Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Sang Ular
Kamar penginapan itu sempit, lembap, dan berbau jamur. Ini adalah tempat persembunyian Varian yang murah. Uang hasil bayarannya ia simpan untuk membeli peralatan dan informasi, bukan untuk kenyamanan. Baginya, kenyamanan membuat seseorang menjadi lunak.
Varian sedang duduk di tepi tempat tidur kayu yang keras. Di tangannya, ia memegang sebuah apel merah, mengupas kulitnya dengan belati yang sama yang ia gunakan untuk menggorok leher Baron Gremory kemarin.
Sreeet. Sreeet.
Tiba-tiba, tangannya berhenti.
Suara jangkrik di luar jendela berhenti mendadak. Angin malam yang biasanya berhembus masuk melalui celah jendela juga mati.
Keheningan ini tidak wajar.
Varian tidak menoleh, tidak bergerak, tapi otot-otot di balik baju zirah Night Shade-nya menegang. Insting binatang buas yang ia asah selama bertahun-tahun di Hutan Blackwood berteriak: Ada pemangsa lain di sini.
"Jendelanya tidak terkunci," ucap Varian datar, masih menatap kulit apel yang menjuntai. "Masuklah sebelum aku melempar pisau ini ke tenggorokanmu."
Bayangan di sudut kamar yang paling gelap bergerak. Itu bukan bayangan biasa. Bayangan itu memadat, membentuk siluet manusia. Seseorang yang menggunakan teknik penyembunyian tingkat tinggi, hampir setara dengan Shadow Step miliknya.
Seorang wanita melangkah keluar dari kegelapan. Tubuhnya ramping namun berotot, dibalut pakaian ketat serba hitam yang memudahkannya bergerak. Separuh wajahnya tertutup topeng kain hitam, hanya menyisakan sepasang mata tajam yang dilingkari celak hitam. Di dada kirinya, tersemat lencana perak kecil berbentuk bunga teratai hitam.
"Tajam sekali untuk ukuran anak kecil," suara wanita itu tenang, namun mengandung aura membunuh yang kental dan menggoda. "Tidak heran kau bisa menghabisi lima puluh penjaga Baron Gremory tanpa memicu satu pun alarm. Kau membuat pekerjaan kami terlihat amatir."
Varian akhirnya menoleh. Mata ungunya menatap wanita itu tanpa rasa takut, hanya kalkulasi dingin.
"Siapa kau?"
"Namaku Viper," jawab wanita itu, melangkah mendekat dengan langkah seringan kucing. "Aku datang mewakili The Black Lotus."
Varian menyipitkan mata. Dia pernah mendengar nama itu di bisik-bisik tavern. Organisasi pembunuh legendaris. Konon, jaringannya tersebar di seluruh benua. Jika Black Lotus menginginkan seseorang mati, bahkan Raja pun tidak bisa tidur nyenyak di dalam bentengnya.
"Apa mau kalian?" tanya Varian. Dia tidak terkesan dengan nama besar. Dia hanya peduli pada niat mereka.
Viper merogoh saku sabuknya dan melemparkan sebuah koin emas hitam ke arah Varian. Varian menangkapnya dengan dua jari tanpa melihat. Di koin itu terukir lambang teratai mekar.
"Kami mengawasi kerjamu, Void. Bersih. Efisien. Dan yang paling penting... kejam. Kau membunuh anak-anak Baron itu tanpa keraguan sedikitpun. Kami suka itu," kata Viper, kini berdiri hanya dua meter dari Varian. "Organisasi kami tertarik merekrutmu. Kau punya bakat alami."
"Aku bekerja sendiri," potong Varian dingin. Dia melempar balik koin itu ke Viper. "Aku tidak butuh majikan. Aku tidak butuh anjing penjaga."
Swush!
Dalam sekejap mata, bahkan sebelum koin itu sampai ke tangan Viper, wanita itu menghilang.
Detik berikutnya, Varian merasakan dinginnya logam di lehernya.
Viper sudah berada di belakangnya, menekan bilah karambit melengkung ke arteri leher Varian. Kecepatannya... itu di atas rata-rata pembunuh yang pernah Varian temui.
"Ini bukan tawaran, Bocah," bisik Viper di telinga Varian. Napasnya hangat, tapi kata-katanya sedingin es. "Di bisnis ini, bakat liar sepertimu adalah ancaman. Kau bergabung, kami melatihmu, memberimu akses ke jaringan informasi, senjata, dan target bernilai tinggi yang tidak bisa kau jangkau sendirian. Atau..."
