NovelToon NovelToon
Dikejar, Brondong

Dikejar, Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Murid / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Berondong
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: sky00libra

Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.

Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.

Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.

Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DB—04

Lonceng jam pulang sekolah sudah di bunyikan, dan setelah kejadian perkelahian di parkiran waktu itu, Arumi tidak pernah melihat keberadaan Bumantara lagi. Dan, mungkin saja pria itu sudah pulang. Arumi memasukkan semua barangnya kedalam tas, ia juga ingin pulang, istirahat dan juga menyelesaikan masalah nya dengan Dipta.

"Bu Arumi, bawa motor enggak?" tanya Pak Heru, tersenyum. Guru olahraga yang berusia 30 tahun, masih single, tidak ada kekasih bahkan istri.

"Bawa Pak. Saya bawa motor," jawab Arumi, menengadah menatap Pak Heru yang berdiri didepan meja nya.

"Pak Heru mau numpang itu, Bu Arumi," celetuk Bu Jannah, terkekeh. Mereka tau bagaimana Pak Heru, yang gencar ingin mendekati Arumi.

Pak Heru menggaruk belakang kepala nya, berdeham. "Motor saya lagi di bengkel soalnya. Itu loh ... Bengkel nya Pak Iwan, yang dari sekolah kesana 3 kiloan."

Arumi mengangguk. "Ayo bareng aja. Biar saya antar sampai bengkel, Pak Heru nya," sahut Arumi, dengan nada santai, karena ia menganggap Pak Heru hanyalah rekan kerja, bukan sosok yang harus ia bawa perasaan.

"Toh Pak Heru, diantar itu," canda Pak Damang, terkekeh.

Pak Heru menggeleng. "Terserah kalian Pak, Bu."

Sehingga membuat ruangan kantor guru heboh dengan canda tawa, mereka berhasil membuat Pak Heru malu, sedangkan Arumi yang juga salah satu target candaan dari mereka, hanya tersenyum canggung.

Keluar bersama dari kantor guru, Arumi dan pak Heru yang berjalan bersebelahan, menunju arah parkiran motor milik Arumi.

"Maaf yah, Bu Arumi, karena candaan guru yang lain membuat Bu Arumi enggak nyaman," ujar pak Heru, melirik Arumi yang terlihat kecil berjalan di sebelahnya.

Arumi menggeleng. "Tidak apa-apa, Pak Heru. Karena memang kita, dan bapak, ibu guru di kantor memang sering bercanda juga," kata Arumi, menengadah menatap kearah parkiran motor yang sudah hampir sepi, dan sosok pria yang tadi pagi ia pikiran, sekarang sedang duduk di atas motornya.

Arumi menghentikan langkah kakinya, membuat tatapan mereka berdua bersetorobok, tatapan dari manik abu-abu itu sangatlah tajam, bahkan terbilang dingin. Dia seperti sudah siap menerkam.

"Bu Arumi," panggil pak Heru, yang sudah berada di depan.

Arumi berdeham, lalu melanjutkan langkah kaki nya, kearah tempat motornya. "Bumantara, itu motor Bu Arumi, loh," ujar pak Heru, menatap Bumantara, yang juga menatap nya dengan dingin.

"Hm."

Arumi menghela napas. "Bisa menyingkir dulu Bumantara, saya mau mengambil motor saya," kata Arumi.

"Pak Heru, kamu aja yang bonceng kan saya," lanjut Arumi, ia tidak mengalihkan padangan nya dari tatapan tajam itu.

"Tidak bisa." Bumantara membantah perkataan Arumi.

"Kenapa? Itu motor saya, terserah saya mau memboncengkan siapa," sahut Arumi, jengkel.

Pak Heru terlihat kebingungan, bahkan atmosfer yang sedang dia rasakan, terasa panas, membuat punggung nya berkeringat.

"Ban motor anda kempes, IBU ARUMI," ujar Bumantara, sambil menekan kan nada suara nya. "Dan ... Itu hanya untuk satu orang, tidak bisa berboncengan." Bumantara menunjukkan ban motor Arumi, depan belakang yang kempes.

Arumi terkejut, ia berjongkok memencet kan ban belakang yang benar-benar kempes, dan itu membuat nya bingung. "Pak Heru, gimana ini? Terus kenapa ban motor saya bisa kempes dua-dua nya seperti ini?"

Pak Heru juga terkejut, melihat keadaan itu. "Sepertinya ada yang jahil, Bu Arumi. Karena enggak mungkin ban kempes secara bersamaan, apalagi itu ke dua-duanya," kata Pak Heru. "Hemmm, begini aja Bu Arumi. Biar saya mengenakan motor, Ibu Arumi, dan Bu Arumi bisa berboncengan bersama Bumantara. Bagaimana?" Pak Heru dengan cepat mencari solusinya. Dan jika ia yang berboncengan bersama Bumantara, ia jadi khawatir dengan Bu guru Arumi yang bisa saja celaka. Ini adalah bentuk dari rasa tanggung jawab, dan rasa khawatir nya.

"Tapi, Pak — "

"Saya tidak masalah. Sekarang bisa ikut saya Arumi," sahut Bumantara dengan cepat.

"Yang sopan Bumantara, kamu memanggil, Bu Arumi tanpa embel-embel, itu kurang sopan," ujar Pak Heru, jengkel. Ia saja belum berani berbicara seperti itu, kenapa bocah ini begitu berani mengambil star.

