Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 4
Point of view Carmila
Pagi pun tiba, waktu menunjukkan pukul 6. Aku biasa bangun untuk memasak bekal ayah. Namun kali ini aku tidak perlu lagi bangun jam 5. Sekolahku dimulai pukul 8. Memakan waktu 25 menit untuk sampai disana dengan berjalan kaki. Atau 20 menit dengan mengendarai sepeda. Ataupun 10 menit dengan naik kereta. Yah, alat transportasi yang terkenal di negara ini adalah kereta. Stasiun kereta juga sangat dekat dari rumah. Hanya perlu 3 menit berjalan kaki. Petugas kebersihan yang di sewa ayah kemarin sudah menyediakan bahan makanan di kulkas atas permintaan ayah. Jadi, aku hanya tinggal memasaknya saja. Sebenernya ayah juga mampu memperkerjakan seseorang untuk mengurus rumah, tapi entah kenapa ayah lebih memilih mengerjakan semuanya sendiri semenjak ibu tiada. Dan aku ikut membantunya juga. Tetapi saat aku sudah bisa melakukan semuanya sendiri, aku menyuruh ayah untuk fokus bekerja saja. Dan membiarkan aku mengatur keuangan rumah tangga.
Masakan khas negara S yang selalu ada disetiap pagi, nasi goreng. Kalian pasti pernah dengar istilah, "Belum makan, jika belum makan nasi." kan? Itupun berlaku di rumah ini. Karena ayah selalu lapar ketika tidak ada nasi di piringnya. Karena itu aku menyiapkannya untuk sarapan pagi ini. Beras dinegara P terkenal dengan kualitasnya yang baik dan teksturnya yang pulen, bentuknya bulat lonjong, warnanya putih bersih, dan wangi tentunya. Sedikit berbeda dengan beras negara S. Aku pikir rasa nasi goreng buatanku kali ini akan berbeda. Seperti masakan di hotel bintang 5 mungkin? Haha. Aku bercanda. Tidak ketinggalan, aku juga menyiapkan sambal kentang goreng kesukaan ayah, tumis buncis, dan beef teriyaki. Setelah siap semuanya aku pergi menuju kamar ayah untuk membangunkannya. Itulah kebiasaan rutinku setiap pagi.
Kubuka gorden dikamar ayah sehingga cahaya mulai menyoroti wajahnya. Ayah menggeliat.
"Ayah. Bangun. Sarapan sudah siap."
Aku menggoyang-goyangkan tubuh ayah pelan.
"Iya. Ayah akan turun setelah mandi."
Rumah kami terdiri dari dua lantai. Kamar ayah terletak di bagian atas dan ruangan yang lainnya beserta kamarku ada di bagian bawah. Ayahku turun dengan terburu-buru sambil melipat dasi yang ada di kerahnya.
"Ayah, ini kan negara P. Ayah kan lahir dan dibesarkan disini! Kenapa ayah masih terlambat?"
"Ayah tidur larut semalam karena mengurus perpindahan pekerjaan ayah disini. Maaf maaf."
"Sini biar aku yang rapikan dasi ayah."
"Senangnya punya anak perempuan."
Canda ayahku dan masih sempat-sempatnya mengacak-acak rambutku juga.
Aku merapikan dasi ayah dengan serius. Ayahku hanya tersenyum sambil memperhatikanku.
"Anak ayah. Jangan terlau cepat besarnya ya."
"Apa sih ayah!"
Spontan aku menepuk bahu ayah.
Yang aku tahu mengenai ayahku, ayah adalah anak yatim piatu yang dibesarkan di sebuah panti asuhan dekat pusat kota T, negara P. Menemukan jodoh di negara S saat bekerja disana. Wanita itu adalah mendiang ibuku. Ayahku sangat sayang pada keluarga kecil ini. Saat kematian ibuku, dia berusaha untuk tidak menangis agar aku juga tidak ikut menangis. Namun itu semua hanyalah omong kosong. Alih-alih tidak menangis. Kami malah menangis dengan sembunyi-sembunyi agar tidak terlihat satu sama lain. Ayahku tidak pernah memiliki niat untuk menikah lagi. Namun aku selalu berharap akan ada wanita yang akan datang dan hidup bahagia bersamanya.
