Seyna Darma, gadis yang dianggap bodoh karena trauma kematian kedua orang tuanya, hidup dalam siksaan paman dan bibi yang kejam.
Namun di balik tatapannya yang kosong, tersimpan dendam yang membara.
Hingga suatu hari ia bertemu Kael Adikara, mafia kejam yang ditakuti banyak orang.
Seyna mendekatinya bukan karena cinta, tapi karena satu tujuan yaitu menghancurkan keluarga Darma dan membalas kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 SEBUAH HUKUMAN
Seyna yang wajahnya terkena kayu dari pinggir canvas itu hanya terdiam, lalu meraih gambar itu dan mencoba berdiri.
"Aku...aku memberi ini kepada Alisha," ucapnya pelan.
"Dan lukisan itu ini semuanya sudah diambil oleh Alisha...untuk pameran...ya pameran itu," ucap Alisha sambil menunduk pura pura takut dengan raut Dirga.
Dirga hanya mengehela napas lalu segera menarik tangan Rayyan ke dekatnya.
"Bawa Rayyan ke rumah belakang dan jangan biarkan siapapun masuk kesana!" tegas Dirga sambil mendorong Rayyan ke arah sang istri.
"Cepat Rayyan," ucap Reni sambil menarik tangan paksa.
"Jangan bawa Rayyan!aku masih mau main dengannya...jangann" ucap Seyna histeris.
Kedua manusia jahat itu tidak peduli, Reni segera menarik paksa Rayyan yang sudah menangis, sedangkan Seyna sudah histeris melempar kuas dan cat catnya ke lantai yang membuat Dirga murka.
"Seyna!Hentikan dasar gadis bodoh," teriak Dirga sambil melepas ikat pinggangnya.
Tanpa pikir panjang ia segera memukul punggung Seyna dengan ujung ikat pinggangnya yang langsung membuat Seyna berhenti dan menatap tajam ke arah Dirga.
"Kau!" ucap Seyna sambil mendekat ke arah Dirga.
Seyna yang sudah emosi, langsung mencengkram leher Dirga dengan kedua tangannya. Ia mencekik leher Dirga keras keras.
"Lepas..lepasin Seyna.." ucap Dirga hampir kehilangan napasnya.
Saat itu juga Reni datang dan mencoba melepaskan cengkraman itu dari leher suaminya.
"Seyna! Jangan gila kendalikan amarahmu," teriak Reni.
Seyna tidak menggubris perkataan itu, tetapi malah menguatkan cengkraman itu hingga Dirga hampir kehilangan kesadarannya. Melihat itu Reni tidak tinggal diam dan berbisik tepat ditelinga Seyna.
"Lepaskan Seyna, atau temanmu itu Rayyan tidak akan aku beri makan!" ucap Reni lirih.
Mendengar itu Seyna menatap Dirga dengan mata membulat ketakutan. Tangan yang tadi mencengkeram leher pria itu kini bergetar hebat. Nafasnya tersengal, seolah paru-parunya menolak bekerja. Detik demi detik, ketakutan menggantikan amarah. Wajahnya memucat, matanya membulat seperti kehilangan arah.
Tubuhnya perlahan mundur, langkahnya goyah hingga akhirnya punggungnya membentur dinding dingin di belakang. Ia terjatuh ke lantai, memeluk kedua lututnya. Helaan napasnya terdengar tersendat, sementara Dirga yang masih memegangi lehernya menatapnya dengan pandangan penuh kebencian.
"Dasar kau gadis gila!" bentak Dirga keras, menunjuk ke arah wajah Seyna yang mulai basah oleh air mata.
Seyna terperanjat. Ia menunduk dalam-dalam, tubuhnya gemetar tanpa henti.
"Aku… aku tidak bermaksud… Maaf paman...maaf" suaranya nyaris tak terdengar.
Reni segera melangkah cepat ke arah pintu, suaranya tegas namun bergetar karena marah.
"Risa! Cepat kemari!"
Tak sampai satu menit, Risa muncul tergesa dengan wajah panik, membawa kotak obat di tangannya.
"Ya, Nyonya! Ada apa?"
"Obati dia. Dan beri obat penenang supaya dia diam. Aku tidak ingin mendengar suara jeritannya malam ini, dia memang sudah sangat gila!" ucap Reni dingin, lalu menatap Dirga sekilas.
"Ayo, Mas. Biarkan dia diurus oleh pembantunya."
Dirga mendengus kesal namun menurut. Ia masih menatap tajam ke arah Seyna sebelum akhirnya menarik napas berat dan berjalan keluar bersama Reni.
Begitu pintu tertutup, suasana kamar menjadi sunyi. Hanya terdengar suara isak pelan dan napas tersengal milik Seyna. Cahaya lampu kuning redup membuat bayangan di dinding tampak bergoyang lembut suasana itu terasa seperti penjara.
Risa berlutut di samping Seyna, meletakkan kotak obat di lantai. Tangannya menyentuh lembut pipi Seyna yang memar.
"Non…" panggilnya lirih, penuh kekhawatiran.
Seyna menunduk, tak menjawab. Bahunya naik turun karena tangis yang ditahan. Risa perlahan membuka kotak obat, mengambil kapas dan cairan antiseptik, lalu mulai membersihkan luka di wajah dan tangan gadis itu.
