Sepucuk surat mengundang Syaheera untuk kembali ke kota kelahirannya. Dalam perjalanan ke kota tersebut, dia bertemu Gulzar Xavier, pria baik hati yang menolongnya dari pria mesum di kereta.
Kedatangan Syaheera disambut baik oleh ayahnya dan keluarga barunya. Namun, siapa sangka, ternyata sang ayah berniat menjodohkan dirinya dengan Kivandra Alistair, Tuan Muda lumpuh dari keluarga Alistair.
Cinta Syaheera pada ayahnya membuat gadis ini tak ingin membuatnya kecewa. Namun, pada malam pertemuannya dengan Kivandra, takdir kembali mempertemukan dirinya dengan Xavier, dan sejak itu benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.
Xavier yang hangat, atau Kivandra yang dingin, akan kepada siapa Syaheera menjatuhkan pilihan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Be___Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syaheera part 3
...🫀 Ternyata kita cinta 🫀...
...-Ambisius & Cerdas, paket lengkap menapakkan kaki di kota Lumina-...
.........
"Remo, berikan sabukmu," pinta Heera dari dalam kamar kecil kereta.
"Eh, sabuk saya? Untuk apa, Nona?"
"Berikan saja, cepat!"
Dengan patuh Remo melepas sabuknya dan memberikannya pada Syaheera.
Tidak berapa lama sang nona keluar dari kamar kecil, kemeja yang diberikan pria penolong itu kebesaran untuknya, namun, sabuk Remo menolong gaya berpakaiannya kali ini.
Remo mengangguk puas dengan penampilan Syaheera. "Hem, boleh juga. Nona memang pintar."
"Dan kau, apa tidak apa-apa tanpa sabuk? Celanamu aman, 'kan?"
Remo tersenyum, "Aman, Nona." Tangannya memastikan celana itu tidak akan melorot meski tanpa pengekang.
"Baguslah. Kita akan segera sampai, ayo kembali ke tempat duduk tadi. Aku mau mengucapkan terima kasih secara langsung pada Tuan itu."
Sayang sungguh sayang, tepat saat Syaheera dan Remo kembali ke tempat duduk, pria penolong itu sudah tidak ada. Kereta memang sudah berhenti, mungkin pria itu tergesa-gesa hingga lebih dulu meninggalkan kursinya.
"Siapa namanya."
"Vier, katanya Nona bisa memanggilnya dengan nama itu."
Syaheera mengangguk pelan. Sejurus kemudian ia dan Remo keluar dari kereta, mereka disambut utusan Tuan Peter.
Kedatangan gadis ini telah ditunggu oleh Peter, Celia, Rhea dan Luke. Mereka berbincang di meja makan sementara para pelayan diperintahkan untuk menyambut kedatangan Syaheera di pintu gerbang.
Saat langkah memasuki kediaman yang dahulu ia tinggali, ada rasa yang sulit diungkapkan. Suka dan duka menjadi satu, rindu dan kesedihan berbaur membuatnya tak mampu bicara. Halaman nan luas itu mengantarkan Syaheera pada kilas balik masa lalu, saat dirinya dan sang Ibunda masih tinggal di sini.
Kursi taman itu masih berada di sana, tempat ia kerap makan disuapi Thalia. Eh, ada pohon kersen. Apakah itu pohon yang dulu ia dan Thalia tanam?
Langkah kaki membawanya ke hadapan pohon besar itu, ada banyak buah berwarna merah cerah. "Bolehkah aku memakan buah dari pohon ini?" Syaheera bertanya pada beberapa pelayan yang mengikutinya dan Remo sejak mereka datang.
"Tentu saja." Suara itu ___
Syaheera menoleh pada arah suara> "Tante Celia."
"Ya, ini Tante, Sayang."
Penampilannya jauh lebih glamor dari saat terakhir mereka bertemu. Celia juga nampak cantik, tidak terlihat bahwa dia sudah cukup berusia.
Melangkah masuk ke dalam pelukan Celia, "Bagaimana kabar Tante?"
"Baik, Sayang. Bagaimana denganmu? Bagaimana kabar Ibu Kansya?"
"Kabar kami baik," sahut Heera tersenyum simpul.
"Syukurlah." Celia meraih jemari Syaheera dan membawanya masuk ke kediaman, suasana di dalam sudah banyak berubah.
Untuk beberapa detik Peter menatapi putri pertamanya ini. "Syaheera, kemari Sayang. Kenapa lama sekali kau masuk ke rumah?"
