Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bangkitnya Si lemah
Rio sampai di rumah dan langsung melepas sepatu. Sepatu milik Rani sudah ada di depan; artinya ia pulang lebih dulu. “Aku pulang.”
"Selamat datang Kaka."
Sambutannya langsung dijawab hangat. Rani membawa makanan yang baru matang, dan Rio menjaga ekspresinya tetap normal. Tidak boleh ada sedikit pun celah yang membuat adiknya tahu apa yang terjadi di sekolah.
Setelah makan, Rani dan Rio masuk ke kamarnya lebih dulu. Rio berganti pakaian, mandi, lalu berbaring di kamar dengan pikiran yang terus berputar. "Besok aku akan menjadi incaran Rivaldo dan kelompoknya." Meski begitu, sesuatu dalam dirinya tetap terasa aneh—ketenangan yang tidak biasa. Bahkan kemampuan tinjunya tadi pagi terasa muncul begitu saja."Seperti aku meniru nya ."
Ia membuka handphone dan menonton video tinju internasional.
Dan Setiap gerakan yang dia lihat seperti terbaca jelas.
seakan pikirannya mengurai teknik-teknik itu tanpa usaha. Ia berdiri dari kasur nya.
mencoba beberapa pukulan; jab lurus, cepat, namun tubuhnya langsung kehabisan stamina. "Bisa bergerak… tapi tubuhku belum siap." Ia merebahkan diri, lalu tertidur dalam kelelahan yang nyaman.
Pagi hari, Rio bangun pukul empat. Masih gelap, namun keinginannya untuk berubah mendorongnya berlari keliling kompleks. Ambisi itu sederhana: menjadi kuat.
Ia pulang jam enam, dan Rani terkejut bukan karena dia berlari keliling tapi karena dia bisa bangun pagi. Ia bahkan mengecek suhu tubuh Rio, seakan ada yang tidak wajar.
"Aku baik baik saja.."
Rio hanya tersenyum, berusaha menenangkan kekhawatirannya.
Setelah mandi dan sarapan, Rio bersiap lebih dulu dari biasanya. Rani yang biasanya berangkat terburu buru justru terlihat santai, membuat Rio akhirnya berangkat sendiri.
Di jalan, ia masih bisa mengingat semua gerakan tinju yang dipelajari semalam, bahkan mempraktikkannya dalam dua percobaan. "Aku seorang penantang… aku tidak boleh lengah."
Baru tiba di depan sekolah, seorang siswa menghadangnya. Rambut French Crop, tubuh sedikit berotot, dan tatapan tajam seperti prajurit muda. “Kudengar kau adalah penantang.”
Rio berdiri tegak, memaksa dirinya menatap balik. “Iya. Aku penantang. Apa yang kau mau?” Kerumunan siswa yang lewat tidak peduli; perundungan bukan hal baru di tempat ini.
“Namaku Riko! Ayo bertarung dengan adil!” Ada semacam antusiasme dalam dirinya yang tidak pernah muncul sebelumnya.
Rio mengangguk, dan pertarungan dimulai. Riko membuka dengan hook panjang, tetapi Rio menurunkan lutut dan menunduk ke kanan, melewati serangan itu. Gerakannya mengalir begitu alami.
bukk!!!
Ia membalas dengan jab yang mengenai muka Riko, membuat Riko mundur selangkah."Itu Tidak terlalu sakit.."
Namun tubuh lawan terasa seperti tembok. Rio mundur seraya menjaga kuda-kuda, dan Riko kembali menerjang. Tubuh Rio bergerak lebih cepat dari pikirannya , Rio menghindar ke kiri, lalu puluhan jab mendarat di rahang riko. Meski begitu, Riko tetap berdiri. "Seberapa keras tubuh orang ini?"
"Aku Urutan ke Dua Puluh Tujuh di antara Tiga puluh siswa Terkuat di sekolah ini." Riko menerjang lagi, ia menangkap kerah Rio dan menghantamnya dengan jab ke wajah.
Rio terlempar beberapa meter ke depan Riko darah mengalir dari mulut, dan kepalanya berputar. Dia melepaskan tas nya .
"Begini rasanya… dipukul oleh seseorang yang benar-benar kuat." Namun Rio tetap berdiri dan kembali ke kuda-kuda.
Pertarungan memanas. Rio meninju hidung Riko Membalasnya Tapi sebelum mencapai wajah nya Rio , Rio sudah membaca gerakannya
dan menghindar, lalu melakukan hook ke rahang Riko. Tubuh Riko goyah, tapi tidak tumbang.
“bisa menghindar lalu melakukan serangan balasan..Kau cepat sekali…” katanya, sebelum kembali menyerang. Hook kanan mengarah ke wajah Rio, dan kali ini Rio memblokir dengan kedua tangan ,suara retakan kecil terdengar dari lengannya.
Rasa sakit itu menusuk, tetapi tubuhnya bergerak duluan. Rio Menggunakan seluruh tenaganya, menggeser posisi, lalu menghantam rusuk kiri Riko dengan jab cepat.
Dua pukulan masuk, cukup membuat lawan menunduk menahan sakit. Itu titik lemahnya. Rio menerjang balik dan melepaskan hook ke rusuk kanan, membuat Riko terdorong mundur.
Pukulan berikutnya adalah hujan jab bertubi-tubi ke wajah dan dada. Riko akhirnya jatuh berlutut sambil memegangi kedua rusuknya.
Aarrghh!!!
Nafasnya berat, tetapi matanya masih berkilat antara kagum dan kesal. Rio merapikan seragamnya "Tenaga ku habis,jika pertarungan ini berlangsung lebih lama lagi, mungkin aku yang kalah.", menatap lawan yang sudah tidak bisa berdiri.
“Namamu Riko, kan? Lain kali… sekolah dengan benar.” Ia mengambil tasnya dan berjalan melewati gerbang, meninggalkan kerumunan yang perlahan membisu. Dua orang telah ia taklukkan. Dan masih ada tiga puluh siswa terkuat lainnya di depan."Katakan Pada Dunia..ini hanyalah Sebuah Awalan."