Darah Pewaris Dewa
Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.
Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.
Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.
Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...
sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DARAH YANG TERLUPAKAN
Setelah pertemuan dengan Sang Pengamat...
Alam Dewa tidak lagi sama.
Bukan karena kehancuran.
Bukan karena perang.
Tetapi karena sebuah kebenaran baru telah terbuka.
Darah Aurelian...
ternyata masih menyimpan rahasia yang belum terungkap.
PESAN DARI LUAR DUNIA
Di pusat Ordo Nihil, para penjaga mencoba memahami simbol yang diberikan Sang Pengamat.
Tidak ada catatan.
Tidak ada sejarah.
Bahkan kristal tertua Ordo Nihil tidak mengenal tanda itu.
Vael berdiri di depan simbol tersebut.
"Ini bukan bagian dari warisan Aurelian yang kita ketahui."
Oliver mendekat.
"Aku mencoba membaca asalnya."
Ia memejamkan mata.
Namun beberapa detik kemudian...
wajahnya berubah.
"Aku tidak menemukan awalnya."
Atlas menatapnya.
"Bagaimana mungkin?"
Oliver membuka mata.
"Karena simbol ini..."
"...tidak memiliki masa lalu."
KEMBALINYA KE ALAM DEWA
Beberapa hari kemudian...
Atlas, Oliver, Aeron, dan Kael kembali ke Alam Dewa.
Namun mereka bukan lagi pewaris yang sama.
Mereka telah melihat kebenaran yang tersembunyi selama ribuan tahun.
Para dewa menyambut mereka.
Namun kali ini...
mereka tidak melihat empat penerus biasa.
Mereka melihat penjaga baru.
Seorang tetua dewa mendekat.
"Apakah ancaman telah berakhir?"
Atlas diam sejenak.
"Luka tidak pernah benar-benar berakhir."
"Tapi selama masih ada yang menjaga..."
"...dunia masih memiliki harapan."
MIMPI OLIVER
Malam pertama setelah kembali...
Oliver mengalami sesuatu yang aneh.
Ia berdiri di tempat yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Tidak ada langit.
Tidak ada tanah.
Hanya ruang putih tanpa batas.
Di depannya berdiri seorang anak kecil.
Seorang anak yang memiliki simbol yang sama dengan simbol Sang Pengamat.
Oliver terkejut.
"Siapa kau?"
Anak itu menatapnya.
"Kau membawa darah waktu."
Oliver berhati-hati.
"Jawab pertanyaanku."
Anak itu tersenyum.
"Aku bukan musuhmu."
"Lalu siapa?"
Anak itu menjawab:
"Aku adalah bagian dari darah yang kalian lupakan."
DARAH KELIMA
Oliver terdiam.
"Darah kelima?"
Anak itu mengangguk.
"Selama ini kalian mengenal empat pewaris."
"Penjaga kekuatan."
"Penjaga waktu."
"Penjaga kehampaan."
"Penjaga keseimbangan."
Namun kemudian...
sebuah simbol muncul.
"Ada satu lagi."
PEWARIS YANG HILANG
Oliver melihat bayangan masa lalu.
Ia melihat Aurelian bersama lima sosok.
Bukan empat.
Lima.
"Aurelian memiliki lima penerus?"
Anak itu menjawab:
"Ya."
"Tapi pewaris kelima tidak pernah dicatat dalam sejarah."
ALASAN DARAH KELIMA DIHAPUS
Oliver melihat perubahan.
Salah satu pewaris berdiri sendirian.
Kekuatannya berbeda.
Bukan menghancurkan.
Bukan menciptakan.
Melainkan...
menghubungkan seluruh kekuatan.
Anak itu berkata:
"Dia adalah penjaga awal."
"Lalu kenapa dilupakan?"
Anak itu menatap Oliver.
"Karena dia membuat pilihan yang tidak bisa diterima siapa pun."
KEMBALI KE MASA KINI
Oliver terbangun dengan napas berat.
Hari mulai pagi.
Atlas yang berada di dekatnya langsung menyadari.
"Ada sesuatu yang terjadi."
Oliver menatap kakaknya.
"Aku menemukan rahasia baru tentang Aurelian."
Atlas diam.
"Masih ada satu pewaris."
REAKSI PARA PEWARIS
Aeron langsung berubah serius.
"Mustahil."
Kael bertanya:
"Kenapa?"
Aeron menjawab:
"Karena semua catatan tentang lima pewaris..."
"...berakhir dengan satu nama yang dihapus."
Atlas menatapnya.
"Siapa namanya?"
Aeron terdiam lama.
Kemudian menjawab:
"Nama itu..."
"...bahkan Aurelian sendiri takut untuk menyebutnya."
Di luar Alam Dewa...
sebuah tempat tersembunyi mulai terbuka.
Sebuah makam kuno.
Sebuah tempat yang tidak pernah disentuh waktu.
Dan di dalamnya...
seseorang membuka mata.
Seseorang yang membawa darah Aurelian.
Seseorang yang telah menunggu ribuan tahun.
