NovelToon NovelToon
Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Slice of Life / Anak Genius
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.

Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.

Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Alexander berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, menatap pemandangan kota dari lantai paling atas Thorne Tower. Pikirannya masih bergelut dengan wajah Elena yang pucat saat tadi ia tekan dengan pertanyaan.

Ketukan pelan di pintu memecah lamunannya.

“Masuk,” ucap Alexander tegas.

Seorang pria berjas hitam masuk, menunduk sopan. Dialah Marcus, orang kepercayaan Alexander yang selalu menangani informasi sensitif.

“Tuan,” sapanya, suaranya rendah dan penuh kehati-hatian. “Saya menemukan data lama mengenai wanita itu.”

Mata Alexander menyipit. “Wanita itu?”

“Elena Stratford,” jawab Marcus cepat. Ia menyerahkan sebuah map bersegel. “Saya menelusuri catatan lama dari Drexler BioLabs, laboratorium yang dulu berada di bawah pengawasan keluarga Drexler.”

Alexander berbalik, ekspresinya berubah dingin. “Katakan dengan jelas.”

Marcus membuka map itu, menatap sejenak sebelum berbicara. “Lima tahun lalu, program uji coba rahasia mengenai rekayasa genetika sempat dilakukan. Terdapat sepuluh wanita yang dipilih secara acak dari berbagai latar belakang. Dan… Elena Stratford adalah salah satunya.”

Alexander menahan napas, matanya membulat sejenak. “Apa kau yakin?”

“Saya yakin, Tuan. Semua dokumen ini mencantumkan namanya dengan jelas. Ia dinyatakan sebagai subjek yang paling kompatibel….” Marcus berhenti sejenak, menatap Alexander penuh kehati-hatian. “…dengan benih yang Anda titipkan untuk program itu.”

Ruangan hening. Alexander terdiam cukup lama, seolah kata-kata itu membekukan pikirannya. Tangannya mengepal, namun wajahnya tetap dingin.

“Lalu?” suara Alexander berat, nyaris seperti geraman.

“Namun… laporan terakhir menyebutkan jika uji coba itu dianggap gagal. Elena mengalami keguguran dini. Program pun dihentikan, dan ia dinyatakan keluar dari proyek.”

Alexander terdiam, matanya kembali beralih ke jendela. Udara terasa menegang. Ia mengingat-ingat… usia Leon. Jika dikaitkan dengan waktu uji coba itu, maka usia Leon sangat mungkin seusia calon putranya, jika uji coba itu berhasil.

Marcus melanjutkan hati-hati, “Jika Leon adalah anaknya sekarang… maka kemungkinan besar, ia adalah anak dari uji coba itu.”

Alexander tersenyum samar, penuh arti. Senyum yang dingin sekaligus berbahaya. “Atau…” katanya pelan, “Elena berbohong. Dan itu yang paling tidak kusukai.”

Marcus menunduk, menunggu perintah.

Alexander berbalik, menatap asistennya dengan sorot tajam. “Dengarkan aku, Marcus. Aku ingin kau mengawasi Elena lebih ketat. Jangan sampai ia menyadari. Selidiki semua tentang Leon, akta lahir, riwayat kesehatan, bahkan sekolahnya. Aku ingin semua detailnya.”

“Baik, Tuan,” jawab Marcus tegas.

Alexander menyandarkan diri ke kursi, menautkan jemari di depan wajahnya. “Jika Leon benar anakku… maka tidak ada yang bisa memisahkannya dariku. Tidak Elena, tidak siapa pun.”

Marcus mengangguk dalam-dalam, lalu melangkah mundur dan keluar dari ruangan.

Begitu pintu menutup, Alexander kembali larut dalam pikirannya. Ia membisikkan kata-kata pelan, seolah untuk dirinya sendiri.

“Elena… apakah kau benar-benar berani membohongiku? Jika Leon adalah darah dagingku, maka cepat atau lambat, kau harus menyerah. Dan aku akan menuntut apa yang seharusnya menjadi milikku.”

Beberapa jam kemudian, Elena kembali fokus bekerja di mejanya. Meski berusaha terlihat tenang, pikirannya masih kacau. Tatapan tajam Alexander sejak pagi terus menghantuinya.

Ia baru saja merapikan dokumen ketika suara berat itu kembali terdengar.

“Elena.”

Tubuh Elena menegang. Ia menoleh cepat, mendapati Alexander berdiri di depan ruang kerjanya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Sorot matanya begitu menusuk, seolah mampu menelanjangi isi hati Elena.

“Ya, Tuan?” Elena berusaha tersenyum sopan.

“Aku ingin kau membawakan laporan tambahan mengenai proyek merger kemarin. Bawa ke ruanganku sekarang.”

Elena mengangguk patuh. “Baik, Tuan.”

Ia segera menyiapkan berkas yang diminta. Saat melangkah ke ruang Alexander, ia berusaha menenangkan napasnya. Namun begitu pintu tertutup di belakangnya, aura pria itu kembali menghimpit seluruh keberaniannya.

“Letakkan di meja,” ucap Alexander tenang.

Elena meletakkan dokumen itu, lalu bersiap mundur. Namun suara Alexander menghentikannya.

“Tunggu.”

Elena menoleh. “Ada lagi yang bisa saya bantu, Tuan?”

Alexander bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mendekat. Tatapannya tidak pernah lepas dari Elena.

“Semakin aku mengamatimu,” katanya pelan, “semakin aku yakin… kau menyembunyikan sesuatu dariku.”

