Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.
Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10
Angela baru saja kembali duduk di ruang keluarga ketika terdengar suara pintu depan terbuka.
Brak!
"Nek! Kami pulang!"
Suara seorang gadis terdengar nyaring dari arah foyer. Tak lama kemudian, seorang gadis berusia sekitar sembilan belas tahun masuk sambil melepas sepatu. Rambutnya dikuncir tinggi, wajahnya cantik dengan ekspresi ceria dan jahil. Di belakangnya menyusul seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun. Hoodie hitam, celana jeans, dan headphone yang menggantung di leher membuat penampilannya terlihat santai.
"Nah, akhirnya datang juga." Nenek langsung tersenyum. Mama Raymond menggeleng sambil terkekeh.
"Kalian lama banget."
"Soalnya Raina muter-muter dulu cari dessert," jawab pemuda itu.
"Heh! Dessert itu penting!" protes Raina.
Begitu masuk ke ruang keluarga, langkah keduanya langsung terhenti. Tatapan mereka kompak mengarah ke Angela.
"Hah?"
"Hah?" Angela tersenyum canggung sambil melambaikan tangan kecil.
"Halo..."
Sebelum siapa pun sempat bicara, Raymond yang duduk di samping Angela lebih dulu mengambil gelas jus di meja.
"Gelasmu kosong."
"Hm?"
Angela menoleh. Raymond menuangkan jus jeruk ke dalam gelasnya, lalu meletakkannya kembali di depan Angela.
"Nih." Angela berkedip beberapa kali.
"E-eh... makasih." Belum selesai sampai di situ. Raymond melihat piring berisi potongan buah berada agak jauh dari jangkauan Angela tanpa diminta, ia menggesernya hingga tepat di depan gadis itu.
"Buahnya dimakan." Angela langsung salah tingkah.
"Iya... nanti."
"Jangan nanti."
"Sekarang?"
"Iya."
Angela hanya bisa pasrah mengambil sepotong apel.
"Iya, Bos." Mendengar itu, sudut bibir Raymond terangkat tipis. Pemandangan sederhana itu justru membuat seluruh isi ruangan membeku. Raina menatap Richard dengan mata membelalak.
"Kak? Aku lagi nggak mimpi kan?"
Richard masih belum mengalihkan pandangannya dari Raymond. Dion ikut menggeleng pelan.
"Kalau ini mimpi, jangan bangunin gue."
Raina berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di depan kakak sulungnya.
"Kak Raymond."
"Hm?"
"Ini bener Kak Raymond, kan?"
"Iya."
"Yang kalau aku minta dibukain botol minum aja jawabnya, 'Pakai tangan sendiri.'" Ruangan langsung dipenuhi tawa. Richard ikut menimpali.
"Yang kalau aku pinjam charger jawabnya, 'Beli.'" Dion mengangkat tangan.
"Aku pernah minta dianter ke minimarket."
"Terus?" tanya Angela penasaran.
"Disuruh jalan kaki. Katanya biar sehat."
Angela spontan menutup mulutnya sambil tertawa.
"Hahaha...." Raymond tetap tenang.
"Itu memang sehat."
"Nah, kan!" seru Raina sambil menunjuk kakaknya. "Sekarang lihat! Kak Angela belum sempat minta apa-apa, udah dilayanin duluan." Angela langsung mengibaskan kedua tangannya.
"Nggak kok... Raymond emang baik."
"Baik?" Raina dan Richard kompak menjawab bersamaan.
"Ke Kak Angela." Raymond menoleh ke arah adik-adiknya.
"Ada masalah?" Raina langsung nyengir.
"Nggak ada." Richard ikut mengangguk.
"Kami cuma senang akhirnya ada orang yang bikin Kak Raymond berubah." Raymond tidak membalas. Namun saat melihat Angela hampir tersedak karena terlalu cepat meminum jusnya, ia refleks menepuk pelan punggung gadis itu.
"Pelan-pelan." Angela batuk kecil. Raymond menyodorkan segelas air putih.
"Minum yang ini." Angela menerima gelas itu sambil tersenyum malu.
"Makasih." Pemandangan itu membuat Nenek tersenyum puas. Mama dan Papa Raymond saling bertukar pandang sambil menahan tawa. Sedangkan Raina diam-diam berbisik pada Richard.
"Fix."
"Hm?"
"Abang kita udah jatuh cinta." Richard mengangguk mantap.
"Seratus persen." lirihnya. Suasana ruang keluarga kembali dipenuhi obrolan dan tawa.
Angela yang tadinya masih canggung mulai sedikit lebih rileks. Ternyata keluarga Raymond jauh dari bayangannya. Mereka sama sekali nggak kaku, malah hobi saling ngeledek. Raina tiba-tiba menggeser duduknya hingga menempel di samping Angela.
