Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23:Jalan jalan Penenang Dan Momen Yang Tak Terduga
Setelah melewati simulasi pertarungan terakhir yang melelahkan namun membanggakan itu, tubuh dan pikiran Kaelen dan Lira benar-benar merasa lelah. Meskipun mereka merasa sangat bahagia dan bangga karena mereka telah membuktikan bahwa mereka sudah siap untuk menghadapi Malakar, rasa lelah yang menumpuk selama berbulan-bulan latihan keras itu akhirnya menyapa mereka.
Suatu sore, saat mereka sedang duduk di dekat mulut gua sambil menikmati pemandangan matahari terbenam yang indah, Lira menoleh ke arah Kaelen dengan senyum yang lembut.
"Yang Mulia," bisik Lira pelan, "kita sudah berlatih sangat keras selama berbulan-bulan, bukan? Kita sudah melewati begitu banyak ujian, dan kita sudah menjadi jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Tapi sekarang, saya merasa sangat lelah. Dan saya rasa, Anda juga merasa begitu."
Kaelen menoleh ke arah Lira, dan dia tersenyum sambil mengusap kepala Lira dengan lembut. "Benar, Lira. Aku juga merasa sangat lelah. Tubuhku terasa berat, dan pikiranku juga terasa sedikit penat. Tapi aku merasa sangat bahagia karena kita sudah berhasil melewati semua itu."
Lira mengangguk, dan dia menatap Kaelen dengan mata yang penuh dengan harapan. "Jadi, bagaimana jika kita pergi jalan-jalan dulu selama beberapa hari? Kita bisa pergi ke tempat yang indah dan damai, jauh dari sini, dan jauh dari segala pemikiran tentang latihan atau tentang Malakar. Kita bisa bersantai, menikmati keindahan alam, dan mengistirahatkan tubuh dan pikiran kita. Kita butuh ini, Yang Mulia. Kita butuh waktu untuk diri kita sendiri sebelum kita menghadapi pertarungan terakhir yang sebenarnya."
Kaelen terdiam sejenak, memikirkan usulan Lira. Dia tahu bahwa Lira benar. Mereka memang butuh istirahat. Mereka butuh waktu untuk bersantai dan mengisi kembali energi mereka yang telah habis selama latihan. Dan dia juga ingin menghabiskan waktu bersama Lira, hanya berdua, tanpa ada hal lain yang mengganggu mereka.
"Kamu benar, Lira," jawab Kaelen akhirnya, tersenyum. "Kita butuh istirahat. Dan aku juga ingin menghabiskan waktu bersamamu. Baiklah, kita akan pergi jalan-jalan selama beberapa hari. Kita akan pergi ke tempat yang indah dan damai, dan kita akan bersantai sepuasnya."
Lira tersenyum bahagia, dan dia segera memeluk Kaelen dengan erat. "Terima kasih, Yang Mulia! Terima kasih! Saya tahu bahwa ini akan menjadi pengalaman yang sangat indah bagi kita berdua."
Keesokan harinya, setelah memberitahu Eldric tentang rencana mereka dan mendapatkan izin serta restu darinya, Kaelen dan Lira pun berangkat. Mereka tidak membawa banyak barang. Mereka hanya membawa beberapa pakaian, sedikit makanan, dan senjata mereka—hanya untuk berjaga-jaga jika ada bahaya yang mengancam mereka.
Mereka berjalan menuju ke sebuah tempat yang pernah diceritakan oleh Eldric kepada mereka—sebuah lembah yang indah dan tersembunyi yang terletak tidak jauh dari gua mereka. Lembah itu dikenal sebagai Lembah Bunga, karena di sana terdapat ribuan bunga berwarna-warni yang bermekaran sepanjang tahun, dan udara di sana selalu terasa segar dan wangi. Di tengah lembah itu, terdapat sebuah sungai kecil yang mengalir dengan air yang sangat jernih dan dingin, dan di sekitar sungai itu, terdapat padang rumput yang hijau dan lembut yang sangat cocok untuk beristirahat.
Perjalanan menuju ke Lembah Bunga itu tidaklah sulit. Karena mereka sudah menjadi sangat kuat dan sangat terampil, mereka bisa berjalan dengan cepat dan mudah. Dan karena mereka tidak sedang dalam perang atau sedang dikejar oleh musuh, mereka bisa menikmati perjalanan itu dengan santai.
Mereka berjalan sambil berbicara tentang hal-hal yang ringan dan menyenangkan. Mereka berbicara tentang impian mereka untuk masa depan, tentang bagaimana mereka akan hidup bersama dengan bahagia dan damai setelah mereka mengalahkan Malakar. Mereka berbicara tentang tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi, dan tentang hal-hal yang ingin mereka lakukan bersama-sama.
