Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian
Vira menggenggam stir mobilnya, mencoba lebih fokus. Belum sempat ia bereaksi, mobil hitam itu menyalip dengan kecepatan tinggi dan menyenggol bagian depan mobil Vira.
Mobil Vira oleng, menabrak pembatas jalan, lalu berputar keras dua kali sebelum terbalik.
Suara kaca pecah memecah kesunyian sore itu. Suara klakson panjang menggema di udara, disusul teriakan orang-orang dari kejauhan.
Tubuh Vira terhantam keras ke setir, darah mengalir dari pelipisnya. Pandangannya kabur, napasnya berat.
Di sela sisa kesadarannya, pikirannya hanya mengarah pada satu nama.
“Alia…” bisiknya lemah.
Beberapa orang berlari mendekat, membuka pintu mobil yang ringsek dengan susah payah.
“Cepat, bawa ke rumah sakit!” seru seseorang.
Vira masih sadar, tapi lemah. Matanya setengah terbuka, melihat langit yang kini sepenuhnya gelap karena mendung. Dalam samar pandangnya, hujan turun perlahan dan semuanya terasa jauh.
Ambulans tiba. Suara sirine meraung di jalanan basah, menembus lalu lintas sore. Di dalamnya, paramedis berusaha keras mempertahankan hidupnya.
“Tekanan darah turun cepat!”
“Pendarahan hebat di kepala!”
Vira sempat menggerakkan jari tangannya, seolah ingin berkata sesuatu, tapi suaranya tak keluar.
“Bertahan, Bu…sebentar lagi kita sampai rumah sakit,” ucap salah satu paramedis.
Namun, saat ambulans melewati tikungan terakhir, monitor jantung yang sejak tadi berbunyi pelan tiba-tiba mengeluarkan bunyi datar.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii...
Paramedis itu terdiam sesaat, menatap rekan di sebelahnya.
“Selesai…” bisiknya pelan.
Mereka sudah berusaha total namun akhirnya merasa tak berdaya karena tak bisa menolong Vira yang sudah pergi selamanya.
Di luar, hujan turun deras. Jalanan sepi, hanya suara air dan sirine yang perlahan memudar di kejauhan.
Vira Luxia, guru yang ingin memperjuangkan kebenaran telah pergi, meninggalkan dunia yang belum sempat mendengar kisah penuh keberaniannya.
Dan di sebuah sekolah kecil, jauh dari hiruk-pikuk itu, seorang anak perempuan masih duduk di depan gerbang menunggu jemputan ibunya tanpa tahu bahwa dunia kecilnya baru saja runtuh.
***
Sekian lama menunggu, Tisha akhirnya memutuskan mengantar Alia kerumahnya dengan menumpangi mobil kepala sekolah.
Ia tidak sekedar mengantar, Tisha ingin memastikan Alia benar-benar aman walau dalam rumah, karena teringat kejadian tadi disekolah.
"Ibu pulang duluan saja, nanti saya bisa pulang sendiri." kata Tisha pada kepala sekolah.
Begitu sampai depan pintu, Tisha menekan bel rumah itu. Tak lama Bibi Ratih, pengurus rumah Vira membukakan pintu.
"Assalamualaikum." sapa Tisha.
"Wa'alaikumsalam, Eh non Alia." Ratih celingak celinguk menoleh ke arah luar.
"Maaf, saya ingin mengantarkan Alia. Dari tadi Bu Vira tidak bisa dihubungi." Tisha memberi penjelasan.
Bibi Ratih baru mengerti, "Oh, biasanya nona Alia selalu pulang dengan Bu Vira, saya kaget lihat beliau tidak ada. Silakan masuk dulu Bu guru." ucapnya ramah.
Tisha sebenarnya ingin pamit pulang, namun tangannya di tarik oleh Alia untuk ikut masuk.
"Bu guru harus lihat rumahku, aku punya banyak mainan." ucapnya Alia riang.
Tisha hanya mengangguk menuruti. Begitu sampai ke ruang tengah, terdengar suara TV yang menyala.
Bibi Ratih muncul ingin menyajikan minum untuk Tisha. "Bu, silakan minum dulu."
Tisha mengangguk, "Terimakasih Bi, tak usah repot-repot." ucapnya ringan.
Namun tiba-tiba muncul berita di TV, menampilkan berita tabrakan sebuah mobil yang parah di pinggir tol kota mereka. Terlihat mobil itu ringsek parah, namun plat mobilnya masih bisa terbaca.
