NovelToon NovelToon
Gravitasi Terbalik

Gravitasi Terbalik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Aarav Rafandra01

Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perisai yang tak terlihat

Malam itu Faisal sedang merokok di warung tempat biasa dia dan teman temannya berkumpul untuk sekedar nongkrong. Yadi datang terburu buru.

"Sal, lu harus tau ini. Angkasa..." Bisik Yadi.

"kenapa tuh anak? Nyari masalah?"

"Masalah buat masa depan lu, Gue denger Angkasa lagi ngincer si Aruna."

Faisal membuang rokoknya, dingin.

" Kalo bisa! "

Yadi memukul punggung Faisal.

" Sal, bukannya gitu. Lu jangan nganggap ini lelucon. Lu tau sendiri kan kalo dia cuman pengen ngabisin rasa penasaran nya aja, udah banyak cewe yang dia gituin, lu mau Aruna jadi korban selanjutnya?"

Faisal merasakan sesuatu di dadanya mengeras, bukan ketakutan melainkan amarah. Angkasa tidak dia anggap sebagai musuhnya, tetapi Faisal benci dengan sifatnya yang suka seenaknya sendiri. Dan sekarang, Angkasa adalah kuman yang berusaha mengotori satu satunya hal bersih yang Faisal temukan.

Keesokan harinya, saat bel pulang berbunyi. Jantung Faisal berdetak sangat cepat, berirama dengan detak sepatu siswa yang terburu buru. Tak lama kemudian Aruna muncul. Dia berjalan bersama kedua temannya. Terlihat sangat lelah, tapi tas ranselnya masih tersemat rapih.

Angkasa dan beberapa temannya mengikuti Aruna, mereka mengganggu Aruna dan kedua temannya. Angkasa tertawa keras, jelas terlihat dari kejauhan, dia sedang mengintimidasi. Aruna meneruskan langkahnya semakin cepat, ia tidak panik hanya sepertinya merasa terganggu dan malas meladeni. Hingga tiba pada persimpangan jalan, Hani dan kedua temannya berjalan lurus sedangkan Angkasa dan rombongan nya berbelok ke arah kafe samping fotocopy tempat biasa mereka berkumpul. Begitu melihat ada kesempatan, Faisal pun berlari mendekati mereka.

" WOY PECUNDANG! " Faisal berteriak.

Angkasa berbalik, senyumnya seketika menghilang. Ekspresi terkejut dan kesal terlihat jelas diwajahnya yang kini memerah.

" Wah..... Liat siapa yang datang, Si biang kerok sekolah..." Ejek Angkasa diikuti dengan suara tertawa teman temannya.

" Ngapain lu kesini? Ada urusan apa lu sama gue? Ohhh.... Karena cewe barusan? Lo suka sama Ar...."

" Bukan urusan Lu, gua disini karena ga suka liat lu seenaknya, lu sendiri yang sering bilang ke anak anak disekolah, hidup mesti taat aturan, sekarang gue cuman mau ngasih tau lu, pake cara dan aturan di hidup gue. "

" Apa? Ga salah lu bilang gini ke gue? Lu tuh cuman segelintir siswa yang kebetulan ditakutin sama satu sekolah, tapi ga termasuk gue sama temen temen gue, kalo lu gasuka, sini lu hadepin gue." Angkasa meludah ketanah, menantang.

Faisal tak menjawab, ia hanya melihat sekilas pada Aruna yang kini sudah berjalan jauh hampir tak terlihat.

" JAWAB ANJ***, APA LU TAKUT SEKARANG? " Angkasa dan teman temannya tertawa keras mengejek Faisal yang sedang berdiri mematung.

Samar dikejauhan terdengar ada yang berteriak memanggil namanya.

"Sal kalo mau seneng seneng ajak gue lah, kebetulan udah lama nih ga party." Ucap Yadi sambil memegang pundak Faisal dengan nafas yang terengah engah.

" Udah lu gausah ikut campur, gue sendiri juga udah cukup buat ladenin mereka. "

"WOY JAWAB BEGO" Teriak Angkasa.

Faisal maju selangkah membuat jarak diantara mereka semakin dekat.

" Disini, gue cuman mau nyelesain masalah, Dan masalahnya adalah Lu! "

Faisal sadar dia bukan teman dekat Aruna atau bahkan pacar, tetapi Faisal tak mau ada seseorang yang dengan leluasa mengganggunya.

" Sekali lagi gue liat lu gangguin Aruna, gue ga peduli, gue bakal abisin lu, gue siap nanggung resiko nya, lu tau sejarah gue dulu kan?" Bisik Faisal sambil menepuk nepuk pundak Angkasa, sedikit mencengkram.

Angkasa bergetar ketakutan, teman temannya hanya bisa diam. Karena mereka tau sejarah Faisal yang kelam, sudah banyak yang jadi korban kebrutalannya.

Tatapan Faisal dingin, tapi intens. Ditambah reputasinya yang sudah teruji dalam perkelahian jalanan, membuat Angkasa dan rombongannya gemetar. Harga diri Angkasa memang besar, tapi instingnya mengatakan bahwa melawan Faisal hanya gara gara cewe adalah ide yang buruk.

