Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.
Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.
Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
uang 50 RB menjadi langkah pertama
...Cahaya bulan menyinari wajahnya, seolah menyemangati langkah-langkah kecil yang akan dia ambil. Besok, dia akan coba berbicara lagi dengan Arif – bukan dengan marah, tapi dengan hati yang tenang. Mungkin ini adalah awal dari sesuatu yang baru.
Tetapi seketika itu juga, pikirannya terbang kembali ke masa awal satu tahun pernikahannya – masa yang penuh kesakitan yang dia coba lupakan. Dia duduk pelan di teras, tangan masih memegang uang yang diberi ibunya, dan mata mulai memandang jauh.
"Ingat ya, Dewi, masak jangan terlalu banyak micin ya. Untuk kesehatanmu," bisik ibunya padanya sebelum menikah. Tapi siapa sangka, di rumah mertua, Bu Siti selalu memasak dengan micin yang banyak – bahkan lebih dari gula.
"Saya suka makanan yang gurih, Dewi. Semua orang di rumah juga suka. Jangan bikin yang hambar ya," kata Bu Siti pada waktu itu, ketika Dewi baru mulai membantu memasak.
Dewi hanya bisa mengangguk. "Baik, Bu." Dia tidak berani menolak, apalagi saat itu dia masih tinggal bersama mertua dan dua ipar yang belum menikah. Setiap hari, dia makan makanan yang penuh micin – dari bubur pagi sampai makan malam.
Hanya dalam beberapa bulan, tumor yang dulu tidak pernah sakit mulai membesar dan menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa. Kadang dia menangis di kamar sendirian karena sakitnya yang tak tertahankan. Arif jarang ada di rumah – selalu keluar kerja atau bertemu teman-teman.
"Sakit banget, Bu. Tumornya makin besar," ujar Dewi ke ibunya lewat telepon pada suatu hari.
"Aduh, anakku. Itu karena makanan yang terlalu banyak micin pasti. Cepat ke dokter, ya. Jangan ditunda!" panik ibunya.
Hari esoknya, Arif akhirnya mau anter Dewi ke rumah sakit. Saat dokter memeriksanya, dia menyarankan operasi secepatnya. "Tumornya sudah cukup besar, Bu Dewi. Harus dioperasi untuk mencegah hal yang lebih buruk."
Dewi merasa takut. "Berapa biayanya, Dok?"
"Kalau punya kartu bantuan pemerintah, bisa gratis loh. Cek dulu apakah kartu mu masih aktif," jawab dokter.
Untungnya, kartu bantuan Dewi masih aktif. Operasi dijadwalkan seminggu kemudian. Selama hari-hari menunggu, Arif tiba-tiba jadi lebih perhatian. Dia jarang keluar, malah sering mengantar Dewi ke apotek atau berjalan-jalan sebentar.
"Jangan takut, ya. Operasinya pasti aman. Aku akan selalu ada di sini untukmu," kata Arif pada malam sebelum operasi.
Dewi merasa senang dan lega. Akhirnya, suaminya peduli.
Pada hari operasi, Arif benar-benar selalu ada di sisi dia – dari awal sampai akhir. Saat dia bangun dari anestesi, dia melihat wajah Arif yang khawatir. "Bagaimana? Operasinya berhasil?" tanya Arif cepat.
Dokter tersenyum. "Berhasil, Pak. Tumornya sudah diangkat. Tapi perlu istirahat yang cukup. Dan ingat ya pak perhatikan pola makan istri anda karena makanan yang di makan itu bisa menumbuhkan kembali tumornya, walaupun sekarang tumornya sudah di angkat semua yaitu 4 buah tumor di 2 titik , it semua bisa tumbuh kembali dengan makanan yang di konsumsi. Mengerti pak?" "saya mengerti pak " jawab Arif.
Dewi bersyukur banget. Tanpa kartu bantuan, dia tidak akan bisa operasi – uangnya tidak cukup sama sekali. Selama dua hari di rumah sakit, Arif selalu ada – membawakan makanan, menolong minum obat, bahkan membacakan koran untuknya. Itu adalah masa-masa terbaik dalam pernikahannya yang singkat.
