bagaimana rasanya jika kamu mengetahui perselingkuhan suami mu, bahkan seluruh keluarganya mengetahui perselingkuhan itu dan menyembunyikannya darimu?
"lihat saja,, aku akan membalas semua perlakuan kalian padaku, apa yang sekarang kalian miliki adalah milikku dan aku akan mengambilnya kembali"~
simak ceritanya dari outhor, ig: @adivahalwahasanah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bebenah
"tidak mas, aku sama sekali tidak bohong. Itu lah kenapa aku gak bisa lagi memberikan ibumu uang untuk keperluan pribadinya, sebetulnya permasalahannya sudah dari sebulan yang lalu. Aku berusaha untuk mencari solusi terbaik, tapi ternyata aku tidak bisa mas. Tidak ada jalan lain selain merelakan apa yang aku miliki sekarang, urus ibu. Aku pusing memikirkan ini!!" kataku yang langsung meninggalkan ketiganya menuju lantai atas, setelah berbalik aku pun tersenyum kecil merasa puas karna berhasil memberikan syok terapi untuk keluarga Mas Rudi.
"Rud, bagaimana ini Rud? Ibu gak mau kita kembali kekehidupan kita yang semula, ibu udah nyaman dengan kehidupan kita yang sekarang!!" kata Bu Murni yang masih bisa terdengar olehku karna suara nya yang keras.
"yaa mau gimana lagi bu, Andine gak mungkin berbohong untuk hal sebesar ini. Sebaiknya ibu pulang, jangan lupa persiapkan apa yang harus ibu dan Niken bawa saat keluar dari rumah itu nanti" kata Mas Rudi yang langsung meninggalkan ibu dan adiknya di lantai bawah dengan keadaan syok.
Aku tak menyangka jika Bu Murni sadar dengan cepat saat pingsan tadi, aku yang melihat dari lantai dua pun menggelengkan kepala dengan tingkah ibu mertua ku itu.
Sebelum Mas Rudi mengetahui keberadaan ku, aku pun segera masuk kedalam kamar tanpa mengunci nya. Aku yakin, sebentar lagi Mas Rudi pun akan memasuki kamar ini.
"Ndine, apa kamu serius dengan apa yang kamu katakan di bawah tadi?" tanya Mas Rudi lagi yang langsung membuatku menyeritkan kening.
"maksud kamu? Kamu nuduh aku bohong gitu mas?" tanya ku yang langsung dijawab dengan gelengan kepala.
"ti-tidak bukan begitu, tapi apa gak ada satu aset pun yang tersisa? Apartemen misalnya, bukannya kamu masih punya apartemen dan juga pethouse. Apakah itu juga kena sita bank?" tanya Mas Rudi.
"tentu saja, semua nya sudah terkena sita. Terserah kamu mau percaya atau ngga, karna mulai besok aku akan membereskan semua barang-barang pribadi ku yang bisa aku bawa. Begitu juga kamu, tapi tidak dengan barang bersertifikat di rumah ini. Karna semuanya ikut tersita tanpa sisa sedikit pun" kataku lagi membuatnya membelalakan mata.
"Maksud mu? Tas, sepatu, jam tangan semua nya juga ikut di sita? Tapi, itu kan barang pribadi Ndine kenapa bisa ikut tersita" kata Mas Rudi.
"jelas lah Mas, semuanya kan kita beli menggunakan uang perusahaan. Sisanya menggunakan uang keuntungan yang gak seberapa, bahkan semua ini juga gak bisa menutup kerugian diperusahaan!" kataku dengan nada sinis. Rasakan pembalasanku, kataku dalam hati.
"berarti, rekening yang aku pegang dan kartu credit juga semuanya overlimite? Gak bosa digunakan lagi?" tanyanya. Aku pun menganggukan kepala dengan berpura-pura lesu.
"terus kita mau tinggal dimana Ndine?" tanyanya membuatku menatap Mas Rudi dengan tajam.
"kok kamu nanya aku Mas, kamu lah yang harus cari tempat tinggal untuk kita. Kan kamu kepala keluarga di sini, tapi ingat ya Mas aku gak mau tinggal bareng sama Ibu dan juga adik kamu itu. Biarkan aja mereka kembali tinggal di kampung!" kataku menegaskan sekali lagi.
"yaa gak bisa gitu dong Ndine, kalau ibu dan niken kembali kekampung lalu gimana dengan kuliah niken?" tanya nya membuatku menyeritkan kening.
"kalau pun Niken melanjutkan kuliahnya, siapa yang mau menanggung biaya nya mas? Kamu? emang gaji kanu cukup! Sementara di kampung juga ada universitas bagus, di sana ibu bisa gunakan kartu dari pemerintah yang ibu punya untuk pendidikan Niken. Lagian di kampung ibumu masih punya rumah yang lumayan bagus dan juga beberapa petak sawah, iyakan?" kataku membuat Mas Rudi menggasuk kepalanya.
"Aahh itu,,, ibu mana mau memakai kartu itu Ndine, kamu kan tau kalau selama ini Niken kuliah di universitas yang paling bagus di kota ini. Jadi,,,,,"
" yaa terserah kalau kamu gak mau, aku juga gak bisa maksa. Kalau begitu mendingan Niken berhenti kuliah aja biar dia cari kerja pakai ijazah SMA nya" kataku memotong ucapan Mas Rudi dengan cepat.
