"Saat langit robek dan dunia menjadi neraka, uang tak lagi berkuasa. Hanya satu angka yang berharga, yaitu.. Peringkatmu."
—
Hari itu dimulai dengan hawa panas yang luar biasa. Bumi Aksara, seorang pemuda 20 tahun yang bekerja sebagai kasir minimarket, hanya memikirkan bagaimana cara bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.
Namun, dunia punya rencana lain. Sebuah retakan hitam membelah langit, membawa ribuan monster haus darah ke permukaan bumi.
Seketika, sebuah layar sistem muncul di depan mata setiap manusia. Dunia berubah menjadi permainan maut yang kejam. Manusia diklasifikasikan ke dalam 5 Tingkatan, dan Bumi mendapati dirinya berada di kasta terendah: Tingkat 5, Posisi 5 (Neophyte).
Dengan insting tajam yang diasah oleh kerasnya hidup di jalanan, ia mulai mendaki tangga kekuatan.
Dari seorang kasir yang dihina, Bumi berubah menjadi predator yang ditakuti. Ia akan melintasi medan perang yang kejam, demi mencapai satu tujuan mutlak... Menjadi Nomor Satu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Pengkhianat Muncul
Kemenangan di Sektor 7 meninggalkan aroma belerang dan kemenangan yang memabukkan. Di dalam benteng transmutasi yang baru dibangun Bumi dari reruntuhan katedral, suasana terasa ganjil. Ribuan orang yang kini telah naik peringkat menjadi Adept sibuk mengasah kemampuan baru mereka, namun Bumi Aksara tetap berada di puncak menara pantau, menatap cakrawala Zona 1 yang berkilau di kejauhan.
Tubuh Bumi berdenyut. Peringkat Veteran – Posisi 1 bukan sekadar angka; itu adalah beban gravitasi yang konstan. Setiap tarikan napas, ia bisa merasakan kode-kode sistem di sekitarnya bergetar. Di sampingnya, berdiri seorang pria bernama Arka.
Arka adalah sosok baru yang bergabung saat penyerbuan Zona Merah. Mantan teknisi tingkat menengah Iron Cage yang membelot. Selama tiga hari terakhir, Arka menjadi tangan kanan Bumi dalam memetakan sirkuit energi District Core yang tersisa. Dengan pengetahuannya tentang arsitektur sistem, ia membantu Kael mempercepat peretasan jalur komunikasi musuh.
"Kau terlihat lelah, Bumi," ucap Arka sambil menyodorkan botol stimulan energi. "Peringkat setinggi itu butuh asupan data stabil agar sel-selmu tidak saling memakan."
Bumi menoleh, menatap Arka dengan mata ungu-merahnya yang tajam. "Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan koordinat Sektor 4? Apakah perisai energinya sudah bisa kita tembus lewat jalur belakang?"
Arka mengangguk mantap. "Semua sudah siap. Jika kita bergerak malam ini, kita bisa menghancurkan Inti kedua sebelum matahari terbit. Pasukanmu sudah siap. Mereka memujamu seperti dewa, Bumi."
Bumi terdiam. Ia tidak ingin menjadi dewa. Ia hanya ingin mengakhiri penjara ini. Tanpa curiga, ia mengambil botol itu dan meminum isinya.
Namun, hanya dalam hitungan detik, Bumi merasakan sesuatu yang salah. Jantungnya, yang selama ini berdetak harmonis dengan parasit core, berdetak liar. Aliran energinya tersumbat. Penglihatannya mendadak tertutup gangguan statis digital yang menyakitkan.
"Arka... apa... yang kau masukkan ke dalam ini?" Bumi terhuyung, berpegangan pada pagar baja transmutasi.
Wajah Arka yang tadinya ramah perlahan berubah. Ia melangkah mundur, mengeluarkan sebuah perangkat kecil berbentuk cakram perak yang memancarkan sinyal frekuensi tinggi.
