepanikan Alika. "Ini adalah sebuah kondisi di mana sistem pertahanan tubuh Anda mengalami disorientasi. Singkatnya, tubuh Anda sedang memproduksi peradangan yang tidak perlu, yang akhirnya menyerang persendian dan kulit Anda sendiri. Kita masih butuh beberapa observasi panjang untuk menamai kondisi ini secara spesifik, tapi yang paling penting sekarang adalah meredam peradangan itu sebelum menyerang organ yang lebih vital."

Raditya mengambil secarik kertas resep dan mulai menulis. "Saya meresepkan pil antiradang tingkat lanjut. Obat ini cukup keras dan harus diminum tepat waktu. Efek sampingnya mungkin membuat perut Anda tidak nyaman, jadi pastikan Anda tidak melewatkan makan."

Dokter itu kemudian berdiri, menuangkan segelas air hangat dari dispenser di sudut ruangan, lalu meletakkannya tepat di depan Alika. "Minumlah dulu. Anda terlihat sangat tegang. Tarik napas pelan-pelan."

Alika menatap gelas kaca berisi air hangat itu. Matanya mendadak terasa panas. Sebuah gestur yang begitu sepele—mengambilkan segelas air—terasa seperti kemewahan emosional yang sudah bertahun-tahun tidak ia dapatkan. Suaminya sendiri, yang tidur di ranjang yang sama dengannya, bahkan tidak pernah membelikannya sebotol air saat ia tersedak batuk di tengah malam.

"Terima kasih, Dokter," bisik Alika dengan suara sedikit bergetar. Ia meraih gelas itu dan menyesapnya perlahan, membiarkan kehangatannya menenangkan gejolak di dadanya.

"Satu hal lagi, Ibu Alika," Raditya menambahkan sembari kembali duduk, raut wajahnya tampak serius. "Obat ini hanya meredam gejala fisik. Musuh terbesar dari peradangan di tubuh Anda saat ini adalah stres emosional. Jika tekanan batin Anda tidak dikelola, obat ini tidak akan banyak membantu. Anda harus mencari cara untuk bahagia, demi tubuh Anda sendiri."

Kalimat mencari cara untuk bahagia terus bergaung di kepala Alika sepanjang perjalanan taksinya kembali ke kawasan Menteng. Bahagia? Bagaimana ia bisa bahagia di dalam rumah yang lebih menyerupai kuburan berlapis emas?

Jarum jam sudah menunjuk angka delapan malam ketika Alika membuka pintu utama rumahnya. Ia melangkah masuk, berharap bisa langsung menuju kamar, meminum pil putih dari Raditya, dan menenggelamkan tubuh di balik selimut. Namun, langkahnya terhenti di ruang tengah.

Narendra duduk di atas sofa kulit tunggal, sebelah kakinya bertumpu santai di atas lutut, sementara tangan kanannya memutar-mutar perlahan gelas kristal berisi bourbon. Pria itu pulang lebih awal dari biasanya. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku.

"Baru pulang?" Suara bariton Narendra memecah kesunyian, terdengar dingin dan menginterogasi.

Alika menahan napas sejenak, mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk berdiri tegak. "Iya, Mas. Ada beberapa revisi laporan public relations yang harus diselesaikan untuk rapat besok."

Narendra menyesap bourbon-nya, lalu meletakkan gelas itu di atas meja kaca. Matanya yang tajam mengunci pandangan Alika. "Saya baru saja menelepon kepala divisimu. Dia bilang seluruh tim humas sudah pulang sejak jam enam sore. Dan mobil kantor yang biasa kamu pakai sudah terparkir di garasi sejak jam lima."

Alika membeku. Ia lupa merencanakan alibi dengan sopir kantornya. Tadi sore, ia menyuruh sopir pulang lebih dulu karena ia menggunakan taksi daring menuju rumah sakit agar tidak ada jejak yang bisa dilaporkan ke telinga suaminya.

Narendra perlahan bangkit dari sofa, melangkah mendekati Alika. Aura dominasinya menguar pekat, membuat udara di sekitar mereka seolah menipis. Pria itu berdiri hanya satu jengkal di depan istrinya.

"Kamu berbohong pada saya, Alika?" tanya Narendra dengan nada rendah yang sarat ancaman.

"Aku... aku tadi mampir ke sebuah tempat untuk urusan pribadi," jawab Alika hati-hati. Tangannya secara refleks memeluk tas kerjanya lebih erat, melindungi botol obat dari Raditya yang tersimpan di dalamnya.

Alis Narendra menukik tajam. Ia memperhatikan gelagat protektif Alika terhadap tasnya. Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, ada sesuatu yang disembunyikan Alika darinya. Sebuah ketidakpatuhan kecil yang entah mengapa membuat ego Narendra sebagai "pemilik" merasa terusik.

"Urusan pribadi apa yang membuat seorang Nyonya Pradipta harus berbohong dan menyelinap seperti pencuri?" desak Narendra sembari tangannya terulur meraih tali tas Alika.

"Mas, tolong," Alika mundur satu langkah, menahan tasnya. Penolakan fisik sekecil itu membuat rahang Narendra seketika mengeras.

Namun, sebelum ketegangan itu memuncak, mata Alika tanpa sengaja menangkap sesuatu pada kerah kemeja putih yang dikenakan Narendra. Tepat di bagian leher, ada noda samar berwarna merah keunguan—noda lipstik yang menempel dengan ceroboh.

Tubuh Alika seketika terasa kebas. Otaknya memproses pemandangan itu dengan kecepatan yang menyakitkan. Suaminya berdiri di sini, menginterogasinya layaknya tahanan hanya karena ia pulang telat dua jam tanpa laporan, sementara pria itu sendiri membawa pulang jejak pergumulan dengan wanita lain di kerah bajunya.

Alika mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata tajam suaminya. Rasa takut dan kegugupannya mendadak lenyap, digantikan oleh kekecewaan yang telah membeku menjadi rasa muak yang tak tertahankan.

"Kamu benar, Mas," ucap Alika. Suaranya tiba-tiba berubah menjadi sangat datar dan hampa. Ia melepaskan pegangannya dari tas kerjanya, membiarkan Narendra menariknya jika pria itu mau. "Aku pergi mengurus urusan pribadiku. Sama seperti kamu yang baru saja mengurus 'urusan pribadimu' sebelum pulang ke rumah ini. Perjanjian kita memberikan kebebasan, bukan? Atau apakah aturan open marriage itu hanya berlaku untuk memfasilitasi noda lipstik di kerah kemejamu, tapi tidak berlaku untuk urusanku?"

Tangan Narendra yang baru saja hendak meraih tas Alika terhenti di udara. Pria itu sedikit tersentak, secara refleks menunduk dan melirik ke arah kerah kemejanya sendiri.

Memanfaatkan sepersekian detik kebingungan Narendra, Alika berbalik dan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Ia meninggalkan sang CEO Artha Group berdiri mematung di ruang tengah, menelan harga dirinya yang baru saja ditampar telak oleh istrinya yang biasa patuh. Narendra sama sekali tidak tahu bahwa tas kerja yang ia curigai itu tidak berisi skandal perselingkuhan, melainkan botol-botol pil penyambung nyawa.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor☺👈✍️
ilmuwankecil
seru kalk, update lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!