NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAMU PAGI

Ketukan di pintu itu terdengar ringan, namun cukup untuk membuyarkan konsentrasi Putra. Ia segera mengenakan kaus asal selepas keluar dari kamar mandi, dengan rambutnya yang masih basah.

Saat daun pintu berayun terbuka, kata-kata yang sudah tertata di ujung lidahnya mendadak menguap. Di sana, berdiri Salma.

Ya. Wanita itu sudah datang lebih awal, lebih pagi, lebih dari apa yang Putra bayangkan. Kini, dihadapannya, bukan Salma dengan kemeja kaku atau blazer formal yang biasa dilihatnya di sekolah. Kali ini, rambutnya dibiarkan tergerai bebas, jatuh bergelombang menyentuh pundak seiring angin pagi yang belum terlalu menyebar.

Wanita berkulit kuning langsat itu mengenakan dress ringan yang dibalut jaket rajut hangat, memberikan kesan nyaman sekaligus rapuh. Riasan wajahnya tampak segar dan sederhana, seolah waktu berhenti berputar di wajahnya—membuatnya tampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Putra masih terpaku di ambang pintu, napasnya tertahan melihat sisi lain Salma yang begitu asing, namun sangat memikat.

​"Eh ... ada tamu rupanya. Bu Salma," Sapa Bu Ratih sembari melangkah keluar dari kamar. Tatapannya menyapa Salma dengan ramah sebelum beralih ke arah Putra. Tanpa aba-aba, ia mendaratkan pukulan ringan di lengan putranya itu. "Ada tamu, ayo suruh masuk!"

​Putra meringis pelan sambil mengusap lengannya, lalu segera mempersilakan Salma untuk masuk.

​Salma pun mengangguk kecil dengan senyum yang tetap terjaga. Begitu melangkahkan kaki melewati pintu, matanya mulai menyapu sekeliling. Rumah itu memang jauh dari kata mewah, namun ada kehangatan yang langsung menyergapnya.

​Lantai tegelnya yang sudah berumur tampak bersih mengilap, memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung di tengah ruangan. Udara di dalam terasa sejuk berkat sirkulasi yang baik dari jendela kayu yang terbuka lebar, membawa aroma samar teh melati dan pengharum lantai yang segar.

Sementara, di sudut ruang tamu, terdapat kursi rotan beralas bantal empuk yang terlihat sangat nyaman untuk diduduki, dan dindingnya dihiasi beberapa foto keluarga dalam bingkai kayu sederhana yang tertata rapi. Meski mungil, setiap sudut rumah ini seolah bercerita tentang kasih sayang yang merawatnya dengan sepenuh hati.

"Mau minum apa, Bu?"

"Oh." Mata Salma langsung menangkap Bu Ratih yang duduk dihadapannya. "Gak usah, Ibu. Tidak perlu repot-repot." Jawabnya. "Begini, Bu..."

Salma yang duduk tak jauh dari Putra, langsung memposisikan duduknya lebih nyaman, tepat condong ke arah Bu Ratih. "Kemarin... saya mendengar laporan tentang PKL Putra, mungkin... jika Putra tidak menceritakan hal ini sebelumnya, Ibu akan terkejut. Dan bagaimanapun... Ibu harus tahu perkembangan Putra di sekolah sejauh ini,"

Ratih mengangguk pelan. Matanya sesekali melirik Putra yang hanya menunduk, menyembunyikan wajah di balik rambutnya yang masih basah. Ia kemudian kembali fokus mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan Salma.

​"Saya memang tidak pernah berharap Putra menjadi anak yang berbakat dalam segala bidang, Bu." Ujar Ratih lirih. "Mendengar dia bisa mengikuti pelajaran dengan baik saja sudah membuat saya sangat senang. Memangnya... bagaimana kondisi Putra di sekolah sekarang, Bu?"

​Salma mengangguk maklum, raut wajahnya menunjukkan empati yang begitu besar. "Justru itu, Bu. Kedatangan saya ke sini sebenarnya ingin membantu Putra mengejar keterlambatan tugas-tugasnya. Baik itu tugas harian maupun laporan PKL-nya. Menurut catatan sekolah... maaf sebelumnya, Bu. Nilai Putra dikatakan sangat rendah. Karena itulah, saya dengan tulus ingin membimbing Putra secara langsung."

​Mendengar kata "sangat rendah" disebut, bahu Putra tampak semakin merosot. Ia tetap bergeming, namun jemarinya kini meremas ujung kausnya yang lembap.

Sementara, Ratih terdiam sejenak, ada gurat kesedihan sekaligus harapan di matanya saat ia menatap Salma. ​"Putra!" Katanya dengan nada sedikit naik satu oktaf, seolah memancing reaksi putranya.

​Putra akhirnya mendongak sedikit. Matanya yang sayu bertemu dengan tatapan teduh Salma. "Tugasnya... banyak sekali ya, Bu. Saya tidak tahu harus mulai dari mana," Bisiknya nyaris tak terdengar.

​Salma tersenyum tipis, lalu menggeser duduknya agar lebih dekat hingga aroma parfum bayinya tercium oleh Putra. "Kita tidak akan mengerjakan semuanya sekaligus dalam sehari ini, Putra. Kita cicil satu per satu, ya? Anggap saja, ak—"

​Kalimat Salma menggantung di udara. Ia mendadak tersadar bahwa Ratih, ibu Putra, masih duduk mematung di hadapannya, memerhatikan interaksi mereka dengan dahi berkerut. Ada jeda canggung selama beberapa detik sebelum Salma berdeham kecil dan meralat ucapannya.

