Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.
Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.
Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.
"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo
"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Sendiri
Ting Tong Ting Tong
"Siapa lagi sih yang datang?" gerutu Danny.
Pria itu berjalan menuju pintu depan, tanpa sadar ujung handuk yang melilit pinggangnya tersangkut.
Ting Tong Ting Tong
"Ya ampun, sabar!" teriak Danny sambil menambah kecepatannya.
"Siapa si—?"
"Aaa…!" teriak Bella sambil menutup mata rapat-rapat.
"Aduh!" Danny refleks menutup telinga mendengar teriakan sang kekasih.
"Bella! Stop!" teriak Danny.
Bella berhenti berteriak, meski napasnya masih memburu.
"Kamu kenapa sih, Bel? Datang-datang langsung teriak?" oceh Danny. "Masuk!"
"Enggak," balas Bella cepat.
Kali ini kepala Danny benar-benar berdenyut.
"Kamu mencet bel berkali-kali, terus sekarang enggak mau masuk," ucap Danny sambil menarik salah satu tangan kekasihnya.
"Aaa… Danny! Lepasin!" Bella meronta.
Danny menutup telinga. Meski begitu, ia tetap menarik Bella masuk ke dalam apartemennya. Kekesalan mulai menyelinap.
Pertama, ia harus segera menyelesaikan laporan untuk bosnya.
Kedua, kehadiran Bella yang tiba-tiba jelas menyita waktu. Terlambat sedikit saja bisa berujung demosi—apalagi kalau sampai terjadi kesalahan.
"Danny, pakai bajumu dulu!" teriak Bella sambil terus meronta, berusaha melepaskan diri.
"Aku habis mandi, belum sempat pakai baju," balas Danny santai.
"Pokoknya, duduk di sini dulu!" sergah Danny sambil menghela napas panjang.
Tubuhnya sedikit berkeringat setelah menyeret kekasihnya.
"Danny."
"Apa lagi, Bells? Aku harus menyelesaikan tugas dari pak bos dulu," keluh Danny, jelas kesal.
"Itu!" Bella menunjuk ke arah bagian tengah tubuh Danny.
Danny perlahan menunduk mengikuti arah telunjuk Bella. Matanya membulat.
Ingin berteriak—malu.
Ia menarik napas, lalu berkata seolah tak terjadi apa-apa.
"Beginilah aku saat di apartemen," ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya santai
Spontan, Bella melemparnya dengan bantal sofa.
"Kenapa lagi, Bells?" tanya Danny sambil menangkap bantal itu.
"Bagaimana kalau tadi yang datang tamu lain? Apalagi perempuan. Kamu juga bakal menyambutnya cuma pakai boxer?"
Danny mengetuk kening. Merutuki kebodohannya dalam hati. Dia lupa jika Bella memiliki daya nalar yang kelewat batas.
"Aku tahu itu kau, sayang," bujuk Danny. "Kau sendiri yang bilang kalau kita memiliki ikatan yang kuat," timpalnya cepat.
"Hmm, dasar si mulut manis."
Danny tersenyum lalu berbalik sambil bicara, "Ada hal penting yang harus segera ku kirim ke pak bos. Kau tunggu di sini."
"Pakai dulu bajumu!" teriak Bella.
"Nanggung sayang."
"Huh, dasar!"
Danny segera mengirim informasi pada Revo. Dia ingin menyelesaikan kesalahpahaman ini segera.
Drrt Drrt
Rentetan pesan masuk membanjiri ponsel Revo. Pria tampan itu melirik sekilas lalu mengusap layarnya.
Dari beberapa pesan yang masuk, satu gambar paling menonjol—wajah seorang gadis muda. Revo menatap lekat layar ponselnya. Benar saja, usia gadis itu terpaut jauh darinya.
Tanpa ekspresi, Revo mengalihkan gambar itu lalu menghubungi Danny. Baru satu kali nada sambung, panggilannya langsung terhubung.
Begitu tersambung, Revo tak memberi kesempatan Danny bicara.
[Besok pagi aku ingin penjelasan langsung tentang gadis itu. Buat janji temu.]
Klik.
Panggilan terputus.
Danny memejamkan mata. Bahunya merosot, napasnya tertahan sesaat.
"Game over," gumamnya pelan.
"Apanya yang game over?" tanya Bella.
"Hidupku," jawab Danny lemah.
Bella terdiam. Tatapannya beralih dari wajah Danny ke ponsel di tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak datang, ia tak bersuara—dan entah kenapa, keheningan itu terasa jauh lebih mengkhawatirkan.
Keesokan paginya, Danny tiba di kediaman Luneth setengah jam lebih awal. Ia mengenakan setelan jas abu-abu tua dengan kemeja hitam di dalamnya. Kancing paling atas sengaja dibiarkan terbuka agar memberi kesan santai—meski perutnya sama sekali tidak merasa demikian.
