NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:109.5k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Aslan mendorong pintu kamar dengan gerakan lelah. Bau masakan masih menempel di tubuhnya, kaos oblong abu-abu yang dikenakannya sedikit basah di bagian bahu karena keringat. Ia melangkah masuk tanpa menoleh, langsung menuju sisi ranjang yang biasa ia tempati.

Liza yang sejak tadi berbaring sambil memainkan ponsel langsung menegakkan badan. Cahaya layar sempat menerangi wajahnya sebelum ia matikan. “Kamu dari mana saja? Kenapa tidak langsung tidur?” tanyanya, nada suaranya agak naik, campur antara penasaran dan sedikit kesal karena ditinggal sendirian cukup lama.

Aslan tidak langsung menjawab. Ia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang dengan berat, lalu menutup mata menggunakan lengan. “Sudah malam. Aku lelah. Tidak mau ribut,” ucapnya datar, suara teredam di balik lengannya.

Liza langsung duduk bersila di atas ranjang. Ia meraih lengan Aslan dan menariknya pelan, memaksa pria itu menurunkan tangan dari wajahnya. “Maksud kamu apa, Mas? Aku hanya bertanya. Tidak ada yang mengajakmu ribut,” protesnya, wajahnya memperlihatkan rasa tidak terima. “Kenapa kamu bilang seperti aku lagi mencari masalah?”

Aslan mengibaskan tangan Liza dengan gerakan kasar hingga genggaman wanita itu terlepas. Ia masih memejamkan mata, tidak ingin melihat wajah istrinya.. “Aku habis makan malam di dapur,” jawabnya kesal, setiap kata terasa berat. “Mie instan sama telur. Itu saja yang ada.”

Liza terdiam sejenak, lalu mengerutkan kening. “Mie instan? Kenapa tidak pesan saja dari luar? Atau suruh Mama yang buatkan?”

Aslan akhirnya membuka mata. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap, rahangnya mengeras. Rasa lapar yang baru saja ia redakan dengan mie hambar itu masih meninggalkan jejak kesal di lidahnya. “Mulai besok,kamu harus masak. Dan menyiapkan semua kebutuhanku, termasuk air hangat, pakaian, makanan. Semuanya" perintahnya.

Liza membelalak. Ia menarik selimut ke dada seolah sedang melindungi dirinya. “Aku lagi hamil, Mas. Kata dokter tidak boleh terlalu capek. Lebih baik kamu sewa pembantu saja. Kan kamu mampu.” ucap Liza. Dia tidak mau mengerjakan semua pekerjaan rumah.

Aslan tertawa kecil, tawa yang pahit dan pendek. Ia membalikkan tubuhnya, memunggungi Liza sepenuhnya. “Suruh ibumu yang melakukannya,” ucapnya dingin. “Aku tidak mau bahas ini lagi. Matikan lampunya.”

Keheningan langsung mengisi kamar. Liza duduk diam di belakangnya, napasnya agak cepat. Ia membuka mulut ingin membalas, tapi melihat punggung Aslan yang kaku membuatnya mengurungkan niat. Dengan wajah kesal, ia berbaring kembali, memunggungi suaminya juga, lalu mematikan lampu samping tempat tidur dengan gerakan kasar.

Aslan memejamkan mata lebih rapat. Dia lelah, dia ingin segera istirahat. Tapi sulit untuk memejamkan matanya.

Aslan menghela napas panjang, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman. Tapi tubuhnya tetap tegang. Rasa lelah fisik bercampur dengan rasa jengkel yang semakin dalam. Ia sempat berpikir untuk bangkit dan tidur di sofa ruang tamu, tapi akhirnya mengurungkan niat. Ia terlalu lelah untuk berpindah lagi.

Di belakangnya, Liza bergeser-geser mencari posisi nyaman. Sesekali ia menghela napas keras, seolah ingin didengar. Tapi Aslan tidak merespons. Ia membiarkan keheningan itu mengisi jarak di antara mereka jarak yang tiba-tiba terasa jauh lebih lebar daripada sekadar dua sisi ranjang.

Pikirannya kembali ke surat panggilan pengadilan yang masih tersimpan di laci meja kantor. Nama Naya sebagai penggugat. Jadwal sidang yang semakin dekat. Dia berharap saat sidang mediasi nanti, Naya membatalkan semua tuntutannya.

