NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: BAYANGAN DI BALIK TAHTA

Malam setelah sidang klan yang dramatis itu, Klan Namgung tenggelam dalam keheningan yang terasa berbeda. Bukan keheningan damai seperti biasa, tapi keheningan yang berat, seperti udara sebelum badai.

Namgung Jin duduk di atap paviliun reotnya, tempat favoritnya untuk merenung. Dari ketinggian ini, ia bisa melihat seluruh kompleks klan—paviliun utama dengan lampu-lampunya yang masih menyala, barak para pengawal yang mulai sepi, dan di sudut terjauh, paviliun tamu di mana Tetua Seok masih bergadang.

Bulan purnama bersinar terang, tapi cahayanya terasa dingin malam ini.

"Kau tidak tidur?"

Suara Nyonya Hwa Ryun datang dari belakang. Wanita itu naik ke atap dengan lincah, duduk di sampingnya tanpa sungkan. Dalam penyamarannya sebagai pelayan biasa, ia tetap memancarkan aura yang berbeda—aura seseorang yang terbiasa memerintah, bukan dilayani.

"Orang seperti aku tidak butuh banyak tidur."

"Orang seperti apa?"

Namgung Jin tidak menjawab. Ia hanya terus menatap bulan.

Nyonya Hwa Ryun tidak mendesak. Ia ikut diam, menikmati keheningan malam. Beberapa saat berlalu sebelum ia berkata lagi.

"Kau tahu, selama bertahun-tahun aku menjadi Roh Rahasia, aku bertemu banyak orang aneh. Pembunuh, pengkhianat, pemimpin sekte, bahkan orang gila yang mengaku dewa. Tapi kau..." Ia menoleh menatap Namgung Jin. "...kau yang paling aneh."

"Apa yang aneh dariku?"

"Matamu." Suaranya pelan. "Matamu seperti milik orang tua yang sudah melihat segalanya. Tapi tubuhmu masih muda. Itu... tidak masuk akal."

Namgung Jin tersenyum tipis. "Banyak hal di dunia ini yang tidak masuk akal."

"Seperti utusan iblis?"

"Seperti utusan iblis."

Nyonya Hwa Ryun ingin bertanya lebih banyak, tapi ia tahu tidak akan mendapat jawaban. Untuk saat ini, ia puas duduk di sampingnya, berbagi keheningan.

---

Di paviliun tamu, suasana justru panas.

Tetua Seok Cheon-ho duduk di kursi utama dengan wajah merah padam. Di hadapannya, putranya Seok Cheon-myung berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Di sudut ruangan, Tetua Kang duduk diam dengan ekspresi cemas.

"Kau lihat sendiri!" Tetua Seok memukul meja. "Bocah itu nyaris terbongkar, tapi Kepala Klan membelanya! Mereka pasti bersekongkol!"

"Ayah, apa yang harus kita lakukan?" Seok Cheon-myung bertanya dengan suara bergetar. *"Jika mereka bisa berbohong di depan semua tetua—"

"Kita tidak bisa menyerang mereka secara langsung." Tetua Seok memotong. "Tapi kita bisa menggunakan orang dalam."

Matanya beralih ke Tetua Kang.

"Tetua Kang, kau anggota klan ini. Kau tahu seluk-beluknya. Kau bisa membantu kami."

Tetua Kang mengerutkan kening. *"Aku tidak suka bocah itu, tapi—"

"Tidak suka?" Tetua Seok tertawa sinis. "Bocah itu mempermalukanmu di depan semua tetua. Ia membuatmu kalah taruhan. Ia membuatmu terlihat bodoh. Dan kau hanya 'tidak suka'?"

Tetua Kang diam. Kata-kata itu mengenai sasaran.

"Apa yang kau minta dariku?"

"Sederhana." Tetua Seok mencondongkan tubuh. "Kita ciptakan insiden. Buat seolah Namgung Jin menyerangku. Kau akan menjadi saksinya."

*"Tapi—"

"Dengan kesaksianmu, ia akan dihukum. Kepala klan tidak bisa membelanya lagi."

Tetua Kang bergumul. Harga dirinya yang terluka berperang dengan akal sehatnya.

"Bagaimana jika ketahuan?"

"Tidak akan ketahuan. Aku yang akan 'diserang'. Lukaku nyata. Kau saksi mata. Siapa yang bisa membantah?"

