NovelToon NovelToon
Penguasa Agung

Penguasa Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka meridian meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 1 — Apakah ini Takdir?

Kota Huzhou bukanlah kota besar namun dapat menampung belasan ribu jiwa. Kota ini berada di ujung selatan benua Diluo dan bersebelahan langsung dengan pegunungan Tianlei, pegunungan terbesar kedua di Kekaisaran Fenlai.

Pagi itu disetiap lapangan latihan Keluarga Qin sudah bergetar oleh suara hantaman tinju dan teriakan semangat para anggota keluarga muda dari usia 14 hingga 20 tahun. Aroma keringat dan debu memenuhi udara, menjadi saksi bisu bagi ambisi para pemuda-pemudi yang bermimpi menjadi kultivator hebat.

Di sudut paling terpencil, jauh dari kerumunan lapangan umum maupun lapangan utama, seorang pemuda berusia lima belas tahun sedang menghantam samsak pasir yang sudah mulai robek.

Rambut hitam legamnya tergerai panjang melewati bahu, sorot matanya tajam berwarna hitam kebiruan. Dia adalah Qin Mu.

Napasnya memburu. Keringat membasahi pakaian katunnya yang lusuh hingga menempel erat di kulit. Setiap pukulan yang ia lancarkan terdengar solid, namun ada gurat frustrasi yang mendalam di wajahnya yang tegas.

Sudah tepat satu tahun. Satu tahun penuh Qin Mu menghabiskan waktu, tenaga, dan mentalnya hanya untuk satu tujuan: melewati tahap pertama Pembentukan Fondasi.

Menurut standar umum di Kota Huzhou, para praktisi muda mulai berlatih sejak usia 14 tahun. Seorang pemuda-pemudi dari garis keturunan biasa biasanya menempa tubuh mereka selama 6 bulan dan hanya membutuhkan waktu lima hingga enam bulan untuk membuka 9 Meridian Utama dan melangkah ke tahap kedua Pembentukan Fondasi—

Dan bagi keturunan keluarga terhormat dengan bantuan keluarga yang memberikan bantuan sumber daya berkelimpahan, mereka 'seharusnya' mampu meraihnya setidaknya dua kali lebih cepat daripada pemuda-pemudi garis keturunan biasa.

Namun bagi Qin Mu, sembilan meridian di dalam tubuhnya seolah-olah terbuat dari besi dingin yang membeku. Tidak peduli seberapa keras dia melatih fisiknya, tidak peduli seberapa banyak ramuan penguat tulang maupun seberapa tinggi kualitas pil yang diberikan ayahnya, pintu menuju tahap selanjutnya dalam 4 Tahap Khusus Pembentukan Fondasi tetap tertutup rapat.

"Lihat itu, Tuan Muda kita masih bermain dengan pasir," sebuah suara bernada mengejek memecah konsentrasi Qin Mu.

Qin Mu menghentikan pukulannya. Tanpa menoleh pun, dia tahu siapa yang datang.

Qin Feng berusia 15 tahun, sepupunya yang telah menembus tahap Pengumpulan Spiritual, Tahap Ketiga dalam Pembentukan Fondasi. Di belakangnya, beberapa pengikut setianya tertawa merendahkan dan menghinanya secara terang-terangan.

"Hanya Tahap Penempaan Tubuh selama satu tahun? Qin Mu, jika aku jadi kau, aku akan berhenti membuang-buang sumber daya keluarga dan pergi menjadi pedagang di pasar," ujar Qin Feng sambil berjalan mendekat dengan gaya angkuh.

"Latihanku bukan urusanmu," jawab Qin Mu dingin. Matanya tetap menatap samsak di depannya, mencoba mengabaikan denyut nyeri di kepalan tangannya yang mulai berdarah.

"Tentu saja ini urusanku! Kau adalah putra tunggal Patriark Qin Feiyan! Karena ketidakmampuanmu, nama Keluarga Besar Qin yang hebat di Kota Huzhou menjadi bahan tertawaan. Orang-orang bilang, Harimau melahirkan seekor kucing lumpuh. Tidakkah kau kasihan pada paman?"

"Haha." Tawa dua pengikut Qin Feng sambil bertepuk tangan.

