Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.
Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
...«----------------🍀{LINDA}🍀----------------»...
Malam ini, udara di dalam apartemen nomor 404 terasa kental, hampir bisa diraba. Bukan karena kelembapan udara Jakarta yang menyesakkan, melainkan karena energi spiritual ku yang meluap-luap, bereaksi terhadap siklus bulan yang menggantung tepat di titik puncaknya. Sebagai siluman rubah, tubuh ku selaras dengan alam dengan cara yang tidak akan pernah dipahami oleh manusia. Dan malam ini, setiap saraf di tubuh ku bergetar, mengirimkan sinyal yang begitu primitif dan mendesak hingga membuat dada ku sesak.
Aku berdiri di depan cermin besar di kamar mandi, menatap bayangan ku sendiri. Kulit ku tampak lebih pucat, hampir bercahaya di bawah lampu neon yang redup, sementara mata ku... pupil hijaunya telah sepenuhnya menyempit menjadi garis vertikal yang tajam. Telinga cokelat ku berdiri tegak, menangkap detak jantung Dimas di ruang tengah yang terdengar seperti tabuhan genderang perang di telinga ku.
“Malam ini,” Keluh ku, suara ku bergema di dalam kepala seperti bisikan ribuan leluhur klan rubah. “Siklus ini... kesuburan ini... ini adalah puncaknya. Esensi hidup ku sedang membara, menuntut untuk disatukan. Jika Elkan harus hadir, maka rahim ku harus menerimanya malam ini. Tidak ada ruang untuk keraguan. Tidak ada ruang untuk ketakutan Genta.”
Aku melepaskan sisa pakaian ku, membiarkan kain sutra itu jatuh ke lantai tanpa suara. Aku merasa lebih bebas dalam wujud asli ku yang tersamar ini. Aku melangkah keluar dari kamar mandi, membiarkan ekor tebal dari ku mengembang penuh, menyapu lantai dengan gerakan yang ritmis dan penuh antisipasi.
Dimas sedang duduk di tepi tempat tidur, membelakangi ku. Bahunya yang tegap tampak tegang. Aku tahu dia bisa merasakan perubahan atmosfer ini. Manusia memiliki insting dasar, dan saat ini, dia pasti tahu bahwa dia sedang berada di dalam sarang predator yang sedang menginginkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar afeksi.
"Dimas," panggil ku. Suara ku tidak lagi terdengar seperti suara ku yang biasa. Ada nada rendah, serak, dan penuh getaran magis yang menuntut perhatian mutlak.
Dimas berbalik perlahan. Matanya melebar saat melihat ku. "Linda... kau... kau terlihat berbeda."
Aku mendekat, setiap langkah ku sengaja dibuat lambat, membiarkan pinggul ku bergoyang dan ekor ku menari di belakang ku. Aku merangkak naik ke atas tempat tidur, mendekatinya hingga wajah kami hanya berjarak beberapa inci. Aku bisa mencium aroma hormon manusianya, aroma maskulin yang bercampur dengan sedikit rasa takut dan gairah yang tertahan.
"Ini adalah malamnya, Dimas," bisik ku tepat di depan bibirnya. Aku menjilat bibir bawah ku, merasakan taring kecil ku berdenyut. "Bulan berada di titik terdekat dengan bumi. Tubuh ku... tubuh ku sedang terbuka sepenuhnya untuk mu. Ini adalah waktu terbaik. Waktu yang hanya datang sekali dalam siklus panjang ras kami."
"Kau yakin?" suara Dimas parau, tangannya yang gemetar terangkat untuk mengusap bahu ku yang polos. "Kau bilang ini akan sangat intens. Kau bilang ini akan menyatukan esensi mu dengan ku secara permanen."
"Aku tidak pernah seyakin ini seumur hidup ku," aku menangkup wajahnya dengan kedua tangan ku, memaksanya menatap langsung ke dalam pupil vertikal ku yang berkilat. "Jangan pikirkan tentang Genta. Jangan pikirkan tentang kantor. Pikirkan tentang Elkan. Pikirkan tentang bagian dari mu yang akan tumbuh di dalam diri ku. Aku menginginkannya, Dimas. Aku menginginkan benih mu tertanam di dalam rahim siluman ku malam ini."
Aku menarik kepalanya, menciumnya dengan rasa lapar yang hampir meledak. Ini bukan lagi sekadar ciuman romantis; ini adalah tindakan konsumsi. Aku ingin menyesap setiap tetes napasnya, setiap sisa energinya. Tangan ku menjelajahi dadanya, mencengkeram kulitnya, menandainya sebagai milik ku secara fisik dan spiritual.
“Masuklah ke dalam dunia ku, Dimas,” Keluh ku di sela-sela cumbuan kami yang semakin liar. “Jangan takut pada kegilaan ini. Aku akan menjaga mu di tengah badai ini. Aku akan memastikan kau tidak hancur saat energi ku meledak nanti. Jadilah ayah dari keturunan ku. Segel takdir mu dengan ku di atas ranjang ini.”
Suasana di kamar itu menjadi sangat emosional. Ada air mata yang jatuh dari sudut mata ku, bukan karena sedih, tapi karena beban keinginan yang sudah memuncak selama berbulan-bulan atau mungkin bertahun-tahun sejak aku memutuskan tinggal di dunia manusia. Linda yang posesif, Linda yang agresif, dan Linda yang rapuh, semuanya melebur menjadi satu entitas yang hanya menginginkan kelanjutan hidup.
"Linda, kau gemetar..." gumam Dimas di sela napasnya yang memburu.
"Ini adalah rasa haus yang tidak bisa dipadamkan oleh air, Dimas," aku membimbing tangannya untuk menyentuh perut ku yang rata. "Di sini... aku ingin merasakan kehidupan itu berdenyut. Sekarang. Jangan biarkan bulan ini terbenam sebelum kau melakukannya."