"Kak Angela."
"Hm?"
"Kakak sama abang ketemu gimana, sih?"
Angela baru saja hendak menjawab ketika Raymond lebih dulu menyodorkan sepiring kecil berisi potongan melon dan semangka.
"Makan dulu." Angela menoleh.
"Lagi?"
"Iya." Angela mengembuskan napas sambil tersenyum pasrah.
"Kalau aku terus makan, nanti pulangnya nggak muat masuk motor."
"Nggak apa."
"Lho?"
"Kan aku yang nganter." Kalimat itu keluar begitu saja. Seketika ruangan mendadak sunyi. Dion perlahan menoleh ke Richard. Richard menoleh ke Raina. Papa Raymond menurunkan cangkir tehnya. Mama Raymond menutup mulut, menahan senyum.
Sedangkan Nenek... senyumnya makin lebar.
Angela baru sadar apa yang baru saja diucapkan Raymond.
"W-wait... maksudku bukan gitu." Raymond mengernyit.
"Terus?"
"Aku cuma bercanda."
"Aku serius." Angela langsung menepuk dahinya pelan.
"Ya ampun... orang ini kalau ngomong nggak ada remnya." Raina sudah nggak kuat lagi.
"Hahaha! Kak Raymond, romantis juga ternyata!"
"Itu bukan romantis," jawab Raymond santai.
"Terus apa?"
"Fakta." Semua orang langsung pecah tertawa. Di tengah gelak tawa itu, seorang pelayan datang membawa sepiring kue dan meletakkannya di meja.
Raymond mengambil garpu kecil, memotong sepotong cheesecake, lalu meletakkannya di piring Angela.
"Coba." Angela menggeleng pelan.
"Aku udah kenyang."
"Cuma satu."
"Nanti aja." Raymond diam beberapa detik, lalu mendorong pelan piring itu mendekat.
"Kalau nanti, keburu meleleh." Ucapan itu mengingatkan semua orang pada cerita ulang tahun Raymond waktu kecil. Dion langsung tertawa terbahak-bahak.
"Woi! Kalimat legendaris keluar lagi!" Richard sampai memegang perutnya.
"Abang emang nggak pernah berubah." Angela ikut tertawa sambil akhirnya mengambil sepotong kecil kue.
"Oke, oke... aku makan." Baru setelah melihat Angela benar-benar memakannya, Raymond kembali bersandar dengan tenang.
Gerakan kecil itu lagi-lagi nggak luput dari perhatian seluruh keluarga.
Mama Raymond berbisik pelan kepada suaminya.
"Lihat nggak?"
Papa Raymond mengangguk.
"Raymond nggak makan sebelum memastikan Angela makan." Nenek tersenyum puas.
"Dari kecil cucu nenek memang begitu. Kalau sudah sayang sama seseorang, dia bakal perhatian lewat tindakan, bukan banyak omong."
Ucapan itu membuat pipi Angela kembali memerah. Ia mencuri pandang ke arah Raymond. Pria itu sedang meminum teh dengan ekspresi datarnya, seolah semua perhatian yang ia berikan tadi adalah hal yang biasa.
Padahal, bagi keluarga mereka itu sama sekali bukan hal biasa.
Tiba-tiba Richard berdeham pelan.
"Bang."
"Hm?"
"Boleh nanya?"
"Boleh."
"Abang sebenarnya sadar nggak sih, dari tadi perhatian ke Kak Angela terus?"
Raymond menoleh ke arah Angela sebentar, lalu kembali menatap adiknya.
"Sadar."
Jawaban singkat itu membuat semua orang terdiam.Richard mengangkat sebelah alis.
"Terus?" Raymond menjawab tanpa ragu.
"Memangnya kenapa?" Seketika satu ruangan kembali meledak oleh tawa.
Angela sampai menutupi wajahnya karena malu. Sedangkan di dalam hati, ia mulai bertanya-tanya.
"Apa Raymond memang perhatian ke semua orang... atau cuma... ke gue?" batinnya.
Tawa di ruang keluarga masih belum benar-benar reda.
Angela masih menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Ya ampun... jangan ngeledekin terus, dong."
Mama Raymond terkekeh pelan.
"Maaf, Angela. Habisnya baru kali ini kami lihat Raymond kayak begini."
"Nggak separah itu juga, Ma," sahut Raymond tenang.
Raina langsung mendengus.
"Nggak separah itu katanya."
Ia berdiri, lalu menirukan gaya kakaknya dengan wajah datar.
"'Gelasmu kosong.'"
"'Makan buah.'"
"'Pelan makannya.'"
"'Aku yang anter.'"
