Charol Voldemir adalah seorang permaisuri yang kejam di Kekaisaran Behati. Diakhir hidupnya, ia dihukum oleh suaminya sendiri, yaitu Kaisar Rudine Voldemir lantaran menyiksa selir kesayangan raja. Merasa tidak adil, Charol bertobat di depan tiang gantungan. Ia mendapat kesempatan mengulang hidup, tetapi ini bukan yang diimpikan. Kejadian masa lalu tidak seperti gambarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengangkatan Ratu
Keluarga Charol langsung pulang melalui pintu sihir tanpa menyapa kaisar lebih dulu. Percuma meminta bertemu karena selama ini kaisar tidak pernah mau berhadapan dengan keluarga mertuanya sendiri, kecuali ada hal yang sangat penting.
Setelah makan siang bersama, ketiganya pamit undur diri dan Charol bisa bersantai sambil memikirkan rencana selanjutnya.
Tujuan hidupnya adalah pergi dari istana ini dan memulai hidup baru. Jika ia mau meninggalkan ini semua, maka takhta permaisuri akan lepas dan ia juga tidak bisa kembali pada keluarganya.
Cemoohan dari bangsawan lain akan ia dapatkan. Charol tidak mau seperti itu. Jika ia pergi, maka ia harus menguatkan posisinya. Paling tidak menjadi seorang nyonya yang kaya raya di satu wilayah.
Charol telah memikirkan hal itu. Di ujung utara terdapat sebuah wilayah tandus milik kerajaan. Namun, tidak ada yang tahu jika di sana terdapat tambang permata.
Mitosnya wilayah itu dijaga oleh para monster dan seekor naga yang tertidur. Itu sebabnya, ada lingkaran sihir yang kuat melindungi kawasan itu.
Semua itu diketahui beberapa bulan kemudian setelah pengangkatan ratu. Rudine pernah ke sana bersama Luna D' Orzas pada kehidupan lalu. Kenapa Rudine menikahi Luna? Sebab wanita itu memiliki tanda bunga matahari di bahu kirinya.
Saat Rudine membawa Luna ke sana, ia menghabisi monster dan naga tersebut hanya dengan cahaya di tubuhnya. Namun, kekuatan itu belum bangkit. Akan bangkit bila Luna sudah mendapatkan cinta dan kasih sayang kaisar. Sebab kekuatan itu juga berupa kutukan dari seorang saintess yang mati karena amarah dendam.
Satu hari menjelang penobatan besok, Charol ingat kalau ia mengacau dan membuat Rudine semakin membencinya. Namun sekarang, ia tidak akan berbuat seperti itu. Rudine mengatakan jika akan diadakan festival perayaan kemenangan perang dan pengangkatan permaisuri. Untuk itu, Charol ingin melihat-lihat ibu kota.
"Yang Mulia, saya sudah memilihkan gaun yang akan dipakai." Asha memerintahkan dua rekannya mendorong rak gantungan pakaian.
"Aku ingin memakai baju warna biru muda." Charol mengatakan itu tanpa melihat lagi.
"Perhiasannya, Yang Mulia?" Asha menampilkan sederet perhiasan.
"Asha, bawa tukang perhiasan padaku secara diam-diam. Aku ingin menemuinya besok siang."
"Baik, Permaisuri."
Charol mengibaskan tangan agar semua pelayannya pergi. Ia perlu persiapan juga untuk perayaan suaminya sendiri.
Istana begitu sibuk karena perayaan ini akan dilaksanakan pada ballroom pesta yang diperuntukkan untuk permaisuri dan kaisar.
Entah sengaja atau memang Rudine sangat mencintai Luna sampai mengadakan pesta di tempat itu. Yang pasti mengenai hubungan permaisuri dan kaisar yang renggang ini semakin besar saja. Charol pun mengerti jika ia akan digosipkan nanti.
Malam perayaan pun tiba. Charol telah bersiap dengan memakai gaun warna biru muda serta riasan yang cukup tebal. Ia tidak lagi menyanggul rambut seperti yang dilakukannya dulu. Charol membiarkan rambut cokelatnya tergerai.
"Kau sudah siapkan semuanya?" tanya Charol pada Asha.
"Semua sudah siap, Yang Mulia."
"Bagus. Kita hanya menampakkan wajah saja setelah itu pergi."
Dengan diiringi dua pelayan, Charol pergi menuju ballroom pesta di istana utama. Ketika tiba di sana, namanya diserukan.
"Bulan kekaisaran Behati, Yang Mulia Permaisuri Charol tiba!" seru seorang pemandu.
Semua tamu yang hadir menundukkan kepala serta meletakkan tangan kanan di bahu sebelah kiri. Semua memberi salam kepada permaisuri mereka.
