NovelToon NovelToon
Perjuangan Driver Ojol Poligami

Perjuangan Driver Ojol Poligami

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.

Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.

Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berawal dari Dapur

Bunyi piring yang digeser terlalu keras di wastafel terdengar seperti teriakan di dalam keheningan rumah itu. Sejak pertengkaran kemarin, udara di antara mereka terasa padat dan pekat, seperti jelaga yang menempel di langit-langit dapur tua.

Arman duduk di meja makan, menatap selembar kertas HVS yang masih polos kecuali tulisan di kepala: "RENCANA USAHA".

Jarinya memutar-mutar pulpen murah yang tintanya sering macet. Otaknya yang biasanya hanya berpikir tentang rute tercepat dan setoran harian, kini blank. Usaha apa? Modal dari mana? Pasar di mana? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar tanpa jawaban.

Dari sudut matanya, ia mengamati Rani. Istrinya sedang menyiapkan tripod ponsel tua itu di sudut dapur yang paling bersih—dekat jendela agar dapat cahaya alami.

Rani mengenakan daster katun biru tua yang sederhana, rambutnya diikat ke atas dengan ikat karet yang sudah melar. Wajahnya masih tampak kusut oleh sisa kemarahan dan kekecewaan, tapi ada tekad membatu di raut wajahnya. Baginya, membuat konten adalah sebuah bentuk perlawanan dan harapan.

“Oke, Bunda-bunda, hari ini kita bikin sambal goreng ati ampela yang nggak bau amis dan tahan lama,” ucap Rani ke kamera, memaksakan senyum yang tidak sampai ke matanya. Suaranya sedikit serak.

Arman diam-diam memperhatikan. Ia jarang sekali benar-benar melihat Rani bekerja seperti ini.

Rani bergerak lincah. Tangannya yang mungil tapi kuat dengan cekatan membersihkan ati ampela, merebusnya dengan rempah. Ia menjelaskan setiap langkah dengan kalimat sederhana, tanpa jargon memasak yang neko-neko.

“Kunci nggak bau amis itu di rebusan pertamanya, Bunda. Rempahnya jangan pelit.”

Arman terpana.

Di balik kelelahan dan sikap sinisnya akhir-akhir ini, Rani ternyata sangat menguasai apa yang dilakukannya. Ia percaya diri di depan kamera saat membahas sesuatu yang ia kuasai. Ia juga punya cara bicara yang menenangkan, homey. Ini berbeda dengan Rani yang menuntut SPP atau yang memamerkan emas di arisan.

Ponsel yang digunakan merekam berdering notifikasi. Rani menghentikan rekaman, mendesah. Ia membuka aplikasi YouTube. Tiba-tiba, ekspresinya berubah. Mata yang tadi lesu, sedikit berbinar.

“Lihat,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.

Arman penasaran. “Apa?”

“Subscriber setia gue, Mba Sari. Dia pesen sambal goreng ati ampela buat 50 porsi. Buat arisan besar anaknya di tambun akhir bulan ini.”

“Lima puluh porsi?” Arman mendekat. Itu angka yang besar.

“Iya. Dia bilang, nyobain resep gue terus, dan tamu-tamu arisan sebelumnya pada suka.”

Rani menunjukkan komentar itu. Benar adanya. Ada percakapan panjang di kolom komentar privat antara Rani dan subscribernya tentang harga, pengiriman, dan rasa.

Sebuah percikan ide menyambar di kepala Arman. Ia melihat Rani, lalu melihat ponsel, lalu melihat kertas kosong di tangannya. Semuanya seperti puzzle yang tiba-tiba cocok.

“Ran,” panggilnya, hati-hati.

“Apa?” jawab Rani tanpa menoleh, masih menghitung mental untuk 50 porsi.

“Gimana kalau… modal dari emas itu kita pakai, tapi bukan buat usahaku. Tapi buat ngembangin usaha lo.”

Rani memutar badan, alisnya terangkat tinggi. “Usaha gue?”

“Iya. Bikin usaha katering rumahan yang beneran. Dipromosiin lewat konten lo. Lo yang jago masak, yang punya subscriber yang udah percaya. Gue… gue yang anter. Gue yang urus logistik, delivery, pembukuan. Kita kerja bareng.”

Rani memandangnya lama, matanya menyipit penuh kecurigaan, mengais-ngais motif tersembunyi. “Ini akal-akalan biar emas gue kebongkar, ya? Biar lo punya alasan buat pegang uang?”

Arman menggeleng cepat, mendekat. “Bukan, Ran. Gue serius. Liat ini.” Ia menunjuk ponsel, pada komentar Mba Sari.

