NovelToon NovelToon
Dear, Husband

Dear, Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Nikahmuda / Nikah Kontrak / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4 : Kehangatan Keluarga

Hari itu Rio pulang lebih awal. Pikirannya sama sekali tidak fokus. Ia bahkan beberapa kali nyaris nyerempet kambing orang di jalan dan nyenggol emak-emak yang nyalain lampu sen ke kanan tapi malah belok kiri (ini sih emang salah emak-emaknya).

Yah intinya, dia lagi banyak pikiran aja. Udah ibunya lagi sakit sekarang (dalam masa pemulihan), adiknya yang SMP butuh biaya lebih buat ujian dan sebagainya, eh sekarang dia malah kena masalah yang nambah keruwetan hidupnya. Gimana gak? Sekarang dia harus menikahi wanita itu alias Bu Risa, kepala sekolahnya sendiri. Plus,!si Bu Risa sekarang juga sedang hamil, tanggung-jawab dia jadi double selain untuk menafkahi Bu Risa, juga harus persiapan persalinan, yang artinya dia harus super super ekstra kuadrat triliun kerja keras. Padahal gajinya di bar standar cuma 4 juta, kecuali dia ambil bonusan, baru bisa dapat lebih.

"Hah...." Rio menghela napas setelah sampai di rumah.

Memarkirkan motornya terlebih dahulu di garasi, dan melepas helm.

"Kak Rio udah pulang? Kok tumben cepet? Ih, bolos ya??" Ledek sang adik yang kebetulan saja sedang keluar dari pintu rumah dan melihatnya pulang.

"Enggak lah, Dek. Sekolah Kakak hari ini pulang cepet!" Rio berbohong. Dia enggak mau sampai ibunya tahu kalau dia terpaksa pulang cepat karena suatu 'masalah'.

"Ooohhh...." Adiknya cuma manggut-manggut.

"Ibu ada di dalam?" Tanya Rio yang mencemaskan sang ibu.

""Ada lagi masak!" Jawab sang adik yang langsung buru-buru berjalan keluar garasi.

"Kamu mau kemana?" Rio mengernyit agak heran melihat sang adik yang gak biasanya keluar rumah jam segini.

"Mau ke rumah temen dulu Kak, ngerjain PR. Buku cetak aku 'kan gak ada," jawab sang adik dengan polos. Suaranya begitu ringan dan wajahnya tampak ceria. Dia seperti tak menganggap hal itu seperti suatu kesusahan baginya.

"Oh..., ya hati-hati, Dek...." Rio tidak bisa berkomentar apapun. Dia hanya mampu tersenyum tipis. Merasa miris dengan nasib adiknya yang harus terpaksa meminjam buku paket dari teman satu ke teman lain. Pasalnya Rio belum bisa membayarkan semua buku paket pelajaran untuk sang adik jadi ada sebagian mata pelajaran yang gak ada bukunya.

'Maaf ya, Dek..., bulan depan kalau Kakak gajian pasti Kakak bayar sisa bukunya...,' ucap Rio dalam hati setelah melihat sang adik menutup pintu garasi dan pergi.

Rio masuk ke rumah, melewati ruang tamu, masuk ke ruangan pintu keluarga yang berhadapan dengan ruangan tempat tidur milik orang tuanya. Lurus ke depan langsung menuju dapur di mana ia melihat sang ibu sedang sibuk memasak.

"Bu, emang sudah mendingan?" Tanya Rio dengan lembut saat melihat ibunya sedang mengiris beberapa bawang.

"Ibu hanya pusing biasa, ini sudah baikan," jawab sang ibu yang langsung tersenyum. "Kamu kenapa sudah pulang?" Ia bertanya balik.

"Sekolah hari ini pulang cepat, guru-gurunya ada rapat," jawab Rio masih konsisten bohongnya.

"Oh, ya sudah, ganti baju sana, nanti kalau makanannya sudah siap kita makan sama-sama, ya."

"Iya, Rio ke atas dulu...."

Rio segera belok ke arah kanan dan menaiki anak tangga, tempat ruangan kamarnya juga sang adik yang memang ada di lantai dua, sementara sang ibu melanjutkan masakannya.

...****************...

Rio beserta ibu dan adiknya sedang berkumpul di meja makan yang ruangannya persis di dekat dapur.

"Gimana? Enak gak?" Tanya sang ibu penasaran.

"Nyam, ini enak banget! Aku kangen masakan kayak gini!" Dina terlihat sangat bersemangat. Dia mencicipi satu-persatu masakan yang dibuat oleh ibunya.