Viper menekan bilahnya sedikit, menggores kulit leher Varian. Darah segar menetes, membasahi kerah baju zirahnya.
"...Kau menolak, dan aku akan memotong kepala cantikmu sekarang juga untuk memastikan tidak ada saingan di masa depan."
Varian tidak bergeming. Dia tidak gemetar.
Otaknya berputar cepat, menghitung peluang secara pragmatis.
Lawan ini kuat. Setidaknya satu tingkat di atasku dalam kecepatan murni dan pengalaman. Melawan sekarang berisiko 70% kematian. Tapi jika bergabung...
Varian melihat potensi. Informasi. Koneksi. Perlindungan dari Inkuisisi Gereja yang pasti akan mulai mengendusnya cepat atau lambat. Dan yang terpenting: target yang lebih kuat untuk melatih kekuatannya.
Manfaatkan mereka, pikir Varian. Gunakan mereka sebagai batu loncatan.
Sudut bibir Varian terangkat sedikit. Senyum yang mengerikan karena tidak mengandung kehangatan.
"Lepaskan pisaumu," kata Varian tenang, seolah dia yang memegang kendali. "Aku terima."
Viper menarik mundur senjatanya, memutarnya di jari dengan keahlian tinggi, lalu menyarungkannya. Dia tampak puas namun tetap waspada. "Pilihan bijak."
Varian berdiri, mengusap darah di lehernya dengan ibu jari, lalu menjilatnya. "Tapi dengar ini. Aku bergabung bukan untuk jadi budak. Aku bergabung untuk uang dan darah. Jika bayarannya tidak sesuai, aku keluar."
"Kau akan mendapatkan lebih dari sekadar uang, Void," Viper terkekeh di balik topengnya. "Kau akan mendapatkan 'keluarga' yang sama rusaknya denganmu."
Varian mendengus. Tatapannya menerawang jauh, ke masa lalu yang penuh api. "Aku sudah membunuh keluargaku. Jangan berharap aku mencari yang baru."
Viper tersenyum lebar, meski tidak terlihat. Dia mengartikan ucapan Varian sebagai pembantaian keluarga kandungnya sendiri, menambah nilai 'psikopat' bocah ini di matanya. "Bagus. Kau memang berbakat. Ikut aku."
Markas Besar Black Lotus Cabang Ironhold tersembunyi jauh di bawah sistem saluran pembuangan kota yang rumit. Varian dibawa melewati serangkaian lorong rahasia, jebakan sihir, dan pintu batu yang hanya bisa dibuka dengan sandi darah.
Begitu masuk, suasana berubah total. Tidak ada lagi bau busuk selokan. Markas itu mewah dengan cara yang suram. Dinding batu dipoles rapi, obor menyala terang dengan api biru magis, dan puluhan pembunuh berlatih dalam diam di aula besar.
Varian berdiri di tengah aula latihan. Lantainya terbuat dari batu granit hitam yang keras. Di depannya berdiri seorang pria tua kekar dengan satu tangan prostetik yang terbuat dari besi murni. Dia adalah Master Shin, instruktur utama cabang ini.
"Jadi ini 'Hantu' yang baru itu?" Master Shin menatap Varian dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Tubuh kecil. Masih bau susu. Viper, apa kau memungut anak hilang?"
"Tes dia," perintah Viper yang kini berdiri di pinggir arena dengan tangan bersedekap, menikmati tontonan.
Master Shin mengangguk. Dia menjentikkan jarinya.
Dari balik bayangan pilar, tiga orang pembunuh pemula (Initiate) keluar. Mereka mengenakan seragam abu-abu, berusia sekitar lima belas tahun—lebih tua dan lebih besar dari Varian. Namun, tatapan mereka berbeda. Ada ketakutan akan kegagalan di mata mereka. Sementara mata Varian... kosong. Seperti boneka.
"Aturannya sederhana," kata Master Shin dengan suara berat. "Bertahan hidup selama 3 menit melawan mereka bertiga. Kau boleh lari, boleh sembunyi. Jika kau masih berdiri saat pasir di jam ini habis, kau lolos."
Master Shin membalik jam pasir di meja.
Varian menatap ketiga lawannya. Dia tidak mengambil kuda-kuda bertahan. Dia justru melonggarkan otot lehernya. Krek.
Pragmatisme di atas segalanya. Kenapa harus bertahan jika bisa mengakhiri?
"Mulai!"