Mata Tisha menyipit, mobil itu terlihat familiar. Ia melirik ke arah Bibi Ratih. Bibi Ratih pun menutup mulutnya terkejut, ia tahu betul itu adalah mobil majikannya.
Alia muncul dari kamarnya ingin menunjukkan mainan barunya pada Tisha.
Tisha yang melihat Alia mendekat lalu cepat-cepat menutup telinga Alia dan mengalihkannya.
Bi Ratih langsung mengecilkan volume televisi itu. Hati Tisha kacau tak karuan. Ia meminta Bi Ratih untuk mengantar Alia dulu ke kamar. Dan berniat menghubungi Vira sekali lagi untuk memastikan.
Namun, seketika guntur besar bergemuruh, Alia menjerit ketakukan dan langsung memeluk Tisha kuat-kuat. Anak itu rupanya sangat takut suara petir.
Tisha pun memeluknya erat, "Sayang, tenang ya.. Tidak apa-apa." lirih Tisha mencoba menenangkan.
Tak lama, ponsel Tisha berdering. Ia mengernyit, melihat nama Bu Vira di layar. Dengan sedikit lega, ia segera mengangkatnya.
“Halo…” sapanya.
Namun alih-alih mendengar suara lembut Vira, yang terdengar justru suara seorang laki-laki.
“Mohon maaf, ini siapanya Bu Vira, ya?” tanyanya dengan nada berat.
Tisha agak bingung. “Saya guru anaknya, Pak. Ada apa, ya?” tanyanya cepat, perasaannya mulai tak enak.
Suara di seberang hening sejenak sebelum menjawab pelan, “Tolong sampaikan pada keluarga beliau bahwa Bu Vira mengalami kecelakaan. Dan mohon maaf, beliau tidak bisa kami selamatkan.”
Tisha terpaku. Napasnya tertahan di tenggorokan, matanya membulat tanpa suara keluar.
Sekejap, dunia di sekelilingnya terasa kabur. Ia menatap kosong ponselnya, lalu perlahan menurunkannya dengan tangan gemetar. “Tidak mungkin…” gumamnya lirih.
Tisha mendekati Bi Ratih dengan wajah pucat, bibirnya gemetar hebat. Ia berbisik pelan, “Bu Vira, Bi,” suaranya pecah di tengah tenggorokan. “Katanya… beliau tak tertolong.”
Air mata Tisha jatuh begitu saja. Ia menutup mulutnya, berusaha menahan isak, tapi tubuhnya sudah bergetar.
Bi Ratih sontak berdiri, menatapnya dengan mata membesar. “Innalillahi… Ya Allah…”
Tisha memandang Alia, air matanya jatuh satu per satu. Dalam hati ia berbisik lirih, “Ya Tuhan, bagaimana aku harus memberitahu anak sekecil itu kalau mamanya sudah pergi?”
Ponsel Willie dari tadi bergetar di atas meja kerjanya, namun ia belum sempat melihat. Pertemuan dengan kliennya baru saja selesai, dan ia sedang membereskan berkas-berkas proyek di hadapannya.
Saat dering terakhir berbunyi, ia melirik sekilas ke layar. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya, Tulisan “Istriku” terpampang di sana.
Ia segera mengangkat panggilan itu. “Halo, sayang,” sapanya lembut, nada suaranya terdengar lega.
Namun, alih-alih suara lembut istrinya, yang terdengar justru suara berat seorang laki-laki di seberang.
“Pak, maaf apakah ini dengan suaminya Ibu Vira?”
Willie spontan terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. “Iya, benar. Ini siapa ya, Pak?” tanyanya waspada.
Suara di seberang terdengar pelan dan tegas, “Kami dari Rumah Sakit Umum. Dengan sangat menyesal, kami ingin menyampaikan bahwa Ibu Vira sudah meninggalkan kita.”
Hening. Dunia seperti berhenti sejenak.
“Apa maksud Anda?” suara Willie meninggi, tercekat di tenggorokan. “Meninggalkan, maksudnya apa?”
“Bu Vira mengalami kecelakaan lalu lintas, Pak. Kami sudah berusaha menyelamatkan, tapi nyawanya tidak tertolong.”
Napas Willie tersengal. Ia berdiri dari kursinya dengan tubuh gemetar, kursi kerjanya terjatuh ke lantai.
“Tidak, itu tidak mungkin. Pasti salah orang!” suaranya pecah, antara marah dan putus asa.
Namun suara di seberang telepon tetap tenang, seolah sudah terbiasa dengan tangisan keluarga yang kehilangan.
“Kami turut berduka cita, Pak. Mohon segera ke rumah sakit untuk proses lebih lanjut.”