Aku merasakan hawa aneh di kamar ayah. Sebuah pintu lain di kamar ayah mencuri perhatianku. Aku baru melihatnya. Biasanya dikamar ayah hanya ada dua pintu. Yaitu ruang kerja dan kamar mandi. Namun hari ini berbeda. Dan aura yang keluar dari pintu itu terasa sangat asing. Biasanya jika itu hal buruk, aku tahu. Tapi ini... Aku juga merasa heran. Kenapa ayah membuat hanya satu ruangan di lantai atas yang sebesar ini? Dan itu kamarnya.
"Ada apa?"
"Ah tidak apa-apa ayah."
Aku menata dengan baik nasi goreng yang telah kubuat diatas piring yang kuletakan di meja makan kecil ini. Ayahku kemudian duduk dengan wajah ceria seperti biasanya. Aku duduk dihadapannya.
"Selamat makan!"
Tampak ayah sangat menikmati sarapan yang telah aku buat.
"Seperti biasa. Masakanmu memang sangat enak!"
Setelah semua selesai aku memasukkan bekal ayah kedalam tasnya. Waktu menujukan pukul 6.30. Ayahku berangkat lebih pagi karena perusahaannya mengadakan penyambutan untuknya.
"Hari ini ayah mungkin pulang terlambat. Jaga dirimu baik-baik dirumah. Jika terjari sesuatu, kabari ayah segera. Dan semangat pergi sekolahnya!"
"Baik ayah."
Entah kenapa, akhir-akhir ini ayah tampak sangat berbeda sikapnya padaku. Seperti lebih khawatir. Atau hanya perasaanku saja?
Setelah ayahku pergi akupun juga mulai bersiap-siap. Ku sisir rambut panjangku dan mencatoknya. Aku menatap diriku dicermin.
"Kebanyakan wanita di negara P itu berponi kan?"
Aku mengambil gunting dan membuat poni pada rambutku lalu mencatoknya kembali.
"Tidak terlalu buruk."
Aku mengambil seragam yang telah kusetrika semalam lalu mengenakannya. Panjang rok seragam sekolah disini sangatlah pendek menuruku. Aku memakai celana strit untuk berjaga-jaga jika ada angin akan meniup rokku. Entah apa yang mereka pikirkan saat membuat rok sependek ini. Tidak lupa dasi dan kaos kaki hitam panjang kukenakan. Aku membiarkan rambut lurusku tergerai. Kupoles tipis bedak dan lipbalm warna natural kebibirku. Bulu mataku yang sudah lentik tak perlu lagi menggunakan maskara.
"Sudah siap!"
Entah mengapa firasatku sangat buruk hari ini. Aku sedikit khawatir dengan keadaanku nanti di sekolah. Tapi aku mengumpulkan kembali rasa percaya diriku dan melangkah keluar dari pintu rumahku dengan yakin. Tidak lupa juga aku mengunci pintu gerbang rumah. Terlihat pemilik kamar sewa sedang menyiram bunga di taman kecil miliknya.
"Selamat pagi, Tante!"
"Pagi, Mila. Sudah mau berangkat sekolah hari ini? Cepat juga. Tidak lelah?"
"Tidak tante. Aku sudah tidak sabar untuk bersekolah."
"Bagus-bagus. Pertahankan semangat itu. Nah, ini ada sedikit kue yang aku buat pagi ini. Ambil lah."
Ucapnya sambil menyodorkan bingkisan kecil.
"Terimakasih, tante."
"Hati-hati!"
Aku mengangguk sambil melambaikan tangan kearahnya. Namanya Tante Melda. Dia sangat baik. Padahal baru pertama kali kita jadi tetangga.
Dalam perjalanan hendak menuju stasiun, tanpa sengaja aku berpapasan lagi dengan si pria dingin yang tadi malam ku lihat. Pria itu berdiri tepat di gerbang kamar sewa sambil membawa sepeda. Yah, kamar sewa dan rumah pemilik kamar sewa berbeda. Aku menghiraukannya dan berjalan melewatinya.
