Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selalu salah
Mia berdiri di balik pintu kamar. Ia tidak berani keluar. Tangannya dingin.
“Ini bukan soal membela siapa,tapi soal batas."lanjut Johan.
Ibunya menarik napas panjang
"Kamu berubah setelah menikah. "
Perdebatan itu tidak selesai hari itu. Dan bukan sekali itu saja terjadi. Adu argumen demi adu argumen mulai mewarnai hubungan ibu dan anak. Setiap kali Johan bersuara, ibunya semakin keras.
Beberapa hari kemudian, ibunya mendatangi Mia saat Johan tidak ada di rumah.
"Kamu ngomong apa ke Johan?, " Labrak Mertuanya tanpa basa basi
.Mia terkejut.
"Tidak ada, Ma. "
"Jangan berpura pura kamu, kamu mengadu domba antara Mama dan Johan. "Cecar Mertuanya tanpa jeda.
Mia menggeleng cepat
“Saya tidak pernah mengadu domba antara Mama dan Johan."
"Kamu buat dia melawan, sejak kamu datang semua berubah" Tukas Mertuanya
Mia tidak menjawab. Dadanya terasa sesak. Ia tahu, apa pun yang ia katakan tidak akan didengar.
Setelah ibunya pergi, Mia duduk sendiri di ruang tamu. Ia merasa semakin kecil di rumahnya sendiri. Tekanan itu kini tidak hanya datang dari pertanyaan dan ramuan, tapi dari tuduhan yang membuatnya serba salah.
Saat Johan pulang malam itu, Mia hanya berkata, “Aku capek.”
Johan menatapnya lama. Ia mulai menyadari, masalah ini sudah terlalu jauh untuk dianggap sepele.
Sejak pertengkaran itu, rumah terasa berbeda. Tidak ada perubahan besar yang bisa dilihat, tapi Mia bisa merasakannya. Johan tetap pulang, tetap makan malam bersamanya, tetap bertanya hal-hal kecil. Namun ada jeda yang semakin sering muncul di antara mereka.
Mia berhenti menyinggung soal ramuan. Ia meminumnya tanpa banyak bicara. Setiap kali botol itu hampir habis, ibunya Johan akan menelepon atau datang membawa yang baru. Tidak pernah lupa.
“Jangan sampai putus,” kata ibunya suatu pagi.
"Ini harus diminum rutin. "Mia hanya mengangguk, tidak ada keinginan untuk membantah.
Ia mulai sering merasa lelah. Pusing datang tanpa sebab. Beberapa kali ia muntah di pagi hari, tapi hasil tes tetap sama. Johan memperhatikan, tapi tidak banyak bertanya.
Suatu malam, Johan pulang dengan wajah letih. Ia duduk di ruang tamu tanpa membuka ponselnya.
“Mama telepon lagi?” tanya Mia pelan.
"Iya, kalau kamu mau , tidak apa apa berhenti minum ramuan itu.”
“Tidak usah, aku tidak mau ada keributan lagi. "potong Mia cepat, tapi sorot matanya jelas menyiratkan kalau ia lelah.
Johan mengangguk. Ia mengerti. Tapi kalimat itu tetap menyakitkan.
Beberapa hari kemudian, ibunya Johan datang membawa kabar baru.
“Mama sudah buatkan janji ke dokter,” katanya sambil duduk.
“Kalian periksa lengkap jangan menunggu lama.”
Johan yang sedang minum langsung menoleh.
“Apa lagi ini Ma?”
“Demi kebaikan kalian,” jawab ibunya.
“Tapi Mia duluan Perempuan itu pusatnya.”
“Ma, kenapa harus Mia?”
Ibunya menatap Johan.
“Mia kan dirumah saja, kalau kamu kan di kantor harus nunggu cuti atau libur kan?.”Kilah Mamanya.
Ruangan itu hening
"Ma, " suara Johan terdengar pelan
"Kami bisa melakukan ini sendiri. "
Ibunya mendengus kesal
“Kenapa tidak kalian lakukan dari dulu kalau begitu?.”
Mia menunduk, kalimat itu seperti palu yang menghantam telak.
Akhirnya, mereka tetap pergi ke dokter. Bukan karena sepakat, tapi karena lelah berdebat. Mia menjalani pemeriksaan pertama sendirian.sementara johan menunggu di luar.
Saat keluar, wajah Mia pucat. Johan berdiri. “Gimana?”