Ada tumisan sayur, tempe goreng, ikan kakap kuah kuning dan potongan apel segar. Sederhana tapi bermakna untuk keluarga kecil mereka.

"Rio? Gimana? Kok diam saja?" Sang ibu beralih menatap Rio yang gak biasanya makan dalam diam, karena ia terbiasa selalu memuji masakan ibunya.

"Enak kok, apalagi ada tempe goreng tepung kesukaan Rio," jawab Rio yang langsung mengambil tempe goreng dari piring dan menggigitnya.

"Syukurlah kalian suka, ibu sempat cemas tadi kalau rasanya kurang enak," wanita berusia hampir 50 tahun itu tersenyum lega.

Semenjak sakit wanita itu memang sudah tidak pernah memasak lagi dan hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar dan membiarkan anak tertuanya mengurus soal dapur dan memasak. Mungkin sudah hampir 2 minggu ia tidak turun ke dapur untuk memasak makanya ia sempat khawatir kalau rasanya jadi berkurang.

"Masakan ibu gak pernah gagal, selalu enak," ucap Rio yang memang pandai memuji.

"Kalau begitu nanti malam ibu bakal buatkan sesuatu lagi ya?" Sang ibu jadi bersemangat setelah mendapat pujian dari putra sulungnya.

"Ibu baru membaik, jangan banyak bergerak dulu, Rio gak mau ibu kecapean." Pemuda itu menghela napas melihat sikap ibunya yang persis dengan Dina kalau sedang bersemangat. "Biar Rio saja nanti yang masak untuk makan malam," sambungnya kemudian.

"Ya kalau Kakak maunya begitu," ucap sang ibu tak membantah, dia tersenyum mengetahui betapa pedulinya sang anak kepada dirinya. Dalam hati dia bersyukur memiliki anak-anak yang sangat pengertian terutama disaat dirinya sedang sakit kayak gini.

...****************...

Malamnya Rio terlihat sudah sangat rapih setelah ia selesai memasak dan mandi. Ya, sesuai janji dia memasak makan malam dulu untuk ibu dan adiknya. Hanya masakan sederhana, dia memasak capcay dan ayam goreng sereh, serta bihun goreng kesukaan sang adik.

Pemuda itu sekarang berada di dalam kamar, bercermin. Dia memakai jeans hitam, kemeja putih lengan panjang yang ia gulung sampai ke siku. Lalu, seikat bunga mawar yang akan dibelinya nanti di luar.

Setelah yakin tidak ada yang kurang ia bergegas keluar kamar dan langsung mendapat sorotan dari ibu dan adiknya, karena gak kayak biasa Rio keluar memakai kemeja formal seperti itu.

"Tumben Kak, pakai kemeja!" Celetuk sang adik.

"Iya, mulai sekarang harus pakai kemeja, disuruh sama bos," jawab Rio ngarang.

"Oh, ya hati-hati, Kak!" Dinda cuma ber-'ooooh' ria.

"Pergi dulu ya Bu! Dek jangan tinggalin ibu sendirian, jagain di rumah!" Ucap Rio yang sebelum pergi sempat memberi pesan untuk sang adik.

"Beres deh! Aku pasti jagain ibu!" Sang adik menepuk dada dengan bangga, membuat ibunya geleng-geleng.

"Jalannya enggak usah ngebut ya, Rio," ucap sang ibu sebelum Rio berangkat.

"Iya Bu! Rio pergi dulu!" Pemuda itu mengangguk setelah berdiri di ambang pintu garasi. Sesaat ia menatap lekat wajah kedua perempuan yang sangat ia sayangi. Ibunya dan Dinda, sang adik.

Rio lekas mengeluarkan motornya dari garasi rumah. Dinda bergegas berlari kecil saat kakaknya sudah berada di luar garasi dengan motor jadul peninggalan sang ayah. Gadis itu langsung mendorong pintu garasi, menutupnya supaya sang kakak gak perlu turun dari motor lagi.

Rio sempat menoleh ke arah adik dan ibunya yang melambaikan tangan ke arah pemuda itu setelah mesin motor dinyalakan dan deru mesinnya memenuhi area rumah mereka. Motor tua tapi masih sangat bagus karena selalu dirawat dengan baik oleh Rio.

"Dadah!!" Dinda berteriak saat motor tersebut sudah melaju bersama dengan sang pengemudi meninggalkan tempat.

Apa yang akan terjadi selanjutnya di rumah Risa nanti???

.

.

.

BERSAMBUNG....

1
✨♡vane♡✨
Ingin baca lagi!
Harry
Mantap jiwa!
Zamasu
Memukau dari awal hingga akhir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!