NovelToon NovelToon
Pengantin Tawanan

Pengantin Tawanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Duniahiburan / Identitas Tersembunyi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: lee Yana

Menceritakan tentang seorang gadis yang tiba-tiba dijadikan tawanan tepat di hari pernikahannya.

Dia dipaksa dan dibawa oleh sekelompok mafia kejam yang entah darimana asalnya.

Dalam sekejap hari bahagianya berubah menjadi bencana tak terduga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal itu membuatnya sangat marah dan mengutuk para penjahat yang sudah membawanya.

Mereka menyeretnya masuk ke dalam dunia kegelapan, dimana semua hal yang berbau negatif menjadi normal dan wajar.

Sampai suatu hari satu persatu kebenaran mulai terungkap, hingga kejadian itu perlahan mengubah keadaan serta sudut pandangnya terhadap dunia.

Akankah gadis itu berhasil pulang dengan selamat dan kembali melanjutkan pernikahannya…???

Atau justru perasaannya berubah seiring berjalannya waktu…???

Nantikan kisah kelanjutannya ya………………….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengantin Tawanan

Beberapa jam sebelum kejadian…..

Tanpa terasa hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, dimana Jenia dan Alex akan melangsungkan pernikahan.

Karena sama-sama tidak punya keluarga yang lengkap, pesta itu hanya di hadiri oleh beberapa orang teman di fakultas kedokteran, kerabat jauh, serta teman-teman dari pihak Alex.

Setelah kejadian hari itu, Alex mengaku bahwa ia telah berhasil melunasi semua utangnya.

Bahkan dalam waktu singkat, lelaki itu mampu memperoleh uang yang lebih banyak.

Dengan begitu Nia tidak perlu khawatir tentang uang yang sudah ia pinjamkan kepada calon suaminya. Begitulah penuturan yang dikatakan Alex padanya.

Mendengar itu Nia jadi semakin bersyukur memiliki Alex disampingnya, Meskipun awalnya sempat ragu, namun ia percaya dan yakin kalau sosok Alex memang pantas dijadikan seorang pendamping sekaligus pemimpin rumah tangganya.

Dengan balutan gaun serba putih, hari itu Jenia terlihat begitu anggun dan cantik. Sebab itu merupakan momen pertama kalinya ia menggunakan riasan selama hidupnya.

Nia tidak pernah berdandan sebelumnya. Ia benar-benar selalu tampil apa adanya dengan dandanan ala kadarnya, sedikit pelembab wajah, sunscreen secukupnya, serta pelembab bibir yang warnanya bening sehingga menampilkan efek natural.

Seperti itulah penampilannya sehari-hari.

Dan kini dia seolah tidak percaya saat melihat wajahnya di hadapan cermin.

Nia sendiri bahkan hampir tak mengenali wajahnya yang nampak sangat berbeda.

"Cantik sekali....." gumamnya sambil menengok tubuhnya dari sisi kiri dan kanan.

Seumur-umur Nia tidak pernah membayangkan dirinya akan berpenampilan seperti sekarang.

Dia juga tidak pernah menyangka bisa dicintai oleh laki-laki sebaik dan setulus Alex.

Benar-benar sebuah kebahagiaan yang sangat istimewa sepanjang perjalanan hidupnya.

Saat acara dimulai Nia berjalan sendirian menuju ke arah Alex, disaksikan oleh para tamu yang hadir semua mata kini tertuju padanya.

Mereka sungguh terpukau dengan kecantikan Jenia. Bahkan sebagian dari tamu undangan sampai tercengang memandangnya tanpa berkedip sedikitpun.

Bukan Cuma para tamu, melainkan Alex sendiripun tak kalah kagum dengan sosok pengantin wanitanya.

Menurutnya hari itu Nia benar-benar cantik paripurna.

Sehari-harinya saja dia memang sudah cantik, apalagi saat mengenakan gaun pengantin dan riasan yang begitu anggun.

Entah kenapa tiba-tiba muncul getaran hebat di lubuk hatinya. sebuah getaran yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Ya..... sepertinya Alex mulai jatuh cinta pada gadis yang selama ini hanya di manfaatkan olehnya.

Meski selama ini dia menyukai wanita yang lebih tua darinya, namun tidak bisa dipungkiri sosok Nia sungguh mampu menggetarkan hatinya.

