NovelToon NovelToon
Satu Triliun Untuk Semalam

Satu Triliun Untuk Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zahraal

Bagi Laras, gadis sederhana yang terjebak dalam lilitan utang besar demi menyelamatkan nyawa ayahnya, tawaran itu terdengar seperti mimpi buruk sekaligus satu-satunya jalan keluar. Pemberinya bukan orang sembarangan — Raka Dirgantara, pria terkaya dan paling berkuasa di negeri ini, dingin, penuh rahasia, dan dikenal tak pernah berhubungan lama dengan siapa pun.

“Kau hanya perlu menemaniku sampai matahari terbit. Setelah itu, kau bebas pergi dan uang itu sepenuhnya milikmu.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahraal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

di balik pintu kediaman

Mobil melaju terus meninggalkan kawasan rumah sakit, membelok ke jalan-jalan yang semakin sepi dan berkelok. Laras duduk menekan punggungnya ke sandaran kursi, matanya menatap lurus ke depan, namun pandangannya kosong. Jantungnya berdegup kencang, begitu keras sampai ia merasa suaranya terdengar jelas di telinganya sendiri. Setiap detik yang berlalu terasa semakin mendekatkannya pada sesuatu yang ia takuti sekaligus harapkan.

Pengemudi itu tetap diam sepanjang perjalanan, tidak berbicara sepatah kata pun, hanya fokus mengemudi. Kesunyian di dalam mobil terasa menyesakkan, membuat pikiran Laras semakin liar berkelana. Ia membayangkan berbagai kemungkinan apakah ia akan dibawa ke tempat yang asing dan terpencil? Apakah Raka akan memperlakukannya dengan kasar, atau justru bersikap dingin tanpa emosi seperti yang terlihat saat pertama kali bertemu?

Lebih dari empat puluh menit kemudian, mobil mulai melambat. Jalan raya yang luas berubah menjadi jalan masuk yang dipagari tembok tinggi, ditumbuhi pohon-pohon rindang yang rapi sepanjang sisi kanan dan kiri. Cahaya lampu jalan yang lembut menerangi jalur itu, menciptakan suasana yang tenang namun juga terasa terasing dari hiruk pikuk kota.

Sesampainya di gerbang utama yang besar dan kokoh, dua penjaga berseragam rapi segera mendekat. Setelah memeriksa identitas dan mengenali nomor kendaraan, gerbang besi itu terbuka perlahan dengan suara gesekan halus, mempersilakan mobil masuk ke dalam kawasan yang terlihat sangat luas.

Hati Laras terasa semakin berdebar. Dari balik jendela yang sedikit terbuka, ia bisa melihat hamparan taman yang terawat sempurna, kolam air mancur yang tenang, dan pepohonan yang sudah berusia puluhan tahun. Jauh di ujung jalan itu, berdiri sebuah bangunan besar bergaya klasik modern, bercat putih bersih dengan atap tinggi dan banyak jendela yang memancarkan cahaya hangat dari dalamnya. Itulah kediaman Raka Dirgantara—tempat yang konon dijaga sangat ketat, tidak sembarang orang bisa melangkahkan kakinya.

Mobil berhenti tepat di depan tangga utama. Pengemudi segera turun dan membukakan pintu untuk Laras dengan sikap hormat.

“Silakan turun, Nona. Tuan Raka sudah menunggu di dalam,” ucapnya singkat.

Dengan kaki yang terasa sedikit lemas, Laras melangkah turun. Udara malam di sini terasa lebih sejuk dan bersih, membawa aroma bunga melati dan tanah basah yang menenangkan, namun tidak mampu meredakan kegelisahan yang melanda hatinya. Ia menggenggam erat tali tas kainnya, mengikuti langkah pelayan rumah yang sudah berdiri menunggu di depan pintu.

Begitu pintu utama terbuka, suasana mewah namun tenang langsung menyambutnya. Lantai marmer yang mengilap memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang menjuntai tinggi dari langit-langit. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan bernilai tinggi, dan perabotan yang terlihat mahal tersusun rapi tanpa terasa berlebihan. Di sini terasa sangat sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding yang berjalan teratur.

“Silakan ikuti saya, Nona,” ajak pelayan itu, lalu berjalan mendahului Laras menuju ruang tengah yang lebih luas lagi.

Saat melangkah masuk, pandangan Laras langsung tertuju pada sosok yang sudah ia kenal. Raka Dirgantara sedang berdiri di dekat perapian yang masih menyala lembut, mengenakan kemeja lengan panjang berwarna hitam dengan kancing atas terbuka, tampak lebih santai dibandingkan saat bertemu di rumah sakit, namun tetap memancarkan wibawa yang tak terbantahkan.