Makam kuno itu akhirnya terbuka sepenuhnya.
Batu-batu raksasa yang telah terkunci selama ribuan tahun bergerak perlahan.
Tidak ada suara ledakan.
Tidak ada energi kehancuran.
Namun seluruh Alam Dewa merasakan perubahan.
Sesuatu yang telah lama hilang...
kembali muncul.
PEWARIS YANG DIHAPUS SEJARAH
Dari dalam makam, seorang pria berjalan keluar.
Usianya terlihat muda.
Wajahnya tenang.
Namun matanya menyimpan ribuan tahun perjalanan.
Ia melihat langit.
Tempat yang dahulu ia tinggalkan.
Tempat yang tidak pernah ia bayangkan akan ia lihat kembali.
"Jadi waktunya telah tiba."
Di tangannya muncul simbol kelima.
Simbol yang sama dengan pesan dari Sang Pengamat.
"Empat pewaris telah bangkit."
"Berarti darah Aurelian kembali lengkap."
RAHASIA YANG TERSEMBUNYI
Di Alam Dewa...
Atlas, Oliver, Aeron, dan Kael berkumpul.
Mereka masih mencoba memahami keberadaan pewaris kelima.
Atlas menatap Aeron.
"Kenapa nama ini tidak pernah muncul?"
Aeron membuka catatan kuno.
Namun halaman tentang pewaris kelima hanya berisi satu kalimat.
"Jangan bangunkan dia sebelum waktunya."
Oliver membaca tulisan itu.
"Siapa yang menulis ini?"
Aeron menjawab:
"Aurelian sendiri."
ELYON AURELIAN
Nama itu akhirnya disebut.
Elyon Aurelian.
Pewaris pertama.
Seseorang yang membawa bagian paling murni dari darah Aurelian.
Bukan penjaga kekuatan.
Bukan penjaga waktu.
Bukan penjaga kehampaan.
Tetapi seseorang yang mampu memahami seluruh warisan sekaligus.
KEMAMPUAN PEWARIS KELIMA
Kael bertanya:
"Kalau dia begitu kuat..."
"Kenapa dia dilupakan?"
Aeron terdiam.
Karena jawabannya tidak mudah.
"Karena Elyon pernah melakukan sesuatu yang bahkan Aurelian takut."
Atlas mengerutkan kening.
"Apa yang dia lakukan?"
Aeron membuka catatan lama.
Sebuah bayangan muncul.
PERDAMAIAN YANG DIPAKSAKAN
Ribuan tahun lalu...
terjadi perang besar antar dunia.
Para dewa bertarung.
Kerajaan runtuh.
Makhluk hidup kehilangan harapan.
Elyon berdiri di tengah perang itu.
Ia melihat semua penderitaan.
Dan ia memilih bertindak.
Dengan kekuatannya...
ia menghentikan perang dalam satu malam.
Namun caranya membuat semua orang terdiam.
Ia tidak mengalahkan musuh.
Ia tidak menghancurkan kerajaan.
Ia mengubah ingatan semua makhluk.
HARGA SEBUAH KEHENINGAN
Perang berakhir.
Dunia menjadi damai.
Namun tidak ada yang mengingat alasan mereka berdamai.
Mereka hidup tanpa kebencian.
Tetapi juga tanpa pelajaran.
Oliver memahami.
"Dia menghapus luka..."
"...tapi juga menghapus kesempatan untuk belajar dari luka itu."
Aeron mengangguk.
"Benar."
KONFLIK AURELIAN DAN ELYON
Aurelian menemui Elyon setelah kejadian itu.
"Kau menyelamatkan dunia."
"Namun kau mengambil sesuatu yang tidak seharusnya kau ambil."
Elyon menjawab:
"Kalau pilihan hanya menghasilkan penderitaan..."
"apa salahnya menghilangkan pilihan itu?"
Kalimat itu membuat Aurelian terdiam.
Karena tanpa sadar...
Elyon mulai berpikir seperti Azrael.
ALASAN ELYON DISEMBUNYIKAN
Atlas mengepalkan tangan.
"Jadi dia bukan penjahat."
Aeron menggeleng.
"Tidak."
"Dia hanya seseorang yang terlalu ingin menyelamatkan dunia."
Kael menatap langit.
"Dan itu membuatnya berbahaya."
KEDATANGAN PEWARIS KELIMA
Tiba-tiba...
seluruh Alam Dewa bergetar.
Energi baru muncul.
Bukan energi musuh.
Bukan energi sekutu.
Energi seseorang yang memiliki hubungan langsung dengan darah Aurelian.
Oliver menutup matanya.
"Aku bisa merasakannya."
Atlas menatapnya.
"Siapa?"
Oliver membuka mata.
"Dia sudah berada di dekat kita."
PERTEMUAN YANG TIDAK TERELAKKAN
Di atas gunung kuno...
Elyon berdiri melihat Alam Dewa.
"Aurelian..."
"Aku ingin tahu."
"Apakah pewaris baru benar-benar berbeda dariku."
Ia melangkah turun menuju dunia para pewaris.
