NovelToon NovelToon
PANTASKAH AKU BAHAGIA

PANTASKAH AKU BAHAGIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia

"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: LUKA DI BALIK TAWA

Jam istirahat adalah waktu yang paling Alsya tunggu, bukan karena dia lapar, tapi karena itu satu-satunya kesempatan dia bisa melihat Revaldi. Meskipun hatinya terus-terusan dipatahkan, entah kenapa Alsya merasa kalau dia bisa mendapatkan hati Revaldi, maka dia sudah berhasil "menang" dari Eliza.

Alsya berjalan menuju kantin dengan langkah penuh percaya diri. Dia melihat Revaldi sedang duduk di meja tengah, tertawa bersama teman-temannya. Dan tentu saja, ada Eliza di sana, duduk tepat di sebelah Revaldi.

"Hai, Val!" Alsya langsung duduk di kursi kosong di depan Revaldi tanpa diundang. "Seru banget kayaknya, lagi bahas apa sih? Gue boleh gabung, kan?"

Tawa Revaldi langsung berhenti. Cowok itu meletakkan sendoknya dengan kasar, menimbulkan suara dentingan yang cukup keras sampai meja sebelah menoleh.

"Sya, bisa nggak sih loe nggak usah ganggu?" tanya Revaldi dengan nada tajam. "Gue lagi makan tenang-tenang sama Eliza, kenapa loe harus selalu muncul dan ngerusak suasana?"

Alsya tetap memaksakan senyumnya, meskipun hatinya seperti ditusuk-tusuk.

"Galak banget sih, Val. Gue kan cuma mau nemenin loe makan. Loe nggak kasihan apa lihat gue sendirian?"

"Nggak. Gue nggak peduli loe sendirian atau nggak," jawab Revaldi tanpa perasaan. "Lagian, mending loe jauh-jauh deh. Gue risih lihat muka loe yang selalu cari perhatian begini. Malu-maluin tahu nggak?"

Bisik-bisik di kantin mulai terdengar. Orang-orang mulai menertawakan Alsya yang lagi-lagi ditolak mentah-mentah.

"Reval, jangan kasar gitu sama Alsya," Eliza mencoba menenangkan, suaranya terdengar begitu lembut dan malaikat. "Sya, loe kalau mau makan bareng sini aja, nggak apa-apa kok."

Alsya menatap Eliza dengan kebencian yang mendalam. "Nggak usah sok baik loe, El! Gue nggak butuh belas kasihan loe!" bentak Alsya.

"Woi! Jangan bentak Eliza!" Revaldi berdiri, membela Eliza dengan emosi. "Loe itu bener-bener jahat ya, Sya. Pantesan orang tua loe lebih sayang sama Eliza daripada sama loe. Kelakuan loe kayak sampah!"

Deg.

Dunia Alsya seolah berhenti berputar. Kalimat Revaldi barusan benar-benar menghantam titik terlemahnya. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia menolak untuk menangis di sini. Dia tertawa—tertawa keras yang terdengar dipaksakan.

"Hahaha! Bagus, Val. Bagus banget. Loe emang paling tahu cara bikin orang sakit hati," ucap Alsya dengan suara bergetar. Dia segera berdiri dan lari meninggalkan kantin secepat mungkin.

Dia tidak tahu harus ke mana, kakinya membawanya kembali ke taman belakang sekolah yang sepi. Di bawah pohon besar, Alsya akhirnya luruh. Dia menutup wajahnya dan mulai menangis sesenggukan.

"Loe lagi?"

Alsya tersentak. Dia mendongak dan melihat Samudera berdiri tak jauh darinya, menyandarkan punggung di batang pohon sambil memutar-mutar sebuah pulpen di jarinya.

"Loe nguntit gue ya?!" semprot Alsya sambil menghapus air matanya dengan kasar.

Samudera berjalan mendekat, lalu duduk di rumput, agak jauh dari Alsya. "Geer banget loe. Gue di sini duluan sebelum loe dateng sambil nangis bombay kayak tadi."

"Gue nggak nangis! Mata gue kelilipan!" bohong Alsya, suaranya masih serak.

"Terserah loe aja," sahut Samudera datar. Dia menatap ke depan, ke arah lapangan basket yang kosong. "Tapi menurut gue, loe itu bego. Kenapa loe terus-terusan ngejar orang yang jelas-jelas nggak nganggep loe ada?"

Alsya terdiam. Dia menatap Samudera dari samping. Profil cowok itu terlihat tenang tapi misterius. "Loe nggak tahu apa-apa tentang hidup gue, jadi jangan sok tahu," bisik Alsya.

"Emang gue nggak tahu," jawab Samudera tenang. Dia menoleh, menatap langsung ke mata Alsya. "Tapi gue tahu satu hal. Orang yang selalu ketawa paling keras biasanya yang paling hancur di dalem. Dan loe... loe puncaknya dari semua itu."

Alsya tertegun. Kenapa anak baru ini bisa membaca hatinya semudah itu? Belum sempat Alsya membalas, Samudera bangkit berdiri dan membersihkan seragamnya dari rumput.

"Nih, pakai." Samudera melemparkan sebuah sapu tangan bersih ke pangkuan Alsya. "Hapus muka loe yang berantakan itu. Loe kelihatan lebih buruk daripada tukang bully yang biasanya gue temuin."

Setelah itu, Samudera pergi meninggalkan Alsya yang masih terpaku memegang sapu tangan itu. Wangi parfum Samudera yang maskulin tapi menenangkan tercium dari sapu tangan itu.

"Siapa sih loe sebenarnya, Samudera?" gumam Alsya pelan.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!