NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pintu yang Tidak Boleh Dibuka

Pintu yang Tidak Boleh Dibuka

Darah yang keluar dari mulut Piko hanya satu tetes, tetapi cukup untuk membuat seluruh dapur gaduh.

Bram menjatuhkan tutup panci. Seorang juru masak di dekat tungku menjerit lalu bersembunyi di belakang karung tepung, meskipun yang terlihat dari tempat persembunyiannya masih separuh badan. Orin segera menutup semua pintu dan menyuruh para pelayan keluar.

Kael tidak bergerak dari kursinya.

Tatapannya berpindah dari mangkuk sup ke boneka di pangkuan Aelora.

“Kembalikan kunci langit,” ulangnya.

Huruf-huruf merah di permukaan sup mulai pecah. Garisnya melebar, bercampur dengan kuah, lalu menghilang seolah tidak pernah ada. Hanya bau logam yang tertinggal.

Aelora menunduk dan mengusap sudut mulut Piko dengan ujung lengan baju. Noda merah menempel pada kain.

“Apakah boneka bisa berdarah?” tanyanya.

“Seharusnya tidak,” jawab Orin.

“Di istana ini banyak hal yang seharusnya tidak terjadi,” kata Bram dari dekat tungku.

Kael mengulurkan tangan. “Berikan kepadaku.”

Aelora langsung memeluk Piko ke dada.

“Tidak.”

“Aku perlu memeriksanya.”

“Eirna juga bilang begitu.”

“Dan kau menolak.”

“Karena dia milikku.”

Kael menatap boneka yang sebelah telinganya nyaris putus itu. “Benda itu menggunakan suaraku, mengeluarkan darah, dan sekarang bereaksi pada pesan Elyrion.”

“Dia tetap milikku.”

“Aelora.”

Nada suara Kael lebih rendah daripada sebelumnya, tetapi Aelora mengenalnya. Itu bukan lagi permintaan.

Tangannya mengencang pada tubuh Piko. “Kau akan merusaknya.”

“Aku tidak akan merusaknya.”

“Orang dewasa selalu bilang begitu sebelum mengambil barang.”

Kael berhenti.

Aelora tahu dirinya sedang keras kepala. Namun Piko adalah satu-satunya benda yang ikut bersamanya saat semua orang lain meninggalkan dirinya. Boneka itu memang aneh. Mungkin berbahaya. Mungkin menyimpan sesuatu yang bahkan tidak dipahami Aelora.

Tetapi membiarkan orang lain membawanya pergi terasa seperti kehilangan bagian terakhir dari hidup lamanya.

Kael tampaknya menyadari hal itu. Ia menarik tangannya kembali.

“Baik,” katanya. “Kau boleh memegangnya selama pemeriksaan.”

Aelora menatapnya curiga. “Benar?”

“Benar.”

“Tidak dibakar?”

“Tidak.”

“Tidak dibelah?”

“Kalau perlu dibuka, Eirna akan melakukannya di depanmu.”

Aelora tidak menyukai bagian terakhir, tetapi akhirnya mengangguk.

Kael memandang Orin. “Panggil Eirna. Jangan beri tahu siapa pun tentang tulisan di mangkuk.”

Bram menunjuk mangkuk yang sudah kembali tampak biasa. “Bagaimana dengan ini?”

“Buang.”

Kepala dapur menatap sup buatannya dengan wajah terluka.

“Maksud Anda seluruh mangkuk?”

“Ya.”

“Itu porselen dari Pegunungan Dusk.”

Kael melihat sisa cairan merah di dasar mangkuk. “Kalau kau ingin menyimpannya di dapurmu, silakan.”

Bram langsung mengambil penjepit besi panjang.

“Akan saya buang.”

Orin meninggalkan dapur. Dua penjaga masuk menggantikannya, berdiri di dekat pintu sambil berusaha tidak melihat Aelora terlalu lama.

Eirna tiba beberapa menit kemudian dengan rambut yang belum sempat diikat rapi. Ia tampak seperti baru saja duduk untuk makan lalu dipanggil kembali.

“Apa lagi?” tanyanya begitu masuk.

Kael menunjuk Piko.

“Boneka itu berdarah.”

Eirna menatap Aelora.

