"Keadilan di kota ini tidak ditegakkan, melainkan diperdebatkan dengan nyawa."
Bagi Dr. Saraswati, detektif psikolog jenius, semua kejahatan pasti tunduk pada logika dan akal sehat. Hingga "Sang Pembebas" muncul—pembunuh berantai misterius yang membantai para elit korup tanpa jejak, hanya menyisakan teka-teki berdarah yang mengejek hukum.
Di mata publik yang tertindas, pembunuh ini adalah pahlawan. Di mata hukum, ia monster anarkis.
Alih-alih bersembunyi, Sang Pembebas justru mengincar Saraswati. Melalui teror pesan chat rahasia, ia mengajak sang detektif bermain kucing-kucingan mematikan, menguliti trauma masa lalunya satu per satu.
Untuk menangkap entitas di luar nalar ini, Saraswati dihadapkan pada pilihan fatal: mempertahankan kewarasannya dan kalah, atau melepaskan logikanya untuk menyelami kegelapan pikiran sang pembunuh.
Siapa yang memburu, dan siapa yang sebenarnya sedang diburu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 REUNI DI ALAM BARZAKH DAN LAHIRNYA SANG ÜBERMENSCH
[11:59:45 PM] PANTI ASUHAN TUNAS ABADI, KAMAR 104
Lima belas detik.
Di dalam ruangan yang berbau anyir darah dan kayu lapuk itu, waktu tidak lagi bergerak secara linier. Bagi Dr. Saraswati, detik-detik ini adalah sebuah singularitas—sebuah titik di mana masa lalu dan masa kini bertabrakan dengan kekuatan yang menghancurkan kewarasannya. Di hadapannya, Romo Yulius mengejang dengan mata melotot, terjebak dalam neraka halusinasinya sendiri akibat neurotoksin, memangku sebuah bom rakitan yang angka digitalnya terus melesat menuju nol.
Empat belas. Tiga belas.
Suara langkah kaki dari lorong asrama itu berhenti tepat di ambang pintu kamar 104.
Saraswati perlahan memutar kepalanya, mengarahkan moncong pistol Glock 19 miliknya ke arah kegelapan pintu dengan sisa-sisa tenaga yang menolak untuk menyerah. Di sana, dari balik bayang-bayang pekat malam yang disinari sesekali oleh kilatan petir, berdirilah sesosok siluet jangkung. Pria itu mengenakan mantel panjang berwarna hitam yang basah oleh hujan. Air menetes dari ujung kerahnya, menciptakan genangan kecil di atas lantai kayu.
Sepuluh. Sembilan.
"Berhenti di sana!" teriak Saraswati, suaranya parau, tenggorokannya seolah tercekik oleh debu ingatan masa lalu. Jari telunjuknya menegang di pelatuk. "Matikan bomnya! Matikan sekarang atau aku akan menembak kepalamu!"
Pria itu tidak bergeming. Ia melangkah maju dengan keanggunan predator yang menakutkan, masuk ke dalam jangkauan cahaya senter Saraswati yang tergeletak di lantai.
Saraswati akhirnya melihat wajahnya. Wajah yang asing, namun memancarkan aura yang mengoyak paksa brankas memori di alam bawah sadarnya (Id). Pria itu memiliki rahang yang keras, mata hitam yang sedingin lautan mati, dan sebuah luka parut memanjang di sisi kiri lehernya—luka yang Saraswati tahu persis didapatkan pria itu saat melindungi dirinya dari ayunan palu sang pembantai dua puluh tahun yang lalu.
Tujuh. Enam.
Ini adalah kompulsi pengulangan (repetition compulsion) dalam bentuknya yang paling absolut dan mengerikan. Sigmund Freud benar; apa yang ditekan ke dalam ruang bawah sadar tidak akan pernah hancur, ia hanya menunggu momen yang tepat untuk meletus menjadi realitas. Pria ini, anak laki-laki yang tangannya pernah ia genggam erat di dalam lemari ini sebelum mereka terpisah oleh kekejaman, kini kembali sebagai arsitek kehancuran kota.