Kata-kata itu menghujam tepat di ulu hati Qin Mu. Dia bisa menahan cemoohan tentang dirinya sendiri, tetapi menyebut nama ayahnya adalah batas terakhir.

"Pergi," desis Qin Mu, suaranya rendah namun penuh penekanan.

"Oh? Kau berani memerintahku? Dengan kekuatan fisik tanpa energi spiritual?" Qin Feng tertawa geli. Ia tiba-tiba menggerakkan tangannya.

Wush!

Sebuah hembusan angin kencang tercipta dari gerakan tangan Qin Feng, sederhana namun cukup kuat.

Qin Mu yang tidak memiliki perlindungan energi spiritual terdorong hingga terjatuh.

"Ingat posisimu, Qin Mu. Bulan depan adalah Upacara Uji Spiritual Tahunan. Jika kau tidak meraih Pembentukan Fondasi tahap kedua, bahkan ayahmu tidak akan bisa mencegahmu dibuang keluar dari keluarga ini," ancam Qin Feng sebelum berbalik pergi bersama kawan-kawannya, meninggalkan tawa yang menggema di lapangan.

Qin Mu terduduk di tanah, mengepalkan tinjunya. Dia menatap langit biru yang luas, merasakan kekosongan yang menyesakkan di dalam dadanya.

"Apakah aku benar-benar ditakdirkan hanya menjadi sampah di dunia yang mengagungkan kekuatan ini?" batinnya pedih.

Matahari mulai meninggi, membakar kulit Qin Mu yang sudah memerah.

Setelah kepergian Qin Feng, pemuda itu tidak berhenti. Ia justru semakin gila dalam melayangkan tinjuannya. Jika satu pukulan tidak cukup, ia akan melakukan seratus. Jika seratus tidak cukup, ia akan melakukan seribu.

Namun, di dalam hatinya, sebuah teka-teki besar terus menghantui.

Kenapa?

Kenapa aku tidak bisa membuka meridian utama 'jalur kultivasi'?

Secara logika, ramuan dan pil tingkat tinggi yang diberikan ayahnya sudah lebih dari cukup untuk membilas sumsum tulang dan menghancurkan sumbatan di jalur meridiannya. Seharusnya, membuka sembilan meridian utama adalah hal yang sepele bagi seseorang yang mendapatkan asupan sumber daya berkelimpahan. Namun, setiap kali energi obat mengalir ke dalam tubuhnya, energi itu seolah-olah ditelan oleh jurang tanpa dasar di dalam tulang sumsumnya, menghilang tanpa jejak sebelum sempat menyentuh gerbang meridian.

"Hah... hah..." Qin Mu bersandar pada pohon Ginkgo besar di pinggir lapangan. Nafasnya berat, keringat menetes dari ujung hidungnya ke tanah.

"Mu'ge, kau memaksakan dirimu lagi."

Sebuah suara lembut, sejernih denting lonceng perak, memecah kesunyian. Qin Mu mendongak dan seketika ketajaman di matanya melunak.

Seorang gadis berjalan mendekat. Ia mengenakan hanfu berwarna biru langit yang melambai ditiup angin sore. Wajahnya cantik jelita, dengan kulit seputih porselen dan sepasang mata yang memancarkan kecerdasan sekaligus kehangatan. Dia adalah Qin Lian, salah satu permata paling berharga dari Keluarga Qin.

Jika Qin Mu adalah simbol kegagalan, maka Qin Lian adalah simbol keajaiban. Di usianya yang baru lima belas tahun itu, ia telah mencapai Tahap Kesempurnaan Pembentukan Fondasi. Ia adalah seorang praktisi beladiri sejati dalam ambang menuju kultivator yang sudah bisa menyimpan energi spiritual di pusar bawahnya.

"Lian'er," sapa Qin Mu sambil menyeka keringatnya dengan lengan baju yang kotor. Ia merasa sedikit canggung berdiri di depan gadis sesempurna itu dengan kondisi yang berantakan.

Qin Lian tidak peduli. Ia mengeluarkan sapu tangan putih bersih dan tanpa ragu menyeka sisa debu di pipi Qin Mu.

"Qin Feng pasti menghina Mu'ge lagi. Jangan masukkan kata-katanya ke dalam hati. Dia hanya iri karena meskipun dia punya bakat, dia tidak punya keteguhan hati seperti milikmu."