Mendengar langkah kaki, Raka menoleh perlahan. Tatapan matanya yang gelap dan tajam langsung jatuh menatap Laras, membuat gadis itu secara tidak sadar berhenti melangkah dan menundukkan kepala. Ia merasa seperti sedang diteliti dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah Raka sedang memastikan bahwa ia tidak membawa niat buruk apa pun masuk ke dalam rumahnya.

“Masuklah,” kata Raka dengan nada tenang, lalu melambaikan tangan memberi isyarat agar pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua.

Begitu hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu, suasana menjadi semakin hening. Laras berdiri kaku di ambang pintu, tidak berani bergerak sembarangan, rasa takut dan malu perlahan merayap masuk ke dalam dirinya. Ia merasa sangat kecil dan tidak berdaya di hadapan pria yang memiliki segalanya ini.

“Sudah memutuskan dengan pasti?” tanya Raka memecah keheningan, berjalan mendekat perlahan hingga berjarak sekitar dua meter dari Laras. “Ingat, jika kau ingin mundur sekarang, masih ada kesempatan. Aku tidak akan memaksamu, dan biaya pengobatan ayahmu akan tetap ditanggung sebagai bentuk rasa hormat atas kejujuranmu.”

Kalimat itu membuat Laras terkejut dan mengangkat wajahnya. Matanya menatap Raka dengan pandangan bingung. Ia tidak menyangka akan mendengar tawaran seperti itu. Mengapa pria ini memberinya jalan keluar lagi, padahal ia tahu posisinya sedang terdesak?

“Tapi… mengapa Tuan melakukan itu?” tanya Laras dengan suara bergetar. “Jika saya mundur, Tuan tidak akan mendapatkan apa pun sebagai gantinya.”

Sudut bibir Raka terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang sulit diartikan. “Karena aku tidak ingin kau menjalani malam ini dengan perasaan dipaksa. Jika kau melakukannya hanya karena terjepit keadaan, maka kesepakatan ini tidak ada gunanya bagiku. Aku butuh seseorang yang datang dengan keputusan sadar, bukan dengan rasa benci atau tertekan.”

Laras terdiam mendengar penjelasan itu. Pikirannya kembali berputar, namun kali ini lebih tenang. Ia mengingat wajah ayahnya yang lemah, mengingat tagihan yang menanti, dan mengingat masa depan yang masih tergantung di ujung jalan. Ia menggeleng perlahan, lalu menegakkan punggungnya sekuat tenaga.

“Saya tidak akan mundur, Tuan,” jawabnya dengan suara yang mulai mantap. “Saya sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Saya menerima tawaran itu. Satu malam, dan semuanya selesai sesuai janji.”

Raka menatapnya dalam-dalam selama beberapa detik, seolah membaca kebenaran di balik tatapan gadis itu. Ia mengangguk pelan, lalu berbalik dan berjalan menuju meja panjang di sisi ruangan. Di atas meja itu sudah tergeletak sebuah dokumen yang dicetak rapi dan dua pena emas.

“Baiklah. Sebelum kita mulai, ada hal yang harus kita luruskan terlebih dahulu,” kata Raka sambil duduk dan memberi isyarat agar Laras duduk di seberangnya. “Ini adalah perjanjian tertulis yang mencatat semua kesepakatan kita. Baca dengan teliti sebelum menandatanganinya.”

Laras mendekat dengan hati-hati, lalu duduk di ujung kursi. Ia mengambil lembaran kertas itu dan membacanya dengan cermat, jari-jarinya menelusuri setiap baris tulisan. Isinya jelas dan lugas: Raka akan menanggung seluruh biaya pengobatan, perawatan lanjutan, serta memberikan sejumlah satu triliun rupiah setelah malam itu berakhir. Sebagai gantinya, Laras akan menghabiskan waktu dari matahari terbenam hingga terbit tanpa menuntut hal lain, dan setelah itu tidak ada hubungan apa pun lagi di antara mereka. Tidak ada kewajiban untuk saling bertemu, tidak ada hak untuk menuntut warisan atau kedudukan, semuanya selesai sepenuhnya.

Setelah membaca sampai akhir, Laras menghela napas panjang. Tidak ada klausul tersembunyi, tidak ada jebakan tertulis, semuanya terbuka. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Raka.

“Saya sudah membacanya. Semuanya sesuai dengan apa yang Tuan katakan,” ujarnya.

“Bagus. Tanda tangani di tempat yang disediakan,” perintah Raka tenang.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Laras mengambil pena dan menandatangani namanya di bagian bawah dokumen. Begitu tinta mengering, Raka juga menandatanganinya sebagai tanda persetujuan dari pihaknya. Ia melipat dokumen itu dan menyimpannya di dalam amplop, lalu mendorongnya ke arah Laras.