“Ini pasar nyata. Orang mau bayar. Dan lo liat sendiri, di komplek kita aja, hampir tiap minggu ada arisan, ada syukuran, ada pengajian yang pesan snack atau nasi kotak. Pasar kita ada di sekitar sini!” Suaranya bersemangat, terdengar seperti Arman yang dulu saat baru dapat kerja pertama kali.

Rani diam. Ia memandang Arman, lalu melihat dapurnya yang mini, lalu pada gelang emas di tangannya yang ia usap-usap pelan. “Terus? Dengan satu gelang emas? Itu pun belum tentu cukup buat beli peralatan yang bener.”

“Kita beli yang dasar dulu. Panci besar, wadah styrofoam, rantang plastik yang bagus. Perlahan. Yang penting mulai. Gue udah mikir, lo fokus di produk dan konten. Gue fokus di marketing, delivery, dan keuangan. Kita bagi tugas jelas.”

“Marketing? Delivery? Lo bisa?” tantang Rani, masih tak percaya.

“Gue tiap hari nawarin diri ke orang lewat aplikasi. Gue bisa nawarin katering kita. Gue juga kenal tukang sayur, tukang daging yang bisa kasih harga lebih murah kalau langganan. Gue bisa!” tekad Arman berkobar.

Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ada api di matanya yang bukan tentang pelarian, tapi tentang membangun sesuatu.

“Gue cuma mau jadi sopir dan tukang bungkus buat usaha lo, Ran.”

Kata-kata itu menyentuh sesuatu di hati Rani. Selama ini, Arman selalu bicara tentang usaha aku, pekerjaan aku, impian aku.

Sekarang, ia menawarkan diri jadi pendukung untuk usaha Rani. Ia fokus pada kelebihan Rani, bukan kekurangannya. Perasaan itu melelehkan sedikit es di hatinya.

“Beneran nggak ada maunya? Ini bukan biar nanti lo punya alasan ‘mau nafkahin dua rumah’?” tanyanya, suara lebih lembut.

“Sumpah, Ran. Nggak. Ini murni buat kita. Buat Aldi. Dan syarat lo pasti gue tepati: nggak ada komunikasi lagi sama Budi dan keluarganya. Selesai.”

Rani menarik napas panjang. Ia berdiri, mengambil secarik kertas dari balik toples kopi. “Oke. Tapi kita buat perjanjian tertulis. Sederhana aja.”

Dengan pena yang sama, mereka berdua merancang ‘kontrak’:

Rani setuju menjual 1 (satu) gelang emas sebagai modal awal usaha patungan

“KATERING RANNI” (nama usulan Rani).

Arman bertanggung jawab atas: pembelian bahan baku dalam jumlah besar, pengantaran, pembukuan sederhana, dan pemasaran di luar konten.

Rani bertanggung jawab atas: kualitas masakan, pengembangan menu, dan produksi konten pemasaran.

SYARAT MUTLAK: Tidak ada komunikasi atau kerja sama dalam bentuk apapun dengan Budi Wijaya dan lingkaran poligaminya. Pelanggaran atas poin ini berarti pembubaran usaha dan sisa modal dikembalikan ke Rani.

Keuntungan dibagi 50-50 setelah disisihkan untuk modal operasional dan tabungan Aldi.

Mereka menandatanganinya dengan sungguh-sungguh. Jabat tangan mereka dingin dan canggung, tapi ini adalah sebuah awal.

Esok harinya, dengan perasaan campur aduk antara sedih dan harapan, Rani pergi ke pegadaian syariah bersama Arman. Gelang emas dengan ukiran bunga yang selalu ia banggakan itu, ia letakkan di balik konter.

Uang yang didapat—sekitar tiga juta rupiah—terasa berat di tangannya. Ini bukan sekadar emas, tapi simbol ketahanannya selama ini.

Mereka langsung berbelanja. Ke pasar induk, mereka membeli dua buah panci besar bekas restoran, sendok nasi kayu panjang, dan wadah-wadah tahan panas. Ke toko plastik, mereka memilih rantang dengan kualitas sedang, sendok-garpu plastik, dan tas jinjing polos yang bisa mereka stempel nama nantinya.

Uang itu menguap dengan cepat, tetapi rumah mereka kini dipenuhi dengan peralatan baru yang berbau harapan.

Konten Rani pun mengalami transformasi. Ia tak lagi sekadar “Tutorial Masak Ibu Rumah Tangga”. Judul videonya sekarang:

“JOURNEY BUKA KATERING: Dari Dapur Kecil buat Acara Besar!”. Ia merekam proses mereka berbelanja modal, membersihkan peralatan baru, bahkan berdebat kecil soal harga styrofoam. Kesederhanaan dan kejujuran mereka justru menarik perhatian. Komentar berdatangan: “Semangat, Mba Rani!”, “Bisa pesan untuk wilayah Depok nggak?”, “Inspiratif banget.”