Ketiga pemula itu merangsek maju. Mereka terlatih, formasi mereka rapi. Satu menyerang dari depan, dua menyamping untuk memotong jalur lari.
Varian tidak lari.
Dia mengaktifkan Shadow Step.
Whusss.
Tubuh Varian menghilang dari pandangan mereka, hanya menyisakan residu asap hitam tipis.
"Dimana dia?!" teriak pemula pertama, panik.
"Di atas," bisik Varian.
Suara itu datang dari langit-langit. Varian telah melompat, menjejak pilar, dan kini jatuh menukik dengan pedang hitam terhunus ke bawah. Gravitasi adalah senjatanya.
CRASH!
Pedang Varian menembus bahu pemula pertama, merobek tulang selangka hingga tembus ke dada. Anak itu menjerit memilukan dan ambruk seketika.
Dua lainnya terperanjat. "Serang dia saat senjatanya tersangkut!"
Mereka menusukkan pedang mereka serentak ke arah Varian.
Varian tidak repot-repot mencabut pedangnya yang tertanam di tubuh lawan. Dia melepaskan gagang pedangnya, lalu menggunakan mayat pemula pertama yang masih berdiri kaku itu sebagai perisai daging.
Jleb! Jleb!
Dua pedang lawan menancap di tubuh teman mereka sendiri.
"Kejam!" seru salah satu penonton di pinggir arena.
Varian menyeringai tipis. Dia menendang mayat itu ke arah penyerang kedua dengan kekuatan penuh, membuatnya goyah dan jatuh terjengkang. Lalu, dengan gerakan secepat kilat, Varian meluncur rendah menyapu kaki penyerang ketiga.
Saat penyerang ketiga jatuh, Varian sudah berada di atasnya. Dia tidak menggunakan pedang. Dia menggunakan pisau belati yang tersembunyi di balik lengan bajunya.
Sreeet.
Leher penyerang ketiga terbuka. Darah menyemprot wajah Varian.
Hanya tersisa satu. Pemula kedua yang tadi terjengkang kini gemetar hebat. Dia melihat dua temannya mati dalam waktu kurang dari sepuluh detik. Pedangnya jatuh dari tangannya yang berkeringat dingin.
"Ampun..." cicit pemula itu, mundur merangkak. "Aku menyerah! Aku menyerah!"
Master Shin membuka mulutnya, hendak bersuara untuk menghentikan pertarungan. Biasanya, menyerah diperbolehkan dalam sesi latihan.
Tapi Varian tidak sedang berlatih. Di kepalanya, dia sedang berperang. Dan dalam perang, musuh yang menyerah hanyalah musuh yang menunggu waktu untuk menusukmu dari belakang.
Varian mencabut pedang hitamnya dari mayat pertama. Dia berjalan mendekati pemula yang memohon ampun itu.
"Dunia ini tidak menerima permohonan ampun," kata Varian.
Slash.
Kepala pemula itu melayang, terpisah dari badannya. Menggelinding berhenti di dekat kaki Master Shin.
Darah segar membanjiri lantai arena yang hitam, membuatnya berkilauan mengerikan. Varian berdiri di tengah tumpukan tiga mayat, napasnya teratur, detak jantungnya tenang. Dia mengibaskan darah dari pedangnya, lalu menatap Master Shin dengan mata ungunya yang mengerikan.
"Tes selesai?" tanya Varian datar. Dia menunjuk jam pasir yang pasirnya bahkan belum turun seperempatnya. "Kurang dari tiga menit."
Keheningan melanda aula. Mencekam. Bahkan para pembunuh senior yang sudah terbiasa melihat kematian merasa merinding. Anak ini tidak memiliki tombol 'berhenti'. Dia membunuh rekan calon seperguruannya sendiri tanpa berkedip hanya karena itu cara tercepat menyelesaikan ujian.
Viper tersenyum lebar di balik topengnya. Matanya berbinar melihat potensi monster di depannya. "Dia sempurna."
Master Shin menatap mayat-mayat itu, lalu menatap Varian dengan campuran rasa ngeri dan hormat. "Kau gila, Nak. Benar-benar gila."
"Tapi kau lolos," lanjut Master Shin. "Selamat datang di Black Lotus."
Varian menyarungkan pedangnya, tidak peduli dengan tatapan ngeri di sekitarnya. Dia berjalan keluar arena, meninggalkan jejak kaki berdarah. Dia tidak mencari teman. Dia mencari kekuatan. Dan tempat ini adalah ladang yang subur untuk menanam kematian.