NovelToon NovelToon
London’S Heart Surgeon

London’S Heart Surgeon

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pernikahan rahasia / Kehidupan alternatif
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan

Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
​Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

Layla menarik napas dalam-dalam, mencondongkan tubuhnya hingga melewati meja, dan bibirnya mulai membentuk sebuah nama yang terdengar begitu elegan.

​"Namanya adalah Dokter "

​Tepat pada detik yang krusial itu, sebuah nampan besi berisi tumpukan piring kotor jatuh menghantam lantai tepat di belakang meja mereka dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. PRAAAKK! Suara piring pecah beradu dengan teriakan kaget sang pramusaji dan tawa riuh sekelompok koas di meja seberang yang baru saja memenangkan taruhan.

​Lyra mengerjapkan mata, telinganya sempat berdenging sesaat akibat suara gaduh yang tiba-tiba itu. Ia menatap Layla yang tampak puas setelah mengucapkan nama tersebut, seolah baru saja memberikan kunci rahasia alam semesta.

​"Siapa, La? Nggak kedengeran, barusan ada yang piringnya pecah," tanya Lyra sambil berusaha membersihkan sisa rasa kagetnya.

​> ELAAAHHH!! Teriak batin Lyra frustrasi. Ini rumah sakit apa lokasi syuting film komedi sih?! Pas banget lagi piringnya pecah! Gue butuh info buat persiapan mental, malah dikasih backsound kiamat kecil! Sialan bener!

​Layla hanya tertawa sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, sama sekali tidak berniat mengulangi nama itu. "Ah, nggak asyik kalau diulang lagi. Pokoknya nanti juga kamu bakal lihat sendiri di papan nama besar depan lobi Delphi. Namanya itu bakal terpampang jelas, Ly. Kamu bakal langsung tahu kalau 'itu' orangnya."

​"Iya, Ly," Mira menimpali dengan senyum penuh misteri yang menyebalkan. "Lagipula, kalau kami kasih tahu sekarang, nanti nggak ada unsur kejutannya dong. Biar kamu merasakan sendiri gimana rasanya pertama kali dengar nama itu dipanggil di antara lorong-lorong rumah sakit tua di London."

​Lyra mengembuskan napas panjang dengan kasar, tangannya secara otomatis membenahi letak stetoskopnya yang sebenarnya tidak bergeser.

​> DOKTER-DOKTER GILA! Makian di kepala Lyra makin menjadi. Bisa-bisanya mereka main rahasia-rahasiaan begini! Emangnya nama doang bisa bikin gue pingsan apa?! Awas aja ya, kalau ternyata nama bosnya itu pasaran atau malah susah dieja, gue bakal kirim email komplain ke mereka berdua setiap hari dari London!

​"Udahlah, jangan dipikirin," Layla berdiri sambil merapikan jas dokternya karena jam istirahat mereka hampir habis. "Yang jelas, dia itu tipe yang nggak bakal kamu lupain cuma dalam sekali pandang. Sukses buat packing-nya ya, Dokter Lyra Raven! Jangan sampai ada yang ketinggalan, apalagi hati kamu... jangan sampai ketinggalan di tangan Rey!"

​Lyra hanya bisa menatap punggung kedua sahabatnya yang menjauh menuju departemen masing-masing. Ia masih terduduk diam di kantin yang kini perlahan mulai sepi. Nama misterius itu terus berputar-putar di kepalanya seperti teka-teki yang belum terpecahkan. London terasa makin dekat, dan sosok kepala rumah sakit Delphi yang jenius itu kini menjadi hantu rasa penasaran yang paling besar dalam hidupnya.

Lampu-lampu kota Bandung terlihat berkelap-kelip dari jendela lantai sepuluh apartemen Lyra di kawasan Dago. Udara dingin khas Bandung Utara mulai merayap masuk melalui celah ventilasi, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi. Lyra merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang yang empuk, masih mengenakan piyama flanel bergambar awan, sementara satu kakinya menjuntai ke lantai.

​Di tengah ruang tamu, sebuah koper besar berwarna navy tergeletak terbuka lebar, baru terisi setengah. Beberapa potong turtleneck dan mantel tebal masih berserakan di atas karpet bulu, seolah mengejek niat Lyra untuk berkemas.

​"Hah... masih lusa ini," gumam Lyra sambil menatap langit-langit apartemennya.

​> MALES BANGET SUMPAH! Kenapa sih packing itu harus jadi kegiatan paling menguras tenaga di dunia? Padahal gue cuma mau pindah sementara, bukan mau pindah warga negara! Mana koper gue gede banget lagi, ini kalau Rey lihat pasti dia bakal nawarin diri buat bantuin sambil ceramah 'kamu nggak bakal kuat bawa ini sendiri, Ly'. NAJIS! Ogah banget!

​Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kopi, di samping sisa martabak manis yang ia beli tadi saat pulang. Ada beberapa notifikasi di grup WhatsApp "Trio Medis". Layla baru saja mengirimkan foto rontgen pasien yang aneh, sementara Mira mengirimkan tautan artikel tentang kafe-kafe estetik di London.

​Lyra tidak membalas. Ia malah membuka mesin pencari dan mengetik "Rumah Sakit Delphi London". Gambar-gambar bangunan bergaya Victoria yang megah namun dipadukan dengan arsitektur modern yang canggih muncul di layarnya. Sangat mengintimidasi.

​> Oke, gedungnya keren. Tapi siapa sih bosnya? Gara-gara piring pecah di kantin tadi, gue jadi kepikiran terus. Namanya siapa sih? Dokter... siapa? Dokter Smith? Dokter Jones? Masa namanya pasaran gitu sampai Layla heboh banget?

​Tiba-tiba, terdengar suara keributan kecil dari unit sebelah. Suara musik yang cukup kencang dan tawa beberapa orang yang sepertinya sedang mengadakan pesta kecil. NPC tetangga apartemennya itu memang sering sekali berisik di akhir pekan. Biasanya, Lyra akan merasa terganggu, tapi malam ini suara itu justru membantunya merasa tidak terlalu kesepian di tengah kegalauannya.

​Ia bangkit dari sofa, berjalan menuju dapur kecilnya untuk mengambil segelas air dingin. Di pintu kulkas, tertempel sebuah foto polaroid dirinya bersama Layla dan Mira saat liburan ke Lembang tahun lalu. Mereka bertiga tertawa lebar tanpa beban.

​Lyra tersenyum tipis. London akan menjadi babak baru yang sangat berbeda dari kehidupan tenangnya di Bandung. Tidak ada lagi sapaan ramah tukang parkir rumah sakit yang sudah hafal mobilnya, tidak ada lagi bubur ayam depan RS Medika yang jadi penyelamat saat lapar tengah malam, dan tidak ada lagi gangguan tak diinginkan dari Rey seharusnya.

​> Lusa ya? Oke, Lyra. Besok lo harus bener-bener beresin ini koper. Jangan sampai di London lo cuma bawa baju tidur gara-gara hari ini lo males-malesan! Tapi... martabaknya masih enak sih. Makan satu potong lagi kayaknya nggak dosa.

​Ia kembali ke sofa, menyalakan televisi hanya untuk sekadar mencari suara latar, dan membiarkan pikirannya hanyut antara keinginan untuk segera sampai di London dan ketakutan akan sosok "Tangan Tuhan" yang menantinya di sana.

1
Cici Winar86
di sinopsis nya pharma dokter jantung..tapi ini di bilangnya di sini dokter saraf...
AEERA♤
bacaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!