"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Setelah semalam bergulat, Ryan dan Naina sekarang hanya berbaring melepas penat. Ryan tersenyum melihat wajah Naina yang berantakan penuh peluh.
"Bermain satu kali lagi?" Goda Ryan namun dengan cepat Naina menepisnya.
"Sudah subuh, tak baik jika malah bermalas-malasan, nanti rezekinya di patuk ayam." Naina menghindar dan merapikan pakaiannya, ia berjalan menuju dapur.
Ryan tersenyum, dan mengikuti langkah istrinya. Entah kenapa, bila bersama Naina, Ryan dapat menghilangkan bayangan Maeta meski hanya sesaat. Namun itu mampu untuk mengisi ruang hampa dalam diri Ryan.
Terdengar kejam memang, Ryan seolah memanfaatkan kepolosan Naina demi kesenangannya semata. Namun tak bisa di pungkiri, Ryan lelaki normal, yang akan tergiur dengan wanita cantik seperti Naina.
...****************...
"Permisi, apakah anda kenal dengan pria bernama Ryan Adinata Varatanu?" Tanya Dani pada penduduk desa sesampainya dia di lokasi yang telah Ryan berikan.
Penduduk desa yang hendak pergi berladang itu saling menatap satu sama lain pada kawannya. Seolah berkata, kamu kenal dengan orang yang bernama Ryan? Dan kawan satunya menjawab dengan bahu yang di angkat meski mereka tak bersuara, tapi seolah memberi isyarat.
"Maaf tidak tahu." Penduduk itu langsung pergi meninggalkan Dani.
"Ah,, harusnya aku tanya nama perempuan yang menjadi istri Ryan, siapa nama gadis itu ya? Nai, Nai, siapa?" Dani terlihat frustasi.
Dani berjalan lagi berharap menemukan petunjuk. Ia kembali bertanya pada penduduk sekitar, dan untunglah ada yang mengenali Ryan.
"Oh, suaminya Naina. Rumahnya di ujung sana. Dari gang ini lurus terus, nanti ada gapura, lurus terus, kurang lebih 50 meteran nanti belok kiri, lurus terus nanti ada jalan setapak, ikuti jalan setapak itu, nanti belok kanan, ketemu pertigaan belok kanan lagi, nah gak jauh dari situ rumahnya Naina, ujung gunung, deket sama air terjun." Jelasnya, namun Dani malah semakin bingung.
"Jujur saja Pak, saya malah makin bingung. Antar saya ke sana, tolong." Pinta Dani pada bapak paruh baya yang hendak pergi ke sawah.
"Aduh, saya sibuk harus buru-buru ke sawah."
Dani mengeluarkan uang 3 lembar pecah paling besar, ia berikan pada Bapak paruh baya itu. "Antar aku ke rumah gadis itu, uang ini untuk Bapak."
"Nah, kalo begini boleh lah."
Bapak paruh baya itu menunjukkan jalan untuk menuju rumah Naina. Kurang lebih 15 menitan untuk sampai ke gubuknya Naina. Halaman yang luas dengan di kelilingi palawija, dan sayuran seperti bayam dan kangkung terhampar luas. Rumah yang di maksud orang-orang itu tak layak di sebut rumah, ini seperti kandang ayam di mata Dani.
"Apa Ryan betah tinggal di sini?" Batin Dani ketika melihat gubuk kecil di ujung sana.
"Itu Rumahnya Naina, nah orang yang menyapu halaman itu lah, Naina." Pria paruh baya itu menunjuk pada Naina.
"Baik terimakasih, ini uangnya pak." Dani tak melihat pria tua tadi, ia terpaku melihat gadis cantik yang sedang membersihkan halaman rumahnya.
Dengan perasaan yang aneh, Dani berjalan menghampiri Naina, dengan suara yang terbata-bata, entah karena terpesona oleh kecantikan Naina atau karena merasa aneh. Sebab masih ada orang yang bertahan hidup di tempat seperti ini, seorang diri.
Apakah Ryan di guna-guna sampai tak dapat pulang dan malah menikah dengan gadis cantik ini, atau karena murni kasihan melihat gadis cantik ini? Banyak pertanyaan yang ingin Dani tanyakan tapi entah harus pada siapa ia bertanya demikian.
"Tuan? Anda mencari siapa?" Untuk kesekian kalinya Naina bertanya, namun Dani masih saja melamun.
"Tuan..." Kali ini Naina menepuk lengan Dani, dan menyadarkan orang di depannya.
"Ah,, anu.. saya, mencari teman saya, namanya Ryan." Jawab Dani kikuk.
"Oh, Pak Ryan ada di dalam, masuklah dulu." Naina menuntun Dani untuk masuk ke dalam gubuknya.
"Ah, tidak, saya tunggu di sini saja."
Naina terdiam dan tersenyum, "tidak baik menunggu di luar, masuklah dulu dan berbicara dengan Pak Ryan." Dani mau tak mau akhirnya mengikuti Naina masuk ke dalam gubuknya.
Dani melihat sekitar, meski usang, tapi dalamnya tertata rapih dan bersih. Benar-benar di rawat dengan baik. Lagi-lagi Dani berpikir, apakah betah tinggal di tempat begini? Gila juga ada orang yang betah di sini. Pikirnya.
