NovelToon NovelToon
KESEMPATAN KEDUA

KESEMPATAN KEDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.

Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.

Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.

Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Kesempatan Kedua

Di tengah malam, di kamar mewah. Seorang Pria berdiri di samping tempat tidur, sambil menatap seorang wanita yang sedang tidur dengan posisi membelakanginya.

Menatap? Bisa dibilang tidak. Karena kondisi matanya saat ini tidak bisa melihat, alias buta. Dia duduk ditepi tempat tidur.

"Maaf, setiap malam aku masuk kamarmu secara diam-diam. Meski aku tidak bisa melihat, tapi dengan mencium aromamu saja sudah cukup.!" gumamnya dengan suara pelan.

Pria itu beranjak dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. "Selamat malam Kara!" berjalan keluar dengan pelan.

Tanpa dia sadari, wanita yang disangkanya sedang tidur ternyata mendengar semua ucapannya.

Karamel berbalik dan menatap pintu yang sudah tertutup. "Maaf!" suaranya tercekat menahan tangis.

Dia sudah menangis seharian dalam kamar, dan sekarang wajahnya begitu sembab. Karamel menangisi kisah hidupnya yang pernah dia alami. Karena saat ini, dia diberi kesempatan untuk hidup kembali setelah kematiannya.

"Rafa maafkan aku!" hanya kata itu yang bisa diucapkan untuk saat ini. Dia membenci dirinya sendiri karena terlalu bodoh dengan namanya yang cinta.

Ternyata selama ini, Suami yang dia benci diam-diam masuk ke kamar untuk melihatnya. Ya, keduanya sepasang suami-istri yang sudah menikah 3 tahun.

Karena menangis seharian membuatnya kehabisan tenaga. Dan perlahan mulai menutup mata, sesekali masih terdengar sesegukan.

...----------------...

Keesokan harinya, Karamel terbangun dengan kepala pusing. Dia menoleh ke samping, dan melihat sarapannya di atas meja. Dia memilih sarapan di kamar, karena tidak ingin satu meja dengan suaminya.

Karamel bangkit dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi. Setelahnya, dia lanjut sarapan dan mencari obat sakit kepala.

Dia membuka jendela kamar dan nikmati angin pagi yang menerpa wajahnya, dia sangat bersyukur dengan keberuntungan yang dia dapatkan.

"Aku tidak akan memaafkanmu!" ucapnya yang dituju pada orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya.

***

Di kantor, di ruang kerja Rafa Gautama. Dia sedang menandatangani beberapa berkas. Itu semua permintaan Karamel, meminta pengalihan aset atas nama dirinya dan juga seorang pria yang bernama Arka Pradipta.

"Tuan. Apa Anda sudah yakin?" tanya Sang Asisten. Dia sangat menyangkan sikap Tuannya yang terlalu baik kepada Istrinya.

Karamel saja sangat membencinya, bahkan dia tidak sudi untuk melihat wajah suaminya, Rafa Gautama. Meski dibenci, Tama tetap memenuhi semua kebutuhan dan permintaannya.

"Ya. Dia istriku, semua yang aku miliki juga miliknya, ini hanya ganti nama pemilik!" katanya dengan santai, tapi raut wajahnya tidak terbaca.

Sang Asisten yang bernama Dika hanya bisa memijat keningnya dengan perasaan pasrah. Dia sudah sangat mengenal sikap Tuannya, tidak ada yang namanya berpikir berulang-ulang.

Tiba-tiba telepon di meja berdering, Dika langsung mengangkatnya, dan ternyata dari rumah Tuannya. Itu juga suatu hal yang hampir terjadi setiap hari.

Telpon dari kepala Pelayan, untuk mengabari semua kegiatan Karamel. Yang selalu membuat onar kepada para pelayan.

Di seberang telpon, terdengar suara Kepala Pelayan yang bernama Pak Rudi. Suaranya terdengar sedikit cemas, tidak seperti biasanya.

"Tuan. Nyonya belum keluar kamar dari pagi! kami ingin masuk, tapi pintu terkunci dari dalam!"

"Kalian sudah memangilnya?" tanya Tama dengan nada khawatir.

"Sudah Tuan! Tidak ada jawaban, apa mungkin Nyonya masih tidur?" Tanya Pak Rudi dengan menebak.

Tama memberitahunya akan pulang sekarang juga, dan meminta untuk menyiapkan makan siang. Dia beranjak dan keluar dari ruangan, tak lupa dia membawa semua berkas-berkas yang sudah dia tanda tangani.

Tama meminta sang Asisten untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit, lalu dia pulang diantar dengan sopir.

***

Karamel bukannya tidak tau jika para Pelayan bolak balik naik memanggilnya. Dia sedang mengompres wajahnya yang sembab.

Jujur saja, saat ini dia tidak tau harus bagaimana menghadapi mereka semua. Kara merasa malu untuk bertemu orang-orang, karena telah membuat banyak kesalahan.

"Huufft, aku harus bisa. Bagaimanapun, aku yang sudah membuat kekacauan.!"

Karamel beranjak, setelah wajahnya tidak sembab lagi. Tiba-tiba kembali terdengar ketukan pintu, tapi kali ini ritmenya sedikit berbeda, terdengar terburu-buru.

Kara menghela nafas panjang, lalu memutar kunci dan membuka pintu. Dia tertegun saat melihat siapa yang berada di depannya, perasaannya kembali bergejolak, tapi dia menahannya agar air matanya tidak menetes.

"Ada apa?" tanyanya.