Tapi kalau Naya benar-benar tidak kembali kerumah ini, Aslan tidak tahu kedepannya akan seperti apa. Harusnya tidak berpengaruh apa-apa, karena dulu dia juga menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Hanya saja sekarang tidak ada yang membersihkan rumahnya.

Aslan menggigit bibir dalam gelap. Untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya-tanya apakah keputusan membawa Liza ke rumah ini benar-benar sepadan dengan apa yang ia kehilangan.

Tapi ego laki-lakinya masih menolak untuk mengakui itu keras-keras. Ia hanya memejamkan mata lebih rapat, memaksa dirinya tidur, sementara di sisi lain ranjang Liza berbaring dengan wajah kesal yang tidak ia lihat.

Malam itu, di kamar utama yang dulu penuh perhatian diam-diam dari seorang istri, kini hanya terisi oleh dua orang yang memunggungi satu sama lain. Dan keheningan di antara mereka jauh lebih bising daripada ribut apa pun.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pagi itu suasana rumah masih sunyi, Ranti sudah berdiri di dapur dengan wajah kusut. Bau minyak panas dan bawang yang baru digoreng memenuhi udara. Liza yang masih mengenakan daster duduk di kursi ruang makan sambil mengusap perutnya, sesekali melirik ke arah ibunya yang bergerak dengan langkah berat.

“Apa-apaan ini, Aslan!” teriak Ranti tiba-tiba ketika melihat menantunya turun dari tangga dalam keadaan sudah berpakaian rapi. Suaranya nyaring, penuh rasa tidak terima. “Kenapa kamu menyuruh Mama mengerjakan semua pekerjaan rumah? Aku ini mertuamu, bukan pembantu!”

Aslan yang baru saja merapikan dasi berhenti sejenak di kaki tangga. Ia menatap Ranti dengan wajah datar, lalu menghela napas pendek. “Di rumah ini tidak ada pembantu,” ujarnya tegas, nada suaranya tidak memberi ruang untuk berdebat. “Dari dulu Naya yang mengerjakan semuanya sendiri. Sekarang Naya sudah pergi, jadi Mama yang mengerjakannya. Karena saat ini Liza sedang hamil.”

Ranti membuka mulut ingin membalas lebih keras, tapi Aslan sudah lebih dulu berbalik. Ia mengambil kunci mobil di meja konsol, lalu berjalan menuju pintu utama tanpa menunggu jawaban. “Aku pergi dulu. Jangan buat masalah,” katanya singkat sebelum pintu tertutup di belakangnya.

Bunyi mesin mobil menyala beberapa detik kemudian, lalu menjauh meninggalkan area rumah. Masih sangat pagi. Aslan sengaja pergi lebih awal. Ia tidak ingin mood-nya rusak sebelum sampai di kantor karena ulah istri mudanya dan mertuanya.

Di dalam rumah, keheningan kembali mengisi ruang makan. Ranti meletakkan spatula dengan kasar di atas kompor, wajahnya merah menahan marah. “Lihat itu sikapnya,” gerutunya. “Seolah-olah Mama ini pembantu yang bisa diperintah seenaknya. Kita datang ke sini bukan untuk disuruh-suruh seperti ini.”

Liza yang sejak tadi diam akhirnya berdiri dan mendekati ibunya. Ia meraih lengan Ranti pelan, suaranya rendah dan penuh kehati-hatian. “Lakukan saja, Ma. Jangan membuat Aslan marah. Nanti kita bisa diusir dari rumah ini.”

Ranti menoleh tajam. “Diusir? Dia suami kamu!” seru Ranti.

“Statusku masih istri siri, Ma,” jawab Liza pelan, hampir berbisik. Matanya menunduk, jari-jarinya memegang ujung dasternya. “Belum ada buku nikah resmi. Kalau Aslan mau, dia bisa menyuruh kita pergi kapan saja. Aku belum punya apa-apa di sini. Jadi… tolong, Ma. Kerjakan saja dulu. Tunggu sampai dia menikahiku secara resmi. Nanti semuanya akan berbeda.”