Orderan pertama yang benar-benar lahir dari konten itu datang dari ibu-ibu kompleks mereka sendiri. Seorang ibu RT memesan 20 nasi kotak untuk rapat pengurus. Jumlahnya kecil, tapi ini ujian pertama.

Rani memasak dengan sangat hati-hati, seperti sedang menyiapkan hidangan untuk juri. Arman membantu memotong-motong sayuran, tangannya canggung namun bersemangat. Saat pengantaran, Arman mengenakan jaket biasa, bukan jaket ojol, dengan bangga menentang kardus berisi 20 rantang.

“Ini pesanan dari Katering Ranni, Bu,” katanya pada ibu RT.

“Wah, jadi beneran nih, Man? Keren!” puji ibu RT itu.

Saat ia pulang, rasa lelah itu berbeda. Ia lelah karena telah membangun, bukan hanya mengejar. Rani di rumah sudah menghitung-hitung keuntungan kecil mereka. Hanya seratus ribu rupiah lebih, tapi itu lebih berharga dari setoran biasa karena mereka mencetaknya bersama.

“Kita bisa, Ran,” ucap Arman, duduk di hadapan istri yang sedang mencatat.

Rani mendongak. Untuk pertama kalinya dalam sangat lama, senyum kecil yang tulus dan tanpa beban muncul di bibirnya. “Iya. Pelan-pelan.”

Malam itu, saat mereka sedang menikmati teh hangat di teras, membahas menu untuk orderan kecil besok, ponsel Arman bergetar di saku.

Bukan notifikasi order ojol—ia sudah mematikan aplikasinya sejak siang. Ini pesan WhatsApp. Dari Budi Wijaya.

Jantung Arman langsung berdebar kencang, ada rasa bersalah yang tak masuk akal. Ia melirik Rani yang sedang asyik memikirkan campuran bumbu soto. Dengan gerakan diam-diam, ia membuka pesan itu.

[Budi Wijaya] : Bro, gue tunggu kabar lo. Posisi sopir masih kosong nih. Gaji bisa gue naikin jadi 5 jt. Plus bonus kalau orderan furnitur lagi rame. Gimana? Masih minat?

Arman ingin langsung menghapusnya, tapi jarinya membeku. Lima juta. Bonus. Itu angka yang sangat menggiurkan. Dengan uang segitu, tekanan ekonomi bisa langsung berkurang separuh. Ia menelan ludah.

Kemudian, pesan kedua masuk. Membuat darahnya seolah membeku.

[Budi Wijaya] : Oh iya, ada lagi. Ada temen gue, pengusaha konveksi. Lagi cari suami buat dijadikan istri kedua. Perempuan baik, sholehah, mandiri. Punya usaha thrift shop online lumayan omset. Maksudnya, bisa bantu-bantu ekonomi suami juga. Umur 28, masih muda. Cocok banget buat lo. Mau gue kenalin? Bisa jadi jalan keluar juga buat lo, bro. Double blessing.

Gambarannya langsung muncul: seorang perempuan muda, mandiri, berpenghasilan sendiri, yang bisa menjadi ‘partner’ bukan ‘beban’. Bukankah ini gambaran istri kedua ‘ideal’ yang pernah ia khayalkan? Sebuah jalan pintas yang ditawarkan tepat saat ia mulai merasakan betapa beratnya membangun dari nol.

Arman menatap Rani. Istrinya sedang mengusap lehernya yang pegal, wajahnya tampak lelah namun ada kepuasan kecil di sana. Ia melihat ke dapur, di panci besar yang masih menumpuk di bak cuci piring. Ia melihat kertas perjanjian mereka yang ditempel di pintu kulkas.

Lalu ia melihat lagi layar ponselnya. Pesan Budi seperti pintu yang terbuka ke dunia paralel: dunia di mana masalah ekonomi bisa teratasi dengan cepat, dunia di mana ia bisa merasa seperti ‘pemenang’ dengan memiliki apa yang dimiliki Budi.

Konflik batin yang dahsyat menggerogotinya. Di satu sisi, ada ikrar dan perjanjian dengan Rani, ada kepuasan kecil dari hasil kerja keras mereka berdua hari ini. Di sisi lain, ada tawaran yang nyaris tak tertolak: gaji besar dan calon istri mandiri yang seolah-olah menjawab semua alasan keberatannya dulu tentang poligami.

Tanpa membalas, ia mematikan layar ponselnya. Tapi pesan itu sudah terkirim. Tidak hanya ke ponselnya, tapi juga langsung ke dalam benaknya, menanamkan keraguan dan godaan yang mungkin akan tumbuh subur di kegelapan, saat ia terjaga di tengah malam, memikirkan cicilan, sementara di sebelahnya, Rani tidur dengan gelang yang sudah berkurang satu.

