Lima mahasiswa mendaki Gunung Arunika untuk hiburan sebelum skripsi. Awalnya biasa—canda, foto, rasa lelah. Sampai mereka sadar gunung itu tidak sendirian.
Ada langkah ke-enam yang selalu mengikuti rombongan.
Bukan terlihat, tapi terdengar.
Dan makin lama, makin dekat.
Satu per satu keanehan muncul: papan arah yang muncul dua kali, kabut yang menahan waktu, jejak kaki yang tiba-tiba “ada” di tengah jejak mereka sendiri, serta sosok tinggi yang hanya muncul ketika ada yang menoleh.
Pendakian yang seharusnya menyenangkan berubah jadi perlombaan turun gunung… dengan harga yang harus dibayar.
Yang naik lima.
Yang turun… belum tentu lima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmann Nhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 — Orang yang Ingin Menyelamatkan Semua Orang
POV SARI
Setelah retakan itu muncul di gelang, aku tahu satu hal dengan pasti:
Target Arunika bergeser.
Bukan lagi Kayla.
Bukan lagi “yang paling rapuh”.
Sekarang… Raka.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
Karena orang yang ingin menyelamatkan semua orang
selalu lupa satu hal:
> dirinya sendiri.
Raka duduk membelakangi kami, menatap dinding pos yang penuh goresan.
Tangannya gemetar, bukan ketakutan—tapi menahan diri.
Kayla masih terisak pelan.
Aku memeluknya, tapi mataku tidak lepas dari Raka.
Aku tahu tatapan itu.
Tatapan orang yang sedang berdiskusi dengan kepalanya sendiri.
Bukan suara.
Bukan bisikan.
Logika.
Dan Arunika paling suka logika yang terdengar mulia.
---
POV RAKA
Aku tidak mendengar suara apa pun.
Itu yang paling menakutkan.
Tidak ada tiruan.
Tidak ada jeritan.
Tidak ada entitas.
Hanya pikiranku sendiri yang berkata tenang:
Kalau kamu sedikit saja mengalah…
mereka berdua bisa selamat.
Bukan “mati”.
Bukan “hilang”.
Mengalah.
Menyerahkan diri ke sesuatu yang tidak akan menyakiti tubuhku—
hanya menghapusku perlahan.
Aku menatap goresan di dinding pos.
Ada banyak tulisan pudar:
— maaf
— tolong
— aku capek
— aku yang salah
— asal mereka hidup
Semua kalimat itu terasa… akrab.
Dan di situlah jebakannya.
Aku berdiri.
Sari langsung menoleh. “Raka, jangan ke mana-mana.”
Aku menoleh ke dia, tersenyum kecil.
“Gue cuma mau ambil udara.”
Kayla menatapku ketakutan. “Jangan keluar…”
Aku mengangguk. “Nggak keluar. Janji.”
Tapi bahkan saat aku mengucapkan kata janji…
aku tahu itu tidak sepenuhnya jujur.
Karena aku sudah mulai mempertimbangkan satu hal:
> Bagaimana kalau aku tetap ada…
tapi bukan sebagai diriku yang sekarang?
Arunika tidak selalu mengambil tubuh.
Kadang ia cukup mengambil keinginan.
Dan keinginanku untuk memastikan mereka selamat
adalah celah paling lebar.
---
HUTAN MENJAWAB TANPA SUARA
Aku melangkah satu meter menjauh dari mereka.
Dan lantai pos berderit—bukan karena beratku, tapi karena sesuatu di bawahnya bergerak.
Bayangan di sudut ruangan mulai memanjang ke arahku, seperti tangan yang ingin memegang tapi tidak boleh.
Sari berdiri cepat, memegang lenganku.
“Lu ke mana?”
Aku membuka mulut untuk menjawab…
Dan kepalaku langsung dipenuhi gambaran:
Kayla tertawa tanpa takut.
Sari tidur tanpa mimpi buruk.
Gunung diam.
Semua itu mungkin terjadi…
tanpa aku.
Aku terhuyung.
Sari menampar pipiku.
Keras.
“RAKA! DENGER GUE!”
Aku tersentak, napas terputus.