Empat. Tiga.
Pria itu menatap Saraswati dengan kelembutan yang sangat kontras dengan teror yang ia ciptakan. Ia mengangkat tangan kanannya yang memegang sebuah perangkat detonator kecil.
"Kau selalu menjadi penganut Aristoteles yang taat, Saras," ucap pria itu. Suaranya tidak lagi menggunakan pengubah suara (voice changer). Suara aslinya berat, serak, dan penuh dengan kepahitan eksistensial. "Kau percaya bahwa setiap akibat memiliki sebab material. Kau percaya jika bom ini meledak, itu karena aku menekan tombolnya. Tapi kau lupa, tidak menekan tombolnya pun adalah sebuah pilihan."
Dua. Satu.
Saraswati memejamkan matanya, menanti ledakan api yang akan mencabik-cabik tubuhnya, mengakhiri penderitaannya, mengakhiri labirin tanpa ujung ini. Ia telah gagal. Logika gagal menyelamatkannya.
00:00:01
Sebuah bunyi BEEP nyaring memecah keheningan.
Saraswati membuka matanya perlahan. Napasnya terengah-engah. Tidak ada ledakan. Tidak ada api.
Layar digital di dada Romo Yulius membeku pada angka nol menit, nol detik, dan satu milidetik.
Sang Pembebas telah menghentikan waktu.
Pria itu menurunkan detonatornya dan memiringkan kepalanya. "Aku bukan pembunuh tanpa otak, Saras. Aku adalah transvaluasi nilai. Jika aku membiarkan benda itu meledak dan membunuhmu, aku tidak lebih dari sekadar anjing gila. Tidak. Malam ini, aku datang untuk menunjukkan padamu bahwa moralitas manusia adalah ilusi."
Dengan langkah santai, ia berjalan mendekati lemari pakaian tersebut, mengabaikan moncong pistol Saraswati yang berjarak kurang dari satu meter dari dadanya. Pria itu berdiri di sebelah Romo Yulius yang masih merintih, menatap mantan direktur panti asuhan itu dengan rasa jijik yang tak terhingga.
"Tembak aku, Saras. Lakukan silogisme logikamu," tantang pria itu dengan suara pelan. "Premis mayor: Pembunuh harus dihukum mati. Premis minor: Aku adalah pembunuh berantai. Kesimpulan: Kau harus menarik pelatuk itu sekarang. Lakukanlah."
Tangan Saraswati bergetar. Ia memiliki sudut tembak yang sempurna. Namun, kekacauan psikologis dan kebingungan (Hayra) yang merantai pikirannya membuatnya lumpuh. Konsep teologi negatif Ibnu Arabi tentang Hayra—kebingungan spiritual saat akal manusia tak sanggup lagi memahami realitas—kini mengambil alih dirinya. Ia berhadapan dengan Barzakh, sebuah jembatan yang menghubungkan kebaikan masa kecilnya dengan kejahatan absolut di masa kini.
"Kau... siapa namamu sekarang?" bisik Saraswati, air mata akhirnya mengkhianati pertahanannya, mengalir turun melewati pipinya yang pucat. "Kenapa kau melakukan semua ini?"
"Nama yang diberikan sistem kepadaku adalah Kala," jawabnya, matanya menatap lekat ke dalam mata Saraswati. "Tapi nama tidak lagi penting. Yang penting adalah mengapa kita berada di sini. Lihatlah tumpukan daging yang kau sebut Romo Yulius ini, Saras."
Kala menjambak rambut Romo Yulius dengan kasar, memaksa wajah pria tua yang penuh cakaran itu menengadah ke arah cahaya. "Kau sudah membaca buku besarnya di ruang arsip, bukan? Pria suci ini mengkhotbahkan moralitas di siang hari, dan menjual tubuh anak-anak panti di malam hari kepada Adrian Kusuma, Hakim Wibowo, dan Baskara. Karl Marx mengkritik kapitalisme karena mengalienasi buruh dari pekerjaannya. Tapi monster-monster ini melampaui itu. Mereka mempraktikkan bentuk alienasi yang paling murni: mengubah esensi kemanusiaan kita—tubuh kita, masa kecil kita, trauma kita—menjadi nilai tukar (exchange value) belaka. Kita dikomodifikasi, Saras! Kita diperdagangkan layaknya barang rosokan!"