​".... Anggap saja saya ini... guru les kamu," Sambung Salma dengan nada yang dibuat seformal mungkin, meski wajahnya mendadak bersemu merah.

​Sedangkan, Putra yang menyadari kegugupan Salma langsung menahan tawa. Bahunya yang berguncang hebat tidak bisa berbohong.

​"Putra! Kenapa kamu malah cengengesan begitu?!" Protes Ratih dengan nada menyelidik. Tatapannya menghunus tajam, bergantian menatap sang anak dan Salma. Merasa diabaikan, ia menggelengkan kepala, beranjak dari kursi, lalu menyambar sapu lidi yang bersandar di balik pintu.

​Plaaaak!

​Salma tersentak kaget, namun Putra justru mendongak. Ia berusaha mengatur napas meski sisa tawa masih berpendar di matanya. Tak ada raut kesakitan atau rasa malu sedikit pun meski dipukul di depan Salma, ia tetap tenang, seolah cambukan itu hanyalah angin lalu.

​"Ya sudah, jangan banyak bercanda. Kamu harus hargai Bu Salma, dia sudah jauh-jauh datang ke sini," Ucap Ratih akhirnya, meski suaranya masih menyimpan nada curiga.

Di saat yang sama, mata Ratih kembali menghangat ramah memandang Salma. "Ibu maaf atas ketidaksopanan anak saya."

Salma hanya mengangguk dengan senyuman.

"Kebetulan, Bu. Saya harus bekerja ke pasar pagi ini. Tidak apakah, Bu kalau saya tinggal?"

"Iya, Ibu." Angguk Salma.

​"Kalau begitu, saya permisi pergi dulu ya, Bu," Pamit Ratih seraya membenahi tas yang sedari tadi tersampir di bahunya.

​Salma tersenyum tulus, "Hati-hati ya, Bu. Jangan khawatir, saya akan usahakan yang terbaik untuk Putra."

​Mendengar kalimat itu, sesuatu dalam diri Ratih seolah luluh. Tanpa diduga, ia membungkukkan tubuhnya sangat rendah—sebuah gestur rasa syukur yang begitu dalam hingga membuat Salma tersentak mundur karena terkejut. ​"Terima kasih banyak, Bu Salma." Katanya lirih. "Saya benar-benar tidak tahu harus membalas kebaikan Ibu dengan apa,"

​Salma segera berdiri tegak. "Tidak usah sungkan, Bu. Ini sudah menjadi tanggung jawab saya. Ini semua demi kebaikan dan masa depan Putra juga."

​Ratih mengangguk berkali-kali, matanya berkaca-kaca. "Sekali lagi terima kasih, Bu. Ibu juga yang sabar, ya. Saya... saya sekeluarga turut prihatin atas—"

​Kalimat Ratih menggantung di udara. Tepat saat itu, Putra yang sedari tadi tampak acuh tak acuh, mendadak memutar kepalanya. Ia melirik Ratih dengan tatapan yang tajam dan menusuk—sebuah peringatan sunyi yang hanya dimengerti oleh sang ibu. Ratih seketika teringat betapa seringnya Putra bercerita di rumah tentang segala detail hidup Salma, termasuk rahasia tentang perceraian pahit yang baru saja dialami wanita itu.

​Menyadari ia nyaris melompati batas privasi yang seharusnya tidak ia ketahui, Ratih tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya memucat seketika.

​"Ma-maksud saya..." Ratih meralat dengan gugup, suaranya naik satu nada. "Maksud saya... saya turut prihatin dengan kondisi Putra yang sulit diatur seperti ini. Ampun, Bu! Saya benar-benar berharap Ibu sabar dalam mendidik Putra selama di sini."

​Salma sempat mengernyitkan dahi sejenak, merasa ada yang ganjil dengan perubahan nada bicara Ratih yang mendadak panik. Namun, ia memilih untuk tetap berpikiran positif dan mengangguk pelan. ​"Baik, Bu. Saya mengerti,"

​Dan, setelah serangkaian ucapan terima kasih terakhir yang masih terdengar agak terbata-bata, Ratih berbalik arah. Ia melangkah cepat keluar rumah menuju gerbang, seolah-olah sedang melarikan diri dari sesuatu.

Sementara, Salma yang berdiri diam, memperhatikan punggung wanita itu yang semakin mengecil, hingga akhirnya sosok Ratih benar-benar hilang ditelan tikungan jalan.

​"Hampir saja," Lirih Putra sambil menatap Salma dengan tatapan jenaka. "Hampir saja skenario 'aku' sebagai kita terbongkar di depan Ibuku." Celetuknya.

Salma menggigit bibir bawahnya, lalu kembali duduk di samping Putra. Kali ini ia bergeser lebih dekat, hingga aroma tubuh Putra menyapa indranya—perpaduan antara wangi sabun mandi yang bersih dan jejak parfum khas laki-laki itu.

Begitu juga dengan Putra, kali ini ia menatap Salma jauh lebih penuh dengan senyuman campuran kekaguman dan kebahagiaannya hari ini. "Kamu cantik." Gumamnya tanpa sadar.

Salma tak protes. Kata 'Ibu' yang biasa Putra sebut kini 'kamu' seakan membuat Salma kehilangan pijakan. Jantungnya berdesir hebat, menciptakan sensasi hangat yang menjalar hingga ke pipi, menyadari bahwa di mata Putra saat ini, ia bukan sekadar sosok guru, bukan pengasuh, melainkan seorang wanita.

"Oke." Angguk Putra menetapkan tubuh bidangnya yang begitu nampak dengan kaus polos army yang pas ditubuhnya. "Kita mulai darimana?"

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!