NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 03. Respect

Pagi hari datang dengan sisa-sisa rasa pening yang masih hinggap di kepala Acha. Harapan bahwa Raka akan mengirimkan pesan atau setidaknya melakukan panggilan telepon di pagi hari sama sekali tidak terwujud.

Layar ponselnya tetap bisu, menyisakan kekosongan yang semakin menegaskan betapa Raka benar-benar tidak peduli padanya.

Melihat kondisi Acha yang masih lemas namun tetap bersikeras untuk bekerja karena tanggung jawab yang besar, Yanto, sang ayah, akhirnya mengambil keputusan tegas.

Dia tidak bisa membiarkan putrinya pergi sendirian dalam kondisi sakit, terlebih setelah melihat betapa tidak bisa diandalkannya Raka.

"Sudah, kamu nggak usah nungguin dia lagi, Cha," ucap Yanto sembari bersiap mengambil kunci motornya.

"Papah yang akan antar kamu sekarang. Kalau kamu menunggu yang nggak pasti, kamu malah bisa telat berangkat kerjanya."

Acha hanya bisa mengangguk pelan. Dia merasa bersalah sekaligus terharu melihat ayahnya yang sudah berumur harus bersusah payah mengantarnya.

Dia tahu perjalanan dari rumah mereka menuju tempat kerjanya bukanlah jarak yang dekat setidaknya dibutuhkan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan di tengah hiruk pikuk lalu lintas pagi hari yang padat.

Di sepanjang perjalanan, Acha menyandarkan kepalanya di punggung sang ayah. Dinginnya angin pagi menyapu wajahnya yang pucat, namun rasa sakit di hatinya terasa jauh lebih menusuk daripada udara dingin yang menerpa.

Sambil memeluk pinggang Yanto dengan erat, Acha berjanji dalam hati untuk mulai membenahi hidupnya. Dia mulai menyadari bahwa seseorang yang seharusnya menjadi sandaran hidupnya, nyatanya justru menjadi beban yang paling menyesakkan.

Perjalanan panjang selama satu setengah jam itu terasa begitu melelahkan, terutama bagi tubuh Acha yang belum sepenuhnya pulih dari sakit.

Di atas motor tua milik ayahnya, Acha harus bertahan melawan terpaan angin pagi, kepulan asap kendaraan bermotor, serta rasa pening yang terus mendera kepalanya.

Di tengah perjalanan, lalu lintas mendadak tersendat akibat kemacetan panjang di dekat area pasar tradisional. Kendaraan merayap lambat, membuat waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya.

Yanto, yang mengendarai motor dengan hati-hati, sesekali melirik ke arah kaca spion untuk memastikan kondisi putrinya. Melihat Acha yang tampak terkulai lemas di punggungnya dengan tangan memeluk erat pinggangnya, hati Yanto merasa ngilu.

Sebagai seorang ayah, melihat anaknya berjuang mati-matian mencari nafkah dalam kondisi sakit—sementara pria yang mengaku sebagai kekasihnya malah bersenang-senang—membuat kemarahan dan rasa iba bergolak jadi satu di dadanya.

"Tahan sebentar ya, Nak. Ini sebentar lagi kita sampai jalan raya utama, habis itu agak longgar," ucap Yanto dengan suara parau yang berusaha diredam oleh deru mesin motor.

"Iya, Pak..." jawab Acha lirih nyaris tak terdengar, suaranya teredam oleh helm dan bisingnya jalan raya.

Acha kembali memejamkan matanya, membiarkan butiran air mata hangat lolos begitu saja membasahi pipinya, beradu dengan angin pagi. Dia merutuki kebodohannya sendiri yang selama ini begitu sabar menghadapi Raka.

Namun di sisi lain, dia juga merasa sangat beruntung masih memiliki seorang ayah yang rela berpanas-panasan, meninggalkan sejenak urusannya di rumah, demi memastikan putrinya tiba di tempat kerja dengan selamat.