"Dokternya minta aku balik lagi minggu depan" jawab Mia singkat.
Johan tidak bertanya lebih jauh.
Di rumah, Mia masuk ke kamar dan duduk lama di depan cermin. Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia bertanya pada dirinya sendiri apakah semua yang ia lakukan masih tentang bertahan bersama, atau hanya tentang memenuhi harapan orang lain.
Malam itu, Johan tertidur lebih dulu. Mia tetap terjaga. Ia menatap langit-langit kamar, mencoba mengingat kapan terakhir kali rumah ini terasa benar-benar aman baginya.
Minggu berikutnya, Mia kembali ke klinik yang sama. Kali ini Johan ikut, meski ia lebih banyak diam. Ruang tunggu penuh, tapi suasananya terasa sepi bagi Mia. Ia menggenggam tasnya erat, mencoba mengatur napas.
Pemeriksaan berlangsung lebih lama dari sebelumnya. Setelah selesai, dokter meminta Mia duduk kembali.
“Secara umum, kondisi rahim dan hormon Ibu baik,” kata dokter itu sambil melihat hasil pemeriksaan.
“Tidak ada kelainan yang terlihat.”
Mia menatap dokter itu ragu.
"Jadi kenapa belum hamil Dok. "
Dokter itu menghela napas singkat. “Kehamilan tidak selalu bisa dipastikan dari satu sisi. Idealnya, pemeriksaan dilakukan pada kedua belah pihak.”
Johan yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. “Maksud Dokter, saya juga perlu periksa?”Dokter mengangguk
"Betul, seharusnya begitu. "
Di perjalanan pulang, tidak ada yang bicara. Johan fokus menyetir, Mia menatap keluar jendela. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Sesampainya di rumah, ibunya Johan sudah menunggu.
"Gimana hasilnya?, " tanyanya tanpa basa basi.
"Dokter bilang Mia sehat. " Jawab Johan singkat
“Oh iya?.”Sahut Ibunya sambil mengernyitkan kening
"Iya katanya tidak ada masalah, "Sambung Mia
Ibunya terdiam beberapa detik, lalu berkata, “Berarti tinggal dibantu saja,ramuan itu diteruskan." Johan menarik napas.
"Ma, dokter juga bilang aku perlu periksa, "
Ibunya langsung menoleh.
"Buat apa?,"
"Dokter bilang supaya jelas ya harus dua duanya menjalani pemeriksaan. "
"Johan, kamu sehat, tidak perlu itu. "
"Yang punya rahim itu kan perempuan,"
Namun sejak hari itu, sikap Johan mulai berubah. Ia pulang lebih malam. Percakapan mereka semakin singkat. Johan tidak lagi membahas hasil dokter, seolah topik itu tidak pernah ada.
Suatu malam, Mia memberanikan diri bertanya,
"Kapan kamu mau periksa?, "Johan tidk langsung menjawab.
" Nanti kalau sempat. "
Jawaban itu membuat Mia terdiam. Ia sadar, beban yang tadi sempat terangkat perlahan kembali jatuh ke pundaknya.
Beberapa hari kemudian, ibunya Johan kembali datang membawa ramuan baru. Kali ini botolnya lebih besar.
"Ini lebih kuat,rutinkan saja dulu masalah hasil ya kita lihat nanti."ujarnya
Mia mengangguk. Ia menyimpan botol itu di kulkas, tepat di samping botol lama yang belum habis.
Malam itu, saat Johan tertidur, Mia duduk di dapur memandangi botol-botol tersebut. Ia merasa tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri. Semua yang ia lakukan, semua yang ia minum, seolah diarahkan untuk satu tujuan yang tidak pernah benar-benar ia pilih.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa sendirian di rumah yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung.
Johan tidak pernah benar-benar membicarakan soal pemeriksaan setelah hari itu. Setiap kali Mia mencoba mengingatkan, jawabannya selalu sama dan singkat.
“Nanti.”
"Belum sempat"
"Kerjaanku lagi banyak. "
Awalnya Mia mencoba memahami. Ia tahu pekerjaan Johan sedang padat. Namun hari demi hari berlalu tanpa kejelasan. Ramuan di kulkas terus berkurang, lalu tergantikan oleh botol baru yang dibawa ibunya Johan.
Ibunya kini tidak lagi datang dengan wajah ramah. Nada bicaranya berubah lebih tegas, seolah Mia sengaja menunda sesuatu.