Tama menghela nafas lega, dia tau bahwa Kara baik-baik saja. Karena dia datang bersama Kepala Pelayan, dan memintanya memberikan kode jika terjadi sesuatu.

"Aku dengar kamu tidak turun dari pagi. Mereka hanya takut kamu kenapa-kenapa, jangan salahkan mereka karena sudah menggangumu! Kamu bisa lampiaskan amarmu kepadaku!"

"Tuan..!" Kepala Pelayan tidak ingin Tuannya selalu membela mereka. Tapi dia sudah dihentikan.

Aruna hanya terdiam, dalam hati dia mengutuk dirinya yang sudah sangat jahat. Punya suami tampan, kaya raya, baik hati dan begitu perhatian. Tapi, dia malah malah membencinya.

"Hmm.. Apa makan siang sudah siap?" tanya Kara mengalihkan pembicaraan.

Tapi pertanyaannya itu malah membuat kepala pelayan begitu heran. Namun dia tetap menjawab, "Nyonya. Makanannya sudah siap! Saya akan meminta pelayan untuk mengantar ke kamar!"

Untung saja Tama memintanya untuk menyiapkan makan siang, karena sebelumnya Kara akan memesan online untuk makan siang dan malamnya.

"Tidak perlu, aku akan turun makan di bawah. Kalian turun duluan, aku akan menyusul" Setelah mengatakan itu Kara Kembali masuk kamar.

Dia benar-benar gugup, apalagi Tama seperti menatapnya dengan intens. Padahal Tama tidak bisa melihat.

Di luar kamar, Kepala Pelayan dan Tama masih mencerna apa yang terjadi barusan. Apa telah terjadi sesuatu pada Karamel?

"Turun!"

Pak Rudi menurut, dia segera turun bersama Tuannya. Dia melihat para Pelayan sudah berbaris untuk menunggu Kara turun untuk memarahi mereka.

Begitulah yang terjadi setiap hari, Kara akan selalu menghukum mereka jika dirinya merasa terganggu, tapi terkadang Kara membuat masalah sendiri, dan para pelayan yang kena semprot.

"Tuan. Apa Anda ingin menunggu Nyonya?" tanya Pak Rudi, karena dia tidak yakin dengan perkataan Kara.

"Ya." jawab Tama dengan singkat. Dia merasa aneh dengan sikap Kara.

Karena Kara akan mengamuk jika melihat wajahnya, apalagi tadi dia berdiri dengan jarak dekat.

Setelah menunggu beberapa menit, Kara belum turun juga. Tama tidak marah atau kecewa, ini bukan pertama kalinya Kara tidak menepati ucapannya.

Pak Rudi menatap Tuannya dengan perasaan sedih. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali memintanya untuk bersabar.

Saat Tama ingin meminta Pak Rudi untuk mengambil makanan, dia mendengar suara langkah kaki yang turun dari tangga, entah kenapa di dalam hatinya dia sangat berharap.

"Nyonya!" sapa Pak Rudi dengan sopan. Dia begitu terkejut melihat Kara benar-benar turun.

Belum lagi, Kara menggunakan pakaian santai, dan wajahnya bersih tanpa make up.

Kara hanya mengangguk untuk membalas sapaannya. Lalu duduk di depan Tama, dia sedikit lama, karena dia mengganti baju terlebih dahulu.

"Pak Rudi, antar makanannya di ruang kerjaku!" kata Tama. Dia lebih baik cepat menghindar sebelum Kara marah kepadanya.

Pak Rudi ingin menahannya, tapi dia teringat, Kara tidak akan pernah mau makan semeja dengan Tuan Tama.

Kara kembali meraskan sakit di hatinya, semua ini permintaannya yang sangat berlebihan. "Tidak. Temani aku makan!"

Tama dan Pak Rudi mematung, apa mereka salah dengar? Untuk kali ini, Tama sangat berharap Kara mengulang kembali perkataannya.

"Kenapa? Kamu tidak ingin makan bersama denganku?" tanya Kara.

 .

.

.

.

1
Sribundanya Gifran
lanjut
Sribundanya Gifran
lanjut thor💪💪💪💪
Fii
Kalau ada typo langsung komen yaa 🙏🙏

Sebelum UP sdah dibaca berulang-ulang kok. Tapi masih ada juga yang lolos dari pandangan..😭
Sulati Cus
typo mulu😅
Fii: Hai kk. maksih sudah komen😍🙏
total 1 replies
Sribundanya Gifran
lanjut
Fii
maksih kk sudah komen..
sering2 yaa kalau ada typo😍😍
neni onet
typo ini heii, Sisil lah, koq Sarah 🫣
Sribundanya Gifran
lanjut
neni onet
penasaran banget, seberapa jahat duo pasangan Sarah dimasa lalu sampai Kara begitu banyak melakukan kesalahan dimasa lalu 🫣
Sribundanya Gifran
lanjut
Mamta Okta Okta
lanjut thor
Fii
aahh typo.. makasih sudah komen😍🙏
neni onet
siapakah Aruna /Bye-Bye/
Fii: Aruna PU di novel LINTAS DIMENSI. jangan lupa mampir yaa🙏😍
total 1 replies
Sribundanya Gifran
lanjut💪💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjit up lagi thor
Mamta Okta Okta
lanjut thor 💪💪🙏🙏
Mamta Okta Okta
lanjut thor crazy up semangat 💪💪💪🙏🙏
Mamta Okta Okta
lanjut thor crazy up semangat 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!