Tetua Kang menghela napas panjang. Lalu, perlahan, ia mengangguk.

"Baik. Aku lakukan."

---

Dua hari kemudian, rencana itu mulai dijalankan.

Pagi itu, Namgung Jin sedang berjalan di taman belakang, menikmati udara segar setelah berhari-hari terkurung di paviliun. Lukanya di perut sudah hampir sembuh, dan ia perlu menggerakkan tubuh agar tidak kaku.

Taman belakang ini adalah tempat favoritnya—sepi, teduh, dan jauh dari keramaian. Pepohonan rindang menaungi jalan setapak, dan kolam kecil dengan ikan koi menambah ketenangan.

Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama.

"Namgung Jin!"

Suara itu datang dari balik semak-semak. Tetua Seok melangkah keluar dengan wajah penuh kemarahan pura-pura. Di belakangnya, samar-samar, Namgung Jin melihat sesosok bersembunyi—mungkin Tetua Kang, menunggu saat yang tepat.

"Tetua Seok. Ada perlu?" Suara Namgung Jin tetap tenang.

"Ada perlu? Kau bertanya ada perlu?" Tetua Seok mendekat dengan langkah mantap. "Kau mempermalukan putraku. Kau mempermalukan sekteku. Dan kau pikir kau bisa lolos begitu saja?"

*"Putramu yang memulai duel. Putramu yang kalah. Aku hanya—"

"DIAM!"

Tetua Seok sudah berada tepat di depannya. Dengan gerakan cepat—tapi anehnya lambat, seperti pura-pura—ia melayangkan serangan.

Namgung Jin menghindar dengan mudah. Terlalu mudah. Serangan itu tidak bertujuan melukai, hanya... memancing reaksi.

Dan saat itulah Tetua Seok berteriak.

"TOLONG! BOCAH INI MENYERANGKU!"

Ia jatuh ke tanah, memegangi lengannya, pura-pura terluka. Dari balik semak, Tetua Kang muncul dengan ekspresi tegang.

"Apa yang terjadi?!"

"Dia! Dia menyerangku!" Tetua Seok merintih. "Coba bunuh aku!"

Tetua Kang menatap Namgung Jin dengan tatapan penuh kemenangan—tapi juga sedikit rasa bersalah.

"Namgung Jin, kau tertangkap basah! Menyerang tamu klan!"

Namgung Jin diam. Ia mengamati keduanya dengan mata dingin, membaca setiap gerak-gerik, setiap ekspresi wajah. Lalu ia tersenyum.

"Jadi ini rencananya."

"Apa?"

"Kau pura-pura diserang, lalu Tetua Kang menjadi saksi. Cerdik. Tapi..." Ia menggeleng. "...amatiran."

Tetua Seok menggeram. "Kau tidak bisa mengelak kali ini!"

"Aku tidak perlu mengelak."

Dari balik semak-semak yang sama, suara lain terdengar.

"Aku melihat semuanya."

Semua menoleh. Nyonya Hwa Ryun melangkah keluar dari bayangan, anggun seperti kucing. Di tangannya, sebuah batu kecil berkilauan—batu perekam, artefak langka yang bisa merekam suara dan gambar.

"Kau?!" Tetua Seok terkejut. "Siapa kau?"

"Tidak penting siapa aku. Yang penting..." Ia mengangkat batu itu. "...batu ini merekam semuanya dari awal. Termasuk saat kau berbisik pada Tetua Kang tentang rencana ini kemarin malam."

Wajah Tetua Seok berubah. "Kau bohong!"

"Mau bukti?" Nyonya Hwa Ryun menekan batu itu. Keluarlah suara—suara Tetua Seok sendiri, berbisik pada Tetua Kang.

"...kau akan menjadi saksinya... aku yang akan 'diserang'... lukaku nyata..."

Tetua Kang pucat pasi. "Itu... itu..."

"Cukup." Namgung Jin melangkah maju. "Sekarang, kita punya dua pilihan. Satu, kita bawa ini ke Kepala Klan. Dua, kau pergi dari sini dan tidak pernah kembali."

Tetua Seok gemetar—bukan takut, tapi marah. Tapi ia tahu, posisinya sudah kalah.

"Ini belum selesai, bocah."

"Aku tahu. Tapi untuk saat ini, kau yang kalah."