Begitu Raina selesai menirukan nada bicara Raymond, seluruh ruangan langsung pecah oleh tawa.
Bahkan Papa Raymond sampai menggeleng sambil tertawa kecil.
"Mirip."
Raymond hanya menatap adiknya datar.
"Selesai?"
"Belum."
Raina kembali melanjutkan.
"'Kalau nanti, kuenya meleleh.'"
"Hahaha...!" Dion langsung menepuk paha Richard.
Richard sampai menyeka air mata karena kebanyakan tertawa.
"Rain... udah... perut gue sakit."
Angela yang tadi malu akhirnya ikut tertawa lepas.
"Hahaha... kalian ini."
Melihat Angela tertawa, Raymond hanya memperhatikannya beberapa detik.
Tanpa sadar, sudut bibirnya kembali terangkat tipis.
Sayangnya...
Ekspresi sekecil itu nggak pernah lolos dari mata Raina.
"Nah!"
Semua langsung menoleh.
Raina menunjuk wajah Raymond dengan semangat.
"Tuh, kan! Kak Raymond senyum lagi!"
Refleks semua mata beralih ke Raymond.
Raymond langsung kembali memasang wajah datarnya.
"Nggak."
"Bohong!"
"Nggak."
Richard mengeluarkan ponselnya.
"Untung tadi sempat keambil."
"Hah?" Raymond mengernyit.
Richard memperlihatkan sebuah foto hasil jepretan diam-diam beberapa menit yang lalu.
Di foto itu terlihat Angela sedang tertawa sambil memegang segelas jus.
Di sampingnya...
Raymond sedang menatap Angela dengan senyum tipis yang begitu jelas.
"Wihhh...!" seru Dion.
"Bukti kuat!" sahut Raina.
Angela yang melihat foto itu langsung membeku.
Pipinya memerah seketika.
"Dia... lagi lihat aku?"
Raymond menghela napas pelan.
"Hapus."
Richard langsung memeluk ponselnya.
"Nggak mau."
"Hapus."
"Ini barang bukti bersejarah."
"Nggak."
"Bang, ini pertama kalinya kami punya foto abang lagi senyum. Mana mungkin dihapus."
Papa Raymond ikut menimpali sambil tersenyum.
"Simpan saja."
Mama Raymond mengangguk.
"Buat kenang-kenangan."
Raymond menyerah.
"Terserah."
Melihat kakaknya menyerah begitu saja, Raina langsung menyenggol Richard.
"Aneh."
"Iya."
"Biasanya kalau ada foto jelek dikit langsung disuruh hapus."
Richard berbisik pelan.
"Soalnya di foto itu ada Kak Angela."
Angela yang mendengar bisikan itu langsung salah tingkah.
"Eh... jangan bahas fotonya lagi, dong."
"Oke, oke," kata Raina sambil terkekeh.
"Tapi serius ya, Kak Angela."
"Hm?"
"Makasih."
Angela terlihat bingung.
"Makasih buat apa?"
"Karena sejak Kakak datang..."
Raina melirik Raymond yang sedang menuangkan teh ke cangkir Angela tanpa diminta.
"...rumah ini jadi rame lagi."
Angela mengikuti arah pandang Raina.
Raymond meletakkan cangkir teh hangat di depannya.
"Hati-hati, masih panas."
Angela menatap cangkir itu, lalu menatap Raymond.
"Makasih..."
"Iya."
Jawabannya tetap singkat.
Namun perhatian kecil yang terus ia tunjukkan membuat hati Angela perlahan menghangat.
Entah sejak kapan...
Pria yang awalnya ia anggap dingin dan sulit didekati itu justru selalu menjadi orang pertama yang menyadari hal-hal kecil tentang dirinya.
Dan tanpa disadari siapa pun...
Di balik pintu ruang keluarga, seorang pria paruh baya yang merupakan kepala pelayan keluarga itu memperhatikan semuanya sambil tersenyum tipis.
"Sudah lama sekali Tuan Muda Raymond tidak terlihat sebahagia ini."
Ucapan pelan itu membuat Nenek mengangguk setuju.
"Mudah-mudahan... kali ini cucu nenek benar-benar menemukan orang yang selama ini dia cari."
Berikut lanjutan Bab 9. Fokus adegan tetap pada kebersamaan keluarga, dengan Raymond yang menunjukkan perhatian lewat tindakan kecil, sementara Angela mulai merasa nyaman.
Malam semakin larut.
Suasana ruang keluarga justru makin ramai.
Raina tiba-tiba berdiri sambil bertepuk tangan.
"Oke! Karena semuanya udah ngumpul, kita main game!"
Dion langsung mengangkat tangan.
"Setuju!"
Richard ikut mengangguk.