Kala melepaskan kepala Romo Yulius. Pria tua itu terbatuk-batuk, mengeluarkan darah hitam dari mulutnya, jantungnya mulai menyerah akibat serangan neurotoksin yang memaksa organnya bekerja melampaui batas biologis.
"Sistem hukummu, kepolisianmu, logika Aristoteles-mu yang agung itu... mereka buta!" Kala berteriak, suaranya kini dipenuhi energi Dionysian yang liar dan primitif. Ia menolak keteraturan (Apollonian) yang diagungkan Saraswati, karena keteraturan itu diciptakan oleh para penindas. "Hukum kalian tidak dirancang untuk melindungi anak-anak miskin yang dibuang di panti asuhan. Hukum kalian dirancang untuk melindungi hak milik Adrian Kusuma! Itulah sebabnya aku harus melampaui moralitas budak ini. Aku harus menjadi Übermensch, dewa dari duniaku sendiri, untuk meruntuhkan kuil kemunafikan ini dan membebaskan jiwa-jiwa yang terasing!"
Nietzschean yang absolut. Kala memposisikan dirinya di luar spektrum baik dan buruk. Ia menghancurkan nilai-nilai lama dengan metode kejam karena baginya, hanya melalui kehancuran itulah tatanan keadilan baru bisa dibangun.
Saraswati menyeka air matanya dengan lengan mantelnya. Ego-nya perlahan mulai menyusun kembali pecahan rasionalitasnya.
"Kau mengutip Nietzsche, memuja Marx, tapi kau mengabaikan satu kebenaran fundamental, Kala," balas Saraswati, suaranya kembali dingin dan menusuk. Moncong pistolnya kini tidak lagi bergetar. "Kau pikir kau adalah Übermensch, manusia unggul yang merdeka? Kau salah. Kau hanyalah budak dari trauma masa lalumu sendiri. Kau mengulangi pembantaian malam itu secara kompulsif karena Id primitifmu terjebak dalam siklus rasa sakit. Membunuh mereka tidak membuatmu melampaui manusia; itu membuatmu menjadi cermin dari monster yang dulu menghancurkan kita."
Kala tersenyum. Sebuah senyuman yang sangat tenang, seolah ia mengagumi perlawanan intelektual Saraswati.
"Itulah yang membedakan kita, Saraswati," Kala melangkah mendekat, hingga dada bidangnya nyaris menyentuh moncong Glock 19 di tangan detektif itu. "Bagi rasionalitasmu, Tuhan—atau Keadilan Tertinggi—adalah sesuatu yang transenden, jauh, tak tersentuh di ruang sidang (Tanzih). Kau menunggu palu hakim untuk menjatuhkan vonis dari kejauhan."
Kala mengangkat tangannya, jemarinya yang dingin menyentuh laras pistol Saraswati dengan sangat lembut. "Namun bagiku, Tuhan itu imanen. Ia hadir dalam darah yang menetes dari wajah para tiran ini. Ia hadir dalam penderitaan yang konkret (Tashbih). Keadilanku bukan konsep yang mengawang-awang di buku hukum; keadilanku adalah manifestasi wujud yang menyiksa saraf mereka."
Konsep Tanzih (kemutlakan yang berjarak) dan Tashbih (kehadiran yang menyerupai dan dekat) dari Ibnu Arabi kini menjadi arena dialektika mereka. Keduanya mencari kebenaran, namun melalui ontologi yang saling bertolak belakang.
Tiba-tiba, Romo Yulius di dalam lemari memekik untuk terakhir kalinya. Matanya melotot menatap ruang kosong, dadanya melenting ke depan dengan keras hingga rantai besinya bergemerincing hebat, sebelum akhirnya tubuhnya terkulai lemas tanpa nyawa. Jantungnya telah meledak akibat syok neuropsikiatrik yang mematikan.