"Itu adalah Neural Inhibitor dosis tinggi, Bumi," suara Arka kini dingin tanpa emosi. "Dirancang khusus oleh departemen R&D Iron Cage untuk melumpuhkan subjek dengan sinkronisasi parasit di atas 90%. Kau terlalu kuat, kawan. Terlalu berbahaya bagi tatanan dunia."
Bumi mencoba mengaktifkan transmutasi untuk menghancurkan perangkat itu, namun tangannya kaku. Tangannya mulai kembali ke bentuk manusia, sisik-sisik hitamnya memudar seiring merosotnya suplai energi di dalam tubuhnya.
"Kenapa?" bisik Bumi, jatuh berlutut. Darah hitam keluar dari hidungnya.
"Kenapa?" Arka tertawa kecil, suaranya penuh kepahitan. "Kau bicara tentang kebebasan, Bumi. Tapi kebebasan di bawah tanah ini hanyalah tumpukan debu dan kelaparan. Isabella menghubungiku lewat jalur terenkripsi tadi malam. Dia menawarkan posisi sebagai Chief Architect di Zona 1. Aku akan punya rumah asli, makanan asli, dan perlindungan abadi dari sistem. Sedangkan di sini? Aku hanya asisten dari seorang monster yang cepat atau lambat akan kehilangan akal sehatnya."
"Kau... mengkhianati ribuan orang... demi kenyamananmu sendiri?" Bumi mencoba bangkit, namun setiap inci tubuhnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum listrik.
"Orang-orang ini?" Arka menunjuk ke arah kerumunan di bawah. "Mereka hanya domba yang butuh penggembala baru. Setelah kau tiada, mereka akan kembali patuh pada Iron Cage karena mereka takut pada kematian. Pahlawan itu fana, Bumi. Tapi sistem adalah abadi."
Arka menekan tombol pada perangkatnya. Tiba-tiba, dari arah langit, puluhan kapsul pendaratan elite meluncur tepat di tengah benteng. Pintu kapsul terbuka, melepaskan pasukan Black Guard—unit pembunuh paling rahasia Iron Cage yang semuanya berperingkat Veteran.
"Bumi!" Genta dan Sarah muncul dari tangga menara, namun langsung dihadang oleh pasukan Black Guard.
"Arka! Apa yang kau lakukan, sialan!" raung Genta. Ia mencoba menyerang, namun seorang prajurit Black Guard dengan kapak laser menghantamnya hingga terpental menembus dinding beton.
"Genta!" Sarah berteriak, mencoba merapal mantra penyembuhan, namun seorang penembak jitu menembakkan peluru penekan energi ke arahnya.
Bumi menyaksikan teman-temannya dikalahkan, sementara ia hanya terbarak tak berdaya. Arka berjalan mendekat, menatap Bumi dengan pandangan meremehkan.
"Isabella ingin kau hidup, untuk dipelajari. Tapi menurutku, kau terlalu berisiko untuk tetap bernapas," Arka mengangkat sebuah belati plasma-edge yang mampu memotong molekul. "Aku akan mengatakan padanya bahwa kau melawan, jadi aku terpaksa menghabisimu."
Saat Arka mengayunkan belati ke arah leher Bumi, sesuatu terjadi di dalam kesadarannya. Parasit di jantungnya, yang selama ini ia tekan agar tetap menjadi 'manusia', mendadak mengamuk. Bukan karena keinginan bertahan hidup, melainkan karena rasa dikhianati yang teramat dalam.
KREEEKK!
Lantai balkon di bawah kaki Arka mendadak meliuk. Belati itu berhenti beberapa milimeter dari kulit Bumi.
"Kau salah tentang satu hal, Arka," suara Bumi terdengar bukan lagi dari mulutnya, melainkan beresonansi dari seluruh udara di sekitar mereka.
Mata Bumi yang tadinya tertutup gangguan statis, kini terbuka lebar dengan cahaya merah darah murni. Inhibitor di lehernya retak dan meledak menjadi serpihan kecil.