Semua informasi sudah ia rangkum sejak tadi malam. Danny juga telah menghubungi Darla, orang yang bertanggung jawab atas perjodohan ini. Gadis itu tidak bersalah. Ia telah menjalankan tugasnya dengan benar, mengganti foto salah satu kandidat setelah melakukan konfirmasi langsung.
Kesalahan ada padanya.
Ia terlalu yakin. Terlalu ceroboh hingga tidak mengecek pesan masuk dari Darla. Sementara itu, bosnya sudah lebih dulu memilih kandidat—sebelum foto wanita yang dijodohkan tersebut diganti oleh pihak keluarga.
Bahkan perwakilan lamaran pun tidak keliru. Mereka datang ke keluarga yang tepat, hanya saja tidak mengetahui putri yang mana yang akan dilamar. Mereka sekadar menjalankan tugas.
Semua berjalan semestinya.
Dan tepat di tengah kekacauan itu, berdirilah dirinya.
Semakin dipikirkan, kepalanya semakin berdenyut. Ruangan yang sejuk terasa menyempit, napasnya sedikit tertahan.
"Danny!" panggil seseorang.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Danny spontan.
Tubuhnya bereaksi otomatis, seolah sudah terprogram untuk selalu tepat—meski pikirannya sedang kacau.
"Tante saja. Ini kan di rumah," ujar Berlian sambil tersenyum.
"Iya, Tante," balas Danny sambil mengangguk.
"Tumben datang lebih cepat. Ada meeting?" tanya Berlian sambil mengelap keringat di pelipisnya usai berolahraga.
Danny tersenyum kecut.
Meeting.
Ia menelan ludah. Dalam hati, Danny tertawa pahit. Memang ada pertemuan yang menantinya—pertemuan antara hidup dan matinya karier.
Belum sempat Danny menjawab, Revo sudah tiba dan langsung menyapa ibunya.
"Pagi, Mi," sapa Revo sambil mengecup kening Berlian.
"Ish… ish… ish… Anak mami yang bentar lagi mau kawin ganteng banget pagi ini," puji Berlian sambil mencubit pipi putranya.
Revo refleks melepaskan tangan itu dari wajahnya. Ia tidak ingin terlihat bodoh di depan orang lain—apalagi di depan Danny. Harga diri tetap nomor satu.
"Mam, aku ada meeting pagi," ucap Revo singkat, mencoba melepaskan diri.
"Ish, enggak bisa sekali dimanja. Padahal dulu waktu kecil enggak bisa jauh dari mami," gerutu Berlian.
"I love you, Mam," seru Revo sambil berlalu.
"Permisi, Tante," ujar Danny cepat.
Ia segera menyusul Revo. Danny mempercepat langkah, ingin lebih dulu membukakan pintu mobil untuk bosnya.
Sebenarnya itu bukan bagian dari pekerjaannya. Namun setiap kali membuat kesalahan, ia selalu melakukan hal yang sama—mencari simpati lebih dulu sebelum menyerahkan diri.
"Silakan, Pak Bos," ucap Danny sambil membuka pintu penumpang.
"Duduk di sebelah," kata Revo datar.
Kalimat singkat itu terdengar seperti perintah mutlak. Danny susah payah menelan ludah.
Revo meliriknya. Tatapan itu membuat segala niat mengelak langsung lenyap.
Dengan langkah berat, Danny masuk ke mobil dan mendaratkan bokongnya perlahan, seolah takut menimbulkan suara.
"Kamu bisul?" tanya Revo lugas.
Danny terdiam sesaat.
"Tidak, Pak Bos," jawabnya sambil tersenyum kaku.
"Ambeien?"
Dalam hati, Danny ingin menutup mulut Revo dengan lem Korea agar tertutup rapat selamanya. Bos—sekaligus sahabatnya—memang irit bicara. Namun sekali bicara, efeknya bisa membuat darah mendidih atau membeku.
Danny buru-buru duduk dengan benar. Ia tidak ingin mendengar kemungkinan kata-kata aneh berikutnya.
Begitu pintu mobil tertutup, Revo langsung memberi instruksi.
"Jalan," katanya singkat.
Mobil melaju.
Danny segera menjelaskan seluruh duduk permasalahan. Dari foto, kesalahan waktu, hingga pihak keluarga. Revo mendengarkan tanpa ekspresi—wajahnya nyaris tak terbaca.
"Solusi," ucap Revo akhirnya.
"Saya sudah menghubungi pihak keluarga wanita itu. Rencana bertemu siang ini di restoran biasa, ruang VIP," jelas Danny.
"Tanpa perwakilan," potong Revo.
"Baik, Pak Bos," jawab Danny cepat.
Ia langsung menghubungi pihak keluarga wanita, menyampaikan bahwa Revo ingin bertemu langsung dengan calon istrinya.
Calon.
Danny menghela napas pelan.
Itupun kalau pernikahan ini jadi. Bagaimana jika Revo justru membatalkannya—dan semua ini berakhir sebelum benar-benar dimulai?