"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
Semburat fajar menyusup malu-malu di balik celah jendela kantor kontainer, menerangi debu-debu yang beterbangan di ruangan yang kini berantakan. Kirana terbangun dengan rasa sakit yang berdenyut di pelipisnya.
Ia menemukan dirinya tertidur di sofa kecil, masih terbungkus jas hitam Arka. Kejadian semalam menghujam ingatannya seperti ribuan jarum, pengkhianatan Reno, perkelahian Arka, dan penyatuan panas di atas meja kerja yang menghancurkan seluruh dinding harga dirinya.
Ia menoleh dan menemukan Arka sedang duduk di kursi kerjanya, menatap keluar jendela ke arah laut yang kini tenang. Pria itu sudah rapi, meski kemejanya masih tampak kusut di bagian bahu.
"Kau sudah bangun?" suara Arka terdengar berat, mengisi keheningan pagi dengan cara yang membuat perut Kirana bergejolak.
Kirana segera berdiri, merapikan gaun merah marunnya yang kini tampak menyedihkan. "Kenapa kau masih di sini?"
Arka berbalik, matanya menatap lekat ke arah leher Kirana, di mana terdapat noda kemerahan kecil sisa gairah semalam. Kirana segera menarik kerah jas Arka untuk menutupinya, wajahnya memanas karena malu.
"Tim audit kementerian akan sampai di sini dua jam lagi, Kirana. Skandal Reno sudah meledak di berita pagi. Mereka akan mempertanyakan integritas Nirmala-Kencana karena kau hampir meloloskan vendor ilegal miliknya," ujar Arka tenang, seolah tidak ada hal intim yang terjadi di antara mereka beberapa jam lalu.
Benar saja, pukul sembilan pagi, lokasi proyek sudah dipenuhi mobil-mobil hitam milik pejabat kementerian. Kirana duduk di ruang rapat dengan wajah pucat namun tetap berusaha menjaga wibawa. Di sampingnya, Arka duduk sebagai mitra joint venture.
"Ibu Kirana," pimpinan auditor bicara dengan nada dingin. "Kami memiliki bukti bahwa Anda sempat mengadakan pertemuan pribadi dengan Tuan Reno sebelum insiden semalam. Secara prosedur, ini adalah pelanggaran berat. Posisi Nirmala-Kencana dalam proyek ini akan ditangguhkan, dan kami akan menyerahkan kepemimpinan penuh kepada Phoenix Construction."
Dunia Kirana seolah runtuh. Kehilangan kepemimpinan proyek ini berarti kehancuran reputasi internasionalnya. Ia melirik Arka, mengharap ada pembelaan, namun Arka hanya terdiam, memainkan pulpen di jemarinya.
Inilah saatnya, batin Kirana pahit. Dia akan mengambil semuanya dariku. Dia menyelamatkanku semalam hanya untuk menjatuhkanku pagi ini.
"Namun," Arka tiba-tiba memotong pembicaraan. Ia meletakkan sebuah map perak di atas meja. "Saya memiliki rekaman pembicaraan dan data digital yang membuktikan bahwa Ibu Kirana adalah pihak yang dijebak. Beliau sengaja menemui Reno untuk melakukan investigasi mandiri setelah saya memberikan peringatan awal. Segala dokumen yang hampir ditandatangani adalah dokumen palsu yang sudah ditandai oleh tim IT kami."
Kirana tersentak. Arka berbohong. Kirana tahu semalam ia benar-benar naif dan hampir tertipu, tapi Arka sedang membangun narasi untuk melindunginya di depan pemerintah.
"Jadi maksud Anda, ini adalah operasi intelijen internal?" tanya auditor ragu.
"Tepat sekali. Dan sebagai bentuk komitmen, saya sebagai CEO Phoenix menyatakan bahwa pimpinan proyek tetap berada di tangan Ibu Kirana. Saya hanya akan bertindak sebagai pengawas teknis," tambah Arka dengan nada penuh otoritas.
Para auditor tampak puas dan mulai meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup, Kirana berdiri dan menatap Arka dengan penuh amarah yang bercampur kebingungan.
"Kenapa kau berbohong, Arka?! Kau bisa mengambil proyek ini sepenuhnya! Kenapa kau justru menyelamatkanku?!"
Arka berdiri, berjalan perlahan mendekati Kirana hingga ia bisa mencium aroma mawar dari rambut Kirana yang acak-acakan. "Karena aku tidak ingin menang melawan wanita yang sedang hancur, Kirana. Aku ingin menang saat kau berada di puncak kekuatanmu. Dan karena..." Arka berbisik di telinga Kirana, "...tubuhmu semalam memberitahuku bahwa kau masih membutuhkanku untuk tetap berada di dekatmu."
Kirana menampar wajah Arka. Plak! Suara itu bergema di ruangan kontainer yang sempit.
"Jangan pernah mengaitkan urusan profesional dengan apa yang terjadi semalam! Itu adalah kesalahan!" teriak Kirana, napasnya tersengal.
Arka tidak membalas tamparan itu. Ia justru memegang pergelangan tangan Kirana yang baru saja menamparnya, lalu menarik wanita itu hingga dada mereka bersentuhan. "Kesalahan? Lalu kenapa kau tidak melepaskan tanganmu dariku sekarang?"