"Terimakasih, Arif. Kamu selalu ada buatku," ujar Dewi dengan suara lemah.
"Ya, itu tugasku sebagai suami. Jangan khawatir, nanti pulang aku akan merawatmu," janji Arif.
Tapi harapan itu segera pupus. Hanya dua hari di rumah sakit, mereka harus pulang karena batasan waktu dari kartu bantuan. Ke esokannya Arif tidak bekerja, dari pagi Arif hanya duduk di sofa dan membuka televisi.
"Dewi, bikin air hangat dong. Mulutku kering," perintah Arif seakan ia lupa Dewi yang habis operasi kemarin.
Dewi merasa sakit banget saat bangun dari tempat tidur, tapi dia tetap melakukan apa yang diminta. "Arif, bisakah tolong antar aku ke kamar mandi? Sakit banget badan ku."
Arif melihatnya dengan tatapan malas. "Aku lagi sibuk nonton. Sendiri aja deh, coba pegang gagang pintu."
Dewi merasa sakit hati. Dia berjalan dengan susah payah ke kamar mandi, setiap langkah membuat badannya terasa seolah akan patah. Setelah mandi, dia melihat tumpukan baju kotornya di sudut kamar. "Arif, bisakah tolong cuci baju ku? Aku masih lemah."
"Cuci sendiri aja nanti sore. Aku mau keluar sebentar ke tempat kerja," jawab Arif sambil mengambil kunci motor. Tanpa menunggu jawaban, dia keluar dan meninggalkan Dewi sendirian. Bahkan orang tua Arif tak peduli pada Dewi.
Hari-hari setelah itu sama saja. Arif kembali ke kebiasaan lama – jarang ada di rumah, tidak peduli dengan kesakitannya. Dewi harus merawat dirinya sendiri – dari mandi, memasak, sampai mencuci baju kotornya. Bahkan saat dia tidak bisa berdiri terlalu lama, dia harus duduk di atas bangku sambil mencuci.
Ingat-ingat masa itu, air mata Dewi kembali menetes. Dia menyeka air matanya dengan lengan dasternya. "Kenapa dia bisa berubah begitu cepat?" pikirnya.
Tiba-tiba, dia kembali dari pikirannya. Dia melihat uang lima puluh ribuan di tangannya – uang yang diberi ibunya. Dia melihat ke arah kamar tidur, di mana Arif sedang tidur nyenyak. Dia tahu persis dimana letak uang simpanan suaminya – di dalam laci atas lemari yang terkunci. Dia bahkan tahu letak kuncinya – disembunyikan di balik baju di laci bawah.
Tapi Dewi tidak pernah berani mengambilnya. Dia ingat bagaimana Arif marah besar dulu ketika dia hanya meminta uang tambahan buat beli obat. "Kamu ini boros banget ya! Uangku bukan buat dihabiskan sembarangan!" teriak Arif pada waktu itu.
Dewi menggeleng-geleng kepala. Dia tidak mau mengalami itu lagi. Tapi kali ini, dia memiliki uang sendiri – uang yang ibunya berikan khusus untuknya. Dia memegangnya lebih erat.
"Aku akan menggunakan uang ini untuk diriku sendiri," bisiknya perlahan. "Mungkin beli daster baru yang nyaman. Atau beli makanan yang sehat – yang tidak ada micinnya. Atau bahkan beli obat yang lebih baik untuk nyeri badanku."
Dia berdiri dan masuk ke kamar. Dia menyimpan uang itu di dalam tas kecil yang dia sembunyikan di balik bantal. Kemudian, dia melihat wajah Arif yang sedang tidur. Perasaan sedihnya masih ada, tapi sekarang ada juga rasa tegas di hatinya. Dia tidak akan lagi biarkan dirinya terus-terusan disia-siakan. Dia harus jaga dirinya sendiri, karena tidak ada orang lain yang akan melakukannya selain keluarganya dan dirinya sendiri.
Malam itu, dia tidur dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Dia tahu jalan yang akan dilaluinya tidak mudah, tapi dia sudah siap untuk mengambil langkah pertama – bahkan jika itu hanya membeli sesuatu kecil untuk dirinya sendiri.