Aelora mengangkat Piko sedikit agar tabib dapat melihat noda di mulutnya.

Eirna mendekat. “Saya perlu memeriksanya.”

“Aku boleh memegang.”

Tabib itu melirik Kael, lalu memahami kesepakatan yang telah dibuat.

“Baik.”

Mereka pindah ke meja kosong di sudut dapur. Eirna membentangkan kain putih, kemudian meminta Aelora meletakkan Piko di atasnya sambil tetap menyentuh salah satu kakinya.

Piko tidak bergerak.

Eirna mulai dari mata kancing, telinga, lalu jahitan perut. Ia menyentuhkan kristal kecil pada tiap bagian, tetapi tidak ada reaksi. Ketika kristal didekatkan ke noda darah, permukaannya berubah berkabut.

“Darah manusia?” tanya Kael.

“Bukan.”

“Iblis?”

“Bukan juga.”

Aelora menunduk. “Malaikat?”

Eirna menatapnya. “Kemungkinan.”

Kata itu membuat udara dapur terasa lebih berat.

“Apakah darah itu milikku?” tanya Aelora.

“Tidak bisa dipastikan tanpa pembanding.”

“Ambil darahku.”

Kael langsung menoleh. “Tidak.”

“Hanya sedikit.”

“Tidak.”

Eirna menyimpan jarum kecil yang baru saja hendak diambilnya.

Aelora mengerutkan dahi. “Kalau tidak dibandingkan, kita tidak akan tahu.”

“Kita bisa mencari cara lain,” kata Kael.

“Kau takut jarum?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa aku tidak boleh?”

Kael tampak ingin menjawab, tetapi Eirna lebih dulu berkata, “Karena tubuhmu baru saja bereaksi buruk terhadap pemeriksaan sihir. Kita tidak perlu menambah luka jika belum mendesak.”

Aelora tidak yakin itu alasan sebenarnya. Kael tadi melihat jarum seolah benda kecil itu lebih berbahaya daripada seluruh anggota dewan.

Eirna membalik tubuh Piko.

Di bagian punggung boneka, tepat di bawah kain yang mulai menipis, terdapat tanda kecil berbentuk lingkaran. Aelora belum pernah melihatnya. Warnanya hampir sama dengan kain hitam, sehingga selama ini tersamarkan.

“Apa itu?” tanyanya.

Eirna menggunakan penjepit untuk menyingkap jahitan di sekitarnya.

Lingkaran tersebut memiliki tujuh garis yang mengarah ke luar. Bentuknya menyerupai matahari, tetapi bagian tengahnya gelap.

Kael berdiri dari kursi.

“Segel pengantar pesan.”

“Dari Elyrion?” tanya Eirna.

“Modelnya lebih tua.”

Kael mengambil salah satu lampu rune dari dinding, lalu mendekatkannya. Cahaya ungu membuat ukiran tersebut tampak lebih jelas.

Ada tulisan kecil mengelilingi lingkaran. Sebagian sudah aus, tetapi satu kata masih dapat dibaca.

Mirael.

Aelora menahan napas.

“Itu nama ibuku.”

Tidak seorang pun menjawab.

Ia menatap Kael. “Kau mengenalnya.”

Kael mengembalikan lampu ke tempatnya.

“Aku mengenal namanya.”

“Kau pernah bertemu dengannya?”

“Aelora—”

“Kau mengenali gelangku. Sekarang kau mengenali segel ini.” Suara Aelora mulai naik. “Kau pasti mengenalnya.”

Kael memandang para penjaga di pintu. “Keluar.”

Keduanya pergi tanpa bertanya.

Bram juga mengajak semua juru masak pindah ke ruangan belakang. Tidak sampai satu menit, hanya Aelora, Kael, Eirna, dan Orin yang tersisa.

Kael berdiri di seberang meja.

“Aku pernah bertemu ibumu.”

Aelora mencengkeram kaki Piko. “Kapan?”

“Beberapa tahun lalu.”

“Di mana?”

“Tidak penting sekarang.”

“Penting bagiku.”

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, kenapa kau tidak menjawab?”

Kael mengusap wajahnya. Gerakan itu cepat, tetapi cukup untuk memperlihatkan bahwa percakapan ini tidak mudah baginya.