Charol berputar ketika ia telah sampai di depan altar. "Salam semuanya. Aku senang kalian hadir di pesta ini."
Semua mengangkat wajah mereka dan kembali menikmati acara. Tidak lama kaisar dan selir Luna tiba. Seperti Charol, nama Rudine dan Luna pun diserukan.
Kaisar dan selir berjalan menuju panggung di mana kursi mereka berada. Rudine sama sekali tidak melihat permaisuri, bahkan mengabaikannya.
Masih saja hati ini perih. Charol memegang dadanya yang terasa nyeri. Cinta tak berbalas itu sangat sakit rupanya. Charol ingin pergi dari sini, ia sungguh tidak sanggup.
"Yang Mulia." Asha khawatir.
"Tunggu sampai penobatannya selesai."
Penobatan itu segera dilaksanakan. Luna D' Orzas diangkat menjadi ratu di kekaisaran Behati ini. Semua bersuka cita dan memberi ucapan selamat.
Sementara Charol tentu saja menjadi bahan gosip. Kaisar terang-terangan membuat dirinya tidak berkedudukan di istana ini. Permaisuri hanyalah jabatan saja. Namun kekuasan, akan dipegang oleh ratu. Dia lah permaisuri sesungguhnya di hati kaisar maupun kekaisaran ini.
Charol berjalan menghampiri Rudine dan Luna. "Selamat untuk Kaisar dan Ratu. Semoga ada kabar baik setelahnya."
"Terima kasih, Permaisuri." Rudine mengulurkan tangan. "Kita berdansa satu kali."
Charol menyambut uluran tangan itu. Rudine masih punya hati agar gosip di antara mereka tidak terlalu jauh rupanya.
"Berterima kasihlah kepadaku, Permaisuri," bisik Rudine. Musik mengalun dan keduanya segera berdansa bersama.
"Terima kasih telah menyelamatkan wajahku."
"Jika kau bukan permaisuri di kekaisaranku, aku tidak akan melakukannya. Aku sangat membencimu, Charol."
Kebencian ini pun karena Charol yang menyebabkan tunangan Rudine mati. Dia yang menyiksa gadis itu. Wanita itu bunuh diri karena cinta yang tidak bisa digapai.
"Maafkan aku, Rudine." Charol menyesalinya. Kenapa waktu tidak berputar pada masa itu? Sungguh ia sangat menyesal.
"Terlambat. Kau sudah mendapatkanku dan kau harus menderita."
Semua yang hadir bertepuk tangan ketika Rudine dan Charol menyelesaikan tarian mereka. Setelah itu, Rudine mengajak ratu berdansa bersama.
Keduanya tampak mesra. Kehidupan lalu mungkin Charol akan cemburu dan sekarang pun begitu. Namun, ia menahan dan menyembunyikannya. Ia tidak akan pernah bertindak bodoh lagi.
"Kita pergi, Asha."
Tanpa menunggu Rudine selesai berdansa, Charol keluar dari aula pesta. Kaisar menyadari kepergian permaisuri, tetapi tidak ingin mencegah. Hanya merasa heran saja. Kenapa permaisuri tidak marah atau bertindak konyol seperti yang sudah-sudah? Sungguh aneh.
Kembali ke istana permaisuri, Charol lekas berganti pakaian dan memakai jubah hitam. Pintu sihir dibuka dengan sebuah token khusus.
"Yang Mulia. Malam ini adalah waktunya tidur bersama Kaisar Rudine," ucap Asha mengingatkan. Jadwal tidur bersama kaisar dan permaisuri jatuh malam ini. Selama dua hari berturut-turut. Kemarin malan Rudine tidak datang dan Charol yakin malam ini begitu juga. Bukan lagi yakin, tetapi sudah pasti. Sebab bila dihitung, Rudine hanya menidurinya satu kali selama pernikahan dan itu di awal ketika keduanya resmi menjadi pasangan suami istri.
"Jangan khawatir, Asha. Kaisar tidak akan datang malam ini. Aku akan kembali dengan cepat." Charol berjalan menuju lingkaran sihir tersebut tanpa mendengar panggilan dari dayangnya.
"Yang Mulia." Asha menghela napas. "Ada yang berubah dari permaisuri. Dulu dia tidak seperti ini."
Charol tiba di luar istana. Penduduk ibu kota tengah mengadakan festival.
Banyak sekali lampu kerlap-kerlip di sini, dan semua rakyat tengah berdansa. Di sini bebas dan Charol menyukainya.
Namun, masalah terjadi di istana ratu. Kaisar Rudine hadir untuk menunaikan tugasnya sebagai suami.
lagi sibuk mungking🤭🦾 kk ren