Bumantara mengangkat kedua bahunya. "Ini diluar jam belajar, dan sekarang kita bahkan mau pulang," sahut Bumantara, sambil memegang tangan Arumi dan membawa ke motornya.

Arumi tidak sempat memberontak, untuk melepaskan tangannya, ia terlalu syok dengan kejadian-kejadian yang begitu cepat yang di lakukan Bumantara, dan Pak Heru hanya bisa tercengang.

"Naik, Arumi," ujar Bumantara dengan nada dalam nya, membawa Arumi duduk di jok belakang motornya, masalahnya Arumi kesulitan menaiki tipe motor sport milik Bumantara. "Peluk saya, Arumi ...," lanjut Bumantara, sembari menarik kedua tangan Arumi untuk bisa memeluk pinggangnya.

"Tapi — "

"Jangan membantah. Anda bisa jatuh saat tidak memeluk saya," sela Bumantara, sambil menghidupkan mesin motornya, dan mulai menjalankan motornya, meninggal kan pak Heru yang berada di belakang. Dan ... Semua itu terlihat dimata pak Heru.

"Sial! Bocah ingusan itu mengambil star. Dan, motor ini kenapa bisa-bisa kempes, siapa yang jahil? Membuat aku enggak bisa berduaan sama Arumi aja."

Sedangkan Bumantara menjalankan motornya dengan kecepatan sedang, sehingga tidak lama dari itu motornya berhenti di depan bengkel yang di tunjukkan Arumi, bengkel pak Iwan.

"Bumantara, mau servis motor ya ini?" tanya pak Iwan senang.

Bumantara menggeleng, bahkan tangannya sedari tadi memegang kedua tangan Arumi yang masih memeluknya, dia belum turun dari motor nya. "Saya mau nganterin motor cewek saya, Paman Iwan," sahut Bumantara, terkekeh tanpa suara.

Sedangkan Arumi yang mendengar itu mendengus kesal, lalu tangan kecil nya mencubit perut keras milik Bumantara, yang langsung berpura-pura meringis.

"Sudah. Saya mau turun Bumantara, enggak enak banget duduk seperti ini, saya takut jatuh," ujar Arumi, berusaha untuk turun dengan dibantu Bumantara yang juga tidak ingin mempersulit kan nya.

"Cakep bener cewek lo, bro." Dio, kenalan Bumantara anak Pak Iwan, memperhatikan romansa di depannya.

"Jangan selalu kau pandang. Saya congkel mata kau nanti," sahut Bumantara dengan santai.

Dio merinding. "Kebiasaan lo itu selalu enggak bisa bercanda. Neng nya, kenapa mau sih sama cowok gila itu?"

Arumi yang sedang di ajak bicara, langsung berdecak kesal, lalu menjawab, "Saya bukan kekasihnya."

Dan tergelak lah tawa Dio sambil menatap Bumantara yang mengambil kursi.

"Bukan kekasih katanya, bro!"

"Belum ... Dia hanya malu mengakui nya saja," kata Bumantara. "Duduk Arumi. Sambil menunggu motor anda yang belum sampai-sampai dibawa, Pak Heru," lanjut Bumantara, sambil meletakan kursi plastik kebelakang Arumi.

"Makasih...."

Sejurus kemudian, motor Arumi yang dibawakan pak Heru sudah sampai, sekarang sedang di isikan angin di kedua ban motornya.

"Setelah ini Bu Arumi pulang biarkan saya yang antarkan," kata pak Heru, tersenyum.

"Eh ... Enggak usah, Pak! Saya bisa sendiri kok, seperti biasa nya aja," sahut Arumi, setelah selesai membayar, lalu menghidupkan mesin motornya. "Mari, Pak Heru," lanjut Arumi, mengangguk kecil, sambil menjalankan motor nya meninggal kan bengkel.

Bersambung....

1
mungkin
hah....menghela napas
mungkin
bau kecemburuan sudah terlihat
mungkin
ugal-ugalan juga nih brondong, gimana ngga luluh juga tuh Arumi
mungkin
geng kapak ya?
mungkin
nih kerasa gemas nya
mungkin: jangan gini thor
total 1 replies
mungkin
muda ² udah punya pengaruh itu
mungkin
nih rasakan💪 dari Bumantara
mungkin
cam kan itu/Panic/
mungkin
namanya juga pesona brondong licik
mungkin
ya lanjutkan saja
mungkin
jangan malu-malu masih banyak yang perlu dibahas
Anala.: apa saja itu🤭
total 1 replies
mungkin
cinta tidak mengenal salah
Anala.: eyaasa🤭
total 1 replies
mungkin
nyaris saja
mungkin
ini itu tentang ngajar dan ngejar ya, dengan karakter tokoh yang keren
mungkin
lanjut thor. Arumi ngga simple aja thor pelajaran nya
Anala.: 1+1> gitu yah🤣
total 1 replies
mungkin
oh...manis
mungkin
jadi pebinor pun tak apa/Panic/
Anala.: menurut lo🤭
total 1 replies
mungkin
oh masih sopan awalan nya
mungkin
hahahaha
Anala.: yeee tau kan😄
total 1 replies
Anala.
beg0 dia itu🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!