“Lu lagi dideketin pikiran pengganti,” katanya tajam.
“Bukan suara. Bukan hantu.
TAPI LOGIKA PALSU.”
Kayla berdiri, meski kakinya gemetar.
“Raka… tolong.
Kalau lu pergi dengan alasan apa pun—
itu tetap pengorbanan.”
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Aku capek,” kataku jujur.
“Aku cuma mau semuanya berhenti.”
Dan kalimat itu…
membuat dinding pos berdenyut.
Goresan-goresannya mengeluarkan cairan hitam.
Gelang biru di tangan Sari retak lebih lebar.
Ukirannya berubah lagi:
> PENGGANTI TIDAK PERLU DIMINTA
MEREKA DATANG SENDIRI
Kayla menjerit.
Sari menarikku mundur.
Dan dari dinding belakang pos…
sesuatu keluar.
Bukan hantu pendaki.
Bukan bayangan manusia.
Tapi bentuk RAKA yang lain.
Tubuhnya sama.
Wajahnya sama.
Tapi matanya kosong.
Mulutnya tersenyum tenang—senyum orang yang sudah menyerah.
Dia berkata dengan suaraku sendiri:
> “Aku bisa ambil alih.
Kamu boleh istirahat.”
Tubuhku membeku.
Sari berteriak: “ITU BUKAN LU!”
Tiruan itu mendekat selangkah.
> “Aku adalah versi yang tidak melawan.
Versi yang membiarkan semua selesai.”
Kayla menangis: “Raka, jangan dengar! Itu cuma mau gantiin lu!”
Aku gemetar.
Karena yang dia katakan… masuk akal.
Aku bisa tetap “hidup”.
Tetap “ada”.
Tapi bukan sebagai aku yang terus bertarung.
Tiruan itu mengulurkan tangan.
> “Berhenti capek.
Biar aku yang lanjut.”
Dan saat itu aku sadar:
Inilah akhir siklus yang paling sempurna.
Tidak ada yang mati.
Tidak ada yang hilang.
Hanya… aku berhenti menjadi diriku sendiri.
Aku menatap Sari dan Kayla.
Mereka menangis.
Takut.
Dan untuk pertama kalinya…
aku melihat apa yang akan terjadi jika aku menyerah.
Mereka tidak selamat.
Mereka akan hidup…
dengan rasa bersalah seumur hidup.
Aku menepis tangan tiruanku.
“Pergi,” kataku serak.
“Aku capek, tapi aku masih mau hidup sebagai aku.”
Tiruan itu terdiam.
“Aku tidak mau digantikan,” lanjutku, suaraku pecah.
“Aku tidak mau jadi simbol.
Aku tidak mau jadi alasan.”
Tiruan itu mulai retak dari wajah, seperti kaca tipis.
> “Kalau begitu…
kamu akan terus menderita.”
“Tidak apa-apa,” jawabku.
“Itu namanya hidup.”
Tiruan itu menjerit tanpa suara dan hancur menjadi debu hitam yang terserap kembali ke dinding.
Pos berguncang keras.
Hutan meraung.
Gelang biru PECAH.
Bukan retak—pecah menjadi dua.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai…
tidak ada tulisan baru.
Tidak ada peringatan.
Tidak ada ancaman.
Hanya keheningan berat yang membuat telinga berdengung.
Aku jatuh berlutut.
Sari memelukku dari belakang.
Kayla memegang tanganku erat.
Kami bertiga terengah—bukan karena lari,
tapi karena selamat dari diri sendiri.
Dan di luar pos…
sosok-sosok di hutan mundur perlahan, seolah kehilangan arah.
Bukan karena kami menang.
Tapi karena satu pintu ditutup tanpa digantikan apa pun.
Namun Sari berbisik dengan suara gemetar:
“Ini belum selesai…”
Aku mengangguk.
Karena kami semua tahu:
Gunung tidak menyerah.
Ia hanya mundur… menunggu bentuk lain.
Dan malam masih panjang.
pintu tertutup terbuka aja
lama banget horonrnya datang
geram sekali sama mereka main kabur aja
terasa banget horor nya.
aku suka horor