“Satu salinan ini untuk kau simpan sebagai bukti. Tidak ada yang bisa mengingkari apa yang sudah tertulis di sini,” katanya tegas.

Laras menerima amplop itu dengan rasa campur aduk. Kini secara resmi ia sudah terikat pada kesepakatan itu. Tidak ada jalan mundur lagi.

Raka berdiri kembali, menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. “Sekarang, mari kita luruskan satu hal lagi agar tidak ada kesalahpahaman sepanjang malam ini. Selama di sini, kau boleh berbicara, bertanya, bergerak bebas selama tidak melanggar aturan dasar rumah ini. Namun ingat satu hal: jangan mencoba mencari tahu urusan pribadiku, jangan membuka laci atau ruangan yang tidak diperbolehkan, dan jangan berharap lebih dari apa yang sudah disepakati. Mengerti?”

“Saya mengerti, Tuan,” jawab Laras singkat.

Raka mengangguk puas. “Baik. Malam ini kita tidak akan melakukan apa yang mungkin kau bayangkan selama ini. Aku tidak akan memaksamu melakukan hal yang melukai harga dirimu. Aku hanya butuh seseorang untuk menemaniku, mendengarkan, dan menjadi teman bicara selama malam ini. Tidak ada sentuhan yang tidak dikehendaki, tidak ada paksaan apa pun.”

Kalimat itu membuat Laras tertegun dan matanya terbelalak kaget. “Tapi… apa maksud Tuan? Bukankah tawaran ini untuk…”

“Untuk menghabiskan satu malam bersamaku,” potong Raka tenang, namun suaranya tidak keras. “Bukan berarti harus melibatkan keintiman fisik. Itu hanya asumsi orang kebanyakan. Alasanku memilihmu bukan karena penampilanmu, tapi karena ketulusan yang terlihat di matamu. Aku hanya butuh ketenangan yang sudah lama tidak aku rasakan. Dan itu tidak butuh hal lain selain kehadiran seseorang yang tidak melihatku hanya sebagai orang kaya atau berkuasa.”

Laras terdiam terpaku. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa kenyataannya akan berbeda jauh dari apa yang ia bayangkan selama ini. Beban berat yang terasa menekan dadanya perlahan terangkat sedikit, digantikan oleh rasa bingung yang semakin besar. Mengapa seseorang setingkat Raka Dirgantara rela mengeluarkan uang sebesar satu triliun rupiah hanya untuk ditemani mengobrol semalam? Pasti ada alasan lain yang tersembunyi di balik semua ini, pikirnya.

Namun apa pun alasannya, fakta bahwa ia tidak harus menyerahkan tubuhnya membuat rasa takut itu perlahan berkurang. Setidaknya ia masih bisa mempertahankan harga dirinya, dan tetap mendapatkan apa yang ia butuhkan untuk menyelamatkan ayahnya.

“Jadi… saya hanya perlu duduk dan menemanimu bicara sepanjang malam?” tanya Laras memastikan sekali lagi.

“Tepat sekali,” jawab Raka dengan pandangan tenang. “Tapi ingat, rahasia apa pun yang kau dengar atau lihat malam ini harus tetap tersimpan rapat di hatimu. Jika sampai bocor ke telinga orang luar, maka kesepakatan ini batal, dan konsekuensinya akan jauh lebih berat daripada apa yang kau bayangkan. Bisa kau janjikan itu?”

Laras mengangguk mantap. “Saya janji. Mulai sekarang sampai selamanya, apa pun yang terjadi malam ini akan tetap menjadi rahasia saya sendiri.”

Raka tersenyum tipis, senyum yang kali ini terasa lebih hangat dari sebelumnya. Ia berjalan mendekat ke meja samping perapian, menuangkan dua gelas minuman hangat, lalu menyerahkan satu gelas itu pada Laras.

“Bagus. Kalau begitu, mari kita mulai malam ini. Waktunya masih panjang, dan ada banyak hal yang mungkin ingin kau tanyakan… atau mungkin aku yang butuh didengarkan.”

Laras menerima gelas itu dengan kedua tangan, merasakan kehangatan yang menjalar ke telapak tangannya. Ia menatap wajah Raka yang terlihat lebih manusiawi dalam cahaya api perapian itu, perlahan menyadari bahwa malam ini mungkin akan membawanya pada jawaban-jawaban yang selama ini tersembunyi, dan membuatnya mengenal sisi lain dari Raka Dirgantara yang tidak pernah diketahui dunia luar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!