Qin Mu tersenyum pahit. Perkataan Qin Lian begitu menenangkan namun juga membuatnya berpikir...

Bakat ya?

"Keteguhan hati tanpa kekuatan hanya akan dianggap sebagai keras kepala, Lian'er... Dunia tidak melihat seberapa keras aku berusaha, mereka hanya melihat apakah aku sudah membuka meridian atau belum..." balas Qin Mu pelan.

Gadis itu terdiam sejenak, perkataan Qin Mu begitu matang selayaknya perkataan orang dewasa.

Tatapan Qin Lian melembut penuh simpati. Ia duduk di akar pohon besar itu, mengisyaratkan Qin Mu untuk duduk di sampingnya.

"Mu'ge ingat saat kita kecil? Kau selalu melindungiku dari anjing-anjing liar di hutan belakang meskipun kau sendiri gemetar ketakutan," kenang Qin Lian dengan tawa kecil.

"Bagiku, kau tetap kakak yang hebat. Bakat... terkadang langit hanya ingin menguji kita sedikit lebih lama."

"Tapi ujian ini terasa seperti tidak ada akhirnya," bisik Qin Mu. Ia menoleh menatap gadis itu.

"Bulan depan adalah Upacara Uji Spiritual. Jika aku gagal... aku mungkin akan dikirim ke cabang keluarga di pinggiran untuk mengurus pembukuan atau tambang. Kita tidak akan bisa mengobrol seperti ini lagi."

Mendengar itu, ekspresi Qin Lian berubah serius. Ada gurat kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan di matanya yang indah.

Sebagai jenius keluarga, ia tahu betapa kejamnya aturan keluarga. Tanpa bakat, Qin Mu akan dianggap sebagai beban bagi garis 'keturunan utama'.

"Aku akan bicara pada Paman Patriark," ujar Qin Lian tegas sambil menggenggam tangan Qin Mu.

"Dan aku akan membantumu. Aku punya beberapa Pil Pengumpul Spiritual yang aku dapat dari aula pengobatan..."

"Jangan," potong Qin Mu dengan lembut namun tegas. Ia melepaskan genggaman tangan Qin Lian.

"Kau membutuhkan pil-pil itu untuk menembus Ranah Spiritual Mendalam. Jangan sia-siakan pada lubang tanpa dasar sepertiku. Jika aku benar-benar harus pergi bulan depan, setidaknya aku ingin pergi dengan melihatmu mencapai puncak itu."

"Mu'ge..."

Qin Lian menggigit bibir bawahnya, matanya mulai berkaca-kaca. Ia benci melihat Qin Mu yang selalu mengalah dan berkorban demi orang lain, bahkan di saat posisinya sendiri di ujung tanduk.

Di bawah bayangan pohon Ginkgo yang mulai menggugurkan daun emasnya, kedua remaja itu terdiam. Yang satu berada di puncak kemuliaan, yang lain berada di titik jurang kehinaan. Namun, di antara mereka, ada ikatan yang tidak bisa diputus oleh tingkatan kultivasi mana pun.

Melihat suasana yang mendadak canggung dan mata Qin Lian yang mulai berkaca-kaca, Qin Mu segera berdeham keras. Ia tidak ingin gadis di sampingnya ini ikut menanggung beban pikirannya.

"Sudahlah, Lian’er. Jangan pasang wajah seperti itu," ujar Qin Mu sambil tiba-tiba berdiri dan berpose layaknya seorang pahlawan besar di panggung sandiwara.

"Lagipula, pikirkan sisi positifnya. Jika aku benar-benar dikirim ke tambang atau menjadi pedagang, aku akan menjadi pedagang paling tampan di seluruh Provinsi Nanlai! Siapa tahu, karena ketampananku ini, para pelanggan akan mengantre panjang dan aku berakhir lebih kaya daripada Keluarga Qin!"

Qin Lian tersentak, lalu tawa kecil keluar dari bibirnya.

"Mu’ge, kau ini percaya diri sekali. Memangnya ketampanan bisa dimakan?"

"Tentu saja! Di pasar, satu senyuman maut dariku mungkin bisa ditukar dengan dua butir telur atau sepiring bakpao," balas Qin Mu sambil mengedipkan sebelah matanya dengan gaya jenaka.