" Oke oke , lu tenang dulu bro, santai..." Angkasa mengangkat tangan, mundur perlahan. " Buat saat ini gua ngalah, tapi next time lu bakal tau siapa gue."

Angkasa dan rombongannya pergi meninggalkan Faisal.

Faisal menghela nafas lega, melihat ke belakang ke arah sahabatnya berdiri.

"Apa gue bilang, gue sendiri juga udah cukup, lu gaperlu repot repot bantuin gue."

" Iya dah, Semua orang juga tau sama masalalu lu Sal, mungkin mereka takut jadi korban berikutnya." Yadi tersenyum.

" Tapi makasih ya bro, lu emang selalu ada saat gue lagi dalam bahaya. Lu emang sahabat terbaik gue." Ucap Faisal sambil merangkul sahabatnya, Yadi.

Faisal berkata dalam hati. " Coba Lu tau Na, senekat apa gue buat lindungin lu, jangankan satu Angkasa, 10 Angkasa pun bakal gue lawan kalo dia bikin lu ngerasa ga nyaman, semoga lu selalu dikelilingi sama orang orang baik ya, Na. Gue janji bakal selalu ada dibelakang Lu, walau tanpa sepengetahuan Lu."

" Yah malah bengong nih bocah, kenapa lu, Sal?".

" Gue sayang...."

" Wah sakit nih orang. Gini gini gue masih normal,Sal." ucap Yadi sambil mendorong sahabatnya menjauh.

" Apaan sih lu ah, ganggu aja." Balas Faisal menahan malu.

" Lah lu bilang lu sayang sama gue barusan. Beneran sakit nih orang."

" Lu emang ga sayang sama gue? " Ucap Faisal nadanya serius.

Yadi merasa geli dengan perkataan Faisal.

" Nih, gua hajar juga Lu, Sal." Ucap Yadi sambil mengangkat kepalan tangannya ke wajah Faisal.

Mereka berdua saling bertatapan lalu tertawa keras.

" Gue mau ke warung, lu mau ikut? "

" Ga... Ga gue lagi pengen sendiri. Lu aja!" Balas Faisal.

" Yaudah gue duluan, Lu hati hati dijalan, kalo ada apa apa, kabarin gue." Ucap Yadi.

Faisal hanya mengangguk.

Hari demi hari berlalu.

Pagi itu, udara disekolah terasa sangat dingin. Seolah ikut merasakan gigil di hati Faisal.

Faisal sedang asik mencoret coret meja, membuat grafiti Aruna dengan pulpennya. Bagi Faisal, Aruna adalah definisi dari gunung es yang berjalan. Siswi kelas X yang dingin, fokus, dan nyaris tanpa ekspresi. Dunianya hanya berputar pada garis, sudut, dan kesempurnaan.

Hingga tak terasa bel istirahat pun berbunyi. Keramaian digerbang antar kelas yang disebabkan oleh siswa siswi yang berhamburan ingin segera ke kantin. Termasuk Faisal dan Yadi.

" Di, ke belakang yu, sebat. ngantuk nih gue! " ajak Faisal, menguap.

Yadi mengangguk setuju.

Langkah Faisal tiba tiba terhenti, matanya menangkap sosok yang sangat ia ingin lindungi, Aruna. Ia berjalan lurus, langkahnya teratur dan sedikit terburu buru, seolah sedang dikejar waktu. Wajahnya datar, seolah memberitahu, " Jangan ganggu aku ".

" Kejar bego! " Celetuk Yadi.

Faisal mengangguk dan berlari kecil mengikuti Aruna dengan langkah yang begitu hati hati.

" ARUNA, TUNGGU! " Teriak Faisal.

Aruna berbalik.

" Iya, ada apa ka? "

Faisal terdiam selama beberapa detik, mencoba mengatur nafas.

" Kamu mau kemana? "

" Ke perpus ka, kenapa emangnya? "

" Yaudah yu, aku temenin." Ajak Faisal.

" Ehh Gapapa ka, Aruna sendiri aja, udah biasa ko. Aruna duluan ya ka. " ucap Aruna sambil kembali berjalan cepat, seolah takut dengan Faisal.

Yadi tertawa dari kejauhan, mengejek sahabatnya.

" Yhahahaa, ditolak lagi." ucapnya sambil bergegas menuju Faisal.

" Dia orang apa es batu sih? Dingin banget jadi cewe, tapi gue ngerasa ada yang spesial di dia, yang ga ada di cewe lain." Faisal bingung.

Yadi merangkul sahabatnya.

" Sal, menurut gue, lu berhak dapetin dia, cuman lu perlu ubah cara lu, lu terlalu kaku bro kalo Deket dia, dia tuh cewe baik wajar aja kalo dingin, kan dia cuman tau nama lu belum tau aslinya lu itu kaya gimana?

Faisal mengarahkan pandangannya ke Yadi.

" Jadi, menurut lu gue juga orang baik? Sama kaya dia? " tanya Faisal.

" Ga juga" Yadi tertawa.

" Sialan Lu," Faisal pergi menuju belakang sekolah dengan perasaan kesal.

" Sal, tunggu. Yaelah baperan amat jadi cowo."

Yadi bergegas mengikuti Faisal.

Mereka berdua pun menghabiskan waktu istirahat dengan menikmati sebatang roko di belakang sekolah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!