"Kalau sakit bilang ya non," ucap Risa pelan.
Setiap sentuhan terasa menyakitkan, tapi Seyna hanya diam. Tidak ada keluhan, tidak ada perlawanan. Ia hanya menatap kosong ke arah lantai, seolah pikirannya melayang jauh entah ke mana.
"Tenang, Non. Saya sudah mengobati,' ucap Risa dengan suara lembut.
Setelah membersihkan luka, Risa mengeluarkan dua butir obat putih dari kantong kecil di dalam kotak. Ia menuangkan air ke dalam gelas dan menyerahkannya ke Seyna.
"Minum dulu ya, Non. Biar tenang."
Seyna menatap obat itu sejenak sebelum akhirnya menelannya perlahan. Tangannya masih gemetar, bahkan gelas yang ia pegang hampir jatuh. Setelah itu, ia menunduk dalam diam, matanya mulai sayu karena efek obat.
Namun sebelum benar-benar tenang, Risa mendengar gumaman pelan keluar dari bibir Seyna.
"Risa…"
"Iya, Non?" Risa segera mendekat, menatap wajah majikannya yang kini tampak lelah dan penuh luka.
Seyna menggenggam tangan Risa erat-erat, begitu kuat hingga Risa bisa merasakan dinginnya telapak tangan itu.
"Tolong… bantu aku. Jangan biarkan Rayyan kelaparan. Tolong beri dia makanan, minuman, apa pun… aku mohon, Risa."
Nada suaranya penuh ketakutan, seperti seseorang yang tahu ancaman Reni bukan sekadar gertakan.
Risa tertegun. Matanya memanas, ia menatap Seyna, yang kini terlihat seperti anak kecil ketakutan, bukan seorang gadis dari keluarga kaya.
"Aku janji, Non. Aku akan jaga Tuan Muda Rayyan. Aku akan pastikan dia makan dan tidak kekurangan apa pun."
Seyna menatap Risa, air matanya kembali jatuh.
"Mereka jahat, Risa. Mereka semua jahat. Tapi aku tidak akan kalah… aku tidak akan membiarkan mereka mengambil Rayyan dariku. Aku akan membalas perlakuan mereka terhadap aku dan keluargaku."
Risa menggenggam tangan Seyna lebih kuat, menatapnya dengan pandangan lembut.
"Saya tahu, Non. Tapi sekarang Nona harus tenang dulu. Biar saya yang urus semuanya malam ini, ya?"
Seyna mengangguk pelan, lalu menunduk. Obat penenang mulai bekerja, membuat tubuhnya lemas. Namun sebelum matanya benar-benar terpejam, ia berbisik pelan.
"Kalau aku tidak ada disini, Risa… jangan biarkan Rayyan sendirian."
.....
"Bagaimana siapa gadis itu?"tanya Kael menatap ke arah Zidan sang asisten.
"Dia putri dari keluarga Damar yang dianggap bodoh," jelas Zidan memberikan tabnya kepada Kael.
Kael segera menerima tab itu dan menggeser geser biodata Seyna mengamati foto gadis cantik itu.
"Tapi yang aku lihat tadi, dia bukan seperti gadis bodoh. Mencurigakan sekali," gumam Kael.
"Kenapa tuan, meminta saya mencari gadis itu?apa dia mengangggu tuan?"tanya Zidan yang agak curiga karena Kael yang terkenal dingin dan kejam bisa menanyakan seorang gadis bodoh.
"Tidak, hanya sedikit penasaran saja,"ucap Kael datar tetapi tatapannya masi mengarah ke tab itu.
Zidan hanya memutar bola matanya lalu menatap ke arah jendela mobil. Sedangkan Kael masih penasaran tentang gadis yang ia temui di pesta tunangan itu.
"Seyna Damar?" gumamnya pelan.
Kael menatap layar tablet itu cukup lama. Nama Seyna Damar terpampang jelas di bagian atas berkas data pribadi. Namun semakin ia membaca, semakin kerutan muncul di dahinya.
"Riko Damar dan Naya Damar" gumamnya lirih, mengulang nama orang tua yang tertulis di data tersebut.
Ia menggeser layar, menatap foto lama keluarga kecil itu sepasang suami istri dengan seorang anak perempuan berambut panjang yang tersenyum cerah di tengah-tengah mereka. Wajah itu sama persis dengan gadis yang tadi mencium bibirnya di pesta.
"Tunggu," ucap Kael pelan, nadanya mulai berubah serius.
"Zidan, kau bilang keluarga Damar yang punya acara pertunangan tadi itu, siapa?"
Zidan menoleh sekilas, menjawab tanpa curiga.
"Dirga Damar dan istrinya, Reni. Mereka dikenal sebagai penerus dari perusahaan Damar. Sedangkan anak mereka, Alisha Damar, baru saja bertunangan dengan—"
Kael memotong. "Berarti bukan Riko Damar?"
......
MOHON DUKUNGANNYA JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN SEBANYAK BANYAKNYA TERIMAKASIHH
Jangan lupa follow buat tau kalau ada cerita baru dari othorrr!!