“Karena beberapa jawaban dapat membuatmu berada dalam bahaya lebih besar.”

“Aku sudah dibuang ke hutan.”

“Itu belum tentu bahaya terbesar.”

“Jadi kau akan menyembunyikannya?”

“Untuk sementara.”

Aelora merasa panas di wajah. Bukan demam, melainkan marah.

Orang dewasa selalu mengatakan untuk sementara. Mereka mengatakan hukuman akan berlangsung sebentar. Mereka mengatakan ibunya pergi untuk sementara. Mereka mengatakan dirinya hanya akan dibawa ke gereja untuk pemeriksaan singkat.

Lalu semuanya berubah menjadi bertahun-tahun.

“Aku tidak suka dibohongi.”

“Aku tidak berbohong.”

“Kau juga tidak menjawab.”

Kael tidak membantah.

Aelora mengambil Piko dari atas meja dan turun dari bangku. Sandalnya hampir terlepas, tetapi ia tidak peduli.

“Aku mau kembali ke kamar.”

“Aku akan mengantarmu.”

“Tidak perlu.”

“Kakimu masih sakit.”

“Aku bisa jalan.”

Ia melangkah menuju pintu dengan pincang kecil yang berusaha disembunyikan. Kael bergerak mengikutinya, tetapi Eirna menahan lengannya.

“Beri dia waktu.”

Kael melihat tangan Eirna, lalu wajah Aelora yang sudah mencapai pintu.

“Aku tidak membiarkan anak sakit berjalan sendiri di istanaku.”

Aelora berbalik. “Aku bukan tahanan.”

“Tidak ada yang mengatakan kau tahanan.”

“Kalau begitu aku boleh kembali sendiri.”

Kael menghela napas. “Orin ikut.”

Aelora tidak membantah. Ia terlalu lelah untuk berdebat lagi.

Orin tidak banyak berbicara selama perjalanan kembali.

Ia berjalan sedikit di belakang Aelora, cukup dekat untuk menangkap jika anak itu jatuh, tetapi tidak sampai membuatnya merasa diawasi. Sesekali ia memperlambat langkah karena sandal Aelora terus terlepas.

Mereka tidak mengambil jalan yang sama seperti sebelumnya. Orin memilih lorong samping agar tidak bertemu banyak pelayan.

Lorong itu lebih tua daripada bagian istana lain. Batu dindingnya kasar, tanpa hiasan emas atau tirai. Lampu rune dipasang berjauhan, meninggalkan beberapa bagian dalam bayangan.

Aelora mengenali tempat itu.

Ia berhenti di dekat sebuah jendela sempit.

Di luar terlihat menara tinggi yang berdiri terpisah dari bangunan utama. Permukaannya dipenuhi ukiran rune. Tidak ada jendela pada bagian bawah, hanya pintu besar berwarna hitam yang menghadap halaman batu.

Menara Rune Terkunci.

Dalam kehidupan sebelumnya, Kael selalu melarang Aelora mendekatinya. Para penjaga berganti setiap dua jam. Bahkan anggota dewan tidak boleh masuk tanpa izin raja.

Aelora pernah masuk sekali.

Atau setidaknya ia merasa pernah.

Ingatannya tentang tempat itu berlubang. Ia hanya mengingat tangga yang berputar tanpa ujung, suara seseorang menangis, dan sebuah mural yang menunjukkan langit terbelah menjadi tiga.

“Apa itu?” tanyanya, meskipun sudah tahu.

Orin mengikuti arah pandangnya.

“Menara arsip lama.”

“Kenapa tidak ada jendelanya?”

“Karena benda-benda di dalamnya lebih baik tidak melihat keluar.”

Aelora menatapnya.

Orin tersenyum kecil. “Itu kata penjaga lama. Sebenarnya saya juga tidak tahu.”

“Boleh masuk?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Perintah Raja.”

“Siapa yang boleh masuk?”

“Yang Mulia. Tabib kerajaan pada keadaan tertentu. Penjaga arsip.”

“Dan ibuku?”

Orin berhenti.

Pertanyaan itu keluar berdasarkan dorongan yang tidak ia pahami. Namun begitu mengucapkannya, Aelora melihat reaksi kecil pada wajah kepala pelayan.

“Kenapa Nona bertanya begitu?”