Motor tua yang dikendarai Yanto akhirnya berhenti tepat di depan pelataran tempat kerja Acha. Setelah berpamitan dan mencium tangan sang ayah dengan penuh rasa terima kasih, Acha melangkah masuk ke dalam area kerjanya.

Tubuhnya masih terasa lemas, namun langkahnya kini terasa lebih berat bukan karena sakit fisik, melainkan karena perang batin yang berkecamuk di dalam dadanya.

Begitu dia tiba di area kerja, Vika yang sudah lebih dulu datang langsung menyambutnya. Namun, senyum sapaan Vika seketika lenyap saat melihat wajah pucat pasi dan mata sembab sahabatnya.

"Ya ampun, Cha! Muka kamu pucat banget, kamu beneran lagi sakit ya? Dan kenapa mata kamu bengkak gitu? Habis nangis lagi gara-gara si Raka sialan itu?!" cecar Vika khawatir sekaligus kesal.

Acha hanya bisa tersenyum pahit, lalu menceritakan secara singkat bagaimana Raka sama sekali tidak bisa dihubungi sejak semalam.

Hingga akhirnya dia terpaksa diantar oleh sang ayah sejauh satu setengah jam dalam kondisi tubuh yang masih demam.

Mendengar cerita itu, emosi Vika langsung meledak. Dia mengepalkan kedua tangannya di atas meja, menahan geram yang sudah di ubun-ubun.

"Udah gila ya tuh cowok?! Kamu lagi sakit, butuh dia, malah ngilang kayak ditelan bumi! Masih untung kamu belain, Cha!" seru Vika dengan nada tinggi penuh emosi.

Vika menatap Acha lekat-lekat, memegang kedua bahu sahabatnya dengan lembut namun tegas.

"Saran aku, Cha... Kamu putusin aja si Raka sekarang juga. Sadar, Cha! Dia itu cuma manfaatin kamu doang! Raka itu nggak tulus sama kamu, dia cuma mau uang kamu, mau barang-barang dari kamu! Kalau dompet kamu udah kering atau kamu nggak bisa dibandrol lagi, dia bakal ninggalin kamu tanpa nengok ke belakang!"

Kata-kata Vika telak menghantam kesadaran Acha. Kalimat itu begitu mirip dengan apa yang dipikirkan oleh ayahnya, dan yang lebih menyakitkannya lagi, jauh di lubuk hatinya Acha tahu persis bahwa ucapan sahabatnya itu adalah kebenaran pahit yang selama ini dia tutup-tutupi.

Acha terdiam kaku. Tenggorokannya terasa tercekat, seolah ada batu besar yang menyumbat jalannya udara.

Kalimat-kalimat tajam yang baru saja meluncur dari bibir Vika berputar-putar di dalam kepalanya, berdengung nyaring bersamaan dengan nasihat sang ayah tadi pagi.

Semua bukti nyata terbentang begitu jelas di hadapannya. Mulai dari sikap Raka yang mendadak manis hanya saat dompet Acha tebal. Kebiasaan pemuda itu meminta dibelikan ini-itu tanpa rasa sungkan.

Hingga puncaknya saat dia jatuh sakit dan membutuhkan bantuan—Raka justru memilih asyik bermain gim dengan teman-teman penganggurannya sambil menertawakan ketulusan Acha.

Air mata yang sejak tadi berusaha dia bendung akhirnya kembali tuntas menetes.

Kali ini bukan sekadar karena rasa sakit hati atau kekecewaan, melainkan karena rasa malu yang teramat sangat pada dirinya sendiri.

Begitu bodohnya ia selama ini, membiarkan harga dirinya diinjak-injak oleh seorang pria benalu yang tidak memiliki belas kasihan.

"Iya, Vik..." cicit Acha lirih, suaranya bergetar hebat menahan tangis.