Dimas tidak lagi ragu. Dia membalikkan posisi kami, menekan ku ke kasur yang empuk. Aku merasakan berat tubuh manusianya, berat yang sangat nyata, sangat fana, namun sangat aku butuhkan. Aku melingkarkan kaki ku di pinggangnya, dan ekor ku segera membelit tubuh kami berdua, menciptakan kepompong pribadi yang mengisolasi kami dari seluruh alam semesta.
Momen itu menjadi sangat intens. Saat kami menyatu, aku merasakan gelombang energi spiritual ku meledak dari pusat inti ku. Rasanya seperti ribuan bunga melati yang mekar sekaligus di dalam nadi ku. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara, setengah erangan, setengah raungan siluman yang mengguncang udara kamar.
“Ini dia... aliran itu,” Keluh ku saat merasakan koneksi yang paling dalam terjalin. “Aku bisa merasakannya... esensi manusianya yang hangat, masuk dan diterima oleh sihir ku. Rahim ku menyambutnya seperti tanah kering menyambut hujan pertama setelah kemarau panjang. Elkan... kau sedang dibentuk dalam pusaran ini.”
Setiap gerakan terasa seperti ritual kuno. Aku mencakar punggungnya, bukan karena marah, tapi karena aku butuh sesuatu untuk menahan ledakan energi di dalam diri ku. Dimas pun tidak kalah intens. Dia memberikan segalanya, seolah dia tahu bahwa setiap tetes keringat dan tenaganya malam ini adalah investasi untuk masa depan yang abadi.
"Jangan berhenti... jangan lepaskan aku..." aku berbisik di telinganya, napas ku panas dan memburu.
"Aku tidak akan melepaskan mu, Linda. Tidak malam ini, tidak selamanya," jawab Dimas, suaranya penuh dengan otoritas seorang pria yang sedang mengklaim takdirnya.
Cahaya bulan yang masuk dari jendela seolah memfokuskan dirinya pada kami berdua. Aku bisa melihat jejak-jejak sihir berwarna hijau giok menari-nari di kulit kami, menyatukan keringat kami menjadi semacam segel mistis. Di titik puncak, rasanya dunia ku memutih. Aku merasa jiwa ku ditarik keluar, berputar di langit-langit kamar, melihat ke arah dua makhluk, satu manusia, satu siluman, yang sedang berjuang menciptakan keajaiban di atas ranjang itu.
“Sudah selesai,” bisik ku dalam hati saat segalanya mencapai klimaks yang paling menghancurkan sekaligus membangun. “Segelnya sudah terpasang. Janjinya sudah tertanam.”
Kami terkapar lemas, saling berpelukan dalam kondisi yang benar-benar terkuras. Napas kami yang berat adalah satu-satunya suara di kamar itu. Aku membenamkan wajah ku di dadanya, mendengarkan detak jantung Dimas yang sangat cepat, mencoba menenangkan diri dari badai spiritual yang baru saja lewat.
"Kau baik-baik saja?" Dimas bertanya setelah beberapa menit keheningan yang suci. Suaranya terdengar sangat lelah, namun ada nada kepuasan yang mendalam di sana.
Aku mengangguk lemah. Telinga ku berkedut pelan, merespon rasa hangat yang kini menetap di perut bagian bawah ku. "Aku merasakannya, Dimas. Sihir ku tidak pernah berbohong. Malam ini... kita berhasil."
"Benarkah?" Dimas mengusap rambut ku, menyingkirkan helai yang basah karena keringat.
"Iya. Elkan... dia sudah mulai ada di sana. Sebagai percikan kecil, tapi dia ada," aku tersenyum, sebuah senyum yang penuh dengan kemenangan posesif. "Sekarang kau benar-benar tidak bisa lari, Manajer. Kau sudah menanamkan hidup mu di dalam rahim ku. Jika kau pergi, kau akan membawa separuh jiwa ku bersama mu."
Dimas terkekeh, meski napasnya masih belum sepenuhnya teratur. "Aku sudah bilang, aku tidak punya rencana untuk lari. Aku justru sedang berpikir... apakah kita harus mulai merenovasi ruang kerja cadangan menjadi kamar bayi?"
"Masih terlalu dini, tapi aku suka cara mu berpikir," aku mencium dadanya.
“Genta, lihatlah ini,” Keluh terakhir ku malam itu saat aku mulai terlelap dalam dekapan Dimas. “Kau bilang hubungan kami tidak mungkin. Kau bilang kami hanya akan menghasilkan penderitaan. Tapi rasakan energi ini... rasakan kehidupan yang baru saja tercipta. Ini bukan penderitaan. Ini adalah awal dari ras yang baru. Ras yang lahir dari cinta yang melampaui segala batasan mu.”
Ekor-ekor ku tidak aku tarik kembali. Aku membiarkan mereka menyelimuti Dimas sepenuhnya, menjaga kehangatan yang baru saja kami ciptakan. Aku merasa sangat protektif, bahkan lebih dari biasanya. Di dalam diri ku, ada sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang harus aku jaga dengan seluruh nyawa ku.
Malam itu, apartemen nomor 404 menjadi saksi dari keajaiban yang paling tua di dunia: penciptaan hidup. Namun bagi kami, itu bukan sekadar hidup. Itu adalah pernyataan perang terhadap waktu, dan sebuah deklarasi cinta yang abadi.
Aku tertidur dengan tangan tetap berada di atas perut ku, membayangkan telinga kecil yang akan bergerak-gerak di sana beberapa bulan lagi.
"Selamat datang, Sayang," bisik ku pada kegelapan. "Mama dan Papa sudah siap menjaga mu dari dunia."