Rasa sukanya tidak sama dengan perasaannya terhadap mami Oca.

Seketika saat itu juga muncul rasa bersalah karena ia sudah membohongi Nia selama ini.

Tapi apa mau dikata, semuanya sudah terlanjur basah. Dari awal hingga akhir Alex hanya bersandiwara di hadapannya.

Apalagi mengingat semua uang milik Nia yang sudah dikuras habis olehnya. Jika diibaratkan Alex adalah seorang penipu kelas kakap yang sudah berhasil mengelabui banyak orang.

Dan sekarang pun situasinya tidak jauh berbeda, gadis polos itu tidak tahu bahwa dirinya sedang masuk dan berialan sendiri ke dalam perangkap Alex. Kalaupun ia mengaku, yang ada Nia hanya akan merasa benci karena perbuatannya.

Nia dan semua orang mengira bahwa pengucapan ikrar janji suci di hari pernikahan mereka adalah puncaknya.

Namun ternyata hal itu justru menjadi titik balik di sekaligus awal dari segalanya.

Beberapa saat tepat sebelum mereka melangsungkan akad dan mengikrarkan janji satu sama lain, tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari luar ruangan.

Tak lama setelahnya masuklah beberapa orang dengan pakaian serba hitam yang entah dari mana asalnya.

Tubulnya kekar, tinggi, serta mimik wajah yang menyeramkan.

Satu persatu dari mereka mulai merusak properti yang ada di acara tersebut sehingga membuat para tamu undangan berlari ketakutan.

Begitu juga dengan Jenia, gadis itu menjerit histeris ketika melihat suasana menjadi semakin kacau.

Saking takutnya dia pun segera berlindung dibalik punggung Alex.

Semua orang pergi berhamburan menyelamatkan diri masing-masing.

Hingga tinggallah kedua mempelai itu yang harus berhadapan langsung dengan para pembuat onar.

"Sial...!! Apa-apaan ini..?? Siapa kalian semua....??" Teriak Alex yang kesal karena pestanya tiba-tiba dihancurkan.

Lagi-lagi dia bersandiwara di hadapan Jenia. Padahal semua ini merupakan bagian dari rencananya.

"Cepat hentikan semuanya dan pergi dari sini, atau aku akan lapor polisi...!!!" ancamnya sembari mengepalkan tangannya seperti pahlawan kesiangan.

Namun orang-orang itu tidak peduli sedikitpun dengan peringatan Alex. Justru mereka segera menyeret dan membawa Alex ke sebuah ruangan.

Sementara Jenia harus tinggal seorang diri dengan penuh ketakutan.

Sambil terus memberontak, Nia berteriak ingin mengejar Alex, namun sebagian orang itu menahan tububnya agar tidak bergerak kemana-mana.

"Siapa kalian sebenarnya...?? Mau apa kalian tiba-tiba datang kemari dan menghancurkan pesta kami...???!!!" tanya Jenia yang mulai berani.

Sedangkan mereka tetap tidak bergeming, seolah tidak mendengar suara apapun.

Selang beberapa saat terdengar suara langkah seseorang dari kejauhan. Kelompok orang berbaju hitam itu pun segera membuka jalan serta menundukkan kepala mereka untuk memberi salam.

Seketika suasana mendadak bening, tidak ada satu orang pun yang berani bersuara atau menatap ke arahnya selain Jenia.

Bahkan Nia yang melihat kedatanganaya pun ikut terdiam, seolah auranya begitu kuat dan mendominasi seisi ruangan.

"(Siapa dia...?? Kelihatannya orang itu adalah bosnya...)"

Dengan jarak yang semakin dekat, orang itu menghentikan langkahnya tepat di hadapan Nia.

Meskipun begitu, Nia sama sekali tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia datang dengan mengenakan masker serta kacamata hitam yang menutupi wajahnya.

Itu adalah momen pertama kalinya Veron turun tangan secara langsung dalam pekerjaan yang biasa hanya dilakukan oleh para anggotanya.

"Kenapa lama sekali...???" ucapnya dengan nada kesal sambil melirik jam tangan.

"Maaf Tuan..." sahut salah seorang anak buahnya.

"Tolong lepaskan aku..!!" pekik Nia kembali memberontak.

