Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Keputusan yang Dihargai
Keheningan sesaat menyelimuti teras depan kamar kost itu, namun kali ini bukan keheningan yang canggung atau menegangkan.
Ada rasa damai yang perlahan menyelimuti keduanya, seiring dengan tatapan Andre yang tetap lembut.
Tidak sedikit pun berubah menjadi kecewa. Justru di sudut matanya terlihat kilatan rasa lega yang mendalam.
Lega karena Rima begitu jujur, lega karena gadis itu tidak memberikan jawaban bohong hanya demi menyenangkannya, dan lega karena kini ia tahu bahwa perasaannya sampai dengan tulus di hati Rima.
Andre menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis, senyum paling lembut yang pernah Rima lihat selama ini.
Ia menatap gadis di hadapannya yang masih menunduk cemas, tangannya saling meremas ujung pakaian dengan gelisah.
"Terima kasih Rima," ucap Andre pelan namun jelas, suaranya begitu hangat hingga membuat Rima perlahan mendongak.
"Terima kasih sudah berani jujur padaku. Terima kasih tidak memberikan janji palsu hanya karena takut menyakiti hatiku.''
''Kamu tahu tidak? Bagiku, kejujuranmu ini jauh lebih berharga daripada jawaban 'ya' yang kamu ucapkan sekadar karena terpaksa."
Rima menatapnya dengan tidak enak hati, "Saya kira Bapak akan berhenti berharap karena saya belum bisa menjawab sekarang."
Andre menggeleng pelan, lalu perlahan tangannya yang besar dan hangat bergerak menyentuh jemari Rima yang dingin dan gemetar.
Sentuhan itu begitu pelan dan penuh sayang, seolah takut mengejutkannya, sebelum akhirnya ia menggenggam jemari itu dengan lembut namun mantap, memberikan rasa aman yang luar biasa.
"Sama sekali tidak kecewa," bisik Andre, matanya menatap tepat ke dalam manik mata Rima.
"Justru semakin aku mengerti isi hatimu, semakin aku yakin bahwa menunggumu adalah hal yang paling tepat aku lakukan.
Aku tidak mau kamu melangkah masuk ke dalam perasaan ini karena ragu, atau karena kasihan. Aku ingin kamu melakukannya saat hatimu sendiri sudah berteriak ingin berada di sisiku."
Jantung Rima berdegup kencang tak menentu, namun tangannya perlahan merespons genggaman itu, menyelipkan jari-jarinya di sela jari Andre.
Ada rasa hangat yang menjalar dari ujung jari hingga ke seluruh tubuhnya, menghapus rasa dingin dan takut yang selama ini ia rasakan.
"Aku menghargai keputusanmu Rima," lanjut Andre dengan suara yang kini terdengar lebih dalam dan mendekat.
"Aku tidak akan pernah memaksamu, tidak akan pernah menuntut waktu yang kamu belum punya. Fokuslah pada duniamu, pada studimu, pada apa yang ingin kamu capai.''
''Aku akan tetap ada di sini, menunggu sampai kamu siap melangkah ke arahku. Seberapa lama pun waktunya, berapa pun jarak yang memisahkan kita, hatiku tidak akan berpindah."
Rima menelan ludah, menatap wajah Andre yang begitu dekat.
Selama ini ia melihat pria itu sebagai pimpinan yang dingin, jauh, dan tak tersentuh.
Namun di sini, di teras sederhana ini, ia melihat sisi lain Andre, sisi yang lembut, penuh pengertian, dan membuat hatinya bergetar hebat.
"Tapi... apa Bapak benar-benar yakin mau menunggu seseorang yang hatinya masih bingung seperti saya?" tanyanya pelan, hampir berbisik.
Andre tersenyum, lalu mengusap punggung tangan Rima dengan lembut menggunakan ibu jarinya.
"Sangat yakin. Karena aku tahu, perasaan yang tumbuh perlahan seperti ini akan jauh lebih kuat dan abadi daripada apa pun.
Biarkan waktu yang menjawabnya, Rima. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa ada seseorang yang selalu mendoakanmu, yang selalu memikirkanmu, dan yang akan senang sekadar mendengar ceritamu, apa pun itu."
Ia mendekatkan wajahnya sedikit lagi, suaranya berubah menjadi bisikan yang penuh makna.
"Dan satu hal lagi..." Andre berhenti sejenak, menatap mata Rima dengan tatapan memohon sekaligus mengharapkan.
"Mulai sekarang, tolong jangan panggil aku 'Pak' lagi. Saat kita berbicara seperti ini, panggil saja Mas. Rasanya terdengar jauh lebih indah jika diucapkan oleh bibirmu."
Wajah Rima seketika memerah padam hingga ke telinga. Ia menunduk malu, namun genggamannya pada tangan Andre tidak dilepaskan sedikit pun.
"Mas Andre..." ucapnya pelan, mencoba nama itu di lidahnya sendiri. Rasanya asing namun terasa sangat hangat di hati.
Andre tersenyum lebar, senyum yang paling bahagia yang pernah Rima lihat. "Terima kasih. Satu panggilan itu saja sudah cukup membuatku merasa beruntung seumur hidup."
Matahari sudah benar-benar terbenam, langit berubah menjadi ungu gelap diterangi cahaya remang lampu jalan.
Angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga melati dari halaman tetangga. Mereka masih duduk di sana, berdua, saling menggenggam tangan tanpa banyak bicara.
Keheningan kali ini terasa penuh dengan makna, penuh dengan janji hati yang tak perlu diucapkan dengan kata-kata.
Rima akhirnya merasa tenang. Rasa takut, ragu, dan cemas yang selama ini membebani dadanya perlahan luruh.
Ia belum tahu apa yang akan terjadi di masa depan, ia belum tahu kapan hatinya akan benar-benar siap.
Dan yang membuatnya tenang, ia tidak sendirian. Ada Andre yang akan menunggunya dengan sabar, ada hati yang tulus menyayanginya apa adanya.
"Aku harus pulang sekarang," ucap Andre pelan akhirnya, meski tangannya masih enggan melepaskan genggaman itu.
"Kamu harus istirahat dan juga menyiapkan semuanya. Perjalananmu jauh. Tapi ingat, di mana pun kamu berada, jarak tidak akan pernah memisahkan hati kita."
Rima mengangguk pelan, perlahan melepaskan genggamannya dengan berat hati. "Hati-hati di jalan... Mas Andre."
Andre berdiri, lalu sejenak menatapnya sebelum melangkah pergi. Di tikungan gang, ia menoleh sekali lagi, melambaikan tangan dengan senyum yang sama hangatnya, sebelum akhirnya menghilang dari pandangan.
Rima berdiri di depan pintu cukup lama, memegangi tangannya yang masih terasa hangat oleh sentuhan Andre, dengan hati yang kini penuh harapan dan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.