Kala menatap mayat itu tanpa emosi. "Empat tiran telah tumbang. Namun percakapan kita baru saja dimulai."
Kala menatap Saraswati dengan intensitas yang seolah menelanjangi jiwanya. "Nietzsche pernah berkata, 'Ketika kau menikah, bertanyalah pada dirimu sendiri: apakah aku akan menikmati berbicara dengan wanita ini hingga usia senja? Karena segala hal lainnya akan memudar, dan sebagian besar waktu kalian hanya akan diisi oleh percakapan.' Pernikahan modernmu gagal, Saras, karena suamimu yang bodoh itu tidak memiliki kapasitas untuk memahami pikiranmu. Tapi kau dan aku... kita lahir dari rahim trauma yang sama. Kita disatukan oleh Barzakh penderitaan ini. Mari kita menjadi entitas yang baru. Bergabunglah denganku. Bersama, kita akan membumihanguskan setiap pilar korup di kota ini."
Kala sedang mencoba merekonstruksi realitas Saraswati, mengundangnya ke dalam dominasi ideologisnya. Namun, di titik inilah kebangkitan eksistensialis Saraswati terjadi secara purna.
Simone de Beauvoir, dalam The Second Sex, menyatakan bahwa perempuan sering kali membiarkan diri mereka direduksi menjadi objek (Sang Liyan) yang sekadar melengkapi eksistensi pria, berlindung di balik kenyamanan palsu patriarki. Mantan suami Saraswati mencoba menjadikannya objek pasif, dan kini, dengan kedok kebebasan, Kala mencoba menjadikannya sebagai objek intelektual pelengkap untuk revolusi berdarahnya. Kala mencoba menuliskan takdir Saraswati sebagai pendamping sang Übermensch.
Saraswati menarik laras pistolnya kembali dan memukul wajah Kala dengan gagang senjata itu sekuat tenaga.
BUK!
Kala terhuyung ke belakang, darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang robek. Ia menatap Saraswati dengan tatapan sedikit terkejut, namun senyumnya semakin melebar.
"Aku bukan pelengkap penderitaanmu, dan aku bukan makmum untuk agama balas dendammu, Kala!" desis Saraswati, matanya menyala dengan api kehendak yang independen. Ia mendeklarasikan kebebasannya secara absolut. "Aku menolak menjadi objek di dalam narasimu. Eksistensiku adalah milikku sendiri. Dan sebagai subjek bebas, aku memilih untuk menghentikanmu. Jika kau melangkah satu inci lagi, aku akan menembak tempurung lututmu dan menyeretmu ke penjara."
Kala tertawa pelan. Tawa itu menggema di lorong asrama yang kosong. Ia mengusap darah dari bibirnya menggunakan ibu jarinya. "Luar biasa. Kau benar-benar mahakarya yang menolak untuk mati, Saraswati. Penolakanmu... itulah yang membuat percakapan kita ini akan menjadi sangat indah."
Tiba-tiba, suara sirine memecah malam. Bukan hanya satu atau dua, melainkan belasan suara sirine mobil polisi yang meraung-raung dari kejauhan, semakin lama semakin mendekati gerbang Panti Asuhan Tunas Abadi. Kilatan cahaya lampu biru dan merah mulai menembus kaca jendela yang pecah di lantai bawah.
Saraswati mengernyitkan dahi. Ia tidak memanggil bantuan. Inspektur Bramantyo tidak tahu ia ada di sini.
"Logika Aristoteles," ucap Kala sambil melangkah mundur mendekati jendela besar di belakang kamar. "Jika kau tidak memanggil mereka, lalu bagaimana mereka tahu kau ada di sini?"
Mata Saraswati membelalak. Ia baru menyadari ketiadaan buku besar akuntansi ganda di ruangan Romo Yulius tadi.
"Kau menjebakku," bisik Saraswati.