Benih "andai saja" yang sempat ia kira layu, tiba-tiba disiram oleh tawaran konkret Budi. Dan Arman tahu, pertarungan terberatnya mungkin bukan lagi melawan kemiskinan, melawan Rani, atau melawan Budi. Tapi melawan dirinya sendiri, dan ketamakan akan solusi instan yang bisa menghancurkan segala permulaan indah yang baru saja ia dapatkan dari dapur rumahnya sendiri.

1
falea sezi
enak bgt si arman g dpet karma nya bkin crrai lah trs buat hancur males liat laki. model. kayak arman gini
La Rue
Semangat Arman 👍
Halwah 4g
Karya othor 1 ini suangaatttt keren.. sepertinya menuliskan pengalaman pribadinya sehingga sangat amazing ceritanya.. membolak-balikkan mood emak2 kaya kita.Andai tkohnya ada di depan mata pngen rasanya di bejek2
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 thanks for support nya kaka 👍
total 1 replies
falea sezi
hahaah gt klo pelakor niat emank menguasai
Suhainah Haris
sesuatu yang di paksakan akan berakhir juga dengan keterpaksaan, impian Arman menyatukan istri semakin jauh,bisa jadi malah kehilangan keduanya
La Rue: ada yg experts kah 🤣🤣🤣
total 2 replies
Suhainah Haris
Nadia mulai banyak kehendak,kalau mau suami yang utuh jangan laki orang kamu embat,ini konsekuensi yang harus kamu terima
Lee Mbaa Young
Karma pelakor dong Nadia bangkrut dan istri sah rani usahanya maju.
arman makin blangsak hidup nya.
falea sezi
cerai. lah. oon gagal. move on. laki. yg bekas lakor. situ g jijik. ya dan hadeh btw cinta boleh goblokk. jangannn/Hunger/
falea sezi
mbk. pelakor berasa korban ya haduh kayak. yg lagi viral. dehh uppss/Hey/
falea sezi
arman arman ne lacurmu playing victim bgt nanti lu di buang nadia jangan nanges ya/Shame/ sok. lembut ih lakor
Lee Mbaa Young
wanita baja ki berani ngambil keputusan kl bgini Rani sebagai wanita beragama ya dosa.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
Suhainah Haris: Rani hanya butuh waktu, keputusannya nanti mungkin berdasar pada sikap Arman ke Aldi,apakah dia konsisten dengan perjanjian mereka,
total 1 replies
Lee Mbaa Young
langsung urus surat cerai lah. ngapain mau ma laki model bgitu. Kl aku ya sory ae 🤣. soale sudah merasakan jd ku tendang lah laki ku.
Achnad Asbert: 🙏 maafkan aku sayang... aku khilaf... ,
total 2 replies
Suhainah Haris
thanks for update nya thor,semangat
Bp. Juenk: siap, thanks supportnya
total 1 replies
Suhainah Haris
intinya kamu gak berbakat buat poligami,betul kata Nadia harusnya kamu fokus sama dia,bukannya ini semua keinginanmu,
Bp. Juenk: Maruk Ka 😄
total 1 replies
Suhainah Haris
seandainya Arman dan Rani bercerai,demi mendapatkan simpati Arman kayaknya Nadia bakalan mempergunakan uangnya membantu Arman merebut hak asuh anaknya
Lee Mbaa Young
yakin lah sedih nya laki cm sebentar apalagi istri muda pendai ngambil hati plus bnyak uang🤣.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.
Bp. Juenk: /Whimper//Gosh//Gosh//Gosh/
total 2 replies
Suhainah Haris
aku tebak sih si Arman sedih pasti anaknya di bawa pergi,tapi pasti cuma sebentar,karena Nadia sangat pandai merayu dengan kata kata menenangkan
Suhainah Haris: Nadia itu perempuan manipulatif,dan dengan bodohnya si Arman terjebak,lihat saja nanti dia hanya akan di jadikan jongos
total 3 replies
Suhainah Haris
aku sepertinya sudah faham permainannya Nadia, berpura-pura polos dan pengertian,pada akhirnya tujuannya ingin memiliki Arman seorang diri dan tentu saja Aldi,dia ingin membuat Rani kehilangan suami dan anaknya,dan tentu saja si Arman yang super bodoh itu akan masuk perangkap
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae nih othor horror
total 2 replies
Suhainah Haris
gak ada kebahagiaan bagi manusia rakus
Bp. Juenk: 👍 setuju ka
total 1 replies
falea sezi
urus cerai ran qm berhak bahagia laki g tau diri bkin cerai Thor laki. doyan selangor kayak gini g pantes dpet istri sebaik rani
Bp. Juenk: wkwkwk cerita horror yg sadis itu ya
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!