Cinta yang datang dan menetap di relung hati yang paling dalam tanpa aba-aba. Tanpa permisi, dan menguasai seluruh bilik dalam hati. Kehadiran dirimu telah menjadi kebutuhan untukku. Seolah duniaku hanya berpusat padamu.
Zehya, seorang gadis yang harus bertahan hidup seorang diri di kota yang asing setelah kedua orang tuanya berpisah. Ayah dan ibunya pergi meninggalkan nya begitu saja. Seolah Zehya adalah benda yang sudah habis masa aktifnya. Dunianya berubah dalam sekejap. Ayahnya, cinta pertama dalam hidupnya, sosok raja bagi dunia kecilnya, justru menjadi sumber kehancuran baginya. Ayahnya yang begitu sempurna ternyata memiliki wanita lain selain ibunya. sang ibu yang mengetahui cinta lain dari ayahnyapun memutuskan untuk berpisah, dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Zehya bukanlah anak kandung dari wanita yang selama ini Zehya panggil ibu.
Siapakah ibu kandung Zehya?
yuk, ikuti terus perjalanan Zehya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunacana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah, dimana ibu?
sudah beberapa hari ini Zehya menangis setiap kali terbangun dari tidurnya dan tidak menemukan keberadaan Reni, ibunya. Bi Sarti saat ini tengah kewalahan menghadapi Zehya yang masih tantrum mencari ibunya. Wanita paruh baya itu akhirnya kembali menghubungi Bagas.
" Tuan, Nona kembali menangis. Saya tidak bisa menenangkan nona, tuan" Ucap bi Sarti begitu telponnya Bagas angkat.
" Iya Tuan, Sembari menunggu saya akan terus mencoba menenangkan nona"
Setelah itu, bo Sarti kembali fokus kepada Zehya. Wanita itu mencoba menenangkan Zehya dengan pelukan hangatnya, namun bukannya berhenti, tangis Zehya justru semakin menjadi.
" Aku mau ibu, bibi... ibu!" rengeknya dalam isak tangis yang menyayat hati. Sarti menghapus air matanya sendiri. Luka yang menganga di hati Zehya turut menyeretnya dalam kesedihan.
" Nona tenang, ya. Ayah nona akan segera kembali"
" Ibu bibik. Zehya mau ibu, bukan ayah!" Sahut Zehya kesal. Sesekali gadis kecil itu memberontak, berusaha melepaskan diri dari pelukan nyaman bi Sarti. Hingga wanita paruh baya itu kelelahan dan Zehya berhasil meloloskan diri. Gadis kecil itu berlari keluar rumah dengan gesit. langkah kecilnya terus membawa tubuhnya menjauh dari bangunan megah yang dia sebut rumah.
Bi Sarti mengejar dengan langkah tertatih, karena tubuhnya yang lumayan gemuk.
" Pak. Pak Toni, tolong kunci gerbangnya" Teriak Sarti begitu melihat Zehya sudah berada di dekat gerbang yang terbuka. Toni, yang mendengar teriakan Sarti dan melihat tubuh wanita itu susah payah berlari mengejar Zehya segera menutup rapat gerbang kediaman Bagas dan menguncinya. Bersamaan dengan Kehadiran Zehya di sampingnya.
" Pak Toni, buka gerbangnya! Zehya mau cari ibu" Pinta Zehya dengan sisa air matanya. Toni berjongkok di depan Zehya dan menatapnya sedih.
" Non, tunggu Ayah Nona pulang, ya. Ayah nya Non nanti pasti ajak nona bertemu dengan ibunya Non Zehya" Bujuk Toni lembut.
" I-iyaaa Non, tunggu Ayah saja, ya. Soalnya bibi dan Pak Toni belum tau Nyonya Reni dimana sekarang" Sarti menambahi. Berharap Zehya bisa memahami perkataan mereka.
Zehya menunduk dengan sedih. Air matanya kembali mengalir.
" Iya.. Zehya tunggu Ayah " Sarti dan Toni saling pandang. Mereka juga tidak bisa menutupi kesedihan yang melanda mereka. Sarti berjongkok dan menggendong Zehya, Sembari melangkah kembali ke rumah, wanita itu juga mengajak Zehya berbicara. Mencoba untuk mengalihkan pikiran Zehya pada hal yang lain.