"Biar nggak cuma ngobrol doang."
Angela menoleh ke Raymond.
"Keluarga kamu emang seseru ini?"
Raymond mengangguk pelan.
"Kalau lagi kumpul."
"Terus kamu ikut main?"
"Kadang."
Raina langsung menyahut.
"Jangan percaya!"
"Hm?"
"Yang dimaksud 'kadang' itu, setahun sekali."
Semua langsung tertawa.
"Nggak separah itu," jawab Raymond santai.
Richard mengangkat alis.
"Terakhir kali Abang ikut main waktu kapan?"
Raymond terdiam beberapa detik.
"...Lupa."
"Nah, kan!" seru Raina sambil tertawa puas.
Mama Raymond menggeleng geli.
"Kasihan Angela. Baru pertama datang udah lihat kelakuan kalian."
"Nggak apa-apa, Tante," jawab Angela sambil tersenyum. "Malah seru."
"Berarti kita mulai!" seru Dion semangat.
"Main apa?" tanya Angela.
"Truth or Dare!"
Angela langsung membulatkan mata.
"Hah? Di keluarga kalian main beginian?"
"Sering!" jawab Raina bangga.
Nenek ikut mengangkat tangan.
"Nenek juga ikut."
Semua langsung bersorak.
"Nah, makin seru!"
Mereka pun duduk melingkar di atas karpet.
Tanpa sadar, Angela hendak duduk agak jauh agar tidak merepotkan siapa pun.
Namun Raymond pelan-pelan menggeser bantal duduk yang ada di sampingnya.
"Duduk sini."
Angela menoleh.
"Nggak apa-apa di sana."
"Di sini aja."
"Nanti mereka salah paham."
Raymond menjawab santai.
"Biarin."
Angela langsung kehilangan kata-kata.
Raina yang melihat itu langsung menyenggol Richard pelan.
"Lihat."
Richard menahan senyum.
"Nggak bisa dipisahin."
Angela akhirnya duduk di samping Raymond.
Baru beberapa menit permainan dimulai, Angela tanpa sengaja menggigil kecil karena embusan pendingin ruangan.
Raymond yang menyadarinya langsung menoleh.
"Dingin?"
Angela mengusap kedua lengannya.
"Sedikit."
Tanpa banyak bicara, Raymond melepas jaket tipis yang sedari tadi dipakainya, lalu menyampirkannya ke bahu Angela.
"Pakai."
Angela langsung menggeleng.
"Eh, jangan. Nanti kamu kedinginan."
"Aku nggak."
"Tapi—"
"Pakai aja."
Nada suaranya tetap datar, tetapi sulit ditolak.
Angela akhirnya mengenakan jaket itu.
"...Makasih."
Jaket itu masih menyimpan aroma parfum Raymond yang lembut.
Entah kenapa, pipinya kembali terasa hangat.
Di sisi lain...
Raina memejamkan mata sambil menggeleng pelan.
"Richard."
"Hm?"
"Kak Raymond udah nggak ketolong."
Richard mengangguk mantap.
"Parah."
Dion menambahkan dengan suara pelan.
"Ini udah stadium akhir."
Mereka bertiga cekikikan sendiri.
Raymond melirik sekilas.
"Aku dengar."
Ketiganya langsung pura-pura melihat ke arah lain.
"Nggak ngomong apa-apa kok, Bang."
"Iya, lagi bahas cuaca."
Raymond hanya mengembuskan napas pelan.
Angela yang melihat tingkah mereka malah tertawa geli.
Tawa itu membuat seluruh keluarga ikut tersenyum.
Mama Raymond memandangi putra sulungnya dengan tatapan hangat.
Sudah bertahun-tahun mereka berharap Raymond bisa membuka hati.
Dan malam ini...
Harapan itu terasa semakin nyata.
Sementara Raymond sendiri sama sekali tidak peduli dengan semua godaan itu.
Perhatiannya hanya tertuju pada satu orang.
Sesekali ia memastikan gelas Angela tidak kosong.
Ketika melihat camilan di meja mulai jauh dari jangkauan Angela, ia menggesernya lebih dekat.
Bahkan saat Angela hampir menjatuhkan bantal duduknya, Raymond dengan sigap menahannya sebelum jatuh ke lantai.
Semua perhatian kecil itu dilakukan tanpa banyak bicara.
Seolah sudah menjadi kebiasaannya.
Angela yang menyadari hal itu hanya bisa mencuri pandang ke arah Raymond.
"Orang ini... sebenarnya perhatian banget ya."
Dan untuk pertama kalinya malam itu, senyum kecil muncul di wajah Angela tanpa rasa canggung.
kalau bisa up nya di tambahin
padahal seru kenapa sepi komen nan y