Tangan Kirana yang satunya lagi justru meremas kerah kemeja Arka. Mereka saling menatap dengan penuh kebencian yang dibungkus gairah. Kirana membenci betapa mudahnya Arka membaca pikirannya. Ia membenci betapa Arka baru saja menyelamatkan kariernya padahal ia ingin sekali melihat Arka sebagai musuh abadi.
"Kau pikir dengan menyelamatkanku, aku akan jatuh ke pelukanmu lagi?" tantang Kirana.
"Aku tidak butuh kau jatuh ke pelukanku, Kirana. Aku hanya butuh kau mengakui bahwa setiap kali kau menutup mata, wajahku yang kau lihat. Dan setiap kali kau merasa kesepian di atas tahtamu, sentuhanku yang kau rindukan."
Arka perlahan menurunkan tangannya ke pinggang Kirana, menariknya lebih erat. Jarak mereka menghilang. Kirana bisa merasakan gairah Arka yang kembali bangkit, sebuah ketegangan seksual yang begitu mentah dan berbahaya. Tepat saat Arka hendak menciumnya lagi untuk membuktikan ucapannya, pintu ruangan terbuka kasar.
"Kirana! Apa yang terjadi?!"
Itu adalah suara Roy, mentor Kirana. Ia masuk dengan wajah merah padam, diikuti oleh Reza. Roy mematung melihat posisi intim Kirana dan Arka.
Kirana segera melepaskan diri dari Arka, merapikan bajunya dengan gugup. "Bram... ini tidak seperti yang kau lihat."
"Benarkah?" Roy mendekat, menatap Arka dengan kebencian mendalam. "Aku baru saja mendengar kau menyelamatkan wajah pria ini di depan auditor, Kirana. Dan sekarang aku melihatmu hampir bercumbu dengannya di kantor proyek yang kumuh ini? Di mana harga dirimu?!"
"Tuan Roy, saya sarankan Anda menjaga bicara," potong Arka dengan suara dingin yang mengancam.
"Atau apa, Mahendra? Kau akan menipunya lagi? Kau akan menjadikannya bahan taruhan di meja judi lagi?" Roy menoleh pada Kirana. "Kau lupa apa yang dia lakukan padamu dulu? Dia tertawa saat kau menangis! Dan sekarang kau membiarkan dia menyentuhmu?!"
Kata-kata Roy menghantam Kirana tepat di ulu hati. Kenangan akan rasa sakit itu kembali segar. Ia menatap Arka, lalu melihat Roy. Dilema itu mencekiknya. Di satu sisi, Arka adalah pria yang menghancurkannya namun baru saja mempertaruhkan segalanya untuk melindunginya. Di sisi lain, Roy adalah orang yang membantunya bangkit namun kini terlihat sangat posesif dan mengontrol.
"Keluar, Arka," suara Kirana tiba-tiba menjadi sangat dingin.
"Kirana..."
"KUKATAKAN KELUAR!" teriak Kirana.
Arka menatap Kirana lama, sebuah tatapan yang penuh luka namun juga pengertian. Ia mengambil jaketnya dan berjalan keluar tanpa sepatah kata pun, melewati Roy dengan bahu yang bersenggolan keras.
Setelah Arka pergi, Roy mendekati Kirana. "Kau harus memutus kerjasama dengan Phoenix. Aku akan bicara dengan kementerian."
"Tidak," jawab Kirana pendek.
"Apa maksudmu tidak?!"
Kirana berbalik, menatap Bram dengan mata yang kini berkilat tajam. "Aku menghormatimu sebagai mentorku, Bram. Tapi jangan pernah mengatur siapa yang boleh berada di kantorku. Arka menyelamatkan proyek ini pagi ini. Jika bukan karena dia, aku sudah dipecat."
"Dia melakukannya untuk menjeratmu kembali, Kirana! Kau tidak lihat?!"
"Aku tahu!" teriak Kirana. "Aku tahu dia iblis! Aku tahu dia beracun! Tapi setidaknya dia jujur dengan kejahatannya. Tidak seperti Reno, tidak seperti orang-orang yang berpura-pura baik padaku!"
Kirana berjalan menuju meja kerjanya, mengambil botol air mineral dan meminumnya dengan rakus untuk mendinginkan sarafnya. "Mulai hari ini, aku yang memegang kendali. Arka tetap di sini sebagai pengawas teknis. Dan kau, Roy... kembalilah ke Jakarta. Aku tidak butuh babysitter di sini."
Roy tertegun, lalu pergi dengan kemarahan yang tertahan. Kirana kembali sendirian di ruangan itu. Ia merosot di kursinya, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Ia merasa gregetan pada dirinya sendiri. Ia benci Arka, ia benci dilema ini, dan yang paling ia benci adalah kenyataan bahwa semalam adalah malam terbaik dalam hidupnya, sebuah keintiman yang membuatnya merasa hidup sekaligus hancur di saat yang sama.
Dari balik jendela, Arka berdiri di dermaga, memperhatikan kantor Kirana. Ia menyalakan sebatang rokok, asapnya tertiup angin laut. Ia tahu Kirana sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Dan Arka bersedia menunggu, karena ia tahu, pada akhirnya, Ratu itu akan selalu kembali pada pria yang mengenali setiap inci gelap di hatinya.
...----------------...
Next Episode....