Gadis lucu dan ceria yang biasanya mondar-mandir mengelilingi rumah dan berceloteh dengan penuh energi kini hanya lebih banyak terdiam, menangis dan terduduk dengan lesu di depan jendela. Seolah rindu akan sosok ibunya memberikan dampak yang begitu besar padanya.
Sarti segera berjalan cepat ke pintu utama begitu mendengar debu mobil Bagas memasuki indra pendengarannya. Pengasuh Zehya itu lekas membuka pintu, menyambut kedatangan Bagas yang memasang wajah khawatir dan lelah.
" Tuan" Sambit Sarti, setelahnya dia menceritakan dengan detail kejadian hari ini pada tuannya Sembari mengikuti langkah lebar Bagas. Keduanya berhenti di belakang sosok kecil Zehya yang tengah memandang pepohonan di halaman samping rumah dengan posisi duduk bersandar di sofa. Soskknya yang rapuh dan kecil itu sukses membuat Bagas dan Sarti menghela napas panjang. Sedikit melepaskan pedih karena melihat pemandangan menyedihkan itu.
" Zehya, sayang. Ayah pulang" Bagas memanggil Zehya sembari duduk di samping gadis kecilnya, merenggut tubuh mungil putri dan mengecup pucuk kepalanya dengan sayang.
" Ayah, dimana ibu? aku rindu ibu, aku ingin bermain dengan ibu" celotehan Zehya kembali membuka luka di hati Bagas.
" Sayang, ibu sedang pergi ke luar negeri. Ibu sudah berjanji pada Ayah, bahwa ibu akan menemui Zehya jika urusannya sudah selesai". Bagas tidak akan menutupi apapun dari Zehya. Termasuk perpisahan dan kepergian Reni dari hidup mereka.
" Apa ibu pergi karena Zehya bukan anak kandung ibu?" Pertanyaan Zehya membuat Sarti dan Bagas terperangkap dalam dilema. Keduanya membisu. Kenyataan itu sungguh menyakitkan, begitu pula dengan Sarti. Wanita paruh baya itu sangat sedih saat mengetahui semua rahasia yang Bagas simpan rapat selama 6 tahun ini.
" Kenapa Ayah diam? Katakan saja pada Zehya, tidak perlu berbohong"
" Apa kau benar putriku? Zehya baru berumur lima tahun, mengapa sudah berkata seolah sudah dewasa? hum?" Bagas menyerah. kini dia memnadangi gadis kecilnya dengan seksama.
" Aku mendengarnya malam itu. Ayah, apa artinya anak kandung? menghayati itu apa? juga perceraian? Apq itu artinya Ibu akan memilih putri lain?" Pertanyaan Zehya sukses membuat Bagas menahan ribuan kata dalam benaknya.
" Sayang... ayah akan jelaskan semuanya padamu besok, jika Zehya sudah besar dan sudah bisa memahami semua yang ayah katakan. Sekarang, bagaimana jika kita fokus pada sekolah dan kehidupan kita saja, okey?"
" Tapi Zehya rindu ibu, ayah" kedua mata Zehya bergetar, air mata siap tumpah dari sana.
Bagas menangkupkan kedua tangan kokohnya pada pipi Zehya. Mata teduhnya menghipnotis Zehya.
" Sayang, Percaya pada Ayah. Ibu akan datang suatu hari nanti"
Setelah hati itu. Bagas membuat jadwal yang sangat padat untuk putrinya. Mulai dari sekolah, latihan bela diri, latihan melukis, berkebun dan membawa anak-anak dari kenalan yang berusia tidak jauh dari Zehya untuk bermain bersama.
Bagas selalu berusaha ada di setiap moment yang Zehya alami. Bahkan sampai malam, sebelum Zehya terlelap dalam tidurnya, Bagas akan membacakan dongeng pengantar tidur, juga terkadang menyanyikan lagu kesukaan Zehya. Semua usaha Bagas berhasil, sejak saat itu Zehya sama sekali tidak pernah menanyakan ibunya.