🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak waras
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Ruang tamu kos Yura tidak lebih besar dari kamar tidur kebanyakan orang. Sebuah sofa dua dudukan menempel ke dinding, meja kecil dipenuhi bekas gelas kopi, dan kipas angin tua berputar.
Yura duduk berselonjor di sofa. Sepatu kerjanya masih tergeletak sembarangan di lantai.
Rose keluar dari kamar sambil membawa handuk kecil. Rambutnya masih setengah basah. "Kau pulang cepat. Kantornya yang runtuh atau kau yang runtuh?" tanyanya.
Yura mendengus pelan. "Keduanya."
Rose duduk di ujung sofa. "Ceritanya panjang?"
"Panjang, melelahkan, dan berpotensi menaikkan tekanan darah."
"Berarti cocok," jawab Rose santai. "Aku baru masak mi."
Yura melirik sekilas. "Mi selalu jadi solusi hidupmu."
"Dan selalu berhasil."
Mereka terdiam sejenak. Kipas angin berputar malas di sudut ruangan.
Rose menoleh. "Kau kelihatan sangat kesal lagi. Ada apa?"
Yura menyandarkan kepalanya ke sofa. "Aku dicopot dari proyek."
Rose berhenti mengunyah. "Apa?"
"Bukan dipecat. Hanya… diturunkan."
"Karena apa?"
"Kesalahan kecil."
Rose menyipitkan mata. "Kesalahan kecil menurut versimu atau versi atasanmu?"
"Versi logika," jawab Yura. "Tapi dia alergi logika."
Rose mencibir. "Yang auranya dingin itu?"
Yura mendengus. "Tolong jangan sebut aura sekarang."
Rose terkekeh. "Berarti benar dia."
"Dia menjadikan aku contoh."
"Contoh apa?"
"Contoh supaya tidak sok punya pikiran sendiri."
Rose bersandar. "Dan kau?"
"Aku kesal."
"Itu terlihat."
Hening sejenak. Yura menatap langit-langit. "Yang lucu," lanjut Yura pelan, "Aku justru lebih kesal karena hal lain."
Rose melirik. "Oh?"
"Kak Ren."
Rose langsung tersenyum lebar. "Kita sampai pada inti masalah."
"Jangan begitu," sanggah Yura. "Ini serius."
"Perasaanmu memang selalu serius."
Yura bangkit sedikit dari duduknya. "Aku lelah."
"Lelah mengejar?"
"Lelah dianggap adik."
Rose mengangguk pelan. "Masih seperti itu?"
"Masih."
"Padahal kau sudah—"
"Dewasa, bekerja, punya penghasilan, dan emosi yang berantakan," potong Yura cepat. "Ya, aku tahu."
Rose terkekeh. "Kau pernah mengatakannya langsung kepadanya?"
"Mengatakan apa? Berhentilah menganggapku anak kecil?"
"Mengapa tidak?"
"Karena dia nyaman."
"Dengan posisimu sebagai adik."
Yura mengangguk pelan. "Dan aku yang bodoh tetap berharap."
Rose meneguk minumnya. "Hari ini dia melakukan apa?"
Yura menarik napas. "Seperti biasa. Sopan. Baik. Tersenyum kepada semua orang. Mengobrol santai dengan wanita lain."
Rose menyeringai. "Kau cemburu?"
"Sangat."
"Itu terlihat."
Yura menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Dia memanggilku Yur. Dengan nada yang sama seperti saat dia memanggil anak magang."
Rose tertawa tertahan. "Itu menyakitkan."
"Yang menyakitkan bukan karena dia jahat," lanjut Yura. "Tapi karena dia tulus tidak melihatku sebagai apa pun."
"Dan itu lebih menjengkelkan."
"Lebih menjengkelkan," ulang Yura.
Rose menyandarkan punggungnya. "Kau pernah berpikir untuk berhenti mengejarnya?"
Yura menurunkan tangannya. "Pernah."
"Lalu?"
"Gagal."
"Mengapa?"
"Karena setiap kali aku hampir menyerah," kata Yura sambil menatap kosong, "Dia melakukan satu hal kecil yang membuatku berpikir masih ada harapan."
"Contohnya?'
"Dia bertanya apakah aku sudah makan."
Rose memutar matanya. "Itu standar manusia normal."
"Tetapi dari dia rasanya berbeda."
"Karena kau yang berbeda."
Yura terdiam.
Rose melanjutkan, "Kau sadar tidak, hidupmu sekarang diisi oleh dua pria yang sama-sama membuatmu kesal?"
Yura menghela napas panjang.
"Sadar."
"Yang satu menekanmu di kantor."
"Yang satu membuatku merasa kecil dalam perasaan."
"Lengkap."
Yura tertawa pahit. "Hidupku benar-benar lengkap."