"Aku bukan lagi monster yang kau takuti. Aku adalah konsekuensi dari keserakahanmu."
Bumi mencengkeram pergelangan tangan Arka. Dalam sekejap, kulit Arka mulai membeku—bukan oleh es, melainkan oleh proses transmutasi yang mengubah daging menjadi batu karang yang dingin.
"T-TIDAK! BUMI! AMPUN!" Arka menjerit, namun suaranya terputus saat Bumi menghempaskannya ke dinding menara.
Bumi berdiri tegak. Meski racun stimulan masih ada di sistemnya, amarahnya telah membakar habis batasan tersebut. Ia melompat dari menara, mendarat di tengah-tengah pasukan Black Guard yang sedang mendominasi pasukannya.
[Skill Unlocked: Harbinger’s Domain]
Dalam radius seratus meter, gravitasi mendadak menjadi sepuluh kali lipat. Para prajurit elite itu tersungkur, zirah berat mereka meremukkan tulang mereka sendiri di bawah tekanan aura Bumi. Bumi berjalan di antara mereka, setiap langkahnya menghancurkan beton di bawahnya.
Dengan satu gerakan tangan, Bumi mengubah senjata-senjata laser musuh menjadi cair, lalu membentuknya kembali menjadi ribuan duri yang menusuk balik ke arah pemiliknya. Dalam hitungan detik, pasukan pembunuh paling ditakuti itu musnah tanpa sisa.
Bumi mendekati Genta yang terluka parah. Ia meletakkan tangannya di dada Genta, melakukan transmutasi pada tingkat seluler untuk menutup luka dan menyambung tulang.
"Maafkan aku, Genta. Aku terlalu percaya pada orang yang salah," ucap Bumi pelan.
Sarah mendekat, wajahnya pucat. "Bumi... Arka sudah kabur lewat portal darurat. Dia membawa chip data frekuensi Inti kita. Dia menuju Zona 1."
Bumi menatap ke arah gerbang raksasa Zona 1 di ufuk barat. Keberadaan Arka sebagai pengkhianat bukan hanya luka pribadi, melainkan juga ancaman strategis. Sekarang, Iron Cage tahu persis cara melawan transmutasi Bumi.
"Dia pikir dia akan mendapatkan surga," Bumi mengambil gada perangnya yang tertancap di tanah. "Tapi dia hanya membawa neraka bersamanya."
Bumi berbalik menghadap sisa-sisa pasukannya yang masih gemetar. "Kalian lihat apa yang terjadi? Mereka tidak akan pernah menerima kita sebagai manusia. Mereka hanya melihat kita sebagai data yang bisa dibeli atau dihapus!"
"APA YANG KITA LAKUKAN SEKARANG, BUMI?" teriak salah seorang pejuang.
Bumi mengangkat gadanya tinggi-tinggi ke arah langit. "Kita tidak akan menunggu Sektor 4. Kita tidak akan menunggu rencana Kael. Malam ini, kita hancurkan tembok mereka. Kita serbu Zona 1!"
Suara gemuruh dari ribuan orang membalas ucapannya. Namun, di tengah sorak-sorai itu, Kael mendekati Bumi dengan wajah sangat cemas.
"Bumi, ada masalah. Saat Arka pergi, dia mengaktifkan protokol 'Fail-Safe'. Seluruh Inti di distrik lain sekarang sedang dipacu menuju meltdown. Kita tidak punya waktu untuk menyerbu satu per satu. Jika kita tidak mencapai pusat kendali dalam dua jam, seluruh kota ini akan meledak!"
Bumi menatap tangannya yang mulai kembali menghitam, lebih pekat dari sebelumnya. "Dua jam... itu lebih dari cukup untuk meruntuhkan sebuah kerajaan."
Akankah Bumi berhasil mencapai Zona 1 tepat waktu sebelum 'meltdown' menghancurkan segalanya? Dan mampukah ia menghadapi Arka yang kini dilindungi oleh pertahanan tertinggi Iron Cage?
***