Elena menelan ludah. “Tuan, saya sudah menjelaskan—”

“Tidak cukup.” Alexander memotong, suaranya tajam. “Aku ingin kejujuran, Elena. Aku benci kebohongan.”

Elena memalingkan wajah, berusaha menghindari sorotan mata itu. “Saya tidak berbohong. Leon adalah tanggung jawab saya. Itu saja.”

Alexander berdiri hanya sejengkal darinya. Senyumnya tipis, dingin. “Benarkah? Lucu sekali. Karena aku mendapat informasi yang berbeda.”

Elena membeku. “Informasi… apa maksud Anda?”

Alexander mencondongkan tubuhnya, berbisik di dekat telinganya.

“Drexler BioLabs.”

Napas Elena tercekat. Wajahnya langsung pucat pasi.

Alexander menyeringai tipis melihat reaksinya. “Jadi benar. Kau tahu apa yang kubicarakan.”

Elena buru-buru menggeleng. “Tuan… itu masa lalu. Saya tidak ingin mengingatnya lagi.”

“Tidak ingin?” Alexander menyipitkan mata. “Atau takut aku mengetahui sesuatu?”

Elena meremas rok kerjanya erat-erat. “Tolong hentikan, Tuan. Saya mohon… jangan bawa-bawa hal itu.”

Alexander menatapnya dalam-dalam, lalu tertawa singkat namun tanpa kegembiraan. “Kau memang keras kepala. Tapi reaksi wajahmu sudah cukup menjawab. Leon…” ia berhenti, senyumnya melebar penuh arti, “…apakah ia benar anakku?”

Elena menutup mata rapat-rapat, air mata mulai menggenang. “Saya tidak bisa menjawab.”

Alexander mendekat lebih jauh, membuat Elena terdesak di antara meja dan tubuhnya. “Kau tidak perlu menjawab, Elena. Aku akan mencari tahu sendiri. Dan jika benar dia darah dagingku…” tangannya terulur, menyentuh dagu Elena, mengangkat wajahnya paksa, “…kau tidak akan bisa lagi menyembunyikannya dariku.”

Elena gemetar. Suaranya lirih, hampir berbisik. “Tuan… tolong jangan sakiti Leon.”

Alexander terdiam sesaat, menatap dalam ke mata Elena. Senyum tipis kembali terukir. “Aku tidak akan pernah menyakiti anakku sendiri. Tapi aku tidak bisa menjamin kau akan baik-baik saja… jika terus berbohong padaku.”

Alexander masih menahan dagu Elena dengan jemarinya. Tatapan tajamnya tak bergeming, seakan berusaha menembus lapisan demi lapisan pertahanan yang selama ini Elena bangun.

Perlahan, pria itu melangkah lebih dekat. Tubuhnya menjulang, auranya menekan, hingga Elena hampir kehilangan ruang untuk bernapas.

“Alex…” suara Elena bergetar, lirih, “tolong… jangan lakukan ini…”

Namun seakan tak mendengar, tangan Alexander yang lain terulur, meraih pinggang Elena dengan kuat. Seketika tubuh wanita itu tertarik mendekat, membuat jarak di antara mereka menghilang.

“Elena…” suara Alexander rendah, berat, penuh hasrat yang tertahan. “Setiap kali aku melihatmu… aku hanya ingin satu hal.”

Sebelum Elena sempat membalas, bibir Alexander sudah menyapu bibirnya. Ciuman itu dalam, menuntut, seolah pria itu menumpahkan semua rasa penasaran, amarah, dan obsesi yang selama ini membelenggunya.

Mata Elena membelalak, tubuhnya kaku seketika. Ia berusaha mendorong dada Alexander, namun genggaman pria itu di pinggangnya terlalu kuat. Napasnya tercekat, detak jantungnya kacau, dan dalam sekejap, tubuhnya mulai bergetar hebat.

Alexander semakin menekan ciuman itu, seakan ingin mengukir rasa miliknya pada bibir Elena. Jemarinya mencengkeram pinggang wanita itu lebih erat, menahan agar ia tidak lari.

Saat akhirnya Alexander melepaskan ciuman itu, keningnya masih menempel pada kening Elena. Napasnya berat, suaranya serak.

“Setiap kali aku melihatmu… aku ingin merasakan ini lagi,” bisiknya. “Dan lagi… hingga kau tidak bisa melupakanku.”

Air mata Elena jatuh, wajahnya memerah, bukan hanya karena ciuman itu, tapi juga karena dilema yang menyesakkan dadanya. Ia ingin marah, ingin menolak, namun tubuhnya seakan berkhianat.

“Elena…” Alexander menatapnya dalam, mata kelamnya berkilat intens. “Katakan padaku… jika aku salah. Katakan bahwa aku tidak punya hak untuk merasakan ini.”

Elena menggigit bibirnya, terisak pelan. “Anda… tidak seharusnya…” suaranya pecah, “Anda adalah atasan saya. Dan saya… saya tidak bisa—”

Alexander menangkup wajahnya dengan kedua tangan, suaranya lebih lembut, namun penuh desakan.

“Aku tidak peduli status itu. Yang aku tahu… kau menyembunyikan sesuatu dariku. Dan aku akan merobohkan semua tembokmu, Elena. Satu per satu… sampai kau tidak bisa lari lagi dariku.”

Elena terdiam, air matanya terus jatuh. Hatinya berperang hebat antara rahasia yang ia jaga dan godaan yang semakin sulit ditolak dari pria di hadapannya.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok tuba tiba setting London ya?
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya
tia
lanjut Thor
Wulan Sari
ibu kasih kopi ☕ buat up lagi next
Wulan Sari
salam sudah ibu kasih kopi buat semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!