Rose mencondongkan tubuh. "Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tidak tahu."
"Kau ingin tetap mengejar kak Ren?"
Yura diam cukup lama. "Aku lelah."
"Tetapi?"
"Tetapi aku belum siap berhenti."
Rose mengangguk pelan. "Kau tahu apa yang membuatku kesal dari ceritamu?"
"Apa?"
"Kau selalu menyalahkan dirimu sendiri."
Yura menoleh. "Karena mungkin memang salahku."
"Belum tentu."
"Dia jelas tidak melihatku."
"Itu bukan kesalahanmu."
"Lalu kesalahan siapa?"
"Mungkin… waktu."
Yura tertawa kecil. "Waktu selalu dijadikan kambing hitam."
"Namun sering kali memang benar."
Yura kembali bersandar. "Terkadang aku berpikir mungkin aku ditakdirkan untuk mengejar orang yang tidak mengejarku kembali."
Rose terdiam sejenak. "Atau mungkin kau terbiasa berjuang sendirian."
Yura melirik. "Itu sindiran?"
"Itu pengamatan."
Yura tersenyum tipis. "Aku tidak suka kau benar."
Rose terkekeh. "Aku tahu."
Suara pintu kos di lantai bawah terdengar terbuka. Langkah kaki naik turun tangga samar terdengar.
Yura refleks menoleh ke arah pintu.
Rose menyeringai. "Itu dia."
"Tolong jangan," gumam Yura.
"Kak Ren pulang?"
"Mungkin."
Rose menyikutnya pelan. "Jantungmu terdengar."
"Berisik," gerutu Yura.
Beberapa detik kemudian, suara pintu lantai bawah tertutup.
Yura menatap lantai. "Kau tahu apa yang membuatku semakin kesal hari ini?"
"Apa lagi?"
"Aku bertemu atasanku di lift."
Rose tertarik. "Kalian bertengkar lagi?"
"Hampir."
"Serius."
"Dan anehnya," Yura menghela napas, "Aku lebih berani menghadapi dia daripada kak Ren."
Rose terdiam, lalu berkata pelan, "Karena satu orang membuatmu takut kehilangan pekerjaan."
"Dan yang satu?"
"Membuatmu takut kehilangan harapan."
Yura menelan ludah. "Aku membenci kenyataan itu."
Rose tersenyum lembut. "Tetapi itulah dirimu."
Yura tertawa kecil. "Hidupku rumit."
"Begitulah hidup."
Yura berdiri dan mengambil segelas air.
"Terkadang aku ingin hidup sederhana."
"Sederhana menurut versimu?"
"Bangun, bekerja, pulang, dicintai oleh orang yang aku cintai."
Rose tertawa. "Standarmu tinggi."
"Atau dunia yang pelit."
Rose menatap Yura serius. "Kau tahu satu hal?"
"Apa?"
"Kau bukan orang yang kalah."
Yura mengangkat alis. "Kelihatannya aku selalu kalah."
"Namun kau masih berdiri."
Yura terdiam.
Rose menambahkan, "Orang sepertimu biasanya membuat orang lain bingung."
"Bingung karena apa?"
"Karena kau tidak runtuh."
Yura teringat tatapan Alexa di balik kaca. Tatapan dingin itu. Senyum tipis itu.
Yura mengepalkan tangannya. "Aku tidak akan runtuh."
Rose tersenyum. "Itu bagus."
"Bukan demi mereka," lanjut Yura. "Demi diriku sendiri."
Rose mengangguk. "Itulah Yura yang aku kenal."
Yura duduk kembali. "Tetapi soal kak Ren—"
"Pelan-pelan," potong Rose.
"Jika dia tidak pernah melihatku?"
"Maka suatu hari," kata Rose pelan, "Akan ada orang lain yang melihatmu sepenuhnya."
Yura tersenyum lelah. "Semoga."
"Dan jika tidak?"
Yura menatap kipas angin yang berdecit.
"Berarti aku akan berhenti mengejar."
Rose tersenyum. "Suatu hari."
"Suatu hari," ulang Yura.
Yura berdiri lagi, menghela napas panjang sebelum mulai membersihkan meja yang penuh sampah. Gelas bekas kopi, kertas, dan bungkus makanan ringan berserakan di mana-mana. Mereka berdua belum sempat membereskan tempat itu.
Rose duduk di sofa sambil menatap Yura, rambut setengah basah masih tersampir di bahunya. "Eh," celetuknya tiba-tiba, "Gimana kalau kau ikut idenya aku?"
Yura berhenti sejenak, tangan masih memegang gelas bekas. "Ide apa?" tanyanya waspada, namun setengah tersenyum.
Rose mencondongkan tubuh, mata berbinar nakal. Yura seketika saja ingin tertawa geli, ide Rose kali ini benar-benar sudah tidak waras.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