“Segel pada Piko memakai nama Mirael.”

“Nama itu tidak berarti beliau pernah masuk menara.”

“Berarti kau tahu?”

Orin merapikan kancing mansetnya, jelas sedang mencari jawaban yang aman.

“Saya bekerja di istana sejak sebelum Yang Mulia naik takhta. Banyak orang pernah datang dan pergi.”

“Itu bukan jawaban.”

“Anda mulai terdengar seperti Raja.”

“Aku tidak tahu itu pujian atau bukan.”

“Belum tentu keduanya.”

Aelora kembali memandang menara.

Ada sesuatu di tempat itu yang membuat tanda pada pergelangan tangannya terasa hangat. Bukan panas seperti saat pemeriksaan. Lebih seperti denyut kecil yang mengikuti irama tertentu.

Sekali.

Diam.

Dua kali.

Diam lebih lama.

Lalu sekali lagi.

Seperti seseorang mengetuk dari jauh.

Aelora menempelkan telapak tangan pada kaca jendela.

“Apakah menara itu dipakai untuk menyimpan benda dari Elyrion?”

Orin tampak semakin tidak nyaman.

“Nona Aelora, sebaiknya kita kembali ke kamar.”

“Apakah Kael menyimpan sesuatu tentang ibuku di sana?”

“Saya tidak tahu.”

“Kau bohong.”

“Saya memang tidak tahu seluruh isinya.”

“Tapi kau tahu sesuatu.”

Orin memandang lorong di belakang mereka, memastikan tidak ada orang lain.

“Yang saya tahu hanya satu,” katanya pelan. “Menara itu tidak boleh dibuka dari luar setelah matahari tenggelam.”

“Kenapa?”

“Karena kadang-kadang ada sesuatu yang mencoba membukanya dari dalam.”

Aelora memandang menara lagi.

Angin bertiup melewati halaman. Kabut tipis bergerak di antara batu. Tidak ada penjaga di dekat pintu, tetapi tujuh lingkaran rune menyala redup di sekitarnya.

“Sesuatu seperti apa?”

“Tidak ada orang yang cukup bodoh untuk menunggu dan melihat.”

Piko bergerak di pelukannya.

Aelora menunduk.

Mata kancing boneka itu mengarah ke menara.

Kemudian kepala Piko miring sedikit, seperti sedang mendengarkan sesuatu.

“Apa?” bisik Aelora.

Tidak ada suara.

Orin menyentuh bahunya. “Ayo.”

Mereka baru berjalan tiga langkah ketika bunyi keras datang dari halaman.

Duk.

Aelora berhenti.

Duk.

Suara itu berasal dari pintu menara.

Bukan dari luar.

Dari dalam.

Orin memucat. “Kita harus pergi.”

Duk.

Rune pertama di sekitar pintu menyala.

Duk.

Rune kedua ikut hidup.

Aelora tidak bergerak. Tanda di pergelangan tangannya berdenyut semakin cepat.

“Orin.”

“Kamar Anda ke arah sana.”

“Ada orang di dalam.”

“Tidak.”

“Aku mendengar ketukan.”

“Menara sering mengeluarkan suara.”

“Itu bukan suara bangunan.”

Orin menggenggam bahunya lebih erat. “Nona Aelora, dengarkan saya. Apa pun yang Anda dengar, jangan menjawab.”

Kalimat itu terlambat.

Dari arah menara, terdengar suara seorang perempuan.

Sangat pelan, seolah melewati dinding yang tebal dan jarak bertahun-tahun.

“Aelora.”

Napas Aelora berhenti.

Ia tidak mengenal suara itu dari kehidupan sekarang.

Namun tubuhnya mengenalinya. Ada rasa hangat yang tiba-tiba muncul di dada, diikuti sakit yang begitu dalam hingga hampir membuat lututnya lemas.

Piko jatuh dari pelukannya.

Boneka itu mendarat di lantai dalam posisi menghadap jendela.

Suara perempuan tersebut memanggil lagi.

“Kemarilah, Sayang.”

Aelora menempelkan kedua tangan ke kaca.

Di balik kabut, salah satu rune pada pintu menara berubah menjadi cahaya keemasan.

Lalu suara itu berbisik,

“Ibu menunggumu.”

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!