"Apa!! Mana ada perusahaan yang mau menerima karyawan lulusan SMA Ndine, jangan bercanda kamu!!" kata Mas Rudi.
"Nah itu kamu tau, ya harusnya kamu ajarin dong adik kamu kuliah sambil kerja. Toh itu juga untuk kebaikan dia, mumpung masih semester pertama dan berlum terlalu lama juga. Kuliah adik kamu itu masih panjang jalannya, masih butuh biaya sangat banyak. sekarang, kalau bukan dia yang berusaha sendiri siapa lagi yang mau dia andalkan?!" kataku membuat Mas Rudi terdiam.
Esok hari nya, aku dibantu bi asih membereskan beberapa pakaian yang akan aku bawa serta membersihkan rumah dan menutup barang-barang menggunakan kain putih agar semuanya tidak berdebu.
"setelah ini bagaimana non? Bibi apa akan di pecat?" tanya bi asih saat kamu tengah membereskan barang-barang terakhir di kamar ku.
"bibi bisa kembali ke rumah utama dulu ya bi, setelah masalah ini selesai nanti aku juga akan tinggal lagi disana" kataku.
"lali rumah ini?" tanya bi asih lagi.
"Rumah ini dan rumah yang di tempati mertua dan adik iparku juga akan aku jual bi, begitu juga dengan mobil dan motor yang mereka pakai" jawab ku dengan mata berkaca-kaca.
"yang sabar ya non, allah swt tau non kuat makanya non diberikan ujian seberat ini. Tapi, non hebat bisa melewatinya dengan kuat. Bahkan non juga begitu berani dengan mertua non itu" kata bi asih membuatku tersenyum kecil.
"aku harus kuat kan bi, kalau aku bukan kuat untuk diriku sendiri lantas siapa yang akan menguatkan aku? Aku hanya masih beruntung di kelilingi orang baik seperti om darma dan tante sulis juga bibi di sini" kataku dengan senyuman kecil.
"tidak apa-apa non, lagian bagus juga sih lalau kelakuannya ketahuan saat pernikahan kalian masih seumur jagung. Jadi, non tidak terlalu sakit seperti sudah menikah lama" kata bi asih membuatku menganggukan kepala.
"iyaa bi, bibi benar. Lagi pula, aku sudah menyiapkan pembalasan untuk setiap rasa sakit yang aku terima ini. Tentu saja aku gak akan terima jika merasakan sakit sendirian" kataku dengan kekehan kecil.
"baiklah non, ayok kita selesaikan ini. Saya yakin sebentar lagi nenek lampir itu pasti datang" kata bi asih membuat ku terkekeh.
Kami pun menyelesaikan pekerjaan kami berdua, setelah semua selesai bi asih membuatkan minuman untukku.
"nih non, lemon tea pasti seger di minum saat selesai kerja berat kaya gini" kata bi asih sambil memberikan segelas lemon tea padaku.
"Makasih ya bi, bibi tau aja aku pengen yang seger. Oiyaa kita makan siang pesen online aja ya bi, gak usah masak lah. Capek" kataku yang langsung di angguki oleh bi Asih.
Tak lama, bel rumah pun berbunyi. Benar saja, ibu mertua dan Niken datang membawa dua koper besar masuk kedalam rumah.
"Loh kok, rumah nya udah di rapihin?" tanya bu Murni dengan nada kaget.
"iyaa bu, besok kan kita udah harus meninggalkan rumah ini pagi-pagi. Tadi juga aku udah bilang Mas Rudi untuk cari rumah sewa sementara buat kita" kataku membuat bu Murni dan Niken membelalakan mata.
"yaampunn,,, ibu pikit hanya rumah yang kita tempati yang di sita, ternyata rumah ini juga di sita. Tapi kenapa harus cari rumah sewa? Bukannya kita bisa tinggal dirumah orangtua kamu?" tanya bu Murni.
"Ngga bisa lah bu, rumah itu juga kena sita. Kan sudah ku bilang, semua kena sita tanpa terkecuali. Bahkan barang bersertifikat seperti tas, sepatu, jam tangan milikku dan Mas Rudi" kataku kembali membuat kedua orang itu membelalakan mata.
"lalu perhiasan? Gak mungkin kan perhiasan juga kena sita?" tanya Niken.
"memang ngga, tapi sayang nya perhiasan ku semuanya sudah terjual untuk menutup kerugian bulan lalu. Jadi semuanya sudah habis tak bersisa, tapi tenang aja. Masih ada perhiasan ibu kan? Kita bisa gunakan itu nanti untuk bertahan hidup" kataku memberikan solusi dengan senyum mengembang.
"eeehh,, ngga ngga enak aja pakai perhiasan ibu, jangan kurang ajar ya kamu Ndine. Gak ada pakai perhiasan ibu, bisa malu ibu kalau orang liat ibu gak punya perhiasan sama sekali" kata bu Murni yang masih memikirkan gengsinya.
"yaa terserah ibu kalau begitu, berarti kita hanya akan bertahan dengan gaji Mas Rudi yang gak seberapa itu. Berarti ibu sanggup jika harus berhenti ikut arisan dengan geng ibu, dan kamu juga niken. Kamu harus bisa mencari uang sendiri jika masih mau melanjutkan kuliah" kataku dengan tegas. Membuat keduanya membelalakan mata mendengar perkataan yang keluar dari mulutku.
####
alhamdulillah terimakasih atas support kalian yang begitu baik untuk cerita novel ini, sekali lagi terimakasih banyak😊🙏