"Aku tahu... aku tahu semua ucapan kamu bener."

Vika yang melihat pertahanan sahabatnya runtuh langsung menarik Acha ke dalam dekapan hangatnya. Dia mengelus punggung Acha penuh kasih sayang, membiarkan gadis itu meluapkan segala sesak yang menghimpit dada di pelukannya.

Tasya, yang baru saja datang dan melihat pemandangan itu, segera ikut mendekat dan merangkul kedua sahabatnya, memberikan kekuatan penuh bahwa Acha tidak sendiri dalam menghadapi fase terberat dalam hidupnya ini.

Sore harinya, setelah shift kerjanya selesai dan tubuhnya terasa semakin lelah, Acha memutuskan untuk mampir ke kontrakannya Suci dan Alfian.

Kedatangan Acha kali ini bukan sekadar untuk kembali setelah dari rumah orang tuanya, melainkan untuk membicarakan sebuah keputusan besar yang sudah dia pikirkan matang-matang sepanjang hari.

Di ruang tengah yang sederhana, Acha duduk berhadapan langsung dengan Suci. Dengan suara pelan dan raut wajah yang menyiratkan keraguan sekaligus ketegasan, Acha mulai menyampaikan niatnya.

"Teh... aku mau ngomong sesuatu," ucap Acha memulai pembicaraan dengan tangan yang sedikit meremas ujung bajunya.

Suci menatap Acha dengan penuh selidik. "Ngomong apa, Cha? Serius banget kelihatannya. Ada masalah apa lagi?"

Acha menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Gimana kalau... aku ngekos saja ya, teh? Tinggal bareng Vika. Vika kemarin sempat nawarin buat cari kosan bareng yang lokasinya dekat dari sini dan tempat kerja kita."

Mendengar permintaan itu, Suci tampak terkejut sesaat, namun dia tidak langsung menolak. Sebagai kakak ipar yang tinggal satu atap, Suci tahu betul dinamika kehidupan di kontrakannya.

Selama ini, Suci sering kali merasa tidak nyaman dan terganggu dengan kehadirannya Acha, Suci juga sering menyindir, atau kadang mendiamkannya.

Suci sengaja melakukan hal itu. Karena dia mau mengusik acha secara harus dengan memperlakukan Acha dengan tidak nyaman di kontrakannya.

Tanpa diduga, alih-alih melarang atau menahan Acha, Suci justru menghela napas lega dan mengangguk pelan dengan senyum hangat di wajahnya.

"Kalau memang itu yang terbaik buat kenyamanan kamu, teteh izinkan, Cha," jawab Suci tulus.

"Bagus juga kan jadi kamu gak ngerepotin teteh lagi kan, Ditambah biar kamu dekat kan sama tempat kerja kamu, lebih baik kamu ngekos sama Vika aja. Biar kamu bisa lebih tenang dan fokus kerja."

Mendengar lampu hijau dan dukungan penuh dari Suci, beban berat di pundak Acha seolah terangkat sebagian.

Keputusan itu seolah menjadi awal dari lembaran baru bagi Acha. Selepas berpamitan dan mendapat restu dari Suci, dia langsung menghubungi Vika untuk menyampaikan kabar baik tersebut.

Mendengar bahwa Acha akhirnya mantap ingin keluar dari rumah dan mencari kos bersama, Vika menyambutnya dengan sorak penuh antusias diujung telepon.

"Seriusan, Cha?! Wah, pilihan paling tepat sedunia! Tenang, urusan cari kosan dekat minimarket serahin ke gua, besok kita langsung survei sepulang kerja!" ujar Vika bersemangat.

Acha tersenyum tipis, merasakan secercah harapan dan ketenangan mulai merayap di hatinya. Hari-hari penuh tekanan, lelah fisik, serta luka batin akibat sikap Raka dan lingkungan yang toksik perlahan-lahan mulai dia tinggalkan di belakang.