"Aku mengirimkan salinan digital buku besar itu ke surel Inspektur Bramantyo lima belas menit yang lalu, dari alamat IP komputermu sendiri," jelas Kala dengan ketenangan seorang grandmaster pecatur. "Aku juga mengirimkan bukti transfer palsu yang menunjukkan bahwa selama lima tahun terakhir, rekening rahasiamu menerima aliran dana dari perusahaan Adrian Kusuma untuk menutupi jejak panti asuhan ini."
Saraswati merasa lantai di bawahnya seolah lenyap.
"Kau berada di TKP Kusuma pertama kali. Kau mengacaukan TKP Hakim Wibowo. Kau ada di studio tepat sebelum Baskara mati. Dan sekarang, mereka akan menemukanmu sendirian di ruangan ini, memegang senjata di depan mayat Romo Yulius," Kala menjabarkan silogisme itu dengan presisi mematikan. "Hukum yang selama ini kau sembah kini telah berbalik menjadi palu yang akan meremukkanmu."
Suara derap langkah puluhan sepatu bot berat dan teriakan pasukan taktis kepolisian mulai terdengar dari lantai satu. Mereka mendobrak pintu utama panti.
"Inspektur Bramantyo akan menembakmu di tempat. Baginya, kau adalah dalang di balik semua ini—psikolog korup yang menghabisi kliennya sendiri untuk menghilangkan jejak," Kala memanjat ambang jendela, mantel hitamnya berkibar ditiup angin badai. "Hanya ada satu cara untuk membuktikan bahwa kausalitas Aristotelesmu tidak mati, Saras. Kau harus bertahan hidup di luar sistem yang mengkhianatimu."
"Kala! Berhenti!" Saraswati menerjang maju dan melepaskan satu tembakan.
DOR!
Peluru itu menembus kaca jendela tepat di sebelah kepala Kala, namun pria itu telah menjatuhkan dirinya ke belakang, menghilang ditelan kegelapan malam dan lebatnya pepohonan di halaman belakang panti asuhan.
Saraswati berlari ke arah jendela, menatap ke bawah. Tidak ada siapa-siapa. Jejak Übermensch itu telah terhapus oleh hujan.
"TANGAN DI ATAS KEPALA! JATUHKAN SENJATAMU SEKARANG JUGA!"
Teriakan brutal bergema dari ambang pintu kamar 104. Tiga orang petugas unit taktis dengan senapan serbu terarah lurus ke dada Saraswati telah mengepung ruangan itu. Sinar laser merah dari laras senapan mereka menari-nari di atas kemeja sang detektif. Di belakang mereka, Inspektur Bramantyo berdiri dengan wajah memerah, matanya menatap nanar pada mayat Romo Yulius dan bom rakitan di pangkuannya.
"Dr. Saraswati..." suara Bramantyo bergetar karena amarah dan rasa tidak percaya. "Kau ditahan atas tuduhan pembunuhan berantai tingkat satu dan tindak terorisme negara."
Waktu telah habis. Ruang sidang, logika kepolisian, dan perlindungan hukum telah runtuh menjadi debu di bawah kakinya.
Saraswati menatap ketiga moncong senapan itu. Teori psikoanalisis dan filsafat eksistensialisme yang ia pelajari seumur hidup kini mengerucut pada satu titik kelangsungan hidup hewani. Ia dihadapkan pada pilihan radikal: menyerah dan membiarkan ego sang Laki-Laki (Bramantyo dan Kala) mendikte nasibnya menjadi pesakitan, atau mengafirmasi kebebasannya yang liar dan tak tertebak.
Dengan gerakan lambat yang sangat diperhitungkan, Saraswati menurunkan Glock 19 miliknya dan mengangkat kedua tangannya.
"Aku mengerti, Inspektur," ucap Saraswati dengan nada yang sangat tenang, sebuah ketenangan yang dipelajarinya dari Sang Pembebas di alam Barzakh barusan.
Namun, di saat salah satu petugas taktis itu melangkah maju dengan borgol di tangan, jari telunjuk Saraswati yang masih mengait di pelatuk tiba-tiba tersentak.
Permainan sesungguhnya, baru saja dimulai.