Di Pesantren Al-Ihsaniyyah, cinta, ilmu, dan takdir keluarga Ihsani bersatu. Warisan Abah Muzzamil diuji, pilihan Inayah mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Sarung dan Kopi: Hukuman, Rahasia, dan Jalan Pulang di Pesantren
Setelah Gus Rama menarik tangan Hana agar mau ke ndalem, Hana hanya pasrah mengikuti kakaknya itu. Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan antara keduanya. Hana hanya menunduk dan berusaha menyembunyikan wajahnya dari para santri yang berpapasan dengan mereka. Gus Rama, di sisi lain, tampak sangat serius dan marah.
(Sesampainya di ndalem, Gus Rama langsung membawa Hana ke hadapan Abi dan Uti.)
- Gus Rama (dengan nada marah): "Abi, Uti, ini Hana, lho kok malah ketahuan sering minum kopi dan nggak makan siang! Padahal Abi sama Uti kan sudah wanti-wanti buat jaga kesehatan!"
- Abi (dengan nada terkejut): "Hana, beneran kamu sering minum kopi dan nggak makan siang?"
- Ning Hana (menunduk): "Inggih, Abi."
- Uti (dengan nada khawatir): "Ya Allah, Hana. Kenapa kamu nggak bilang sama Uti? Kan Uti bisa masakin makanan yang enak-enak buat kamu."
- Ning Hana (dengan nada pelan): "Nggak papa, Uti. Hana cuma lagi pengen aja."
- Abi: "Pengen gimana, Hana? Minum kopi itu nggak baik buat kesehatan. Apalagi kamu masih sekolah dan harus fokus belajar."
- Gus Rama: "Udah gitu, tadi di sekolah juga telat lagi. Nggak disiplin banget!"
- Ning Hana (dengan nada membela diri): "Hana kan udah minta maaf, Gus. Lagian cuma telat 25 menit aja."
- Gus Rama: "25 menit itu tetep aja telat! Di kelas saya, nggak ada toleransi buat orang yang nggak disiplin."
- Uti (dengan nada menenangkan): "Udah, Rama, jangan marah-marah gitu. Hana kan udah minta maaf. Sekarang mending kita cari tau dulu kenapa Hana bisa sampai kayak gini."
Uti kemudian mendekat ke Hana dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.)
- Uti (dengan nada lembut): "Hana, cerita sama Uti. Ada apa sebenernya? Kenapa kamu sering minum kopi dan nggak makan siang?"
- Ning Hana (dengan nada terisak): "Hana... Hana cuma lagi stress aja, Uti. Banyak tugas sekolah yang harus dikerjain, terus juga harus ngurusin asrama. Hana jadi nggak punya waktu buat istirahat."
- Abi (dengan nada prihatin): "Ya Allah, Hana. Kenapa kamu nggak cerita sama Abi? Kan Abi bisa bantu kamu."
- Ning Hana: "Hana nggak mau ngerepotin Abi."
- Gus Rama: "Makanya, lain kali jangan dipendem sendiri. Kalau ada masalah, cerita sama keluarga. Kita semua di sini sayang sama kamu dan pengen bantu kamu."
- Uti: "Iya, Nak. Uti nggak mau kamu sakit. Mulai sekarang, Uti akan masakin makanan yang enak-enak buat kamu setiap hari. Kamu harus janji sama Uti, kamu nggak akan minum kopi lagi dan harus makan teratur."
- Ning Hana (dengan nada menyesal): "Inggih, Uti. Hana janji."
(Gus Haikal kemudian memeluk Hana dan mencium keningnya.)
- Abi (dengan nada sayang): "Udah ya, Nak. Jangan sedih lagi. Abi sayang banget sama kamu. Kamu harus jaga kesehatan dan fokus sama belajar. Kalau ada apa-apa, cerita sama Abi. Jangan dipendem sendiri."
- Ning Hana (mengangguk): "Inggih, Abi."
(Setelah itu, Gus Haikal dan Uti menyuruh Hana untuk istirahat di kamarnya. Gus Rama juga meminta maaf kepada Hana karena sudah marah-marah padanya. Hana memaafkan Gus Rama dan berjanji akan lebih disiplin lagi.)
Malam harinya setelah Abah Yai mengajar Diniyah di kelas Hana, Abah pulang ke ndalem. Semua berkumpul di ndalem, kecuali Hana yang dari tadi sore istirahat di kamar dan belum makan malam.
- Abah Yai (dengan nada bertanya): "Haikal, Rama, Wildan, pada tahu Hana di mana?"
- Nyai (Uti) (menjawab): "Ada di kamar, Abah. Dari sore belum keluar."
(Abah Yai mengetuk pintu kamar Hana berkali-kali, namun tidak ada jawaban.)
- Abah Yai (mengetuk pintu): "Hana, Hana, ini Akung. Buka pintunya, Nak."