Karena setelah ribuan tahun...
darah Aurelian akhirnya akan bertemu kembali.
Namun tidak semua orang menyambut kedatangannya.
Sang Pengamat yang berada jauh di luar dunia...
membuka matanya.
"Jadi dia kembali."
Dan untuk pertama kalinya...
Sang Pengamat terlihat khawatir.
Langit Alam Dewa berubah.
Bukan karena kehancuran.
Bukan karena perang.
Tetapi karena sebuah keberadaan lama telah kembali.
Untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun...
darah Aurelian yang hilang kembali merasakan tanah leluhurnya.
PERTEMUAN PEWARIS
Atlas berdiri di depan Istana Langit.
Di sampingnya Oliver, Aeron, dan Kael.
Mereka merasakan energi yang semakin dekat.
Tidak lama kemudian...
seseorang muncul di hadapan mereka.
Seorang pria dengan tatapan tenang.
Namun aura yang ia bawa membuat seluruh Alam Dewa terdiam.
"Aku sudah lama menunggu hari ini."
Atlas maju.
"Siapa kau?"
Pria itu menatap mereka.
Lalu menjawab:
"Aku adalah Elyon Aurelian."
REAKSI PARA PEWARIS
Tidak ada yang langsung berbicara.
Karena nama itu bukan sekadar nama.
Itu adalah bagian sejarah yang sengaja dihilangkan.
Oliver menatap Elyon.
"Kau benar-benar pewaris kelima."
Elyon tersenyum kecil.
"Jadi kalian sudah mengetahui tentangku."
Aeron memperhatikan wajah Elyon.
"Aku tidak menyangka kau masih hidup."
Elyon menjawab:
"Aku tidak pernah mati."
"Aku hanya memilih untuk menunggu."
ALASAN KEMBALINYA ELYON
Atlas menatapnya dengan waspada.
"Kenapa sekarang?"
Elyon melihat langit.
"Karena dunia kembali berada di titik yang sama."
"Dunia kembali takut."
"Dunia kembali mencari seseorang untuk menentukan jalan mereka."
Tatapannya berpindah kepada Atlas.
"Dan kalian memiliki kekuatan untuk menjadi seperti mereka yang datang sebelum kalian."
PERINGATAN ELYON
Kael menggenggam senjatanya.
"Kau datang untuk menguji kami?"
Elyon menggeleng.
"Aku datang untuk memperingatkan."
Oliver bertanya:
"Memperingatkan tentang apa?"
Elyon menjawab:
"Tentang darah Aurelian."
SISI GELAP WARISAN
Elyon mengangkat tangannya.
Sebuah bayangan muncul.
Mereka melihat para pewaris terdahulu.
Awalnya mereka melindungi dunia.
Namun perlahan...
mereka mulai percaya bahwa hanya mereka yang tahu apa yang benar.
"Mereka tidak menjadi jahat dalam satu hari."
"Mereka hanya terlalu yakin bahwa tujuan mereka benar."
KETAKUTAN TERBESAR AURELIAN
Atlas terdiam.
Karena ia memahami maksud Elyon.
Kekuatan terbesar bukanlah musuh dari luar.
Tetapi keyakinan bahwa seseorang memiliki hak menentukan nasib semua makhluk.
Elyon menatap mereka.
"Itulah alasan Aurelian membagi darahnya."
"Bukan karena ia tidak percaya pada kalian."
"Tetapi karena ia takut suatu hari seseorang akan memiliki terlalu banyak kekuatan."
TANTANGAN ELYON
Elyon berjalan mendekati Atlas.
"Aku ingin melihat satu hal."
"Aku ingin tahu apakah kalian berbeda."
Atlas bertanya:
"Bagaimana?"
Elyon menjawab:
"Dengan melihat pilihan kalian."
UJIAN PEWARIS KELIMA
Elyon menciptakan sebuah ruang ilusi.
Namun berbeda dari ujian sebelumnya.
Ini bukan tentang masa lalu.
Bukan tentang rasa sakit.
Ini tentang masa depan.
Mereka melihat dunia yang damai.
Tidak ada perang.
Tidak ada konflik.
Tidak ada penderitaan.
Namun di tengah dunia itu...
hanya ada satu kehendak.
Kehendak para pewaris.
PILIHAN TERAKHIR
Elyon berkata:
"Kalian bisa menciptakan dunia sempurna."
"Kalian memiliki kekuatan untuk itu."
"Tapi pertanyaannya..."
"Apakah kalian berhak melakukannya?"
Keempat pewaris terdiam.
Karena pertanyaan itu sama seperti yang pernah menghancurkan banyak penjaga sebelum mereka.
Di kejauhan...
Sang Pengamat kembali mengawasi.
Namun kali ini bukan untuk menilai.
Melainkan karena ia tahu sesuatu.
Kembalinya Elyon bukan akhir dari masalah.
Karena pewaris kelima membawa satu rahasia terakhir.
Rahasia tentang alasan sebenarnya Aurelian menciptakan seluruh garis keturunan.
Dan rahasia itu mungkin akan mengubah segalanya.