"Dia tergiur buah kersen. Kalau aku tidak keluar untuk mencarinya, mungkin ia akan di depan pohon itu sampai petang," ucap Celia. Ia menarik kursi untuk Syaheera duduki, tepat di samping Peter.
"Buah kersen, ya? Kau masih menyukai buah itu sampai sekarang?" tanya Peter. Dipandanginya wajah sang putri, sangat mirip dengan mendiang istri pertamanya, Thalia Guzel.
"Masih, Ayah."
"Kalau begitu kau datang diwaktu yang tepat. Pohon itu sedang berbuah sekarang, sangat banyak."
"Dan aku akan memakannya hingga puas," sambung Syaheera bersemangat.
"Ya, makan saja sepuasnya. Selain kau tidak ada yang tergiur dengan buah murahan itu!" Rhea, sang adik tiri yang bicara.
"Rhea!" hardik Peter.
"Itu betul, Ayah. Selama ini jika pohon itu berbuah tidak ada seorangpun yang mau memakannya, bahkan para pelayan sekalipun!"
"Sudahlah! Kakakmu sudah datang. Ayo kita mulai makan siangnya." Celia coba menyudahi ocehan Rhea, ia khawatir Peter akan marah pada putrinya.
Rhea mendecih, ia membuang muka saat Syaheera melihat padanya. Jika Rhea menunjukkan ketidak-sukaan pada Syaheera, lain halnya dengan Luke.
Tatapan pemuda ini tidak pernah lepas dari Syaheera sejak kakak tirinya ini datang, "Kak, apa kau ingat siapa aku?"
"Tentu saja, kau Luke, adikku."
Senyum kepuasan menghiasi wajah Luke, dia sangat senang.
"Nanti aku akan menemanimu makan buah kersen."
"Hem, boleh juga," sahut Heera.
"Kau masih saja suka berteman dengannya!" bisik Rhea.
Luke balas berbisik, "Dia saudaraku! Saudaramu juga!"
Rhea tak lagi bicara, ia melirik tajam pada Luke dan memberengut.
Sebuah kenyatakan yang menyedihkan untuk tiga bersaudara ini, jarak yang memisahkan mereka tidak begitu banyak, namun ini adalah pertemuan pertama mereka sejak perpisahan 7 tahun lalu.
Ada banyak alasan dan kejadian yang membuat rencana pertemuan mereka selalu gagal. Bahkan pada hari kelulusan Syaheera pun ___ pertemuan yang sangat diharapkan itu tak jua terjadi.
Usai makan siang, Syaheera diajak Peter untuk bicara berdua di ruang kerjanya. Celia hendak ikut bergabung, namun Peter memintanya untuk beristirahat saja di kamar. Begitulah cara Peter menolak kehadiran Celia pada momen kebersamaannya dengan Syaheera, dan Celia menyadarinya.
"Sayang ... kita sudah membicarakan hal itu dengan baik, bukan?" bisiknya sebelum pergi.
"Ya. Dan semua akan berjalan sesuai dengan rencana kita. Aku hanya ingin mengobati rasa rindu pada putriku."
"Pada putrimu atau pada wajah yang mirip dengan putrimu?!" Celia dengan jelas memperlihatkan kecemburuan, bahkan ketika Thalia telah tiada.
"Kau berlebihan, Celia. Pergilah beristirahat," pungkas Peter penuh penekanan.
Di ruang kerja itu Peter dan Syaheera membuka album lama keluarga mereka, yang hanya ada potret mereka bertiga di masa lalu.
"Apa selama ini Ayah pernah merindukanku?"
Tiba-tiba mendapat pertanyaan ini, Peter sedikit kelabakan. "Kenapa bertanya seperti itu?" sahutnya berusaha tetap tenang.
"7 tahun Ayah, dan baru kali ini aku kembali ke sini. Selama ini kita hanya bertemu beberapa kali. Selama ini Ayah bahkan tidak pernah memberiku hadiah ulang tahun."
"Bukankah Ayah selalu memberikan uang yang banyak untukmu."
"Semua itu bukan tentang uang, Ayah."
Peter meraih jemari Syaheera, ia kemudian berkata, "Kau tahu bagaimana posesif Tante Celia. Ayah hanya tidak mau dia mengusik ketenanganmu dan Nenek di kota Viola. Maafkan Ayah, Sayang. Untuk itulah Ayah memintamu datang kali ini, sebab Ayah ingin merasakan hidup berdekatan denganmu lagi meski hanya sebentar."
Hati yang semula ingin marah, protes, bahkan mungkin merajuk, seketika luluh karena tutur kata manis sang Ayah.
"Ayah menyayangiku?"
