Viona tidak menyangka jika dirinya akan ber transmigrasi menjadi seorang ibu tiri jahat pada tahun sembilan puluhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JATUH KE SUNGAI
Selesai mandi Kakek Darma mengajak Vina untuk segera berangkat ke pasar . Kakek Darma membawa tampah hasil karyanya. Sedangkan Vina membawa Keranjang kecil yang berisi telur . Kedua barang itulah yang akan di jual dipasar.
Untuk pergi ke pasar keduanya harus menyeberangi aliran sungai yang cukup lebar. Untuk sampai ke seberang sungai biasanya para penduduk menggunakan perahu getek.
Perahu getek merupakan satu-satunya alat transportasi yang ada di desa Ru Waru. Perahu getek adalah perahu tradisional datar berbentuk persegi panjang, sering kali terbuat dari kayu atau bambu, yang berfungsi sebagai alat transportasi penyeberangan sungai yang ekonomis dan cepat.
Pemilik perahu getek memberikan tarif sepuluh rupiah untuk setiap orangnya. Namun bagi para pelajar cukup membayar dua rupiah. Biasanya dibayar setiap sepuluh hari sekali.
Setiap pagi banyak orang yang menggunakan perahu getek. Ada yang pergi ke pasar, bekerja dan bersekolah.
Namun jika tidak ada kepentingan yang mendesak jarang ada orang yang menggunakannya. Sepuluh rupiah sudah cukup mahal bagi mereka. Pulang pergi bisa habis dua puluh rupiah.
Di desa Ru Waru ini belum ada satupun sekolah yang berdiri. Jika ingin bersekolah, Anak-anak harus pergi ke desa tetangga atau daerah kecamatan.
Saat Vina dan Kakek Darma tiba di tepi sungai, masih ada beberapa warga yang antri menunggu giliran.
Saat itu Ia melihat dua wajah kecil yang cukup familiar di ingatannya. Siapa lagi kalau bukan kedua anak tirinya.
Kedua anak itu sudah naik diatas perahu getek. Ia ditemani sepasang suami istri yang sudah berusia lima puluh tahun keatas. Siapa lagi kalau bukan kakek dan neneknya dari pihak Ibu.
Kedua anak itu terlihat riang dan asyik bermain. Sangking asyiknya bermain, mereka sampai lupa jika saat ini mereka sedang ada di atas perahu getek. Malang pun tak dapat dihindari. Kedua anak itu langsung tercebur kedalam sungai.
"Bian... Adin! " teriak sang Nenek. Pemilik perahu langsung meloncat untuk segera memberi pertolongan.
Saat itu aliran sungai cukup deras. Kedua anak itu langsung terseret arus air. Selain Pemilik perahu tidak ada lagi yang berani masuk kedalam sungai. Kebetulan yang ada di sungai saat ini hanya ada ibu-ibu dan juga anak kecil yang tidak bisa berenang.
Vina meletakkan semua barang bawaannya ke atas tanah lalu meloncat kedalam air. Ia berenang dengan sangat cepat. Mencoba untuk menyelamatkan kedua anak itu.
Akhirnya Pemilik perahu berhasil menyelamatkan satu anak. Tinggal satu anak lagi. Beliau membawa anak yang ada di gendongannya kepelukan sang nenek yang masih ada di getek. Kemudian melakukan pertolongan pertama.
Ia sudah tidak sanggup lagi untuk mengejar anak yang satunya . Untungnya Vina bisa berenang dengan sangat cepat dan berhasil menyelamatkan satu anak lainnya.
Beberapa orang yang ada disana tercengang melihat aksi heroik Vina. Mereka tidak menyangka jika Vina berani melawan arus air untuk menyelamatkan anak tirinya. Belum lagi kepiawaiannya dalam berenang.
"Sejak kapan Pipin bisa berenang? Kok kemarin malah tenggelam. "
"Ya... mungkin saja saat tenggelam kemarin Ia dapat wangsit jadi pintar deh, " sahut yang lain.
"Aku juga setuju sama pendapatmu. Kalau dia tidak mendapatkan wangsit, tidak mungkin tu anak mau menolong anak tirinya."
"Menurut Kakek bagaimana? " tanya wanita itu pada kakek yang memang posisinya berdampingan dengannya. Kakek menoleh sekilas tanpa menjawab pertanyaannya.
"..... "
Bagaimana Kakek Darma mau menjawab, jika beliau sendiri cukup terkejut oleh tindakan Vina Dalam hati ia berfikir, " Apa gadis itu benar-benar cucunya? "
Namun pikiran itu segera ia tepis. Ia segera membantu Vina yang sudah membawa Bian ke pinggir sungai. Begitu tiba di darat, Vina segera melakukan pertolongan pertama sampai akhirnya anak itu sadar dan memuntahkan air yang ia telan.
Setelah itu Kakek Darma meminta Vina untuk membawa anak itu ke rumahnya. Tidak mungkin membawanya kembali ke dusun Maja. Ia juga meminta kakek dan nenek dari si kembar untuk membawa anak satunya lagi ke rumahnya.
Kakek dan Nenek si kembar tidak menolak. Hati mereka cukup tersentuh oleh aksi heroik Vina. Mereka sangat berterimakasih karena Vina mau berusaha untuk menyelamatkankan si kembar.
Andai yang menolong hanya pemilik perahu, mungkin salah satu dari si kembar sudah tidak tertolong.
Orang-orang yang ada di sana tidak ada yang mengikuti karena mereka masih harus pergi ke seberang.
Catatan:
Pertolongan pertama pada anak tenggelam adalah segera keluarkan dari air, panggil bantuan medis, dan lakukan CPR jika tidak bernapas, dengan prioritas utama membuka jalan napas (*head tilt-chin lift), berikan 5 napas penyelamatan (mulut ke mulut) hingga dada mengembang, lalu lanjutkan CPR (30 kompresi dada:2 napas) hingga bantuan datang atau anak sadar, sambil menjaga kehangatan tubuhnya dengan mengeringkan dan selimuti untuk mencegah hipotermia. ( sumber Google) 🤭🤭🤭🤭
vina reflek nendang
cie jaka ngambek gk di sapa😁