Namun lelaki itu tetap tidak menghiraukannya, dia justru mendekatkan wajahnya ke arah Jenia.

Samar-samar dari balik kacamata hitamnya Nia bisa melihat bahwa orang itu tengah menatapnya.

"Cepat lepaskan aku...!!!" teriaknya dengan suara yang lebih keras.

"Berisik sekali kau...!!!" ucap Veron mulai geram.

Akhirnya seseorang langsung menutup bagian hidung dan mulitnya dengan sapu tangan yang mengandung obat bius.

Tanpa waktu lama, gadis itu sudah tertunduk pingsan sebelum ia memberontak lebih kuat lagi.

Sementara di ruangan lain Alex sedang berhadapan dengan Benjamin.

Ia nampak santai bersama para laki-laki degan pakaian serba hitam yang telah menyeretnya masuk, seolah sudah mengerti dengan kesepakatan yang mereka buat sebelumnya.

"Sesuai perjanjian kita, kami akan membawa gadis itu pergi sebagai tawanan. Jika kau tidak segera melunasi utangmu, maka selamanya dia akan meniadi milik kami...!!" tegas Benjamin.

Mendengar itu Alex pun mengangguk paham, namun samar-samar tersirat gurat kekhawatiran di wajahnya.

"Tunggu..!!!" ucapnya menghentikan Benjamin yang sudah berbalik hendak pergi.

"Apa lagi...???"

"Tapi kalian tidak akan membunuhnya kan.??" tanya Alex memastikan.

"Menurutmu...???"

"Tolong jangan sakiti Nia, dia adalah gadis yang baik.." ucapnya berpesan, sementara dia lupa kalau dirinya lah orang yang paling banyak menyakiti Jenia.

"Tidak perlu mencemaskannya...!! Lagipula kau sendiri yang menjadikannya sebagai jaminan.!!"

Lagi-lagi yang dikatakan Ben itu benar, Alex sendiri yang dengan sadar menjadikan Jenia sebagai jaminan demi sejumlah uang.

Karena menurut informasi yang dikatakan oleh mami Oca, kelompok mafia itu tidak akan membunuh tawanannya.

Bahkan kemungkinan terburuknya Nia hanya akan dijadikan budak oleh mereka jika seandainya Alex memilih untuk kabur dan tidak membayar utangnya.

Itu sebabnya Alex merasa yakin dengan keputusannya. Meskipun dia memang berniat menyingkirkan Nia, namun Alex sama sekali tidak punya niatan untuk mencelakainya, apalagi kalau sampai membunubnya.

Alex hanya menginginkan uangnya tanpa harus mengembalikannya pada Nia, maupun kelompok mafia tersebut. Itulah rencana yang ia susun sejak awal.

"Kami mungkin tidak membunubnya, tapi tidak menutup kemungkinan kami akan meniual beberapa organnya.….!!!” ucap Benjamin sambil beranjak pergi.

Kalimat itu sontak membuat Alex terbelalak dan mematung beberapa saat.

Entah serius atau hanya sekedar ancaman, namun jika dilihat dari ekspresinya lelaki dengan bekas luka diwajah itu nampaknya tidak main-main.

Apalagi mengingat mereka adalah seorang mafia yang terkenal paling ditakuti.

Setelah beberapa saat, suasana di tempat itu benar-benar hening. Suara teriakan Jenia pun sudah tidak terdengar lagi.

Saat Alex keluar ternyata semua orang sudah pergi, hanya tersisa bibi Maya yang menangis meratapi kepergian keponakannya.

Bahkan mereka mengancam jika sampai ada yang melaporkan ke polisi, maka nyawa Nia tidak akan selamat.

Dalam diamnya terlintas senyum manis Jenia saat mengenakan gaun pengantın. Gadis itu menatap Alex dengan sorot mata yang penuh cinta dan ketulusan.

Itu adalah pertama kalinya Alex merasa berbeda saat berhadapan dengan Nia, semacam ada perasaan bersalah yang tiba-tiba hinggap di hatinya.

"(Maafkan aku Nia, sekali lagi maafkan aku. Aku berjanji ini adalah yang terakhir kalinya aku

membohongimu. Dan kuharap kita jangan pernah bertemu lagi selamanya....)"

…………………………………………………………………………………

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!