"Sangat menyayangimu," sambar Peter.
Senyum ketulusan Syaheera disambut hangat oleh Peter.
"Bagaimana rencanamu selanjutnya? Tentang karirmu." Ada rasa haru ketika jemarinya mengusap pucuk kepala sang putri, waktu telah banyak berlalu hingga anak gadisnya kini telah dewasa.
"Aku akan memulai karirku di dunia desain interior, Ayah."
"Oh, ya? Katakan, apa yang kau perlukan. Ayah punya banyak kenalan arsitek interior terkenal."
"Ayah, bolehkan aku memulai karirku dengan usahaku sendiri saja? Aku tidak bermaksud tidak sopan pada Ayah."
"Dengan bantuan Ayah kau akan cepat mencapai kesuksesan, Nak."
"Kesuksesan terasa manis dan asam, aku ingin menikmati prosesnya secara perlahan, Ayah. Jika aku sudah tidak bisa bertahan dalam berjuang, aku tidak akan segan datang meminta bantuan pada Ayah," tutur Syaheera meyakinkan Peter atas pilihannya.
Peter bergumam, nampaknya ia tidak bisa memaksa gadis ini untuk menerima bantuannya.
"Baiklah, Ayah hanya akan menjagamu dari jauh."
"Terima kasih, Ayah!" Syaheera berseru.
"Nak, bagaimana dengan kekasih, apa kau sudah memilikinya?"
Hah! Syaheera terperangah karena pertanyaan itu.
"Kekasih? Pacar maksud Ayah?"
Senyum jahil Peter membuat Syaheera tersipu malu. "Ayah ... aku tidak pernah memikirkan hal itu."
"Bagaimana kalau Ayah kenalkan dengan anak rekan bisnis Ayah."
"Untuk apa?"
"Tentu untukmu menambah teman."
"Aku sudah punya dua teman di Viola Ayah."
"Saul dan Jani, iya, 'kan?"
Syaheera mengangguk.
"Mereka temanmu di Viola, biarkan Ayah mencarikan teman untukmu di Lumina, oke?" bujuk Peter.
Tidak ingin mengecewakan ayah tercinta, akhirnya Syaheera menyetujui keinginan itu.
"Jika kau tidak lelah, temani Ayah bertemu rekan bisnis Ayah malam ini. Dia akan datang bersama putranya."
"Putranya? Jadi teman yang akan Ayah kenalkan itu laki-laki?"
"Ya, dia laki-laki. Tampan dan gagah."
"Ayah, haruskah tampan dan gagah menjadi kriteria dalam mencari teman? Ayah ini ada-ada saja."
"Kau cantik, tentu harus berteman dengan orang cantik dan tampan. Pernahkah kau memerhatikan sepasang manik indah ini?" tanya Peter menunjuk mata Syaheera.
"Kenapa dengan mataku, Ayah?"
"Besar dan bersinar indah."
Syaheera menutup wajahnya, ia malu, "Hentikan Ayah."
"Juga hidungmu," lanjut Peter.
"Kenapa dengan hidungku?"
"Kecil namun indah dipandang, apalagi kalau dari samping, mancung tapi tidak berlebihan."
"Ayah!!" pekik Syaheera, ia sungguh merasa dijahili habis-habisan oleh Ayahnya sendiri.
"Ayah jangan menggodaku terus!"
"Ayah berkata jujur."
"Ayah hanya sedang menggodaku!" ujar Syaheera lagi
Mendapati wajah memerah sang putri, bahkan sampai membuat merah daun telinganya, Peter tertawa lepas.
Tidak terima semakin ditertawakan, Syaheera mencubit lengan Peter. Bukannya berhenti tertawa, Peter membalas tangan jahil Syaheera dengan menarik hidung kecilnya.
Alhasil, ayah dan anak ini tertawa begitu nyaring, tawa mereka bergema dari ruangan itu. Celia menggigit bibir, ia kesal mendengar suara tawa mereka. Begitu juga dengan Rhea, ia kesal setengah mati, selama ini ia tidak pernah bercanda dan tertawa begitu lepas dengan Peter.
"Apa bagusnya Syaheera itu! Dia baru datang dan Ayah sudah tertawa begitu senang!" Jelas sekali Rhea merasa iri dan dengki terhadap saudaranya sendiri.
...To be continued .......
Nangis aja Xavier, lagian aneh2 aja Syaheera malah ditinggal di vill. Keadaan lg genting jg ah. Ngomel kan jdinya 😂🤣
Mana Xavier sama Syaheera juga belum tentu berhasil kabur..