(Karena tidak ada jawaban, Abah Yai kembali turun ke lantai 1 dan bertanya kenapa pintu kamar Hana ditutup.)
- Abah Yai (dengan nada bingung): "Kenapa pintu kamarnya Hana ditutup? Dikunci dari dalam?"
(Mereka semua menuju ke lantai 2 untuk mengecek. Ternyata benar, pintunya dikunci dari dalam dan kuncinya tidak diambil.)
Hingga 2 jam lebih 5 menit lamanya, akhirnya Gus Rama dan Gus Wildan mendobrak. Setelah 3 kali dobrakan tidak bisa dibuka, 2 kali dobrakan kemudian baru bisa kebuka. Saat sudah terbuka, terlihat Ning Hana sedang tidur.
- Gus Rama (berusaha membangunkan Hana): "Hana, bangun, Dek. Sudah malam, ayo makan dulu."
(Saat dibangunkan, Gus Rama tidak sengaja menyentuh tangan Hana yang sangat panas.)
- Gus Rama (dengan nada khawatir): "Wildan, Abi, Akung, Uti, badannya Hana panas banget!"
(Abah Yai segera turun ke bawah. Saat akan ke ruang tamu, Abah Yai bertemu 2 Mbak Ndalem.)
- Abah Yai (kepada Mbak Ndalem): "Mbak, tolong ambilkan kompresan sama alat pengukur suhu, ya. Bawa ke kamar Hana."
- Mbak Ndalem 1: "Baik, Abah."
- Mbak Ndalem 2: "Segera kami siapkan, Abah."
(Setelah itu, Uti mengompres Hana.)
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Gus Wildan terbangun lalu mengecek keadaan adiknya. Ternyata, semakin malam demamnya semakin naik hingga sekarang 46°. Adiknya terus mengigau berulang kali memanggil nama Ummahnya (ibunya yang sudah meninggal/istri Abinya).
- Gus Wildan (dengan nada panik): "Ya Allah, Hana panas banget! Demamnya makin naik!"
(Wildan langsung ke kamar sebelah, kamar sang kakak Rama, juga ke kamar Abinya.)
- Gus Wildan (membangunkan Gus Rama): "Gus, bangun Gus! Hana demam tinggi banget!"
- Gus Wildan (membangunkan Abi Haikal): "Abi, bangun Abi! Hana demam tinggi banget dan ngigau terus!"
(Mereka bertiga kembali ke kamar Hana. Hana terus mengigau dan menangis memanggil nama Ummahnya.)
- Ning Hana (mengigau): "Ummah... Ummah... Hana kangen Ummah..."
(Mereka berjaga dan menunggu hingga subuh tiba.)
Setelah itu, Uti, ibu dari Abi, bangun. Uti diajak Abi ke kamar Hana melihat kondisi Hana. Uti kaget karena demamnya Hana makin naik dan terus memanggil nama menantunya yang sudah tiada (Ummahnya Hana). Lalu ia perlahan mengelus kepala Hana.
- Nyai (Uti) (mengelus kepala Hana): "Nduk, sabar nggeh (Nak, sabar ya). Uti ngerti sampean kangen Ummah (Uti mengerti kamu kangen Ummah). Ya Allah, sampe kayak ngene (sampai seperti ini). Ummah sampun tenang nduk ten surga e Gusti Allah (Ummah sudah tenang, Nak, di surganya Gusti Allah)."
(Lalu Uti berkata kepada anaknya, Gus Haikal.)
- Nyai (Uti) (kepada Gus Haikal): "Mesakne Haikal, piye yo enak e nek nang dokter nunggu jam 7/8 (Kasihan Haikal, enaknya gimana ya, kalau ke dokter nunggu jam 7/8)?"
- Gus Haikal (menjawab): "Nggak papa Umi (Tidak apa apa umi)"
Pukul 8 mereka berangkat periksakan Ning Hana. Sampai di rumah sakit, Ning Hana kena tifus dan trombositnya rendah sehingga harus dirawat.
- (Di rumah sakit, dokter sedang memeriksa Ning Hana.)
- Dokter: "Ning Hana terkena tifus dan trombositnya rendah. Sebaiknya dirawat di sini ya."
- Gus Haikal (dengan nada khawatir): "Baik, Dok. Apa yang harus kami lakukan?"
Gus Wildan yang menjaga Hana, Gus Rama yang mengizinkan dari kegiatan pondok juga kegiatan sekolah, Abi Haikal yang mengurus administrasi dan ambil perlengkapan selama di rumah sakit, Uti dan Akung mengurus pondok dan riwa-riwi menjenguk cucu mereka apalagi Uti karena Hana kangen dengan sang Ummahnya dan Hana rewel yang dibutuhkan sekarang adalah Utinya dan cuma Utinya yang bisa menenangkan Hana.