"Pak, Bapak, ada orang mencari mu." Seru Naina dengan lembut.
Naina masuk ke dalam kamar, dan membangun Ryan. "Ada orang mencari mu." Bisiknya pada suaminya.
"Hmmm... Siapa?" Tanya Ryan dengan suara parau khas orang bangun tidur.
"Entahlah, kayaknya teman Bapak."
Ryan langsung bangun, ia baru saja tertidur sekitar 1 jam setelah mandi dan bantu Naina sedikit. Karena rasa lelah dan mengantuk akhirnya Ryan tertidur, dan Naina tak pernah mempermasalahkan prilaku Ryan itu. Mungkin karena orang kota jadi tak biasa bekerja kasar.
"Dan,,, akhirnya lu datang juga, gue tunggu kamu dari tadi." Ryan datang dengan wajah kusamnya dan rambut yang sedikit acak-acakan.
"Gembel banget sih, Lo."
"Hmmm..." Jawab Ryan enggan. "Mana pesanan gue."
Dani mengeluarkan amplop coklat di balik jasnya. Isinya uang puluhan juta sesuai permintaan Ryan tempo hari. Entah apa yang akan Ryan lakukan dengan uang itu.
"Lo betah di sini?" Bisik Dani takut Naina dengar.
"Menurut Lo?" Ryan balik bertanya membuat Dani kesal.
Ryan sibuk dengan uang di tangannya, sedangkan Dani sibuk melihat gubuk yang tak layak huni. Tak lama kemudian, Naina datang dari balik gorden tua berwana marun, membawa nampan hijau dengan 2 gelas teh manis hangat.
"Diminum selagi hangat." Ucapnya ramah, dan Dani hanya tersenyum kaku.
"Ganti bajumu, kita pergi ke pasar beli emas untukmu." Titah Ryan tak acuh.
Naina terdiam, ia tak percaya dengan apa yang Ryan pegang itu. Apakah itu uang miliknya atau hasil curian. Naina memang tak tahu persis apa pekerjaan Ryan dan bagaimana keluarganya. Tapi Naina tak percaya juga bahwa Ryan terbilang orang sukses dengan uang segepok di tangannya.
Kini mereka telah berada di depan toko perhiasan, Naina memilih cincin nikah untuknya dan Ryan. Namun dengan sombongnya Ryan asal memilih perhiasan, mulai dari anting, kalung, gelang kaki, gelang tangan dan beberapa cincin. Masing-masing dari perhiasan itu Ryan beli 3 buah.
"Totalnya berapa?" Tanya Ryan, "di sini terima debit gak?" Sambungnya.
"Tentu terima, Pak."
"Oke, jadi semuanya berapa?"
Naina menggenggam tangan Ryan ragu, "ini semua mahal, Pak. Aku cukup beli cincin ini saja."
"Gak apa-apa, ini sudah menjadi hak mu. Anggaplah emas kawin dari aku." Ryan tersenyum dan mengelus rambut Naina.
"Semuanya, 87 juta, 921 ribu rupiah." Seru pegawai toko perhiasan itu.
Ryan menghitung uangnya ada 50 juta dan sisanya menggunakan kartu debit miliknya. Ryan langsung menyematkan cincin nikah itu di jari manis kiri Naina. "Sisanya kamu simpan, dan pakai bila ada yang kamu suka."
"Ini, pakailah juga." Naina menarik tangan Ryan dan menyematkan cincin di jari manis pria jangkung itu.
Setelah berbelanja perhiasan, sore itu Ryan berpamitan pada Naina, dia harus pergi ke kota untuk mengurus pekerjaannya, dan berjanji tiga bulan sekali dia akan datang untuk menjenguk Naina.
Ryan pun membuat janji untuk membawa Naina pindah ke kota dan tinggal bersama orang tuannya.
"Baiklah, hati-hati di jalan, Pak. Aku akan selalu mendoakan mu, semoga selamat sampai tujuan dan sukses dalam pekerjaan." Naina menahan tangisnya agar tak pecah saat perpisahan itu tiba.
"Jangan nangis, tunggu aku ya, aku pasti datang menjemputmu." Ryan mengecup kening Naina.
Saat hendak pergi, langkah Ryan terhenti karena pelukan erat gadis yang telah ia per sunting. Tak kuat menahan tangis Naina pun pecah. Ryan menyuruh Dani untuk menunggunya di persimpangan jalan.
"Naina sayang, aku bukan pergi berperang, aku cuma pergi bekerja, dan pasti akan kembali." Ryan mencoba melepaskan pelukan Naina.
"Janji?" Lirih Naina tersengal tangis.
"Iya, janji."
Ryan mengecup bibir Naina sekilas dan mengusap air matanya. Naina menatap sayu kepergian Ryan. Entah kenapa hatinya berkata bahwa Ryan tak akan pernah kembali ke sisinya. Hatinya berbisik bahwa ini adalah pertemuan terakhir mereka, kecupan terakhir, dan pelukan terakhir mereka berdua. Semua berakhir di senja yang cerah namun tak secerah hati Naina saat ini.