"Dan bayangkan, saat kau sudah menjadi Kultivator Agung yang bisa terbang di langit, kau bisa turun ke pasar dan berteriak, 'Berikan aku diskon, atau aku akan menghancurkan tokomu!', lalu aku akan keluar dan berkata, 'Tenang Tuan Putri, khusus untukmu, beli satu gratis cinta!'"

"Pffft! Hahaha!" Qin Lian tertawa lepas, menutupi mulutnya dengan tangan.

"Berhenti bicara omong kosong! Kau benar-benar tidak tahu malu." ucap Qin Lian dengan pipi merah merona.

Melihat tawa tulus itu, beban di pundak Qin Mu terasa sedikit terangkat. Setidaknya untuk sesaat, mereka bukan lagi Si Sampah dan Si Jenius, melainkan hanya dua sahabat yang tumbuh bersama.

Malam harinya. Di dalam kamar sederhananya yang tertata rapi, Qin Mu duduk di tepi ranjang. Lampu minyak di sudut ruangan bergoyang pelan, memantulkan bayangan dirinya yang tampak lesu.

Candaannya sore tadi hanyalah topeng. Kenyataannya, hatinya terasa sangat perih.

Ia mengambil sebuah botol giok kecil dari bawah bantalnya, botol terakhir berisi cairan pembersih sumsum yang diberikan ayahnya minggu lalu. Ia tahu ayahnya harus berdebat sengit dengan dewan tetua di Aula Pertemuan hanya untuk mendapatkan botol ini.

"Ayah... maafkan anakmu yang tidak berguna ini," bisiknya pelan, meminum cairan pembersih sumsum.

Ia tidak ingin menyerah. Meskipun ia tahu bahwa melakukan meditasi bagi seseorang di tahap Penempaan Tubuh adalah hal yang dianggap sia-sia oleh banyak orang, ia tetap melakukannya setiap malam.

Bermeditasi untuk ketenangan batin. Bukan bermeditasi untuk menyerap energi alam.

Qin Mu menyilangkan kakinya, meletakkan tangan di atas lutut, dan mulai mengatur napasnya.

Hirup... Hembuskan...

Seperti biasa, begitu ia memejamkan mata, hanya ada kegelapan pekat. Ia mencoba merasakan energi alam di sekitarnya, namun tubuhnya terasa seperti tembok batu yang tidak memiliki celah sedikit pun. Satu menit, sepuluh menit, satu jam berlalu, kemudian tidak terhitung berapa lama waktu telah berlalu dalam keheningan.

Namun, tepat saat ia hendak merebahkan tubuhnya untuk tidur, sebuah fenomena aneh terjadi.

Zzap!

Sebuah kilatan putih kebiruan tiba-tiba melesat di dalam pandangan gelapnya. Itu bukanlah imajinasi buatanya. Kilatan itu menyerupai sambaran petir kecil yang membelah keheningan batinnya.

"Apa itu?" batin Qin Mu terkejut.

...----------------...

Tingkatan Kultivasi.

Pembentukan Fondasi

A. Tahap Pertama, Penempaan Tubuh.

B. Tahap Kedua, Pembukaan Meridian

C. Tahap Ketiga, Pengumpulan Spiritual

D. Tahap Kesempurnaan, Pembentukan Dantian

Spiritual Mendalam

Janin Dantian

Lautan Spiritual

Lautan Qi

Mangkuk Meridian

Roda Keemasan

Jiwa Nirwana

Tuan Jiwa

Tuan Langit

dan masih ada lagi... Akan terungkap bersamaan dengan cerita berjalan.

1
Putu Gunastra
seharus nya di cantumkan urutan Kultivasi nya Thor ..di bab2 awal..ato mungkin di bab setelah ini yaa..
Blueria: Terimakasih sudah memberikan saran, sudah author tambahkan tingkatan kultivasi di Chapter 1.😄💪
total 2 replies
T28J
sama sama👍
Blueria: sama-sama👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
yg bnyk tor up ya
Blueria: Siap💪 Gaskan. Vote dan Like ataupun gift agar author tambah semangat 👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
update
Blueria: Besok pagi ya updatenya, author lagi ada kerjaan. Terimakasih udah hadir Kak Roy👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
up
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Blueria: Siap, semoga terhibur. 👋😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!