Setelah berjalan selama beberapa jam, mereka akhirnya sampai di Lembah Bunga itu. Dan seperti yang diceritakan oleh Eldric, lembah itu benar-benar sangat indah dan menakjubkan. Ribuan bunga berwarna-warni bermekaran di mana-mana, memberikan warna yang indah dan wangi yang harum ke seluruh lembah. Sungai kecil mengalir dengan air yang jernih, dan padang rumput yang hijau dan lembut terbentang luas di sekitar sungai itu. Langit di atas mereka biru cerah, dan matahari bersinar terang, memberikan kehangatan yang menyenangkan ke tubuh mereka.
"Wah, ini sangat indah, Yang Mulia!" teriak Lira dengan antusias, matanya bersinar dengan cahaya yang bahagia. "Saya tidak pernah melihat tempat yang begitu indah sebelumnya. Ini seperti surga di bumi."
Kaelen tersenyum melihat kebahagiaan Lira. "Benar, Lira. Ini sangat indah. Dan ini adalah tempat yang sempurna untuk kita bersantai dan mengistirahatkan diri kita."
Mereka pun mulai menyiapkan tempat untuk beristirahat. Mereka mendirikan sebuah tenda kecil di dekat sungai, di bawah naungan sebuah pohon besar yang rindang. Kemudian, mereka duduk di atas padang rumput yang hijau dan lembut itu, sambil menikmati pemandangan indah di sekitar mereka dan mendengarkan suara sungai yang mengalir dan suara burung-burung yang berkicau riang.
Hari pertama mereka di Lembah Bunga itu dihabiskan dengan sangat santai dan menyenangkan. Mereka berenang di sungai yang airnya segar dan dingin, mereka memetik buah-buahan segar yang tumbuh di sekitar lembah itu, dan mereka berjalan-jalan di sekitar lembah sambil menikmati keindahan alam di sekitar mereka. Mereka tidak memikirkan tentang latihan, tidak memikirkan tentang Malakar, dan tidak memikirkan tentang bahaya yang menanti mereka di depan. Mereka hanya menikmati momen itu, menikmati kehadiran satu sama lain, dan menikmati keindahan alam yang ada di sekitar mereka.
Malam itu, setelah matahari terbenam dan langit menjadi gelap, mereka duduk di dekat api unggun yang mereka buat. Mereka menatap langit yang penuh dengan bintang-bintang yang berkilauan indah, dan mereka merasa sangat tenang dan damai.
"Ini sangat indah, bukan, Yang Mulia?" bisik Lira pelan, sambil memeluk tubuh Kaelen dengan erat dan menyandarkan kepalanya di bahu Kaelen. "Saya berharap waktu bisa berhenti di sini. Saya berharap kita bisa selalu seperti ini, bersama-sama, bahagia dan damai."
Kaelen memeluk Lira dengan erat, mencium keningnya dengan lembut. "Aku juga berharap begitu, Lira. Aku berharap kita bisa selalu bersama-sama, bahagia dan damai. Dan aku berjanji padamu, suatu hari nanti, setelah kita mengalahkan Malakar dan membawa kedamaian kembali ke dunia ini, kita akan hidup bersama-sama dengan bahagia dan damai selamanya. Kita akan memiliki tempat yang indah seperti ini, dan kita akan hidup dengan bahagia selamanya."
Lira tersenyum, dan dia menatap Kaelen dengan mata yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan. "Saya tahu, Yang Mulia. Saya tahu bahwa itu akan terjadi. Dan saya akan selalu ada di sisimu, mencintaimu dan mendukungmu selamanya."
Mereka saling menatap dengan mata yang penuh dengan cinta. Di bawah cahaya bintang dan cahaya api unggun yang hangat, mereka merasa sangat dekat satu sama lain. Mereka merasa bahwa cinta yang mereka miliki satu sama lain adalah hal yang paling berharga di dunia ini.
Perlahan-lahan, wajah mereka semakin dekat satu sama lain. Dan kemudian, mereka pun berciuman dengan lembut dan penuh dengan cinta. Ciuman itu terasa sangat manis dan sangat hangat, dan itu membuat mereka merasa sangat bahagia dan sangat dicintai.
Saat mereka berciuman, mereka bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar cinta yang ada di antara mereka. Ada sebuah keinginan yang mendalam untuk menjadi satu, untuk menyatukan jiwa dan raga mereka menjadi satu. Dan mereka tahu bahwa mereka siap untuk itu. Mereka saling mencintai, dan mereka saling percaya satu sama lain.
Perlahan-lahan, Kaelen membawa Lira masuk ke dalam tenda mereka. Di dalam tenda itu, di bawah cahaya bulan yang menyelinap masuk melalui celah-celah tenda, mereka pun melanjutkan momen indah itu. Mereka saling menyentuh dengan lembut dan penuh dengan cinta, mereka saling mencintai dengan sepenuh hati, dan mereka pun akhirnya menyatukan raga dan jiwa mereka menjadi satu.
Malam itu, di Lembah Bunga yang indah dan tersembunyi itu, Kaelen dan Lira mengalami momen yang paling indah dan paling berharga dalam hidup mereka.