Ranti terdiam. Ia menatap wajah anaknya yang tampak cemas, lalu menghela napas panjang penuh kekesalan. Akhirnya ia berbalik ke kompor, mengambil lagi spatula, dan melanjutkan memasak dengan gerakan kasar.

Liza duduk kembali di kursi, mengusap perutnya pelan. Di luar jendela, matahari semakin tinggi. Rumah yang dulu selalu rapi karena tangan Naya kini terasa lebih sunyi dan kaku. Tidak ada yang menyiapkan sarapan dengan hati-hati. Tidak ada yang merapikan meja tanpa diminta. Yang ada hanya ibu dan anak yang terpaksa berbagi pekerjaan rumah karena takut kehilangan tempat tinggal.

Liza menatap pintu utama yang sudah ditutup Aslan. Di dalam hati, ia mulai merasakan sesuatu yang dulu tidak pernah ia pikirkan ketika masih di Bandung, posisinya sebagai istri muda ternyata tidak semudah dan seenak yang ia bayangkan.

1
Ariany Sudjana
sama bodohnya semua 😂😂🤣🤣
sunaryati jarum
Lebih cepat lebih baik Erland ,ingat usia.Usia hampir empat puluh tahun usia krusial untuk hamil,namun jika Sang Pemberi sudah berkehendak tidak ada yang mustahil.
Ilfa Yarni
Hari Hari menuju bajagia Naya pantas mendapatkannyakarena Utah cukup dia menderita Karen'a Punya suami yg jahat Dan dia Salah memilih Dan skr Ada erlan yg mencintainya dgn tulus
Ntahlah
haaai kak
sunaryati jarum
Tanpa basa-basi langsung ke intinya, emak setuju, kalian sudah dewasa dan sudah mengenal lama.,tak perlu pacaran atau pertunangan langsung nikah.
Ilfa Yarni
asyik mereka akan menikah aku tunggu udangannya ya
sunaryati jarum
Erland sudah kebelet nikah,Nih.Ayo Naya dari pada jantungmu berdetak kencang terus -, terusan jika di dekat Erland,lebih baik segera terima cintanya dan nikah,agar tidak kebablasan
YuWie
sweet bgt er..tapi tetap waspada ya
yumi chan
wah cpt2 nkh aja thor..biar aslan kpnsan
Ilfa Yarni
wah erlan gercep nih udah tidur bareng aja Gpp sih jgn sampe gagal untuk yg kedua Kali ya erlan kekep trus naya ya sampe jadi oh ya jgn lengah aslan msh ga mau Kalah mending hancurkan sekalian drpd mengganggu trus
Ma Em
Thor jgn biarkan Aslan mengusik ketenangan perusahaan yg Erlan pimpin , biarkan Aslan jatuh akibat perbuatan nya sendiri dan istri sirinya yg sdh ketakutan tdk kebagian warisan untuk anak yg msh di dlm kandungan nya makin menderita .
sunaryati jarum
Aslan makin nekat tabiat serakah dan pelit mendominasi jiwanya.Sudah jelas kalah karena kesalahannya sendiri seharusnya membiarkan Naya menjual yang menjadi haknya.Akibat ulahmu yang menghalanginya kau berurusan dengan Erland.Kenekatanmu pada Erland akan membawa kehancuranmu sendiri, Erland hanya bertahan saja kamu kalah,apalagi nanti balik menyerang.
YuWie
jadi berlete2 perang urat sarafnya..ehh tapi faris hebat lho, apa2 dia tau.
Ariany Sudjana
terlalu lama Erland membiarkan Aslan bergerak, kenapa ga langsung dihancurkan saja?
YuWie
ternyata kekuatan erlan sebanding dg aslan..kupikir lebih besar perusahaan dan pengaruhnya.
sunaryati jarum
Udah berani panggil sayang
Ilfa Yarni
cieee udah mulai bilang sayang nih duh bsjagianya hatiku to jgn sampe lengah km lg perang melawan aslan yg ingin membobol data perusahaanmu
Ariany Sudjana
kenapa ga langsung diserang balik saja Aslan itu, jangan terlalu lemah Erland
Ariany Sudjana
gemas bacanya, Erland santai saja dan membiarkan Aslan mencoba meretas data perusahaan, kenapa ga langsung disikat saja Aslan itu?
YuWie
masih blm menyerah jg si aslan ini ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!