Malam itu, di dalam kamarnya yang sederhana, Acha merapikan barang-barangnya ke dalam koper. Setiap pakaian dan benda yang dia masukkan seolah menjadi simbol ketegasan dirinya untuk bangkit.

Dia bukan lagi gadis lemah yang bisa dipermainkan atau dimanfaatkan seenaknya. Luka dari Raka dan dinginnya perlakuan di rumah itu telah menempanya menjadi sosok yang jauh lebih kuat. Acha siap melangkah menyongsong hidup barunya esok hari.

Keesokan harinya, suasana di tempat kerja Acha mendadak menjadi riuh dan penuh kekhawatiran.

Di tengah kesibukan jam kerja, Amina, salah satu rekan kerja mereka, tiba-tiba ambruk dengan wajah yang sangat pucat pasi dan sekujur tubuhnya menggigil hebat akibat demam tinggi yang mendadak menyerang.

Melihat kondisi Amina yang sudah tidak sanggup berdiri, Ibu Ema selaku atasan mereka langsung turun tangan memberikan izin agar Amina segera dibawa pulang untuk beristirahat.

Tanpa pikir panjang, Ibu Ema bahkan meminjamkan motor pribadinya agar Amina bisa segera sampai di rumah dengan cepat.

Keputusan perjalanannya pun langsung diatur oleh Vika dan Tasya. Karena kondisi Amina yang sangat lemas dan tidak mungkin dibiarkan berkendara sendirian.

Arisa dengan sigap mengambil alih kemudi motor Ibu Ema, memboncengkan Amina di belakangnya, ditemani oleh Vika yang ikut mengawal di samping mereka. Sementara itu, Tasya bertugas membawa motor milik Amina yang tertinggal di area parkir kantor.

Di bawah teriknya matahari siang, rombongan kecil itu berjalan beriringan mengantar Amina pulang. Acha, yang juga ikut membantu memapah Amina ke atas motor sebelum berangkat, menatap kepergian teman-temannya dengan perasaan haru.

Di tengah kerasnya tekanan hidup dan lika-liku masalah pribadi yang sedang dia hadapi, Acha kembali diingatkan betapa berharganya memiliki rekan-rekan kerja yang begitu peduli dan saling mendukung satu sama lain di saat-saat sulit.

Sepeninggal rombongan Arisa yang mengantar Amina, suasana tempat kerja kembali berangsur normal, meski sisa-sisa kekhawatiran masih membekas di benak para pegawai.

Acha kembali fokus menyelesaikan tugas-tugasnya yang sempat tertunda, sembari merencanakan langkah selanjutnya terkait pencarian kos bersama Vika nanti sore.

Sembari merapikan barang-berang di gudang, pikiran Acha melayang sejenak pada kejadian-kejadian belakangan ini. Hidupnya memang sedang diuji dengan rentetan kekecewaan—mulai dari sikap Raka yang tega memanfaatkannya, tekanan di rumah, hingga tubuhnya yang sempat tumbang.

Namun, di balik semua kepahitan itu, semesta seolah mengirimkan orang-orang baik untuk menguatkannya. Ayahnya yang tulus mengantar di tengah lelah, keluarganya yang memberi dukungan, serta sahabat-sahabat seperti Vika, Tasya, dan Amina yang selalu ada di garis terdepan saat susah maupun senang.

Acha menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, membiarkan rasa syukur itu menghalau sisa-sisa gundah di hatinya.

Tekadnya kini sudah bulat. Hari ini, sepulang kerja, dia tidak hanya akan mulai mencari tempat tinggal baru untuk memulai hidup yang mandiri dan tenang, tetapi dia juga siap menutup babak lama yang penuh luka bersama pria toxic bernama Raka.

Menjelang sore hari, di tengah suasana kerja yang mulai longgar, ponsel Vika berdering menampilkan pesan dari Ari, kekasih Amina.