"Kau mau ke sekolah menengah Y kan?"
Tanyanya tiba-tiba menyamai langkahku sambil menuntun sepeda disampingnya.
Aku menoleh kearahnya. Seragam yang sama. Hanya saja warna dasinya berbeda denganku. Aku berwarna biru dan dia berwarna merah.
"Hm."
Jawabku mengangguk.
"Naik kereta?"
"Hm."
Jawabku mengangguk lagi.
"Kamu hanya akan dilecehkan jika naik kereta di jam ini."
Aku berhenti melangkah karena kaget dengan kata-kata yang di lontarkannya. Seketika aku melihat kearah jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul 7.30.
"Jam ini adalah jam tersibuk di stasiun. Yang ada kamu hanya akan berdesakkan diantara orang-orang yang berangkat ke kantor."
Aku baru tahu bahwa di negara P menaiki kereta di jam segini akan menyulitkanku.
"Ikutlah denganku. Memang akan memakan waktu lebih lama untuk sampai disekolah dengan menggunakan sepeda dari pada naik kereta. Tapi setidaknya kamu aman."
Ia menawarkan untuk menaiki bangku belakang sepedanya. Yah, sebenarnya tanpa perlu naik kereta pun aku bisa sampai kesekolah dengan berjalan kaki. Namun aku hanya ingin mencoba naik kereta. Tadinya. Aku tidak menyangka bahwa ada jam-jam tertentu untuk menaiki kereta dengan nyaman.
"Kamu ikut tidak? Kita akan kesiangan jika kamu tidak cepat mengambil keputusan."
"Baiklah."
Aku pun menaiki sepedahnya dan duduk dibangku belakangnya. Menurutmu, apa bisa kamu menolak ajakan pria tampan di hadapanmu? Dan lagi, satu sekolah denganmu pula?! Okay, aku akui. Aku hanya penasaran dan hanya ingin tahu seperti apa rasanya di bonceng seorang pria tampan. Aku juga wanita. It's a normal, kan?!
Pria itu mulai menggoes sepedahnya dengan cepat. Sontak aku memegang pinggangnya menjaga keseimbanganku.
"Siapa namamu?"
Ia mencoba memecahkan keheningan. Namun aku hanya diam tidak menjawabnya.
"Namaku Mark. Dilihat dari warna dasimu, kamu adalah adik kelasku."
Aku masih tetap diam tidak menjawab.
Disepanjang perjalanan tidak terlihat orang yang berseragam yang sama dengan kami.
"Kenapa tidak ada orang yang berseragam sama dengan kita?"
"Karena kita sudah terlambat."
Jawabnya enteng.
Sebenernya aku tidak masalah jika harus datang terlambat. Karena pak Josep memintaku masuk 15 menit setelah bel masuk terdengar.
"Kamu tidak panik?"
"Kenapa kau datang terlambat?"
Aku membalas pertanyaannya dengan pertanyaan yang lain.
"Aku hanya ingin saja."
"Hm, begitu."
Kami pun sampai diparkiran sekolah. Namun entah mengapa aku merasa ada tatapan tajam mengarah ke arahku entah dari mana. Untuk hal ini, aku memang sangat peka. Namun aku memutuskan untuk tidak menghiraukan hal itu.
"Mau aku antar kekantor?"
"Tidak perlu. Dan terimakasih atas tumpangannya. Besok aku akan pergi sendiri. Kamu tidak perlu sengaja menungguku lagi."
"Aku ketahuan ya?"
Saat aku mulai melangkah pergi, ia menghentikanku.
"Tunggu!"
Aku menoleh.
"Siapa namamu?"
Aku berbalik memunggunginya tanpa memberi jawaban atas pertanyannya. Aku berniat untuk sekolah. Bukan untuk meladeni pria dengan sifat yang suka menggoda seperti buaya darat. Ternyata duduk di bangku belakang sepeda pria tampan biasa saja bagiku.
Hari pertamaku di sekolah menengah Y akan segera dimulai. Aku tidak tahu, hal apa yang akan terjadi saat aku sampai dikelasku. Aku harap, aku bisa melewatinya dengan baik.