Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.
Semua terasa nyata. Terasa spesial.
Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.
Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.
Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama Rendra
Dua puluh menit lari pagi tadi ternyata hanya pemanasan. Adrenalin yang masih tersisa, ditambah suara mesin “Si 73 Biru”, membuatku tidak sabar untuk memulai langkah berikutnya.
Begitu masuk kamar, aku langsung menyiapkan pakaian yang paling nyaman. Sambil menunggu air hangat, aku menjatuhkan diri ke lantai dan melakukan beberapa kali push-up—sekadar mengetes sejauh mana kekuatan fisikku saat ini.
Hasilnya? Payah.
Di hitungan kesepuluh, tanganku sudah gemetar. Tapi anehnya, aku tidak merasa malu. Justru… tertantang.
Setelah mandi cepat dan berpakaian rapi, aku menyambar dompet, memastikan kartu dari Ibu aman di dalamnya. Aroma sabun yang masih melekat terasa seperti penanda—aku benar-benar siap memulai sesuatu yang baru.
“Kak! Ayo berangkat!” seruku sambil menuruni tangga.
Aku sudah rapi. Kaos bersih, rambut tersisir seadanya, dan semangat yang terasa sampai ke ubun-ubun. Hari ini aku mau cari sepatu lari, suplemen, dan alat olahraga—semua yang kubutuhkan untuk berubah.
Tapi begitu sampai di depan kamar Kak Marisa… sunyi.
Aku mengetuk.
“Kak? Jadi berangkat nggak?”
“Bentar, Rendra! Lima menit lagi!” sahutnya dari dalam, diiringi suara hair dryer.
Aku menghela napas, lalu menyandarkan bahu ke tembok.
Lima menit versi perempuan… artinya dua puluh menit.
Daripada menunggu, aku turun ke bawah. Di ruang tamu, aku duduk sambil membuka HP, iseng mencari soal sepatu lari.
“Semoga Kak Marisa tahu mana yang bagus,” gumamku.
Pikiranku sempat melayang.
Ke balkon sebelah.
Cila.
Aku ingin perubahan ini terlihat.
Klek.
Pintu di atas terbuka.
“Lama banget sih, Kak,” keluhku saat melihatnya turun.
“Cantik itu butuh proses, Ndra,” jawabnya santai sambil mengayunkan kunci mobil. “Ayo.”
Kami pamit ke Bi May, lalu berjalan keluar. Saat melewati Si 73 Biru, aku sempat berhenti sebentar.
“Udah, nggak bakal lari itu motor,” goda Kak Marisa.
Aku tertawa kecil, lalu masuk ke mobil.
“Sepatu dulu atau alat?” tanyanya.
“Sepatu dulu, Kak.”
Mobil melaju.
“Kalau sudah punya sepatu baru, nggak ada alasan malas ya.”
“Nggak akan. Tadi pagi aja aku sudah lari dua puluh menit.”
“Tumben.”
“Ya kan mau berubah.”
Kak Marisa tersenyum. “Sekalian beli baju baru. Dan… skincare.”
Aku mengernyit. “Itu kan buat cewek.”
“Itu buat merawat, bukan dandan.”
Aku terdiam.
Masuk akal juga.
“Ya udah… terserah Kakak aja.”
“Tumben banget,” godanya.
Aku langsung menoleh ke jendela.
Cila.
Mobil terus melaju hingga gedung pusat perbelanjaan terlihat.
Hari ini… aku datang untuk berubah.
Begitu masuk, udara dingin langsung menyapu wajahku. Aku sedikit canggung—kaos dan jins lamaku terasa tidak pas di tempat seperti ini.
“Langsung ke lantai sport aja, Kak?” tanyaku.
Kami naik eskalator. Area “SPORT & MEN’S WEAR” terlihat di depan.
Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.
Ini dia.
Langkah pertamaku.
Di dalam, mataku langsung tertarik ke deretan sepatu. Banyak sekali.
Aku menyentuh satu yang berwarna biru.
Mirip Si 73 Biru.
Aku terdiam sejenak.
“Pilih dulu,” kata Kak Marisa.
Setelah mencoba beberapa, pilihanku berhenti pada satu sepatu biru elektrik.
Ringan. Empuk. Pas.
Aku berdiri di depan cermin.
Berbeda.
“Ini cocok,” gumamku.
“Nah, itu,” sahut Kak Marisa.
Aku langsung memutuskan.
Sepatu ini.
Langkah pertamaku.
Kami lanjut ke alat olahraga. Aku memilih dumbbell—lima kilo dan sepuluh kilo.
Beratnya terasa di tangan.
Tapi aku suka.
“Sekarang baju,” kata Kak Marisa.
Di ruang ganti, aku mencoba beberapa pakaian.
Yang pertama gagal.
Yang kedua… lumayan.
Yang terakhir—kaos putih dan jaket biru tua.
Aku keluar.
Kak Marisa mendekat, merapikan kerahku.
“Nah… ini baru kamu.”
Aku menatap cermin.
Rapi.
Lebih percaya diri.
Dan untuk pertama kalinya…
aku menyukainya.
Kami lanjut ke area grooming.
Awalnya canggung, tapi ternyata sederhana.
Sabun muka. Pelembap. Sunscreen.
Cukup.
Lalu mataku tertarik ke satu rak.
“Kalau ini?” tanyaku.
“Mass gainer. Ngaruh kalau kamu serius.”
Aku mengangguk.
Aku ambil satu.
Sepatu. Alat. Baju. Sekarang ini.
Semuanya mulai lengkap.
“Sudah?” tanya Kak Marisa.
“Kayaknya… sudah.”
“Eh, parfum sama deodoran,” kataku tiba-tiba.
Kami kembali memilih.
Akhirnya aku menemukan satu aroma yang pas—segar, ringan, tidak berlebihan.
Kami ke kasir.
Totalnya besar.
Aku sempat diam.
Lalu menarik napas.
*Bip.*
Berhasil.
Aneh… tapi aku merasa bangga.
Di mobil, kantong belanjaan menumpuk di belakang.
Sepatu. Baju. Alat latihan.
Semua ada.
“Laper?” tanyaku.
“Banget.”
“Makan yuk. Aku traktir.”
Kak Marisa langsung tersenyum lebar.
Kami makan di drive-thru. Suasananya ringan. Santai.
Saat mobil kembali melaju, aku menyandarkan kepala ke kursi dan melirik ke belakang.
Semua itu ada di sana.
Hari ini melelahkan.
Tapi terasa penuh.
Aku bukan lagi cuma punya niat.
Sekarang, aku sudah punya langkahnya.
Dan besok pagi—
aku tidak akan berhenti di garis awal lagi.