Melalui pesan tersebut, Ari mengabarkan bahwa dia baru saja mendengar kabar sakitnya Amina dan berniat untuk langsung memesan karangan bunga serta datang menjenguk sang kekasih sepulang kerja nanti, sebagai bentuk perhatian dan rasa khawatirnya.

Mendengar niat manis Ari, Vika dan Acha yang duduk berdampingan langsung merasa tersentuh.

"Duh, beruntung banget ya si Amina punya pacar kayak A Ari. Perhatian banget, sigap, padahal baru dengar kabar langsung gercep mau kirim bunga sama nengokin," ucap Vika kagum sambil menunjukkan layar ponselnya pada Acha.

Acha menatap layar ponsel itu dalam diam. Seketika, hatinya terasa tertusuk oleh duri yang tajam. Perbandingan itu terbentang begitu telak di depan matanya.

Di saat Amina diperlakukan istimewa dan dicintai dengan tulus oleh kekasihnya, Acha justru harus meratapi nasibnya sendiri.

Jangankan dikirimi bunga atau dijenguk saat sakit, Raka bahkan tidak pernah sekalipun memperlakukannya dengan manis atau sekadar menanyakan kabarnya dengan tulus.

Raka selalu bersikap acuh tak acuh, dingin, dan masa bodoh. Pria itu hanya akan datang dengan sejuta senyuman manis dan kata-kata bujukannya yang beracun ketika dia sedang memiliki mau—entah itu saat ingin meminjam uang, meminta dibelikan barang-barang mahal, atau butuh tebengan.

Di luar kepentingan itu, Acha hanyalah angin lalu yang tidak pernah dihargai keberadaannya.

Air mata yang sejak tadi berhasil dia tahan kembali menggenang di pelupuk matanya. Rasa sakit karena diabaikan itu kembali menyeruak, membuat dadanya sesak.

Namun, rasa sedih itu kini perlahan berubah menjadi ketukan keras di dalam hatinya—menyadarkannya bahwa dia sudah terlalu lama membuang waktu dan air mata untuk pria yang salah.

Vika yang menyadari perubahan ekspresi di wajah sahabatnya langsung mengalihkan pandangan.

Dia melihat tatapan kosong Acha yang tertuju lurus ke meja, serta bulir air mata yang nyaris tuntas menetes.

Sebagai sahabat yang paling tahu lika-liku hubungan toksik Acha dan Raka, Vika langsung merasa sangat bersalah karena tidak sengaja memicu luka lama tersebut.

Dengan sigap, Vika menutup layar ponselnya, lalu merangkul pundak Acha erat-erat. Suaranya melembut, penuh dengan kehangatan dan rasa penyesalan.

"Maafin aku ya, Cha... Aku nggak maksud bikin kamu sedih atau ngebanding-bandingin," ucap Vika tulus, suaranya sarat akan empati.

"Kamu berhak dapetin cowok yang jauh lebih baik dari si Raka. Jangan buang air mata kamu lagi buat cowok nggak tahu diuntung kayak dia."

Acha menggeleng pelan, lalu mencoba menarik senyum tipis di bibirnya yang masih bergetar.

Dia menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu menatap Vika dengan sorot mata yang kini jauh lebih tenang dan memancarkan ketegasan baru.

"Nggak apa-apa, Vik. Makasih ya..." jawab Acha lirih namun tegas.

"Justru omongan kamu tadi, dan lihat perhatian A Ari ke teh Amina, bikin aku sadar sepenuhnya. Aku udah terlalu bodoh dan buang-buang waktu selama ini."

Acha menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara sore mengisi rongga dadanya yang sempat sesak. Keputusannya kini sudah bulat sebulat-bulatnya.

Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi air mata penyesalan untuk Raka. Dia bertekad untuk menata kembali hidupnya, fokus pada keluarga, pekerjaan, serta sahabat-sahabat yang benar-benar tulus menyayanginya.

Be to continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!