---

Satu jam kemudian, di aula utama Klan Namgung, bukti itu diserahkan pada Namgung Cheon.

Kepala klan menonton rekaman itu dengan wajah membatu. Para tetua lain juga hadir, dipanggil untuk menyaksikan. Nyonya Kim duduk di samping suaminya, wajahnya pucat.

Setelah rekaman selesai, keheningan menyelimuti aula.

Tetua Seok dan Tetua Kang berlutut di tengah, tidak berani menatap siapa pun.

"Tetua Seok." Suara Namgung Cheon dingin. "Kau datang ke klanku sebagai tamu. Aku sambut dengan hormat. Dan kau balas dengan konspirasi kotor?"

· "Aku... aku hanya ingin keadilan—"

"Keadilan?" Namgung Cheon berdiri. "Kau ingin balas dendam. Kau menggunakan Tetua Kang untuk rencana busukmu."

Tetua Kang menunduk, tidak berani membela diri.

"Sebagai kepala klan, aku berhak menghukum kalian berdua." Namgung Cheon berjalan mendekat. "Tapi karena kau bukan anggota klanku, Tetua Seok, aku serahkan keputusan pada sekte mu."

Ia mengeluarkan gulungan kosong, menulis sesuatu dengan cepat.

"Ini laporan lengkap tentang insiden ini. Akan kukirim ke Sekte Pedang Langit besok pagi."

Tetua Seok membelalak. *"Tidak! Jika itu sampai—"

"Kau seharusnya berpikir sebelum bertindak."

Namgung Cheon memberi isyarat. Dua pengawal maju, mengangkat Tetua Seok dan putranya yang sejak tadi diam di sudut.

"Keluarkan mereka dari klan ini. Malam ini juga."

*"TAPI—"

"PERGI!"

---

Di gerbang utama Klan Namgung, Tetua Seok dan Seok Cheon-myung diusir seperti anjing.

Seok Cheon-myung menatap Namgung Jin yang berdiri di kejauhan, di bawah cahaya obor. Matanya penuh kebencian.

"Ini belum selesai, Namgung Jin!"

Namgung Jin hanya tersenyum tipis.

"Tentu. Tapi untuk saat ini, aku menang."

Mereka pergi, menghilang dalam kegelapan malam.

---

Kembali di paviliun reot, Namgung Jin duduk di beranda kecil. Nyonya Hwa Ryun duduk di sampingnya, puas.

"Kau lihat? Aku berguna."

"Memang."

"Jadi, apa hadiahku?"

"Apa yang kau mau?"

Nyonya Hwa Ryun menatapnya lama. Matanya—yang biasanya penuh perhitungan—kali ini terlihat tulus.

"Aku ingin tahu siapa kau sebenarnya."

Keheningan.

Namgung Jin menatapnya balik. Wanita ini telah membantunya, menyelamatkannya dari jebakan. Tapi kepercayaan adalah barang mewah di dunia ini.

"Kau yakin ingin tahu?"

"Ya."

"Bahkan jika kebenaran itu bisa membahayakanmu?"

Nyonya Hwa Ryun tersenyum. "Aku sudah hidup di ujung pisau selama bertahun-tahun. Apa bedanya?"

Namgung Jin diam sejenak. Lalu ia menghela napas.

"Baik. Tapi tidak di sini. Tidak sekarang. Nanti, saat waktunya tepat."

"Kapan?"

"Saat kau siap menerima konsekuensinya."

Ia berdiri, menatap bulan yang mulai tenggelam.

"Karena kebenaran tentang diriku... bukan sesuatu yang bisa kau terima dengan mudah."

Nyonya Hwa Ryun ingin bertanya lebih banyak, tapi ia tahu percuma. Untuk saat ini, ia puas dengan janji itu.

Di kejauhan, di luar gerbang Klan Namgung, dua bayangan berjalan dalam gelap. Tetua Seok dan putranya, dengan hati penuh dendam.

"Ayah, apa yang akan kita lakukan sekarang?"

"Kita pulang. Tapi kita tidak akan diam." Mata Tetua Seok berkilat dalam gelap. "Bocah itu... aku akan hancurkan dia. Bahkan jika harus menjual jiwaku pada iblis."

Di langit, awan hitam menutupi bulan. Seolah menyetujui perkataannya.

Badai akan segera datang.

---

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!